Kesadaran Adalah Kunci Membangkitkan Cahaya Kesembuhan

Materi Workshop/Retreat : MEDITASI KESADARAN

oleh Sang Kala Tenang Putri

Sepuluh tahun yang lalu saya bertemu dengan seseorang yang memberi suatu pengajaran untuk mengetahui cara mendapatkan pencerahan. Pengertian saya tentang pencerahan sangatlah minim dan terbatas, namun rasa ingin tahu membawa saya untuk ikut serta di sesi yang saat itu ada 16 orang peserta termasuk saya.

Singkatnya, setelah saya mengalami metode pencerahan yang diberikan saat itu maka muncullah pertanyaan demi pertanyaan yang saya akui bahwa sesungguhnya terjadi penyangkalan dalam pikiran saya tentang pengalaman tersebut.

Namun seiring waktu yang berjalan saya tetap melatih diri dengan menggunakan metode pencerahan itu dan berusaha untuk menerimanya sebagai pengalaman baru dalam hidup saya. Diskusi terbuka dengan teman-teman yang sudah lebih dulu mengalami pencerahan dilakukan untuk menambah pengetahuan saya yang masih terbatas.

Selama satu tahun saya rajin mengikuti diskusi-diskusi rohani di berbagai tempat dan hanya menjadi pendengar dan mengamati saja. Ada perasaan berkecamuk dalam diri saya tentang kebenaran dari pengalaman pencerahan ini.

Petanyaan lalu muncul: apakah ini merupakan jalan yang benar dan tidak bertentangan dengan keyakinan agama saya? Atau saya sebenarnya hanya ikut-ikutan saja? Mengapa ada penyangkalan dalam pikiran saya mengenai apa yang saya alami tentang pencerahan ini?

Akhirnya saya mengambil keputusan untuk tidak berdiam diri, mulailah saya melakukan perjalanan untuk ‘mencari’ pengetahuan spiritual yang sangat saya butuhkan untuk menjawab semua realitas dalam hidup saya pribadi yang selama ini penuh dengan gejolak yang membuat saya stress. putus asa, bahkan cenderung menyiksa diri sendiri dengan berbagai kegiatan yang penuh dengan tantangan.

Maka sekarang saya hadir di ruangan ini untuk berbagi pengalaman dalam perjalanan saya, mungkin saja bisa ada manfaatnya bukan hanya untuk saya, tapi juga bagi kehidupan sehari-hari yang saya jalani bersama yang lain. Kewajiban saya adalah untuk memberi pengetahuan yang sudah saya terima dari kehidupan dan untuk kehidupan itu sendiri.

Coba  kita bayangkan jika ada seseorang yang bertanya kepada kita: Apakah anda sudah mengalami pencerahan? Saya akan menjawab: apa perlunya pencerahan? Apabila anda sudah mengalami pencerahan apakah saya harus mengikuti apa yang anda katakan?

Mengapa harus dipersoalkan bahwa kita sudah mengalami pencerahan atau belum mengalami pencerahan? Apa pentingnya pencerahan untuk saya? Pada akhirnya diri saya sendiri yang akan memutuskan apa yang penting dan apa yang saya butuhkan untuk hidup saya saat ini; bahwa saya tidak membutuhkan pencerahan, yang saya butuhkan adalah KESADARAN. Inilah sekelumit cerita dari pengalaman saya.

*BANGUN, BANGKIT DAN SADAR

Dapatkah kita membayangkan betapa nyaman dan leganya hati, jika kita tidak lagi mengalami kekecewaan. Tidak terpengaruh dengan hinaan, tidak merasa diri adalah korban, tidak pernah merasa bahwa kita adalah orang yang tidak mampu, tidak pernah merasa bahwa kita paling menderita, tidak merasa diri adalah yang paling benar.

Kita akan beralasan bahwa sebagai manusia tidaklah sempurna maka sangat wajar mengalami perasaan seperti ini dalam kehidupan. Lalu mengapa kita mengeluh apabila sudah menganggap wajar jika diri ini merasa menderita? Bahkan cara bunuh diri seakan dianggap wajar hanya karena kesulitan ekonomi saat ini. Segala hal seringkali dianggap suatu ke wajaran sehingga kita kehilangan sifat-sifat alamiah sebagai manusia yang manusiawi.

Kenyataannya bahwa dalam aktifitas sehari-hari kita akan berhadapan dengan realitas hidup namun bukan itu permasalahannya.

Masalah akan muncul  jika kita terkondisi oleh keadaan dan kenyataan. Kita terperangkap oleh illusi dan mimpi mengenai diri kita dan juga orang lain yang berhubungan dengan kita.

‘Bangun’! seperti  layaknya orang tidur lalu bermimpi, tetapi bisa saja kita akan tertidur kembali. Lalu kita akan melakukan kekeliruan yang sama dengan hari kemarin. Lalu bagaimana kita bisa keluar dari perangkap jika kita ingin meneruskan untuk tertidur dan bermimpi?

Pengalaman hidup yang saya jalani memang penuh dengan liku-liku, setiap masalah yang saya diskusikan dengan beberapa teman tidak membuat saya bisa keluar dari perangkap illusi itu. Mereka mengarahkan apa yang ‘harus’ saya lakukan. Akhirnya saya merasa menggantungkan diri saya pada mereka dan tidak mampu untuk menyelesaikan masalah saya sendiri.

Suatu saat saya mengalami peristiwa yang membuat semua kehidupan pribadi saya berubah. Perubahan ini disebabkan karena saya harus berhadapan dengan kenyataan dan saat peristiwa itu terjadi tidak ada satupun orang yang dapat membantu dan menolong kecuali diri saya sendiri.  Disaat saya berada dititik putus asa dan tidak ingin lagi meneruskan hidup ini maka disaat yang sama saya merasakan ada suatu kekuatan yang mendesak pada diri saya sendiri untuk ‘BANGUN DAN BANGKIT’.

Inilah PENYADARAN dan sekaligus PENCERAHAN menurut pengalaman saya. Mulai melangkah dengan sudut pandang yang berbeda dan perlahan memilah dan memilih apa yang ‘harus’ dilakukan atas dasar sikap dari diri sendiri dan bukan lagi ‘harus’ melakukan sesuatu karena sikap orang lain.

Apapun yang terjadi adalah resiko yang harus kita hadapi tanpa penyesalan karena itu adalah pilihan yang datang dari diri sendiri. Belajar menjadi diri yang memiliki tanggung jawab memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa. Sesungguhnya kenyataan dan keadaan memberi kita ‘cara’ untuk menciptakan solusi dan mengalami bahwa diri kita adalah sumber dari sebab dan akibat dalam kehidupan ini.

“ Sesungguhnya manusia adalah sumber solusi dan sekaligus juga sumber masalah”

Kita yang memutuskan, apakah akan mengambil peran sebagai orang yang merupakan sumber solusi atau sumber masalah bagi kehidupan yang kita jalani?‘Bangun’ saja ternyata tidak cukup, kita harus bangkit dan mengganti mimpi menjadi kenyataan dan menghargai realitas sebagai lintasan peristiwa yang membuat kita berkembang dan tumbuh dalam menyikapi kehidupan.

Merubah sudut pandang tentang cara mengamati diri sendiri dan menyadari apa yang kita lakukan, menyadari apa yang kita katakan, menyadari apa yang kita rasakan, menyadari  apa yang kita inginkan, menyadari  tingkah laku yang kita ekpresikan. Menyadari,  menyadari dan menyadari semua hal yang terjadi.

Bangun lalu bangkit agar kita dapat memahami bahwa hidup bukanlah suatu mimpi buruk seperti yang kita alami saat kita ‘tertidur’ adalah jalan untuk mengembangkan KESADARAN menuju PENCERAHAN.

KESADARAN akan membawa kita untuk membangkitkan Cahaya Penyembuhan yang ada didalam diri kita sendiri.Kesadaran akan adanya pikiran, akan adanya tubuh dan jiwa yang merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

KESADARAN adalah pernyataan pada diri kita sendiri tentang keber’ADA’an kita. Bagaimana cara kita ‘menghargai’ keberadaan diri kita atau cara kita ‘memandang’ keberadaan diri kita, bagaimana cara kita ‘mengekpresikan’ diri kita adalah gambaran tentang siapa diri kita bagi orang lain.

Sikap menilai dan kadang cenderung menghakimi tidak akan datang begitu saja seolah-olah tanpa sebab. Kita bereaksi atas penilaian dan penghakiman dari orang lain ini juga hanya akibat jika kita menyadari sumber sebabnya.

Sebab dan akibat adalah merupakan hukum kehidupan yang kita lupakan. “manusia adalah sumber dari segala sebab dan akibat”. Nampaknya pengamatan diri akan dapat membantu kita belajar mengetahui  tentang sumber sebab dan akibat ini.

Seperti orang yang melukis dan memberi warna serta karakter sebuah pada lukisan maka seperti itu juga kahidupan yang kita jalani. Makna dan keindahan juga kekuatan karakter pada sebuah lukisan adalah karya dari sang pelukis itu sendiri. Jiwa, pikiran juga perasaan sang pelukis tercermin melalui lukisannya.

“ Lukisan diri kita yang diekperesikan melalui perasaan, perkataan, pikiran dan tindakan yang kita jalani dalam mengisi kehidupan adalah nilai tentang siapa diri kita”

*KENAL DIRI, TAHU DIRI DAN JAGA DIRI

Kenal Diri, Tahu Diri dan Jaga Diri, adalah suatu konsep yang saya wujudkan menjadi metode atau cara untuk  Bangun lalu Bangkit dan sadar menghadapi kenyataan dan realitas kehidupan. Kenal Diri terhubung dengan kesadaran jiwa, Tahu Diri terhubung dengan kesadaran pikiran dan Jaga Diri terhubung dengan kesadaran badan fisik.

Banyak hal yang sudah kita pelajari dari berbagai seminar dan work shop untuk tujuan yang sama yaitu mencari jawaban tentang ‘siapakah saya’ dalam arti yang sesungguhnya.

Apakah saya adalah nama saya, apakah saya adalah profesi saya, apakah saya adalah pikiran-pikiran saya, atau apakah saya adalah masalah-masalah saya, apakah saya adalah keyakinan saya? Lalu ‘SIAPA SAYA’ ?

Pertanyaan ini tidak akan datang begitu saja, dibutuhkan kejujuran, keterbukaan dari diri kita sendiri untuk menjawabnya. Seminar atau work shop, buku-buku yang mengupas tentang hal kesadaran tidak akan sepenuhnya bisa membantu kita untuk menjawab pertanyaan tentang ‘siapa saya’.

Pembicara, penulis buku hanya sebagai media untuk menyampaikan pengalamannya. Mendengarkan seminar dan mengikuti work shop atau membaca buku-buku bukan berarti kita setuju atau tidak setuju untuk menjalaninya dengan cara yang sama, hal ini disebabkan karena pengalaman hidup masing-masing diri berbeda.

Tidak mudah bagi kita untuk menerima sesuatu gagasan dan ide yang baru yang bukan merupakan bagian dari apa yang kita yakini. Reaksi kita adalah bisa menyangkal atau bisa saja tersinggung secara emosinal karena pendapat orang lain.

Kita sudah menghipnotis diri sendiri dengan kebiasaan-kebiasan yang sudah terprogram dan mengidentifikasikan diri kita dengan segala sesuatu yang bukan diri kita yang sesungguhnya.

Reaksi pertama pada diri kita jika mendengar sesuatu yang baru adalah ketakutan. Kita sebenarnya tidak akan takut pada sesuatu yang tidak ketahui, namun yang kita takuti adalah kehilangan apa yang sudah kita yakini.

Kita akan sulit bicara dengan seseorang yang meyakini bahwa dirinya paling tahu, dan paling benar, namun lebih mudah bila kita bicara dengan sesorang yang mau terbuka menunjukkan sikap mementingkan dirinya sendiri namun mengetahui bahwa dirinya tidak lebih tahu dan lebih benar dari orang lain.

Mencoba untuk mendengarkan berarti kita maju selangkah untuk ‘Bangun’,  mencoba untuk mengerti bahwa ada banyak hambatan didalam diri kita untuk melakukan langkah kedua yaitu menuju kepada ‘Bangkit’. Mencoba untuk memahami bahwa yang kita perlukan adalah mempelajari apa yang belum kita ketahui, ini adalah sikap yang menentukan kita maju menuju ‘penyadaran’.

Sejauh mana kita siap untuk memikirkan sesuatu yang belum kita ketahui ?

*SESI PELATIHAN ‘KENAL DIRI’

Menjadi ‘pengamat’ untuk ‘mengamati’ diri sendiri ! ini langkah awal untuk mempraktekkan metode kenal diri yang berhubungan dengan jiwa kita.

Saya akan menyampaikan metode yang sangat sederhana dan praktis dengan pemikiran yang menggunakan akal sehat dan dasarnya adalah mengalami bersama diri sendiri.

. . . . . . . . Selengkapnya metode & praktek ada dalam workshop . . . . . . . . . . :

* Yin Yoga & Consciosness Meditation 19-20 Februaru 2011 @ the STONES, Kuta, Bali

* Tantra Kriya Yoga & Energy Transformation of Micro – Macrocosm 30 April & 1 May 2011 @ the STONES, Kuta, Bali

***

Related Articles :

Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster
Orbs (English)
Orbs (Indonesia)
Dialog Dengan Orbs
Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)
Yoga Class
Pengertian Yoga
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Prenatal Yoga
Yoga Ibu Hamil
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
Cakra & Kundalini
Holistic Healing Workshop
Holistic Healing Workshop – English
Awareness is Key to Evoke Healing Light
Kesadaran adalah Kunci Membangkitkan Cahaya Kesembuhan
‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop
Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)
Body Earth Healing
Aura Colors Reading Workshop
Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali
The Studio Wellness Program at the STONES, Kuta, Bali
Chi dan Energi Penyembuhan
Natural Healing with Acupuncture
Acupuncture for Slimming
Acupuncture for Beauty
Teri Fish & Honey Fried Rice
Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java
Surya Candra Bhuana
Reiki di Pulau Dewata Bali
Nerang – Rain Stopper
Bali Classical Dance Course 
Int’l Performance of I Putu Silaniyama
Pelatihan Perguruan Silat Tadjimalela
Prosesi ala PS Tadjimalela
Seruling Dewata
Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage
Berkaca pada Anak-Anak sebuah Kerukunan Antar Umat Beragama
Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious
Gurindam Dua Belas
Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago
Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara
Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia
Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945
Dialog Dengan Orbs
Kesadaran Kosmos & Zona Photon
Proyeksi Nusantara
The Gaia Project 2012 (Indonesia)
The Gaia Project 2012 (English)
Wejangan Leluhur
Jati Diri & Rasa
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
Karya Nyata Gotong Royong
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani
Metta Karuna Pray

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: