Archive for the ‘History, Art & Culture Nusantara’ Category

Seruling Dewata

Sumber :

Pasraman Serulung Dewata

http://www.serulingdewatabali.com

 

Pasraman Seruling Dewata didirikan pada tanggal 26 Nopember 2007 Beralamat di Br. Bunutpuhun-Desa Bantas-Kecamatan Selemadeg Timur – Kabupaten Tabanan-propinsi Bali. Merupakan wujud dari sebuah perjuangan panjang dari Ki Nantra Dewata Sesepuh Generasi IX Perguruan Seruling Dewata beserta para perintis lainnya yang bertekad melestarikan nilai-nilai luhur Bali Kuno peninggalan Pertapaan Candra Parwata di Gunung Watukaru (sakawarsa 463). Usaha ini dirintis mulai tahun 1985 dan tahun 1994 baru mendapat legalitas secara nasional di Indonesia. Pada tahun 2003 tanggal 26 November mendirikan Wisma Sesepuh di Br. Denbantas – Tabanan-Propinsi Bali sebagai pusat pelatihan ilmu-ilmu luhur Bali Kuno. Dan setelah berhasil membangun Pasraman Seruling Dewata tgl 26 Nopember 2007 maka pemusatan latihan di Pasraman Seruling Dewata sedangkan Wisma Sesepuh dijadikan sebagai tempat Sesepuh Ki Nantra Dewata Bermeditasi dan mengajarkan ilmu-ilmu penting dan rahasia pada siswa perintis.

Adapun beberapa ilmu Bali Kuno Peninggalan Pertapaan Candra parwata yang dilestarikan Dalam Perguruan Seruling Dewata antara lain :
1. Kanda Pat ilmu meditasi olah bathin dan jiwa tradisional Bali Kuno,
2. Walian Sakti mempelajari Ilmu Pengobatan Bali Kuno,
3. Ilmu Silat Bali Kuno mempelajari 72 ilmu silat Bali Kuno.
4. Yoga Tradisi Watukaru mempelajari himpunan yoga dari 13 garis perguruan Yoga dunia.
5. Tapak Suci Yoga Cara Bhumi Castra .
6. Agni Horta mempelajari Yajna tertua dalam agama Hindu pemujaan melalui pembakaran Api Suci .
7. Pengelukatan mempelajari 36 macam pengelukatan.

Paiketan Paguron Suling Dewata

Menurut Parampara Paiketan Paguron Suling Dewata, yang menuturkan jaman Bumi Lawas, yaitu jaman sebelum perhitungan Caka dikenal di Bali, dimana pulau Bali atau Bali Dwipa pada waktu itu masih merupakan hutan belantara yang teramat lebat bahkan sampai matahari tidak mampu menerobosnya walaupun disiang hari , sehingga hutan selalu dalam kegelapan. penduduk Bali sangat jarang dan mereka hidup di tengah tengah hutan belantara sebagai pertapa sepanjang hidupnya , untuk mencari suara dalam sepi dan mencari terang dalam kegelapan. mereka makan dari daun daunan, tidak memakan buah buahan yang manis, dan tidak juga makan mahluk hidup yang berjiwa. mereka semua tahu jenis pohon yang daunnya dapat dimakan , yang beracun, maupun yang memiliki khasiat obat obatan. tujuan hidupnya hanya satu yaitu melanjutkan tradisi leluhurnya ( Pustaka Parampara Seruling Dewata, sloka 4-6 ).

Pada masa Bumi Lawas ini di Bali Dwipa hanya ada sebuah Perguruan yang maha besar yang meliputi seluruh Bali Dwipa. keberadaan perguruan ini bebas, tanpa ikatan, tidak saling mengenal namun merasa diri satu. Perguruan tunggal ini diberi nama Paguron Sunia Nala Twara. dan sejalan dengan perkembangan waktu, timbul keinginan mereka untuk melestarikan dan mewariskan ilmu atau kepandaian yang dimilikinya . untuk itu mereka mulai menghimpun kepandaian masing masing dalam himpunan ilmu Kesakten. kelompok kelompok pertapa dengan ilmu yang aneh aneh dan teramat dahsyat mulai bermunculan . kelompok yang kecil membentuk kelompok yang lebih besar dan sampai akhirnya terbentuklah dua kelompok besar di Bali Dwipa , yaitu Paguron Surya dan Paguron Ardha Candra, Paguron Surya memiliki 11 cabang dan Paguron Ardha Candra memiliki 12 cabang dan salah satu cabang dari Paguron Ardha Candra adalah Paguron Suling Dewata yang meiliki 72 jenis ilmu silat ( Pustaka Parampara Seruling Dewata, sloka 14-18 )

Masyarakat Bali patut berbangga hati bahwasanya para leluhur Bali terdahulu telah mewariskan tradisi adi luhung, yang hingga kini tetap dilakukan secara turun temurun melalui parampara Paiketan Paguron Suling Dewata. Tradisi luhur ini pernah menjadikan Pulau Bali yang kita cintai sebagai Pancer Spiritual Dunia. Tidak itu saja, kehebatan Ilmu Silat Bali Kuno yang berasal dari pertapaan Chandra Parwata juga pernah menggegerkan dunia persilatan. Bukan di Nusantara saja, bahkan hingga ke manca negara seperti Langkapura, Jambu Dwipa, Tionggoan , Tibet , Butan, Kuroyewu, Jepun dan negeri-negeri lainnya pernah merasakan kehebatan Ilmu Silat Bali Kuno ini, bahkan ada suatu kesepakatan tidak tertulis diantara para pesilat terdahulu bahwa jangan pernah merasa hebat sebelum mencoba kehebatan pesilat-pesilat Gunung Watukaru. Namun seiring perkembangan jaman, keagungan tradisi Bali Kuno seolah tinggal kenangan. Bahkan masyarakat Bali sendiri menganggap semua itu sebagai cerita yang belum tentu kebenarannya. Sungguh sangat memprihatinkan. Tradisi yang begitu mulia sebagai cermin keagungan pulau Bali ternyata hampir punah dimakan jaman, namun keberuntungan para sesepuh Paiketan Paguron Suling Dewata tetap menjaga dan melestarikan tradisi luhur tersebut secara turun temurun melalui garis perguruan yang murni, sehingga tradisi luhur Bali Kuno tidak sampai hilang ditelan bumi.

Pada tahun 1985, Paiketan Paguron Suling Dewata bergabung dalam IPSI dan berubah nama menjadi Perguruan Seruling Dewata . Walaupun dengan tertatih, namun perguruan ini tetap melanjutkan misinya memperkenalkan kembali tradisi luhur peninggalan para leluhur terdahulu kepada masyarakat. Saat ini Ki Nantra ( Drs I Ketut Nantra ) yang merupakan sesepuh Generasi IX Paiketan Paguron Suling Dewata, merupakan pewaris dari tradisi luhur Bali Kuno tersebut, diipundak beliau tergantung tugas dan tanggung jawab yang sangat berat agar tradisi luhur tersebut tidak sampai punah.

kini sebuah Pesraman kecil nan sederhana yang berlokasi di Desa Bantas Bunut Puhun yang asri dan sepi , terletak di Kecamatan Selemadeg timur, Kabupaten Tabanan propinsi Bali , telah di bangun atas sumbangan para siswa perguruan yang semakin hari semakin banyak berdatangan dari segala penjuru Bali Dwipa maupun dari luar Bali untuk belajar serta ikut melestarikan warisan adi luhung yang telah diwariskan oleh leluhur Bali Dwipa dari Paiketan Paguron Suling Dewata.

Silat Tapak Suci Sembilan Dewa di Ulang Tahun Seruling Dewata

*

Latihan di Pasraman Seruling Dewata

*

Ki Nantra beserta para Pendeta & Pedanda di Ulang Tahun Seruling Dewata

*

Gunung Watukaru. Sumber Pengetahuan Lahir Batin Bali.

***

Artikel terkait :

Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster
Orbs (English)
Orbs (Indonesia)
Dialog Dengan Orbs
Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)
Yoga Class
Pengertian Yoga
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Prenatal Yoga
Yoga Ibu Hamil
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop
Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)
Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali
The Studio Wellness Program at the STONES, Kuta, Bali
Teri Fish & Honey Fried Rice
Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java
Surya Candra Bhuana
Reiki di Pulau Dewata Bali
Nerang – Rain Stopper
Bali Classical Dance Course
Int’l Performance of I Putu Silaniyama
Pelatihan Perguruan Silat Tadjimalela
Prosesi ala PS Tadjimalela
Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage
Berkaca pada Anak-Anak sebuah Kerukunan Antar Umat Beragama
Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious
Gurindam Dua Belas
Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago
Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara
Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia
Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945
Dialog Dengan Orbs
Kesadaran Kosmos & Zona Photon
Proyeksi Nusantara
The Gaia Project 2012 (Indonesia)
The Gaia Project 2012 (English)
Wejangan Leluhur
Jati Diri & Rasa
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
Karya Nyata Gotong Royong
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani
Metta Karuna Pray

 

 

 

Karya Nyata Gotong-Royong

Oleh : SKTP

“Sudah saatnya orang bersih untuk berbaris,  karena hanya Tuhan yang bisa berdiri sendiri” !

Ini bukan sekedar kata-kata yang puitis tapi memang sesuatu yang harus diwujudkan bersama.

Sudah begitu banyak kita menyia-nyiakan waktu dan energi alam semesta yang memberi kita kehidupan, tapi kita isi dengan ide-ide atau gagasan yang hanya sampai pada alam pikir saja.

Padahal begitu banyak konsep gagasan yang baik dan bermanfaat bagi Bangsa dan Negara ini.

Mengapa ide atau gagasan itu hanya sampai pada alam pikir saja ? Mungkin perlu kita renungkan bersama agar para penggagas termotivasi dan tidak perlu menganggap diri mereka sebagai korban dari keadaan. Namun awalnya harus sepakat dulu bahwa keadaan itu untuk disikapi, sedangkan kenyataan itu untuk disiasati, disertai kesadaran bahwa kita tidak bisa melakukan sesuatu apapun tanpa orang lain atau dengan cara jalan sendiri-sendiri.

Para penggagas sama dengan alam semesta ini yang selalu memberi dan tidak pernah memiliki.

Jadi apapun yang timbul dari alam pikir seorang penggagas termasuk bagian dari pemikiran alam semesta ini. Tinggal bagaimana orang-orang yang diberi gagasan dalam alam pikirnya itu mampu memberi kembali dan tidak hanya menggenggam gagasan tersebut dalam tangannya sendiri.

Mengapa demikian ? Saat ini banyak gagasan yang tidak diwujudkan menjadi kenyataan karena adanya kepentingan bertentangan dari berbagai pihak. Maka sebagus atau sebaik apapun gagasan tersebut seolah-olah hanya angan-angan kosong belaka. Hal ini jelas mengakibatkan kekecewaan, kemarahan bahkan frustasi bagi orang-orang yang memang diberi bakat alam sebagai penerima ide dan gagasan dalam misi hidupnya. Dalam arti bukan ‘gagasan palsu’ ataupun ‘meniru berpikir’.

Setiap ide atau gagasan akan membawa perubahan-perubahan atau menciptakan paradigma atau pola pikir baru. Memang pada kenyataannya sulit untuk merubah paradigma atau cara berpikir orang lain karena sudah menjadi kebiasaan yang baku, sehingga mempengaruhi karakter mereka dalam melakukan pekerjaan atau tindakan. Hal ini semakin terlihat dalam tatanan kehidupan kita terutama di kalangan instansi dan lembaga pemerintah.

Kenyataan ini dilihat oleh para penggagas yang ingin menyumbangkan gagasannya pada Bangsa dan Negara ini. Tapi kekuatan dalam sistem yang ada sangat sulit ditembus untuk meloloskan gagasan tersebut. Mengapa ? Sebab mereka yang berada dalam sistem telah berbaris bersama membentuk kekuatan dalam cara pikir yang sangat baku dan sudah menjadi kebiasaan; sehingga “paradogma alam pikir” berkembang bagaikan virus untuk hanya mempertahankan kepentingan kelompoknya. Bagaimana mungkin orang-orang yang berpola pikir seperti itu dapat menjadikan negara ini maju dan membawa bangsa ini sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia ?

Apakah kita mampu bersaing dalam perang moneter yang masih terus berlangsung selama ini ? Tanpa bermaksud menghakimi tapi kenyataan itu memang apa adanya !

Namun apapun yang kita katakan tentang hal ini, mereka tetap saja bercokol dan seperti lingkaran setan membentuk kekuatan yang selalu berjaga-jaga agar sistem yang telah dibangun dengan akal-akalan itu tetap langgeng demi kepentingan kelompok atau golongannya.

Jadi jangan heran jika ada orang yang berseberangan dengan “cara mereka” pasti akan terlempar keluar dari arena permainan. Ini sudah berlaku umum dalam arena pemainan akal-akalan itu dan bukan rahasia lagi di dalam instansi-instansi pemerintah dan lembaga-lembaga Negara saat ini.

Kelebihan mereka adalah kekuatan akal-akalan, tapi kita tidak usah putus harapan karena tujuan para penggagas sesungguhnya adalah komitmen untuk berbuat yang bermanfaat bagi bangsa dan negaranya. Namun sayangnya, para  penggagas yang sesungguhnya masih belum mampu melihat kelemahan yang dimiliki dalam diri mereka sendiri, sehingga kelemahan inilah yang membuat orang-orang yang ada dalam kekuatan akal-akalan itu mampu menolak konsep atau gagasan baru untuk diwujudkan. Kalaupun ada yang diterima harus disesuaikan dengan “cara mereka”, sehingga hasilnya tidak dinikmati oleh umum tapi hanya untuk kepentingan kelompok mereka juga.

Bagaimana cara mengatasi kelemahan para penggagas ini ? Sederhana tapi agak sulit dilakukan.

Usaha yang sederhana ini perlu mendapat tempat istimewa di hati para dan penggagas ini, yaitu : keikhlasan berkorban untuk membentuk kekuatan atas kehendak dan tujuan yang sama; bukan hanya dari segi material dan pemikiran saja, tapi juga waktu dan tenaga; dengan cara berkumpul dan bergandengan tangan membentuk formasi yang kuat untuk mewujudkan gagasan-gagasan yang timbul dari masing-masing diri itu.

Mari kita duduk bersama dan kesampingkan dulu ego masing-masing untuk bisa saling mengisi kelemahan gagasan setiap individu agar menjadi kekuatan yang mampu membawa perubahan-perubahan yang sangat mendasar untuk kepentingan bersama.

Perlu disadari bahwa masing-masing manusia mempunyai kelebihan dan kelemahannya, tapi jika diisi dan diimbangi dengan paham “sepengertian walaupun tidak sepengakuan” dalam mengolahnya untuk menjadi wujud, maka dengan sendirinya akan tercipta Karya Nyata bagi kehidupan.

Dengan siapa para penggagas ini harus bekerja bersama ? Setiap gagasan yang timbul dari masing-masing orang harus ditampung sesuai dengan bidang keahliannya. Maka duduklah bersama para konseptor, agar gagasan itu bisa dituangkan dalam konsep yang tegas dan jelas untuk diwujudkan.

Para konseptor juga sangat penting peranannya untuk menjadi pemegang obor dan penunjuk arah dalam upaya mencapai tujuan. Para konseptor dan penggagas harus mempunyai wadah yang jelas sebagai alat untuk menampung orang-orang yang akan berjalan dengan tujuan yang sama itu.

Sudah, jangan terpisahkan lagi ! Kuasa dan Kehendak membangun serta memelihara harus benar-benar dihidupkan serta mengakar dalam karakter jiwa revolusioner patriotisme dan nasionalisme yang obyektif. Duduk bersama di satu meja yang sifatnya dinamis untuk maju ke depan dengan cara reformasi diri total : “tinggalkan kebiasaan buruk lama, pelihara kebiasaan baik lama dan ciptakan kebiasaan baik baru” ! Inilah sifat dari jiwa revolusioner sejati yang obyektif.

Sifat kuasa dan kehendak yang selalu ingin merusak dan bahkan membiarkan itu, jangan berjalan melenggang kangkung tanpa ada yang mengimbangi. Inilah tugas para konseptor dan penggagas untuk mengimbangi dengan sifat kuasa dan kehendak untuk membangun dan memelihara.

Caranya dengan sungguh-sungguh ber-Niat, ber-Tekad dan ber-Kehendak untuk Bersatu !

Ingat ! Dengan semangat seperti ini, dulu para leluhur kita membawa kita kepada kemerdekaan dan mampu menciptakan suatu bangsa yang mempunyai Negara lalu diakui oleh seluruh dunia.

Kita kurang berterima kasih pada leluhur bangsa ini untuk semua pengorbanan yang telah mereka berikan pada kita. Tidak salah jika kita selalu diberi cobaan melalui bencana-bencana alam saat ini.

Kita sudah terlanjur keenakan menerima kemerdekaan dan diakui sebagai bangsa yang mempunyai negara tapi lupa mengisi dengan perbuatan yang mengarah pada cita-cita yang sesungguhnya para Leluhur Pendiri Bangsa ini. Sepertinya dalam benak dan otak kita seakan kemerdekaan bangsa ini ada begitu saja. Dengarlah dengan suara hati jeritan para pendahulu kita yang telah berjuang untuk kita semua agar tidak menjadi manusia nomaden, manusia jajahan atau budak dari bangsa asing.

Demi semua itu para leluhur dan ksatria sejati rela mati memperjuangkan apa yang kita nikmati sekarang ini sebagai Bangsa Nusantara dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Konsep dan gagasan para pendahulu atau leluhur bangsa ini bukan hanya berhenti di alam pikir tapi diwujudkan guna mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dan menciptakan suatu bangsa yang mempunyai negara. Walaupun mereka berbeda dalam cara tapi menyatukan maksud dan tujuannya yang sama. Jangan lagi semua ini diremehkan karena kemerdekaan dan proses perjalanan bangsa dan negara ini bukan untuk kenikmatan sesaat. Maka semangat mempertahankan dan mengisinya dengan baik mutlak selalu diutamakan.

Perjalanan Bangsa ini masih panjang dan perjuangannya-pun tidak akan pernah berhenti.

Demikian juga hendaknya perjuangan para konseptor dan penggagas sebagai generasi penerus juga harus ikut bertanggung-jawab dalam proses perjalanan panjang ini yang nantinya akan diwariskan pada anak cucu dan generasi selanjutnya. Kita masih  diberi nafas dan waktu, berarti kesempatan untuk merubah sikap dan berpindah dari para-dogma alam pikir ke paradigma berpikir yang jernih, guna melalukan perbuatan yang benar dan wajar dengan menyatukan berbagai elemen masyarakat, baik dari segi multi-dimensi bidang akademis, bisnis dan politis, maupun dari sudut pluri-disiplin sektor primer (pertanian-peternakan, kehutanan & kelautan), sekunder (industri) dan tersier (jasa).

Para konseptor dan penggagas yang bukan akal-akalan harus mampu terus berjuang tanpa merasa lagi sebagai korban dari sistem dan keadaan. Kita harus sanggup keluar dari keadaan dan kondisi semacam apapun jika kenyataan itu pada dasarnya bisa disiasati.

Berjuanglah tanpa pamrih untuk kehidupan Bangsa dan Negara ini ! Jangan melayani mereka yang memang sifat dan tugasnya di dunia menebarkan kebencian serta menggoda agar sifat kebaikan tidak terwujud sementara kejahatan semakin kuat dipermukaan bumi demi kepentingan dari sifat kejahatan itu sendiri.

Buktikan dengan tindakan yang luhur dan nyata untuk menjadi teladan generasi di masa datang !

Orang bersih adalah yang memiliki akal sehat, hati nurani dan kehendak bebas sehingga mampu bersikap tegas, berpikir jelas dan bertindak lugas sebagai insan bebas, berbudaya dan beradab.

Orang bersih adalah yang mempunyai Rasa, Cipta dan Karsa yang serasi, selaras dan seimbang dalam etos pengabdian diri pribadi dengan etos pengabdiannya pada Bangsa dan Negaranya.

Intinya orang yang tidak bisa gembira dan tertawa serta menari-nari diatas penderitaan orang lain.

Jika para konseptor dan para penggagas ini sepakat untuk duduk bersama, berjalan bersama dalam satu payung yang sama guna menciptakan konsep yang jelas arah dan tujuannya, maka banyak hal yang dapat dilakukan dalam “kebersamaan” atas dasar kejujuran, keterbukaan dan keterusterangan.

Sifat “kebersamaan” yang identik dengan sifat “gotong-royong” semakin langka dan nyaris hilang.

Sifat kegotong-royongan dapat membawa kita pada nilai-nilai kehidupan yang lebih berbudaya dan beradab. Sejak zaman dahulu gotong royong tidak pernah digunakan untuk tujuan negatif. Gotong-royong dan kebersamaan adalah kebiasaan baik lama yang merupakan keunggulan daya saing kita serta mampu menciptakan nilai tambah.

Ciptakan kegiatan-kegiatan seperti sarasehan atau seminar sesuai dengan bidang keahliannya lalu bentuk unit-unit usaha untuk menunjang langkah bersama. Bentuk kebersamaan ini bisa dijadikan wadah atau lembaga studi yang kreatif, kooperatif dan kompetitif demi alokasi optimal sumber daya, dana dan data. Berikan yang bermanfaat bagi Bumi Ibu pertiwi, Bangsa dan Negara ini !

Tunggu apa lagi wahai saudaraku ? Berbarislah mulai saat ini, sekarang ini juga ! Perubahan akan selalu terjadi setiap saat dan membawa karakter berdasarkan : “waktu, bentuk, sifat dan tempat”.

Tidak ada apapun atau siapapun yang akan dikorbankan jikalau nilai-nilai luhur dalam kehidupan ditegakkan pada tempatnya. Bumi Ibu Pertiwi terus menangis, karena terus menerus menanggung perbuatan kita yang melampaui batas; sementara orang bersih yang ditunggu-tunggu masih saja berjalan sendiri-sendiri.

Percayalah dan Yakinlah bahwa perubahan yang terjadi akan berpihak pada mereka yang sungguh-sungguh mematuhi dan menjalankan perintah dan larangan sesuai dengan hukum tertinggi, yaitu Hukum Alam Semesta.

“Siapa yang menanam akan menuai dan perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan, serta perbuatan jahat akan dibalas juga dengan kejahatan sekalipun sebesar biji sawi”.

Selamat ber-Karya Nyata saudaraku ! Hukum Alam Semesta dan Bumi Ibu Pertiwi mendukung semua perubahan ini karena sudah lelah dianiaya. Alam Semesta akan serasi, selaras dan seimbang kembali menurut sifatnya bersama “orang bersih yang berbaris untuk bekerja dan berkarya” !

 

Artikel terkait :

Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster
Orbs (English)
Orbs (Indonesia)
Dialog Dengan Orbs
Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)
Yoga Class
Pengertian Yoga
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Prenatal Yoga
Yoga Ibu Hamil
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop
Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)
Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali
The Studio Wellness Program at the STONES, Kuta, Bali
Teri Fish & Honey Fried Rice
Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java
Surya Candra Bhuana
Reiki di Pulau Dewata Bali
Nerang – Rain Stopper
Bali Classical Dance Course
Int’l Performance of I Putu Silaniyama
Pelatihan Perguruan Silat Tadjimalela
Prosesi ala PS Tadjimalela
Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage
Berkaca pada Anak-Anak sebuah Kerukunan Antar Umat Beragama
Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious
Gurindam Dua Belas
Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago
Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara
Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia
Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945
Dialog Dengan Orbs
Kesadaran Kosmos & Zona Photon
Proyeksi Nusantara
The Gaia Project 2012 (Indonesia)
The Gaia Project 2012 (English)
Wejangan Leluhur
Jati Diri & Rasa
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
Karya Nyata Gotong Royong
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani
Metta Karuna Pray

DEEP INSIDE ‘NYEPI’ – SILENCE DAY (LUNAR HINDU BALI NEW YEAR)

By : Desie Arumsari

Balinese already pass New Year base on lunar Hindu year. Now we enter into Sasih Kedasa 1933 Caka. Still remember what happen in first day of Bali Hindu New Year. Balinese & all people, land of Bali do Nyepi or Silence Day. Most of people from outside Bali don’t understand about this culture moment.

Let me try to explain about Silence Day in Bali. This is a special moment. All people should stay in home or hotel-villa for tourists. Can’t turn on the light, lamp or any electronic device. Event you’re not Balinese. This happen for 24 hours, start in 6am until tomorrow 6am. So there’s no one walking on street, no transportation also, including the airplane. The airpost closed for that day! Amazing isn’t it.

On this silence day, there’s no air pollution, no use of public electricity, no mineral resources used, no human energy waste, no sound pollution. Could you imagine the cost saved of this moment? Very huge amount. This is one side if we look from the material side.

Another side deeper is Balinese and people who also consider the meaning of Silence day, they stay at home and in silence become time for reflection. Visit the inner self in meditation, being consciousness. Do offering, pray, mantra and deep meditation.

For me, this is the first Silence Day in Bali. Before, I was never on this islands on silence day. I really wanna join in this purification ala Bali. Even some of friends invite me to stay on their house, with full of food suply for a whole day. Still able to talk, chat. But no thanks, i choose to melt in silence day.

The offering

So I stay with my new Balinese family, where i live here. Here’s my experience :

Morning

About 6am I woke up. Usually I wake up around 7am. This time I wake up because I hear a sound…very strong. Than I stand up, wondering what sound’s that? This was more than a sound, but also wave. Just like a vibe silence roar, on & off. Than I realized this is not human sound. But the source was something near from me. I focus and enjoy heard it…so beautiful…ah finally i knew. This was the sound of ‘land’. The earth breathing. So strong vibe with the roar sound, almost like oooohhhhhmmm….silence….oooohhhhhmmmmm from from the land where i stand. After I knew it, the land also gave its connection to me. I fell they happy to know that i knew its them. I wanna explode, so happy!

They just said : that ya, every morning this is our sound, our breathing but people never hear becouse so busy with their activities. Also so many sounds all days. We’re happy you can hear us.

The birds sounds clear. Also the dogs bark. The coconut trees moving and the sounds very gentle.

Day time

The Balinese family where I stay, offering me for lunch together with them. Haha for months I stay on one of their room, this was the first time we meals together. Love it!

Afternoon

The sun’s not show up and beginning to enter the real silence day. No light, no computer, no music hear from neighbourhoods, no people walk on the street. So silence. Even when I had sms, my handphone light seemed very bright. So now I was entering the reflection moment. I heard the crickets sound, the birds, the dogs & the frogs. I really enjoy hearing all these natural sounds. I got transcendence. Its easy to entering the meditation state. Than I connect with my higher self, the consciousness for moments.

Around 9pm, I go out, looked at the sky. It full with the clouds. No stars seen neither the moon. I said to the sky : if now my elders & Balinese elders here, watch us in Bali island do reflection, please you all have to be seen. Slowly the clouds fade out, than i can see some stars. Ya, my elders arrived, accompany us who really melt in silence day. I smile 😉

Than i go to bed around 10pm. Lied on the ground…ya, i really wanna feel the earth close to me. Suddenly i feel a movement from the ground. Oh, an earthquake. But no one go out. Still silence. I stand up close to my door. Nothing happen than. So I back to sleep. Silence again.

First Day After Silence Day

I woke up in the morning…feel Bali air so fresh. My lungs can absorb so many oxygen. I fell many souls happy.

So, that was the experience in silence day. Few days after this, Japan hit by huge earthquake which create tsunami. Its horrible from a natural disaster. Nature warns to all human being again after in 2004 biggest earthquake & tsunami hits Aceh in our country Indonesia.

Partner yoga with Japan yoga friend

I feel now, we have to reflect all the time, at end of a day everyday. To look inside our self. Nyepi, menepi, silence, reflection, being consciousness. We never know what happen tomorrow. Perhaps we still meet at a friend, family, relative or…we never know. So, keep good connection among human being. The great action which could be remains with people among us. Create public consciousness. Create matrix love of the universe on earth.

Create the consciousness class with Japanese & other Asian yoga participants

Let me close this article by saying thanks god, thanks the Light inside me, thanks the Elders & the Guidance a long my way home.

Om Shanti Shanti. Salam. Peace. Love.

* * *

Related articles :

Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster
Orbs (English)
Orbs (Indonesia)
Dialog Dengan Orbs
Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)
Yoga Class
Pengertian Yoga
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Prenatal Yoga
Yoga Ibu Hamil
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop
Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)
Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali
Teri Fish & Honey Fried Rice
Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java
The Studio Wellness Program at The Stones, Kuta, Bali
Surya Candra Bhuana
Reiki di Pulau Dewata Bali
Nerang – Rain Stopper
Bali Classical Dance Course
Int’l Performance of I Putu Silaniyama
Pelatihan Perguruan Silat Tadjimalela
Prosesi ala PS Tadjimalela
Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage
Berkaca pada Anak-Anak sebuah Kerukunan Antar Umat Beragama
Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious
Gurindam Dua Belas
Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago
Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara
Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia
Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945
Dialog Dengan Orbs
Kesadaran Kosmos & Zona Photon
Proyeksi Nusantara
The Gaia Project 2012 (Indonesia)
The Gaia Project 2012 (English)
Wejangan Leluhur
Jati Diri & Rasa
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani

 

Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945

L A H I R N Y A

P A N C A – S I L A.

*

PIDATO PERTAMA TENTANG PANCA SILA

YANG DIUCAPKAN PADA TANGGAL

1 JUNI 1945 OLEH BUNG KARNO

* *

Soekarno

SEPATAH KATA

Sebagai “Kaicoo” (ketua) dari “Dokuritsu Zyiunbi Tyioosakai” (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) saya mengikuti dan mendengar sendiri diucapkannya pidato ini oleh Bung Karno, sekarang Presiden negara kita.

Badan “Dokuritsu Zyanbi Tyoosakai” itu telah mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei tahun 1945 sampai dengan tanggal 1 Juni 1945 dan yang kedua dari tanggal 10 Juli 1945 sampai dengan tanggal 17 Juli 1945.

“Lahirnya Panca Sila” ini yaitu buah “stenografisch verslag” dari pidato Bung Karno yang diucapkan dengan tidak tertulis dahulu (voor de vuist) dalam sidang yang pertama pada tanggal 1 Juni 1945 ketika sidang membicarakan “Dasar (Beginsel) Negara kita”, sebagai penjelmaan dari pada angan-angannya. Sudah barang tentu kalimat-kalimat sesuatu pidato yang tidak tertulis dahulu, kurang sempurna tersusunnya.

Tetapi yang penting ialah ISINYA!

Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh “Lahirnya Panca Sila” ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu demokratisch beginsel yang menjadi Dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada di bawah penilikan yang keras dari pemerintah Bala tentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang!

Selama Farsisme Jepang berkuasa di negri kita, Democratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya.

Mudah-mudahan “Lahirnya Panca Sila” ini dapat dijadikan pegangan, dijadikan pedoman oleh Nusa dan Bangsa kita seluruhnya, dalam usaha memperjoangkan dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara.

Dr.K.R.T. Rajiman Wediyodiningrat.

* * *

PIDATO LAHIRNYA PANCA SILA

Paduka tuan Ketua jang mulia !

Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnja, maka sekarang saja mendapat kehormatan dari Paduka tuan Ketua jang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saja. Saja akan menetapi permintaan paduka tuan Ketua jang mulia. Apakah permintaan Padukan tuan Ketua jang mulia? Paduka tuan Ketua jang mulia minta kepada sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saja kemukakan di dalama pidato saja ini.

Maaf, beribu maaf! Banjak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal jang sebenarnja bukan permintaan Paduka tuan Ketua jang mulia, jaitu bukan dasarnja Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saja, jang dimintai oleh Paduka tuan Ketua jang mulia, ialah dalam bahasa Belanda: “Philosofische grondslah” dari pada Indonesia Merdeka. Pilosofische gronslah itulah pundamen, filsafat, pikiran-jang-sedalam-dalamnja, djiwa, hasrjrat-jang-sedalam-dalamnja untuk diatasnja didirikan gedung Indonesia Merdeka jang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saja kemukakan, tetapi lebih dahulu ijinkanlah saja membitjarakan, memberitahukan kepada tuan-tuan sekalian, apakah jang saja artikan dengan perkataan “merdeka”.

Merdeka buat saja adalah: “political independence”, politieke onafhankelijkheid. Apakah jang dinamakan politieke onafhankelijkheid?

Tuan-tuan sekalian! Dengan terus terang sadja saja berkata: Tatkala Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saja, di dalam hati saja banjak chawatir, kalau-kalau banjak anggota jang saja katakan di dalam bahasa asing, maafkan perkataan ini “zwaarwitchig” akan perkara ketjil-ketjil. “Zwaarwitchtig” sampai kata orang Djawa “djelimet”. Djikalau sudah membitjarakan hal jang ketjil-ketjil sampai djelimet barulah mereka berani menjatakan kemerdekaan.

Tuan-tuan jang terhormat! Lihatlah di dalam sedjarah dunia, lihatlah kepada perdjalanan dunia itu. Banjak sekali negara-negara jang merdeka, tetapi bandingkanlah kemerdekaan negara-negara itu satu sama lain! Samakah isinja, samakah deradjatnja, negara-negara jang merdeka itu? Djermania merdeka, Saudi Arabia merdeka, Iran merdeka, Tiongkok merdeka, Nippon merdeka, Amerika merdeka, Inggeris merdeka, Rusia merdeka, Mesir merdeka, namanja semuanja merdeka, tetapi bandingkanlah isinja!

Alangkah berbedanja isi itu! Djikalau kita berkata: Sebelum Negara merdeka, maka harus lebih dahulu ini selesai, itu selesai, itu selesai, sampai djelimet!, maka saja bertanja kepada tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80% dari rakjatnja terdiri dari kaum Badui, jang sama sekali tidak mengerti hal ini atau itu.

Batjalah buku Amstrong jang mentjeritakan tentang Ibn Saud yang mentjeritakan tentang Ibn Saud! Disitu ternjata, bahwa tatkala Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakjae Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu bensin. Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia itu! Toch Saudi Arabia merdeka!

Lihatlah pula djikalau tuan-tuan kehendaki tjontoh jang lebih hebatja Sovjet Rusia! Pada masa Lenin mendirikan Negara sovjer, adakah rakjat Sovjet sudah tjerdas? Seratus limapuluh miljun rakjat Rusia, adalah rakjat Musjik jang lebih dari pada 80% tidak dapat membatja dan menulis, bahkan dari buku-buku jang terkenal dari Leo Tolstoi dan Fulop Miller, tuan-tuan mengetahui berapa keadaan rakjat Sovjet Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Sovjet itu, dan kita sekarang di sini mau mendirikan negara Indonesia Merdeka. Terlalu banjak matjam-matjam soal kita kemukakan!

Maaf, PT Zimuktokutyoo! Berdirilah saja punja bulu, kalau saja membatja tuan punja surat, jang minta kepada kita supaja dirantjangkan sampai dejelimet hal ini dan itu dahulu semuanja! Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai djelimet, maka saja tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semuanja tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, sampai di lobang kubur! (Tepuk tangan riuh).

Saudara-saudara! Apakah jang dinamakan merdeka? Di dalam tahun ’33 saja telah menulis satu risalah. Risalah jang bernama “Mentjapai Indonesia merdeka”. Maka di dalam risalah tahun 33 itu, telah saja katakan, bahwa kemerdekaan, plitieke onaghankelijkeheid, politikal independence, ta’ lain dan ta’ bukan, ialah satu djembatan, satu djembatan emas. Saja katakan di dalam kitab itu bahwa di seberangnja djembatan itulah kita sempurnakan kita punja masjarakat.

Ibn Saud mengadakan satu negara di dalam satu malam, “in one night only!”, kata Aemstrong di dalam kitabnja, Ibn Saud mendirikan Saudi Arabia Merdeka disatu malam sesudah ia masuk kota Riad dengan 6 orang! Sesudah “djembatan” itu diletakkan oleh Ibn Saud, maka di seberang djembatan artinja kemudian dari pada itu, Ibn Saud barulah memperbaiki masjarakat Saudi Arabia. Orang jang tidak dapat membatja diwadjibkan beladjar membatja, orang jang tadinja bergelandangan sebagai nomade itu orang Badui, diberi peladjaran oleh ibn Saud djangan bergelandangan, dikasih tempat untuk bertjotjok tanam. Nomade dirubah oleh Ibn Saud menjadi kaum tani, semuanja di seberang djembatan. Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Sovjet Rusia Merdeka, telah mempunjai Djnepprpropstoff, dam jang maha besar disungai Djenpper? Apa ia telah mempunjai radio station jang menjundul keangkasa? Apa ia telah mempunjai kereta-kereta api tjukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang rusia pada waktu Lenin mendirikan Sovyet Merdeka telah dapat membaca dan menulis.  Tidak, tuan-tuan yang terhormat! Di seberang jembatan emas yang diadakan Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radiostation, baru mengadakan sekolahan, baru mengadakan Creche, baru mengadakan Djnepprprostoff!

Maka oleh karena itu saya minta kepada tuan-tuan sekalian, janganlah tuan-tuan gentar di dalam hati, janganlah mengingat bahwa ini dan itu lebih dulu harus selesai dengan jelimet, dan kalau sudah selesai baru kita dapat merdeka. Alangkah berlainannya tuan-tuan punya semangat, jikalau tuan-tuan demikian, dengan semangat pemuda-pemuda kita yang dua milliun banyaknya. Dua milliun pemuda ini menyampaikan seruan pada saya, 2 milliun pemuda ini semua berhasrat Indonesia Merdeka Sekarang! (Tepuk tangan riuh).

Saudara-saudara, kenapa kita sebagi pemimpin rakjat, jang mengetahui sedjarah mendjadi zwaarwitchig, mendjadi gentar, padahal sembojan Indonesia Merdeka bukan sekarang sadja kita siarkan? Berpuluh-puluh tahun jang lalu, kita telah menjiarkan sembojan Indonesia Merdeka, bahkan sedjak tahun 1932 dengan njata-njata kita mempunjai sembojan: INDONESIA MERDEKA SEKARANG” bahkan 3 kali sekarang, jaitu Indonesia Merdeka sekarang, sekarang, sekarang! (Tepuk tangan riuh). . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Selengkapnya download di sini

* * *

Artikel terkait :
Ki Sunda di Tatar Sunda
Menapaki Perjalanan Sunda
Kalender Sunda & Revisi Sejarah
Makanan Sunda
Susunan Warna Kasundaan
Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda
Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan
Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja
Ras Nusantara
Ketika Jawa Bertemu Belanda
Prasasti Batu Tulis Bogor
Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Perbedaan Batu Tulis, Petilasan dan Makam
The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb
Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959
Kebon Raya Bogor
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian
Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age
Prehistoric Remains from Neolitic Stage
Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam
Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River
Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung
Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta
Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata
Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah
Gurindam Dua Belas
Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago
Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara
Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia
Kerajaan Salakanagara
Kerajaan Tarumanagara
Kerajaaan Indraprahasta
Kerajaan Kendan
Kerajaan Galuh
Kerajaan Sunda
Wangsa Sanjaya
Kerajaan Saunggalah
Kerajaan Sunda-Galuh
Kerajaan Kuningan
Kerajaan Cirebon
Perang (Pasundan) Bubat
Kerajaan Sumedang Larang
Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia
Kerajaan Banten
Kerajaan Talaga
Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh
Musik/Music
Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music
Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music
Yoga Class
Yoga & Book Discussion
Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)
Pengertian Yoga
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Prenatal Yoga
Yoga Ibu Hamil
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
Orbs at Yoga Class
‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop
Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)
Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali
Teri Fish & Honey Fried Rice
Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java
The Studio Wellness Program at The Stones, Kuta, Bali
Surya Candra Bhuana
Wejangan Leluhur
Jati Diri & Rasa
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani
Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster

Asal Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Oleh : Tim Shangkala

Pulau Penyengat

Mengunjungi Kepulauan Riau seperti menghubungkan tapak kaki kita dengan jejak para leluhur melayu kita terdahulu. Salah satu pulau sejarah dan budaya yang kami kunjungi adalah Pulau Penyengat. Di sinilah kita mengatahui asal-usul bahasa nasional kita : Bahasa Indonesia.

Di pulau ini terdapat makam para leluhur Melayu yaitu Kerajaan Riau-Lingga. Diantara makam-makam tersebut terdapat makam sejarawan, budayawan dan sastrawan terkemuka, yaitu Raja Ali Haji (1808 – 1873). Beliau merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis.

makam Raja Ali Haji

Keberadaan Raja Ali Haji tercatat dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Di akhir abad ke-19 beliau membuat kamus tata bahasa Melayu yang lengkap, yang saat itu dibantu oleh sahabatnya yang sekaligus sarjana budaya Belanda yaitu Van Der Waal. Karya beliau kemudian dibawa ke Batavia. Karena saat itu kamus bahasa Melayu merupakan kamus bahasa daerah terlengkap yang diperoleh pemerintahan saat itu yaitu Pemerintahan Belanda, maka ditetapkanlah bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar dalam pemerintahan dan pendidikan di Hindia Belanda (Indonesia sebelum merdeka). Dalam perjalanan bangsa menuju kemerdekaan, Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia.

Bila saja, saat itu di Batavia pemerintahan Hindia Belanda sudah memiliki kamus tata bahasa daerah lain yang lebih lengkap dari kamus Melayu-nya Raja Ali Haji, misalnya bahasa Bali atau Sunda, maka dasar bahasa nasional kita bukanlah bahasa Melayu da perkembangannyapun berbeda.

Gurindam Dua Belas

Selain merumuskan tata bahasa Melayu, Raja Ali Haji menciptakan karya-karya sastra Melayu yang salah satunya adalah Gurindam dua belas di tahun 1847. Yang merupakan dua belas pasal berisi nasehat-nasehat tentang ibadah, kewajiban pemimpin, kewajiban anak, orang tua, hidup bermasyarakat, budi pekerti.

Tim Shangkala di Kepulauan Riau

Artikel terkait :

Ki Sunda di Tatar Sunda

Menapaki Perjalanan Sunda

Kalender Sunda & Revisi Sejarah

Makanan Sunda

Susunan Warna Kasundaan

Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda

Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan

Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja

Ras Nusantara

Ketika Jawa Bertemu Belanda

Prasasti Batu Tulis Bogor

Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Perbedaan Batu Tulis, Petilasan dan Makam

The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb

Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959

Kebon Raya Bogor

Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)

Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian

Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age

Prehistoric Remains from Neolitic Stage

Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam

Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River

Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung

Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta

Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata

Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah

Gurindam Dua Belas

Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Tarumanagara

Kerajaaan Indraprahasta

Kerajaan Kendan

Kerajaan Galuh

Kerajaan Sunda

Wangsa Sanjaya

Kerajaan Saunggalah

Kerajaan Sunda-Galuh

Kerajaan Kuningan

Kerajaan Cirebon

Perang (Pasundan) Bubat

Kerajaan Sumedang Larang

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia

Kerajaan Banten

Kerajaan Talaga

Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh

Musik/Music

Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music

Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music

Yoga Class

Yoga & Book Discussion

Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)

Pengertian Yoga

Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh

Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul

Prenatal Yoga

Yoga Ibu Hamil

Meditasi

Rileksasi Dalam

Meditation

Orbs at Yoga Class

‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop

Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)

The Studio Wellness Program at the STONES, Kuta, Bali

Teri Fish & Honey Fried Rice

Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java

The Studio Wellness Program at The Stones, Kuta, Bali

Surya Candra Bhuana

Wejangan Leluhur

Jati Diri & Rasa

Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)

Garuda Pancasila

Bhinneka Tunggal Ika

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca

19 Unsur Proses Perjalanan Rohani

Prosedure Darurat Gempa Bumi

Krakatau (Indonesia)

Krakatau (English)

Earthquake Emergency Procedure

Earthquake Cloud

Awan Gempa

Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam

Animal Signs of Natural Disaster

Gurindam Dua Belas

Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad yang tinggal dan berkarya di Pulau Penyengat (Kepulauan Riau), menciptakan berbagai karya sastra Melayu yang salah satunya adalah Gurindam dua belas di tahun 1847. Karya sastra terkenal dari awal diciptakan hingga saat  ini merupakan dua belas pasal berisi nasehat-nasehat tentang ibadah, kewajiban pemimpin, kewajiban anak, orang tua, hidup bermasyarakat, budi pekerti.

Raja Ali Haji

Gurindam I

Ini gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah Ia dunia mudarat.

Gurindam II

Ini gurindam pasal yang kedua:

Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

Gurindam III

Ini gurindam pasal yang ketiga:

Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadaiah damping.
Apabila terpelihara lidah,
niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi’il yang tiada senunuh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjaian yang membawa rugi.

Gurindam IV

Ini gurindam pasal yang keempat:

Hail kerajaan di daiam tubuh,
jikalau lalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur2.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

Gurindam V

Ini gurindam pasal yang kelima:

Jika hendak mengenai orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Gurindam VI

Ini gurindam pasal yang keenam:

Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh dimenyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,

Gurindam VII

Ini Gurindam pasal yang ketujuh:

Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah landa hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
I’ika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

Gurindam VIII

Ini gurindam pasal yang kedelapan:

Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar dan pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syarik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebalikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

Gurindam IX

Ini gurindam pasal yang kesembilan:

Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

Gurindam X

Ini gurindam pasal yang kesepuluh:

Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.

Gurindam XI

Ini gurindam pasal yang kesebelas:

Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hajat.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.

Gurindam XII

Ini gurindam pasal yang kedua belas:

Raja muafakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh anayat.
Kasihan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.

* * *

Artikel terkait :
Ki Sunda di Tatar Sunda
Menapaki Perjalanan Sunda
Kalender Sunda & Revisi Sejarah
Makanan Sunda
Susunan Warna Kasundaan
Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda
Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan
Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja
Ras Nusantara
Ketika Jawa Bertemu Belanda
Prasasti Batu Tulis Bogor
Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Perbedaan Batu Tulis, Petilasan dan Makam
The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb
Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959
Kebon Raya Bogor
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian
Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age
Prehistoric Remains from Neolitic Stage
Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam
Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River
Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung
Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta
Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata
Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah
Gurindam Dua Belas
Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago
Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara
Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia
Kerajaan Salakanagara
Kerajaan Tarumanagara
Kerajaaan Indraprahasta
Kerajaan Kendan
Kerajaan Galuh
Kerajaan Sunda
Wangsa Sanjaya
Kerajaan Saunggalah
Kerajaan Sunda-Galuh
Kerajaan Kuningan
Kerajaan Cirebon
Perang (Pasundan) Bubat
Kerajaan Sumedang Larang
Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia
Kerajaan Banten
Kerajaan Talaga
Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh
Musik/Music
Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music
Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music
Yoga Class
Yoga & Book Discussion
Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)
Pengertian Yoga
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Prenatal Yoga
Yoga Ibu Hamil
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
Orbs at Yoga Class
‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop
Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)
Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali
Teri Fish & Honey Fried Rice
Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java
The Studio Wellness Program at The Stones, Kuta, Bali
Surya Candra Bhuana
Wejangan Leluhur
Jati Diri & Rasa
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani
Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster

Boats and Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Boats & Ships during the Hindu – Buddhist Reign in Indonesia

One of the pieces of evidence that depicted the traditional boats and ships of Nusantara during the Hindu-Buddhist reign was the carvings on Borobudur Temple. The shapes and sizes of ships were among others:

  • Big ships with large sails which could carry hundreds of tons of cargo and around 200 passengers.
  • Small boats without outrigger, known locally as jukung, dugout canoe, single mast boat with or without outrigger, row boat, and double mast outriggers.

The shape and size of Nusantara traditional boats and ships then was very much influenced by Chinese junks which had large sails.

*

Sriwijaya Ships

The Hindu-Buddhist kingdom of Sriwijaya which had its power base in South Sumatra, was a respected maritime kingdom in the 7th century AD. According to various sources, including written records, the naval force of Sriwijaya which commanded the Malacca Strait, had junks of various sizes, weighting hundreds of tons. According the researchers who conducted studies on the Sriwijaya’s ships, no material nails were used on the ships, instead the shipbuilders need wooden pegs.

Other types of boats from the Sriwijaya is mortar boats, boats made of one large and long logs with a hole in the middle. The types of mortar from the royal boat, among other things: a very simple boat mortar, mortar boats are enhanced with outrigger, and a heightened mortar boat without outrigger. The boats have a pole equipped with a single and some are equipped with a double pole.

*

Majapahit Ships

Majapahit was a large Hindu kingdom in 13th – 15th centuries AD which reign over almost all parts of Nusantara, including some areas outside Indonesia, as it had already had well developed trade and sea transportation systems. Ships during the Majapahit reign comprised various sizes and weights which were designed to suit their voyages to their destination points. Large ships that could carry hundreds of tons of cargo were used to carry spices from Ambon, Sumbawa, Flores and other islands in the eastern part of the archipelago while smaller ships or dugout carries were used to travel to areas around Java island.

*

Types of Boats & Ships during the Islamic Kingdom

During this period, many boats like mayang and dugout canoes and junks were furnished with sails. They were used in Java. Between 1700 and 1800, new types of ships, kora-kora and pirate were introduced. Kora-kora was equiped with a large sail and outrigger, so that it would not be easily overturned by rolling waves. Besides functioning as a trade ship. Kora-kora also functions as a war ship because of its streamlined shape. In 1800, many Bugis sailors made use of the west-northwest tailwind to sail with their Pa’dewakang, a large traditional cargo ship, to transport commodities to various destinations until nort coast Australia.

*

Source :

From Maritime Museum, North Jakarta

All data taken by Sastro family when Culture tour visiting Museums in Jakarta.

* * *

Related Articles :
Wejangan Leluhur
Manusia Seutuhnya
Manusia dan Fitrahnya
Kehidupan
Peranan Perempuan dalam Skenario Blueprint Pancasila
Makna dari Ilmu & Pengetahuan (Bagian I)
Kebijaksanaan dari Visi Kepemimpinan
Jati Diri & Rasa
Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
Kesadaran Kosmos & Zona Photon
Proyeksi Nusantara
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani
The Gaia Project 2012 (Indonesia)
The Gaia Project 2012 (English)
Serat Jayabaya (Jawa)
Ramalan Jayabaya (Indonesia)
Jayabaya Prophecy (English)
Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage
Yoga Class
Pengertian Yoga
Kelas Yoga & Singing Bowl
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Yoga Ibu Hamil
Prenatal Yoga
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
Cakra & Kundalini
‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop
Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)
Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali
The Studio Wellness Program at the STONES, Kuta, Bali
Teri Fish & Honey Fried Rice
Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java
Surya Candra Bhuana
Orbs at Yoga Class
Orbs & Light Beings in Ancient Tribe, Java-Indonesia
Conversation with the ORBS
Perguruan Silat Tadjimalela
Prosesi Ala PS Tadjimalela
Pelatihan Perguruan SIlat Tadjimalela
Pengalaman Pelatih Silat Lokal di Kancah Global
Momen Pelatihan dan Kejuaraan Timnas Indonesia
PS Tadjimalela – Konsolidasi Batin dalam Halal bi Halal
Kerajaan Sumedang Larang
Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan
Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster
Kerajaan Pajajaran
Menapaki Perjalanan Sunda
Ki Sunda di Tatar Sunda
Ki Sunda di Tatar Sunda-Indonesia
Kalender Sunda & Revisi Sejarah
Prasasti Batu Tulis Bogor
Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Perbedaan Batu Tulis, Petilasan & Makam
The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb
Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959
Makanan Sunda
Susunan Warna Kasundaan
Makanan Sunda
Susunan Warna Kasundaan
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian
Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age
Prehistoric Remains from Neolitic Stage
Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam
Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River
Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung
Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda
Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja
Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh
Kebon Raya Bogor
Gurindam Dua Belas
Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago
Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara
Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia