Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Perahu Masa Hindu – Budha

Salah satu bukti terkuat yang menggambarkan perahu tradisional Nusantara pada masa Hindu – Budha adalah relief-relief yang dipahatkan pada Candi Borobudur. Bentuk-bentuk perahu yang terdapat pada relief-relief candi Borobudur antara lain :

  • Perahu-perahu besar dengan layar lebar yang dapat memuat barang dagangan sampai ratusan ton dan penumpang sekitar dua ratus orang.
  • Perahu-perahu kecil tanpa cadik atau yang disebut juga dengan perahu jukung, perahu lesung, perahu bertiang tunggal dengan cadik, perahu bertiang tunggal tanpa cadik, perahu dayung tanpa tiang, serta perahu bertiang ganda dengan cadik.

Perkembangan bentuk perahu tradisional Nusantara pada masa ini banyak dipengaruhi dari perahu Jung (layar lebar) dari Cina. Datangnya perahu-perahu Jung dari Cina, teknologi perahu Nusantara tidak hanya menggunakan cadik dan berbentuk sederhana, tapi juga menggunakan layar lebar.

*

Perahu Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Sumatera Selatan yang menguasai lautan dan merupakan negara maritim yang disegani pada abad 7M. Sumber-sumber tertulis maupun tidak tertulis dari masa kerajaan ini menjelaskan bahwabentuk perahu Sriwijaya yang menguasai Selat Malaka merupakan bentuj jung yang memiliki bobot hingga ratusan ton. Berdasarkan hasil penelitian, pembuatan perahu Sriwijaya tidak menggunakan paku, besi, tetapi hanya menggunakan pasak kayu.

Jenis perahu lainnya dari masa Sriwijaya adalah perahu lesung, yaitu perahu yang terbuat dari satu balok kayu besar dan panjang yang dilubangi di bagian tengahnya. Jennis-jenis perahu lesung dari masa kerajaan ini antara lain : perahu lesung yang sangat sederhana, perahu lesung yang dipertinggi dengan cadik, dan perahu lesung yang dipertinggi tanpa cadik. Perahu-perahu ini ada yang dilengkapi dengan tiang tunggal dan ada pula yang dilengkapi dengan tiang ganda.

*

Perahu Majapahit

Kerajaan Majapahit merupakan sebuah kerajaan besar pada abad 13-15 Masehi yang hampir menguasai hampir seluruh Nusantara dan beberapa daerah di luar Indonesia serta memiliki perdagangan dan pelayaran yang begitu maju. Perahu-perahu jung pada masa Majapahit ini memiliki berbagai ukuran mulai dari kecil hingga besar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perjalanan yang ditempuh. Perjalanan mencari rempah-rempah ke daerah Ambon, Sumbawa, Flores dan lain-lain, perahu yang digunalan adalah perahu Jung besar dengan bobot ratusan ton. Sedangkan pelayaran dalam wilayah sekitar pulau Jawa menggunakan perahu jung kecil atau perahu jungkung.

*

Perahu Masa Islam

Pada masa ini perahu-perahu yang dipergunakan dan beroperasi di lautan Indonesia semuanya menggunakan layar, antara lain perahu jung, perahu mayang dan perahu jukung. Jenis-jenis perahu tersebut umumnya banyak digunakan oleh penduduk di Pulau Jawa. Pada tahun 1700-1800 Masehi dikenal jenis perahu kora-kora dan perahu pirate. Kora-kora yang muncul pada tahun 1700 dilengkapai dengan sebuah layar besar dan sebagai penguat agar tidak terbalik dilengkapi dengan cadik. Selain digunakan sebagai sarana berdagang, kora-kora dibuat ramping dan panjang. Pada tahun 1800 Masehi, pelaut-pelaut Bugis yang dalam pelayarannya memanfaatkan angin musim barat laut dan permulaan angin musim tenggara menggunakan jenis perahu yang disebut dengan perahu Pa’dewakang. Perahu Pa’dewakang ini mempunyai bentuk yang besar dengan daya angkut yang cukup besar pula, karena pada masa Islam perahi ini digunakan untuk mengangkut komoditas perdagangan hingga ke pantai utara Australia.

*

Sumber :

Museum Bahari, Jakarta Utara.

Semua data dikumpulkan dan diolah oleh Keluarga Sastro saat wisata budaya mengunjungi museum-museum di Jakarta.

***

Artikel terkait :
Wejangan Leluhur
Manusia Seutuhnya
Manusia dan Fitrahnya
Kehidupan
Peranan Perempuan dalam Skenario Blueprint Pancasila
Makna dari Ilmu & Pengetahuan (Bagian I)
Kebijaksanaan dari Visi Kepemimpinan
Jati Diri & Rasa
Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
Kesadaran Kosmos & Zona Photon
Proyeksi Nusantara
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani
The Gaia Project 2012 (Indonesia)
The Gaia Project 2012 (English)
Serat Jayabaya (Jawa)
Ramalan Jayabaya (Indonesia)
Jayabaya Prophecy (English)
Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage
Yoga Class
Pengertian Yoga
Kelas Yoga & Singing Bowl
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Yoga Ibu Hamil
Prenatal Yoga
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
Cakra & Kundalini
‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop
Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)
Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali
The Studio Wellness Program at the STONES, Kuta, Bali
Teri Fish & Honey Fried Rice
Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java
Surya Candra Bhuana
Orbs at Yoga Class
Orbs & Light Beings in Ancient Tribe, Java-Indonesia
Conversation with the ORBS
Perguruan Silat Tadjimalela
Prosesi Ala PS Tadjimalela
Pelatihan Perguruan SIlat Tadjimalela
Pengalaman Pelatih Silat Lokal di Kancah Global
Momen Pelatihan dan Kejuaraan Timnas Indonesia
PS Tadjimalela – Konsolidasi Batin dalam Halal bi Halal
Kerajaan Sumedang Larang
Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan
Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster
Kerajaan Pajajaran
Menapaki Perjalanan Sunda
Ki Sunda di Tatar Sunda
Ki Sunda di Tatar Sunda-Indonesia
Kalender Sunda & Revisi Sejarah
Prasasti Batu Tulis Bogor
Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Perbedaan Batu Tulis, Petilasan & Makam
The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb
Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959
Makanan Sunda
Susunan Warna Kasundaan
Makanan Sunda
Susunan Warna Kasundaan
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian
Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age
Prehistoric Remains from Neolitic Stage
Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam
Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River
Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung
Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda
Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja
Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh
Kebon Raya Bogor
Gurindam Dua Belas
Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago
Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara
Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: