Karya Nyata Gotong-Royong

Oleh : SKTP

“Sudah saatnya orang bersih untuk berbaris,  karena hanya Tuhan yang bisa berdiri sendiri” !

Ini bukan sekedar kata-kata yang puitis tapi memang sesuatu yang harus diwujudkan bersama.

Sudah begitu banyak kita menyia-nyiakan waktu dan energi alam semesta yang memberi kita kehidupan, tapi kita isi dengan ide-ide atau gagasan yang hanya sampai pada alam pikir saja.

Padahal begitu banyak konsep gagasan yang baik dan bermanfaat bagi Bangsa dan Negara ini.

Mengapa ide atau gagasan itu hanya sampai pada alam pikir saja ? Mungkin perlu kita renungkan bersama agar para penggagas termotivasi dan tidak perlu menganggap diri mereka sebagai korban dari keadaan. Namun awalnya harus sepakat dulu bahwa keadaan itu untuk disikapi, sedangkan kenyataan itu untuk disiasati, disertai kesadaran bahwa kita tidak bisa melakukan sesuatu apapun tanpa orang lain atau dengan cara jalan sendiri-sendiri.

Para penggagas sama dengan alam semesta ini yang selalu memberi dan tidak pernah memiliki.

Jadi apapun yang timbul dari alam pikir seorang penggagas termasuk bagian dari pemikiran alam semesta ini. Tinggal bagaimana orang-orang yang diberi gagasan dalam alam pikirnya itu mampu memberi kembali dan tidak hanya menggenggam gagasan tersebut dalam tangannya sendiri.

Mengapa demikian ? Saat ini banyak gagasan yang tidak diwujudkan menjadi kenyataan karena adanya kepentingan bertentangan dari berbagai pihak. Maka sebagus atau sebaik apapun gagasan tersebut seolah-olah hanya angan-angan kosong belaka. Hal ini jelas mengakibatkan kekecewaan, kemarahan bahkan frustasi bagi orang-orang yang memang diberi bakat alam sebagai penerima ide dan gagasan dalam misi hidupnya. Dalam arti bukan ‘gagasan palsu’ ataupun ‘meniru berpikir’.

Setiap ide atau gagasan akan membawa perubahan-perubahan atau menciptakan paradigma atau pola pikir baru. Memang pada kenyataannya sulit untuk merubah paradigma atau cara berpikir orang lain karena sudah menjadi kebiasaan yang baku, sehingga mempengaruhi karakter mereka dalam melakukan pekerjaan atau tindakan. Hal ini semakin terlihat dalam tatanan kehidupan kita terutama di kalangan instansi dan lembaga pemerintah.

Kenyataan ini dilihat oleh para penggagas yang ingin menyumbangkan gagasannya pada Bangsa dan Negara ini. Tapi kekuatan dalam sistem yang ada sangat sulit ditembus untuk meloloskan gagasan tersebut. Mengapa ? Sebab mereka yang berada dalam sistem telah berbaris bersama membentuk kekuatan dalam cara pikir yang sangat baku dan sudah menjadi kebiasaan; sehingga “paradogma alam pikir” berkembang bagaikan virus untuk hanya mempertahankan kepentingan kelompoknya. Bagaimana mungkin orang-orang yang berpola pikir seperti itu dapat menjadikan negara ini maju dan membawa bangsa ini sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia ?

Apakah kita mampu bersaing dalam perang moneter yang masih terus berlangsung selama ini ? Tanpa bermaksud menghakimi tapi kenyataan itu memang apa adanya !

Namun apapun yang kita katakan tentang hal ini, mereka tetap saja bercokol dan seperti lingkaran setan membentuk kekuatan yang selalu berjaga-jaga agar sistem yang telah dibangun dengan akal-akalan itu tetap langgeng demi kepentingan kelompok atau golongannya.

Jadi jangan heran jika ada orang yang berseberangan dengan “cara mereka” pasti akan terlempar keluar dari arena permainan. Ini sudah berlaku umum dalam arena pemainan akal-akalan itu dan bukan rahasia lagi di dalam instansi-instansi pemerintah dan lembaga-lembaga Negara saat ini.

Kelebihan mereka adalah kekuatan akal-akalan, tapi kita tidak usah putus harapan karena tujuan para penggagas sesungguhnya adalah komitmen untuk berbuat yang bermanfaat bagi bangsa dan negaranya. Namun sayangnya, para  penggagas yang sesungguhnya masih belum mampu melihat kelemahan yang dimiliki dalam diri mereka sendiri, sehingga kelemahan inilah yang membuat orang-orang yang ada dalam kekuatan akal-akalan itu mampu menolak konsep atau gagasan baru untuk diwujudkan. Kalaupun ada yang diterima harus disesuaikan dengan “cara mereka”, sehingga hasilnya tidak dinikmati oleh umum tapi hanya untuk kepentingan kelompok mereka juga.

Bagaimana cara mengatasi kelemahan para penggagas ini ? Sederhana tapi agak sulit dilakukan.

Usaha yang sederhana ini perlu mendapat tempat istimewa di hati para dan penggagas ini, yaitu : keikhlasan berkorban untuk membentuk kekuatan atas kehendak dan tujuan yang sama; bukan hanya dari segi material dan pemikiran saja, tapi juga waktu dan tenaga; dengan cara berkumpul dan bergandengan tangan membentuk formasi yang kuat untuk mewujudkan gagasan-gagasan yang timbul dari masing-masing diri itu.

Mari kita duduk bersama dan kesampingkan dulu ego masing-masing untuk bisa saling mengisi kelemahan gagasan setiap individu agar menjadi kekuatan yang mampu membawa perubahan-perubahan yang sangat mendasar untuk kepentingan bersama.

Perlu disadari bahwa masing-masing manusia mempunyai kelebihan dan kelemahannya, tapi jika diisi dan diimbangi dengan paham “sepengertian walaupun tidak sepengakuan” dalam mengolahnya untuk menjadi wujud, maka dengan sendirinya akan tercipta Karya Nyata bagi kehidupan.

Dengan siapa para penggagas ini harus bekerja bersama ? Setiap gagasan yang timbul dari masing-masing orang harus ditampung sesuai dengan bidang keahliannya. Maka duduklah bersama para konseptor, agar gagasan itu bisa dituangkan dalam konsep yang tegas dan jelas untuk diwujudkan.

Para konseptor juga sangat penting peranannya untuk menjadi pemegang obor dan penunjuk arah dalam upaya mencapai tujuan. Para konseptor dan penggagas harus mempunyai wadah yang jelas sebagai alat untuk menampung orang-orang yang akan berjalan dengan tujuan yang sama itu.

Sudah, jangan terpisahkan lagi ! Kuasa dan Kehendak membangun serta memelihara harus benar-benar dihidupkan serta mengakar dalam karakter jiwa revolusioner patriotisme dan nasionalisme yang obyektif. Duduk bersama di satu meja yang sifatnya dinamis untuk maju ke depan dengan cara reformasi diri total : “tinggalkan kebiasaan buruk lama, pelihara kebiasaan baik lama dan ciptakan kebiasaan baik baru” ! Inilah sifat dari jiwa revolusioner sejati yang obyektif.

Sifat kuasa dan kehendak yang selalu ingin merusak dan bahkan membiarkan itu, jangan berjalan melenggang kangkung tanpa ada yang mengimbangi. Inilah tugas para konseptor dan penggagas untuk mengimbangi dengan sifat kuasa dan kehendak untuk membangun dan memelihara.

Caranya dengan sungguh-sungguh ber-Niat, ber-Tekad dan ber-Kehendak untuk Bersatu !

Ingat ! Dengan semangat seperti ini, dulu para leluhur kita membawa kita kepada kemerdekaan dan mampu menciptakan suatu bangsa yang mempunyai Negara lalu diakui oleh seluruh dunia.

Kita kurang berterima kasih pada leluhur bangsa ini untuk semua pengorbanan yang telah mereka berikan pada kita. Tidak salah jika kita selalu diberi cobaan melalui bencana-bencana alam saat ini.

Kita sudah terlanjur keenakan menerima kemerdekaan dan diakui sebagai bangsa yang mempunyai negara tapi lupa mengisi dengan perbuatan yang mengarah pada cita-cita yang sesungguhnya para Leluhur Pendiri Bangsa ini. Sepertinya dalam benak dan otak kita seakan kemerdekaan bangsa ini ada begitu saja. Dengarlah dengan suara hati jeritan para pendahulu kita yang telah berjuang untuk kita semua agar tidak menjadi manusia nomaden, manusia jajahan atau budak dari bangsa asing.

Demi semua itu para leluhur dan ksatria sejati rela mati memperjuangkan apa yang kita nikmati sekarang ini sebagai Bangsa Nusantara dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Konsep dan gagasan para pendahulu atau leluhur bangsa ini bukan hanya berhenti di alam pikir tapi diwujudkan guna mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dan menciptakan suatu bangsa yang mempunyai negara. Walaupun mereka berbeda dalam cara tapi menyatukan maksud dan tujuannya yang sama. Jangan lagi semua ini diremehkan karena kemerdekaan dan proses perjalanan bangsa dan negara ini bukan untuk kenikmatan sesaat. Maka semangat mempertahankan dan mengisinya dengan baik mutlak selalu diutamakan.

Perjalanan Bangsa ini masih panjang dan perjuangannya-pun tidak akan pernah berhenti.

Demikian juga hendaknya perjuangan para konseptor dan penggagas sebagai generasi penerus juga harus ikut bertanggung-jawab dalam proses perjalanan panjang ini yang nantinya akan diwariskan pada anak cucu dan generasi selanjutnya. Kita masih  diberi nafas dan waktu, berarti kesempatan untuk merubah sikap dan berpindah dari para-dogma alam pikir ke paradigma berpikir yang jernih, guna melalukan perbuatan yang benar dan wajar dengan menyatukan berbagai elemen masyarakat, baik dari segi multi-dimensi bidang akademis, bisnis dan politis, maupun dari sudut pluri-disiplin sektor primer (pertanian-peternakan, kehutanan & kelautan), sekunder (industri) dan tersier (jasa).

Para konseptor dan penggagas yang bukan akal-akalan harus mampu terus berjuang tanpa merasa lagi sebagai korban dari sistem dan keadaan. Kita harus sanggup keluar dari keadaan dan kondisi semacam apapun jika kenyataan itu pada dasarnya bisa disiasati.

Berjuanglah tanpa pamrih untuk kehidupan Bangsa dan Negara ini ! Jangan melayani mereka yang memang sifat dan tugasnya di dunia menebarkan kebencian serta menggoda agar sifat kebaikan tidak terwujud sementara kejahatan semakin kuat dipermukaan bumi demi kepentingan dari sifat kejahatan itu sendiri.

Buktikan dengan tindakan yang luhur dan nyata untuk menjadi teladan generasi di masa datang !

Orang bersih adalah yang memiliki akal sehat, hati nurani dan kehendak bebas sehingga mampu bersikap tegas, berpikir jelas dan bertindak lugas sebagai insan bebas, berbudaya dan beradab.

Orang bersih adalah yang mempunyai Rasa, Cipta dan Karsa yang serasi, selaras dan seimbang dalam etos pengabdian diri pribadi dengan etos pengabdiannya pada Bangsa dan Negaranya.

Intinya orang yang tidak bisa gembira dan tertawa serta menari-nari diatas penderitaan orang lain.

Jika para konseptor dan para penggagas ini sepakat untuk duduk bersama, berjalan bersama dalam satu payung yang sama guna menciptakan konsep yang jelas arah dan tujuannya, maka banyak hal yang dapat dilakukan dalam “kebersamaan” atas dasar kejujuran, keterbukaan dan keterusterangan.

Sifat “kebersamaan” yang identik dengan sifat “gotong-royong” semakin langka dan nyaris hilang.

Sifat kegotong-royongan dapat membawa kita pada nilai-nilai kehidupan yang lebih berbudaya dan beradab. Sejak zaman dahulu gotong royong tidak pernah digunakan untuk tujuan negatif. Gotong-royong dan kebersamaan adalah kebiasaan baik lama yang merupakan keunggulan daya saing kita serta mampu menciptakan nilai tambah.

Ciptakan kegiatan-kegiatan seperti sarasehan atau seminar sesuai dengan bidang keahliannya lalu bentuk unit-unit usaha untuk menunjang langkah bersama. Bentuk kebersamaan ini bisa dijadikan wadah atau lembaga studi yang kreatif, kooperatif dan kompetitif demi alokasi optimal sumber daya, dana dan data. Berikan yang bermanfaat bagi Bumi Ibu pertiwi, Bangsa dan Negara ini !

Tunggu apa lagi wahai saudaraku ? Berbarislah mulai saat ini, sekarang ini juga ! Perubahan akan selalu terjadi setiap saat dan membawa karakter berdasarkan : “waktu, bentuk, sifat dan tempat”.

Tidak ada apapun atau siapapun yang akan dikorbankan jikalau nilai-nilai luhur dalam kehidupan ditegakkan pada tempatnya. Bumi Ibu Pertiwi terus menangis, karena terus menerus menanggung perbuatan kita yang melampaui batas; sementara orang bersih yang ditunggu-tunggu masih saja berjalan sendiri-sendiri.

Percayalah dan Yakinlah bahwa perubahan yang terjadi akan berpihak pada mereka yang sungguh-sungguh mematuhi dan menjalankan perintah dan larangan sesuai dengan hukum tertinggi, yaitu Hukum Alam Semesta.

“Siapa yang menanam akan menuai dan perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan, serta perbuatan jahat akan dibalas juga dengan kejahatan sekalipun sebesar biji sawi”.

Selamat ber-Karya Nyata saudaraku ! Hukum Alam Semesta dan Bumi Ibu Pertiwi mendukung semua perubahan ini karena sudah lelah dianiaya. Alam Semesta akan serasi, selaras dan seimbang kembali menurut sifatnya bersama “orang bersih yang berbaris untuk bekerja dan berkarya” !

 

Artikel terkait :

Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster
Orbs (English)
Orbs (Indonesia)
Dialog Dengan Orbs
Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)
Yoga Class
Pengertian Yoga
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Prenatal Yoga
Yoga Ibu Hamil
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop
Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)
Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali
The Studio Wellness Program at the STONES, Kuta, Bali
Teri Fish & Honey Fried Rice
Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java
Surya Candra Bhuana
Reiki di Pulau Dewata Bali
Nerang – Rain Stopper
Bali Classical Dance Course
Int’l Performance of I Putu Silaniyama
Pelatihan Perguruan Silat Tadjimalela
Prosesi ala PS Tadjimalela
Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage
Berkaca pada Anak-Anak sebuah Kerukunan Antar Umat Beragama
Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious
Gurindam Dua Belas
Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago
Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara
Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia
Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945
Dialog Dengan Orbs
Kesadaran Kosmos & Zona Photon
Proyeksi Nusantara
The Gaia Project 2012 (Indonesia)
The Gaia Project 2012 (English)
Wejangan Leluhur
Jati Diri & Rasa
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
Karya Nyata Gotong Royong
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani
Metta Karuna Pray

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: