Archive for October, 2010

Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945

L A H I R N Y A

P A N C A – S I L A.

*

PIDATO PERTAMA TENTANG PANCA SILA

YANG DIUCAPKAN PADA TANGGAL

1 JUNI 1945 OLEH BUNG KARNO

* *

Soekarno

SEPATAH KATA

Sebagai “Kaicoo” (ketua) dari “Dokuritsu Zyiunbi Tyioosakai” (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) saya mengikuti dan mendengar sendiri diucapkannya pidato ini oleh Bung Karno, sekarang Presiden negara kita.

Badan “Dokuritsu Zyanbi Tyoosakai” itu telah mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei tahun 1945 sampai dengan tanggal 1 Juni 1945 dan yang kedua dari tanggal 10 Juli 1945 sampai dengan tanggal 17 Juli 1945.

“Lahirnya Panca Sila” ini yaitu buah “stenografisch verslag” dari pidato Bung Karno yang diucapkan dengan tidak tertulis dahulu (voor de vuist) dalam sidang yang pertama pada tanggal 1 Juni 1945 ketika sidang membicarakan “Dasar (Beginsel) Negara kita”, sebagai penjelmaan dari pada angan-angannya. Sudah barang tentu kalimat-kalimat sesuatu pidato yang tidak tertulis dahulu, kurang sempurna tersusunnya.

Tetapi yang penting ialah ISINYA!

Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh “Lahirnya Panca Sila” ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu demokratisch beginsel yang menjadi Dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada di bawah penilikan yang keras dari pemerintah Bala tentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang!

Selama Farsisme Jepang berkuasa di negri kita, Democratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya.

Mudah-mudahan “Lahirnya Panca Sila” ini dapat dijadikan pegangan, dijadikan pedoman oleh Nusa dan Bangsa kita seluruhnya, dalam usaha memperjoangkan dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara.

Dr.K.R.T. Rajiman Wediyodiningrat.

* * *

PIDATO LAHIRNYA PANCA SILA

Paduka tuan Ketua jang mulia !

Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnja, maka sekarang saja mendapat kehormatan dari Paduka tuan Ketua jang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saja. Saja akan menetapi permintaan paduka tuan Ketua jang mulia. Apakah permintaan Padukan tuan Ketua jang mulia? Paduka tuan Ketua jang mulia minta kepada sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saja kemukakan di dalama pidato saja ini.

Maaf, beribu maaf! Banjak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal jang sebenarnja bukan permintaan Paduka tuan Ketua jang mulia, jaitu bukan dasarnja Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saja, jang dimintai oleh Paduka tuan Ketua jang mulia, ialah dalam bahasa Belanda: “Philosofische grondslah” dari pada Indonesia Merdeka. Pilosofische gronslah itulah pundamen, filsafat, pikiran-jang-sedalam-dalamnja, djiwa, hasrjrat-jang-sedalam-dalamnja untuk diatasnja didirikan gedung Indonesia Merdeka jang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saja kemukakan, tetapi lebih dahulu ijinkanlah saja membitjarakan, memberitahukan kepada tuan-tuan sekalian, apakah jang saja artikan dengan perkataan “merdeka”.

Merdeka buat saja adalah: “political independence”, politieke onafhankelijkheid. Apakah jang dinamakan politieke onafhankelijkheid?

Tuan-tuan sekalian! Dengan terus terang sadja saja berkata: Tatkala Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saja, di dalam hati saja banjak chawatir, kalau-kalau banjak anggota jang saja katakan di dalam bahasa asing, maafkan perkataan ini “zwaarwitchig” akan perkara ketjil-ketjil. “Zwaarwitchtig” sampai kata orang Djawa “djelimet”. Djikalau sudah membitjarakan hal jang ketjil-ketjil sampai djelimet barulah mereka berani menjatakan kemerdekaan.

Tuan-tuan jang terhormat! Lihatlah di dalam sedjarah dunia, lihatlah kepada perdjalanan dunia itu. Banjak sekali negara-negara jang merdeka, tetapi bandingkanlah kemerdekaan negara-negara itu satu sama lain! Samakah isinja, samakah deradjatnja, negara-negara jang merdeka itu? Djermania merdeka, Saudi Arabia merdeka, Iran merdeka, Tiongkok merdeka, Nippon merdeka, Amerika merdeka, Inggeris merdeka, Rusia merdeka, Mesir merdeka, namanja semuanja merdeka, tetapi bandingkanlah isinja!

Alangkah berbedanja isi itu! Djikalau kita berkata: Sebelum Negara merdeka, maka harus lebih dahulu ini selesai, itu selesai, itu selesai, sampai djelimet!, maka saja bertanja kepada tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80% dari rakjatnja terdiri dari kaum Badui, jang sama sekali tidak mengerti hal ini atau itu.

Batjalah buku Amstrong jang mentjeritakan tentang Ibn Saud yang mentjeritakan tentang Ibn Saud! Disitu ternjata, bahwa tatkala Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakjae Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu bensin. Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia itu! Toch Saudi Arabia merdeka!

Lihatlah pula djikalau tuan-tuan kehendaki tjontoh jang lebih hebatja Sovjet Rusia! Pada masa Lenin mendirikan Negara sovjer, adakah rakjat Sovjet sudah tjerdas? Seratus limapuluh miljun rakjat Rusia, adalah rakjat Musjik jang lebih dari pada 80% tidak dapat membatja dan menulis, bahkan dari buku-buku jang terkenal dari Leo Tolstoi dan Fulop Miller, tuan-tuan mengetahui berapa keadaan rakjat Sovjet Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Sovjet itu, dan kita sekarang di sini mau mendirikan negara Indonesia Merdeka. Terlalu banjak matjam-matjam soal kita kemukakan!

Maaf, PT Zimuktokutyoo! Berdirilah saja punja bulu, kalau saja membatja tuan punja surat, jang minta kepada kita supaja dirantjangkan sampai dejelimet hal ini dan itu dahulu semuanja! Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai djelimet, maka saja tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semuanja tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, sampai di lobang kubur! (Tepuk tangan riuh).

Saudara-saudara! Apakah jang dinamakan merdeka? Di dalam tahun ’33 saja telah menulis satu risalah. Risalah jang bernama “Mentjapai Indonesia merdeka”. Maka di dalam risalah tahun 33 itu, telah saja katakan, bahwa kemerdekaan, plitieke onaghankelijkeheid, politikal independence, ta’ lain dan ta’ bukan, ialah satu djembatan, satu djembatan emas. Saja katakan di dalam kitab itu bahwa di seberangnja djembatan itulah kita sempurnakan kita punja masjarakat.

Ibn Saud mengadakan satu negara di dalam satu malam, “in one night only!”, kata Aemstrong di dalam kitabnja, Ibn Saud mendirikan Saudi Arabia Merdeka disatu malam sesudah ia masuk kota Riad dengan 6 orang! Sesudah “djembatan” itu diletakkan oleh Ibn Saud, maka di seberang djembatan artinja kemudian dari pada itu, Ibn Saud barulah memperbaiki masjarakat Saudi Arabia. Orang jang tidak dapat membatja diwadjibkan beladjar membatja, orang jang tadinja bergelandangan sebagai nomade itu orang Badui, diberi peladjaran oleh ibn Saud djangan bergelandangan, dikasih tempat untuk bertjotjok tanam. Nomade dirubah oleh Ibn Saud menjadi kaum tani, semuanja di seberang djembatan. Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Sovjet Rusia Merdeka, telah mempunjai Djnepprpropstoff, dam jang maha besar disungai Djenpper? Apa ia telah mempunjai radio station jang menjundul keangkasa? Apa ia telah mempunjai kereta-kereta api tjukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang rusia pada waktu Lenin mendirikan Sovyet Merdeka telah dapat membaca dan menulis.  Tidak, tuan-tuan yang terhormat! Di seberang jembatan emas yang diadakan Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radiostation, baru mengadakan sekolahan, baru mengadakan Creche, baru mengadakan Djnepprprostoff!

Maka oleh karena itu saya minta kepada tuan-tuan sekalian, janganlah tuan-tuan gentar di dalam hati, janganlah mengingat bahwa ini dan itu lebih dulu harus selesai dengan jelimet, dan kalau sudah selesai baru kita dapat merdeka. Alangkah berlainannya tuan-tuan punya semangat, jikalau tuan-tuan demikian, dengan semangat pemuda-pemuda kita yang dua milliun banyaknya. Dua milliun pemuda ini menyampaikan seruan pada saya, 2 milliun pemuda ini semua berhasrat Indonesia Merdeka Sekarang! (Tepuk tangan riuh).

Saudara-saudara, kenapa kita sebagi pemimpin rakjat, jang mengetahui sedjarah mendjadi zwaarwitchig, mendjadi gentar, padahal sembojan Indonesia Merdeka bukan sekarang sadja kita siarkan? Berpuluh-puluh tahun jang lalu, kita telah menjiarkan sembojan Indonesia Merdeka, bahkan sedjak tahun 1932 dengan njata-njata kita mempunjai sembojan: INDONESIA MERDEKA SEKARANG” bahkan 3 kali sekarang, jaitu Indonesia Merdeka sekarang, sekarang, sekarang! (Tepuk tangan riuh). . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Selengkapnya download di sini

* * *

Artikel terkait :
Ki Sunda di Tatar Sunda
Menapaki Perjalanan Sunda
Kalender Sunda & Revisi Sejarah
Makanan Sunda
Susunan Warna Kasundaan
Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda
Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan
Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja
Ras Nusantara
Ketika Jawa Bertemu Belanda
Prasasti Batu Tulis Bogor
Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Perbedaan Batu Tulis, Petilasan dan Makam
The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb
Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959
Kebon Raya Bogor
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian
Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age
Prehistoric Remains from Neolitic Stage
Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam
Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River
Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung
Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta
Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata
Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah
Gurindam Dua Belas
Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago
Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara
Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia
Kerajaan Salakanagara
Kerajaan Tarumanagara
Kerajaaan Indraprahasta
Kerajaan Kendan
Kerajaan Galuh
Kerajaan Sunda
Wangsa Sanjaya
Kerajaan Saunggalah
Kerajaan Sunda-Galuh
Kerajaan Kuningan
Kerajaan Cirebon
Perang (Pasundan) Bubat
Kerajaan Sumedang Larang
Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia
Kerajaan Banten
Kerajaan Talaga
Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh
Musik/Music
Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music
Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music
Yoga Class
Yoga & Book Discussion
Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)
Pengertian Yoga
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Prenatal Yoga
Yoga Ibu Hamil
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
Orbs at Yoga Class
‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop
Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)
Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali
Teri Fish & Honey Fried Rice
Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java
The Studio Wellness Program at The Stones, Kuta, Bali
Surya Candra Bhuana
Wejangan Leluhur
Jati Diri & Rasa
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani
Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster

Advertisements

Asal Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Oleh : Tim Shangkala

Pulau Penyengat

Mengunjungi Kepulauan Riau seperti menghubungkan tapak kaki kita dengan jejak para leluhur melayu kita terdahulu. Salah satu pulau sejarah dan budaya yang kami kunjungi adalah Pulau Penyengat. Di sinilah kita mengatahui asal-usul bahasa nasional kita : Bahasa Indonesia.

Di pulau ini terdapat makam para leluhur Melayu yaitu Kerajaan Riau-Lingga. Diantara makam-makam tersebut terdapat makam sejarawan, budayawan dan sastrawan terkemuka, yaitu Raja Ali Haji (1808 – 1873). Beliau merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis.

makam Raja Ali Haji

Keberadaan Raja Ali Haji tercatat dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Di akhir abad ke-19 beliau membuat kamus tata bahasa Melayu yang lengkap, yang saat itu dibantu oleh sahabatnya yang sekaligus sarjana budaya Belanda yaitu Van Der Waal. Karya beliau kemudian dibawa ke Batavia. Karena saat itu kamus bahasa Melayu merupakan kamus bahasa daerah terlengkap yang diperoleh pemerintahan saat itu yaitu Pemerintahan Belanda, maka ditetapkanlah bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar dalam pemerintahan dan pendidikan di Hindia Belanda (Indonesia sebelum merdeka). Dalam perjalanan bangsa menuju kemerdekaan, Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia.

Bila saja, saat itu di Batavia pemerintahan Hindia Belanda sudah memiliki kamus tata bahasa daerah lain yang lebih lengkap dari kamus Melayu-nya Raja Ali Haji, misalnya bahasa Bali atau Sunda, maka dasar bahasa nasional kita bukanlah bahasa Melayu da perkembangannyapun berbeda.

Gurindam Dua Belas

Selain merumuskan tata bahasa Melayu, Raja Ali Haji menciptakan karya-karya sastra Melayu yang salah satunya adalah Gurindam dua belas di tahun 1847. Yang merupakan dua belas pasal berisi nasehat-nasehat tentang ibadah, kewajiban pemimpin, kewajiban anak, orang tua, hidup bermasyarakat, budi pekerti.

Tim Shangkala di Kepulauan Riau

Artikel terkait :

Ki Sunda di Tatar Sunda

Menapaki Perjalanan Sunda

Kalender Sunda & Revisi Sejarah

Makanan Sunda

Susunan Warna Kasundaan

Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda

Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan

Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja

Ras Nusantara

Ketika Jawa Bertemu Belanda

Prasasti Batu Tulis Bogor

Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Perbedaan Batu Tulis, Petilasan dan Makam

The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb

Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959

Kebon Raya Bogor

Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)

Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian

Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age

Prehistoric Remains from Neolitic Stage

Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam

Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River

Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung

Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta

Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata

Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah

Gurindam Dua Belas

Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Tarumanagara

Kerajaaan Indraprahasta

Kerajaan Kendan

Kerajaan Galuh

Kerajaan Sunda

Wangsa Sanjaya

Kerajaan Saunggalah

Kerajaan Sunda-Galuh

Kerajaan Kuningan

Kerajaan Cirebon

Perang (Pasundan) Bubat

Kerajaan Sumedang Larang

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia

Kerajaan Banten

Kerajaan Talaga

Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh

Musik/Music

Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music

Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music

Yoga Class

Yoga & Book Discussion

Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)

Pengertian Yoga

Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh

Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul

Prenatal Yoga

Yoga Ibu Hamil

Meditasi

Rileksasi Dalam

Meditation

Orbs at Yoga Class

‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop

Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)

The Studio Wellness Program at the STONES, Kuta, Bali

Teri Fish & Honey Fried Rice

Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java

The Studio Wellness Program at The Stones, Kuta, Bali

Surya Candra Bhuana

Wejangan Leluhur

Jati Diri & Rasa

Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)

Garuda Pancasila

Bhinneka Tunggal Ika

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca

19 Unsur Proses Perjalanan Rohani

Prosedure Darurat Gempa Bumi

Krakatau (Indonesia)

Krakatau (English)

Earthquake Emergency Procedure

Earthquake Cloud

Awan Gempa

Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam

Animal Signs of Natural Disaster

Gurindam Dua Belas

Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad yang tinggal dan berkarya di Pulau Penyengat (Kepulauan Riau), menciptakan berbagai karya sastra Melayu yang salah satunya adalah Gurindam dua belas di tahun 1847. Karya sastra terkenal dari awal diciptakan hingga saat  ini merupakan dua belas pasal berisi nasehat-nasehat tentang ibadah, kewajiban pemimpin, kewajiban anak, orang tua, hidup bermasyarakat, budi pekerti.

Raja Ali Haji

Gurindam I

Ini gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah Ia dunia mudarat.

Gurindam II

Ini gurindam pasal yang kedua:

Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

Gurindam III

Ini gurindam pasal yang ketiga:

Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadaiah damping.
Apabila terpelihara lidah,
niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi’il yang tiada senunuh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjaian yang membawa rugi.

Gurindam IV

Ini gurindam pasal yang keempat:

Hail kerajaan di daiam tubuh,
jikalau lalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur2.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

Gurindam V

Ini gurindam pasal yang kelima:

Jika hendak mengenai orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Gurindam VI

Ini gurindam pasal yang keenam:

Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh dimenyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,

Gurindam VII

Ini Gurindam pasal yang ketujuh:

Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah landa hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
I’ika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

Gurindam VIII

Ini gurindam pasal yang kedelapan:

Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar dan pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syarik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebalikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

Gurindam IX

Ini gurindam pasal yang kesembilan:

Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

Gurindam X

Ini gurindam pasal yang kesepuluh:

Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.

Gurindam XI

Ini gurindam pasal yang kesebelas:

Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hajat.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.

Gurindam XII

Ini gurindam pasal yang kedua belas:

Raja muafakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh anayat.
Kasihan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.

* * *

Artikel terkait :
Ki Sunda di Tatar Sunda
Menapaki Perjalanan Sunda
Kalender Sunda & Revisi Sejarah
Makanan Sunda
Susunan Warna Kasundaan
Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda
Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan
Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja
Ras Nusantara
Ketika Jawa Bertemu Belanda
Prasasti Batu Tulis Bogor
Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Perbedaan Batu Tulis, Petilasan dan Makam
The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb
Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959
Kebon Raya Bogor
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian
Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age
Prehistoric Remains from Neolitic Stage
Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam
Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River
Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung
Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta
Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata
Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah
Gurindam Dua Belas
Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago
Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara
Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia
Kerajaan Salakanagara
Kerajaan Tarumanagara
Kerajaaan Indraprahasta
Kerajaan Kendan
Kerajaan Galuh
Kerajaan Sunda
Wangsa Sanjaya
Kerajaan Saunggalah
Kerajaan Sunda-Galuh
Kerajaan Kuningan
Kerajaan Cirebon
Perang (Pasundan) Bubat
Kerajaan Sumedang Larang
Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia
Kerajaan Banten
Kerajaan Talaga
Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh
Musik/Music
Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music
Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music
Yoga Class
Yoga & Book Discussion
Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)
Pengertian Yoga
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Prenatal Yoga
Yoga Ibu Hamil
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
Orbs at Yoga Class
‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop
Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)
Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali
Teri Fish & Honey Fried Rice
Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java
The Studio Wellness Program at The Stones, Kuta, Bali
Surya Candra Bhuana
Wejangan Leluhur
Jati Diri & Rasa
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani
Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster

Boats and Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Boats & Ships during the Hindu – Buddhist Reign in Indonesia

One of the pieces of evidence that depicted the traditional boats and ships of Nusantara during the Hindu-Buddhist reign was the carvings on Borobudur Temple. The shapes and sizes of ships were among others:

  • Big ships with large sails which could carry hundreds of tons of cargo and around 200 passengers.
  • Small boats without outrigger, known locally as jukung, dugout canoe, single mast boat with or without outrigger, row boat, and double mast outriggers.

The shape and size of Nusantara traditional boats and ships then was very much influenced by Chinese junks which had large sails.

*

Sriwijaya Ships

The Hindu-Buddhist kingdom of Sriwijaya which had its power base in South Sumatra, was a respected maritime kingdom in the 7th century AD. According to various sources, including written records, the naval force of Sriwijaya which commanded the Malacca Strait, had junks of various sizes, weighting hundreds of tons. According the researchers who conducted studies on the Sriwijaya’s ships, no material nails were used on the ships, instead the shipbuilders need wooden pegs.

Other types of boats from the Sriwijaya is mortar boats, boats made of one large and long logs with a hole in the middle. The types of mortar from the royal boat, among other things: a very simple boat mortar, mortar boats are enhanced with outrigger, and a heightened mortar boat without outrigger. The boats have a pole equipped with a single and some are equipped with a double pole.

*

Majapahit Ships

Majapahit was a large Hindu kingdom in 13th – 15th centuries AD which reign over almost all parts of Nusantara, including some areas outside Indonesia, as it had already had well developed trade and sea transportation systems. Ships during the Majapahit reign comprised various sizes and weights which were designed to suit their voyages to their destination points. Large ships that could carry hundreds of tons of cargo were used to carry spices from Ambon, Sumbawa, Flores and other islands in the eastern part of the archipelago while smaller ships or dugout carries were used to travel to areas around Java island.

*

Types of Boats & Ships during the Islamic Kingdom

During this period, many boats like mayang and dugout canoes and junks were furnished with sails. They were used in Java. Between 1700 and 1800, new types of ships, kora-kora and pirate were introduced. Kora-kora was equiped with a large sail and outrigger, so that it would not be easily overturned by rolling waves. Besides functioning as a trade ship. Kora-kora also functions as a war ship because of its streamlined shape. In 1800, many Bugis sailors made use of the west-northwest tailwind to sail with their Pa’dewakang, a large traditional cargo ship, to transport commodities to various destinations until nort coast Australia.

*

Source :

From Maritime Museum, North Jakarta

All data taken by Sastro family when Culture tour visiting Museums in Jakarta.

* * *

Related Articles :
Wejangan Leluhur
Manusia Seutuhnya
Manusia dan Fitrahnya
Kehidupan
Peranan Perempuan dalam Skenario Blueprint Pancasila
Makna dari Ilmu & Pengetahuan (Bagian I)
Kebijaksanaan dari Visi Kepemimpinan
Jati Diri & Rasa
Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
Kesadaran Kosmos & Zona Photon
Proyeksi Nusantara
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani
The Gaia Project 2012 (Indonesia)
The Gaia Project 2012 (English)
Serat Jayabaya (Jawa)
Ramalan Jayabaya (Indonesia)
Jayabaya Prophecy (English)
Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage
Yoga Class
Pengertian Yoga
Kelas Yoga & Singing Bowl
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Yoga Ibu Hamil
Prenatal Yoga
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
Cakra & Kundalini
‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop
Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)
Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali
The Studio Wellness Program at the STONES, Kuta, Bali
Teri Fish & Honey Fried Rice
Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java
Surya Candra Bhuana
Orbs at Yoga Class
Orbs & Light Beings in Ancient Tribe, Java-Indonesia
Conversation with the ORBS
Perguruan Silat Tadjimalela
Prosesi Ala PS Tadjimalela
Pelatihan Perguruan SIlat Tadjimalela
Pengalaman Pelatih Silat Lokal di Kancah Global
Momen Pelatihan dan Kejuaraan Timnas Indonesia
PS Tadjimalela – Konsolidasi Batin dalam Halal bi Halal
Kerajaan Sumedang Larang
Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan
Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster
Kerajaan Pajajaran
Menapaki Perjalanan Sunda
Ki Sunda di Tatar Sunda
Ki Sunda di Tatar Sunda-Indonesia
Kalender Sunda & Revisi Sejarah
Prasasti Batu Tulis Bogor
Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Perbedaan Batu Tulis, Petilasan & Makam
The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb
Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959
Makanan Sunda
Susunan Warna Kasundaan
Makanan Sunda
Susunan Warna Kasundaan
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian
Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age
Prehistoric Remains from Neolitic Stage
Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam
Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River
Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung
Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda
Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja
Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh
Kebon Raya Bogor
Gurindam Dua Belas
Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago
Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara
Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Perahu Masa Hindu – Budha

Salah satu bukti terkuat yang menggambarkan perahu tradisional Nusantara pada masa Hindu – Budha adalah relief-relief yang dipahatkan pada Candi Borobudur. Bentuk-bentuk perahu yang terdapat pada relief-relief candi Borobudur antara lain :

  • Perahu-perahu besar dengan layar lebar yang dapat memuat barang dagangan sampai ratusan ton dan penumpang sekitar dua ratus orang.
  • Perahu-perahu kecil tanpa cadik atau yang disebut juga dengan perahu jukung, perahu lesung, perahu bertiang tunggal dengan cadik, perahu bertiang tunggal tanpa cadik, perahu dayung tanpa tiang, serta perahu bertiang ganda dengan cadik.

Perkembangan bentuk perahu tradisional Nusantara pada masa ini banyak dipengaruhi dari perahu Jung (layar lebar) dari Cina. Datangnya perahu-perahu Jung dari Cina, teknologi perahu Nusantara tidak hanya menggunakan cadik dan berbentuk sederhana, tapi juga menggunakan layar lebar.

*

Perahu Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Sumatera Selatan yang menguasai lautan dan merupakan negara maritim yang disegani pada abad 7M. Sumber-sumber tertulis maupun tidak tertulis dari masa kerajaan ini menjelaskan bahwabentuk perahu Sriwijaya yang menguasai Selat Malaka merupakan bentuj jung yang memiliki bobot hingga ratusan ton. Berdasarkan hasil penelitian, pembuatan perahu Sriwijaya tidak menggunakan paku, besi, tetapi hanya menggunakan pasak kayu.

Jenis perahu lainnya dari masa Sriwijaya adalah perahu lesung, yaitu perahu yang terbuat dari satu balok kayu besar dan panjang yang dilubangi di bagian tengahnya. Jennis-jenis perahu lesung dari masa kerajaan ini antara lain : perahu lesung yang sangat sederhana, perahu lesung yang dipertinggi dengan cadik, dan perahu lesung yang dipertinggi tanpa cadik. Perahu-perahu ini ada yang dilengkapi dengan tiang tunggal dan ada pula yang dilengkapi dengan tiang ganda.

*

Perahu Majapahit

Kerajaan Majapahit merupakan sebuah kerajaan besar pada abad 13-15 Masehi yang hampir menguasai hampir seluruh Nusantara dan beberapa daerah di luar Indonesia serta memiliki perdagangan dan pelayaran yang begitu maju. Perahu-perahu jung pada masa Majapahit ini memiliki berbagai ukuran mulai dari kecil hingga besar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perjalanan yang ditempuh. Perjalanan mencari rempah-rempah ke daerah Ambon, Sumbawa, Flores dan lain-lain, perahu yang digunalan adalah perahu Jung besar dengan bobot ratusan ton. Sedangkan pelayaran dalam wilayah sekitar pulau Jawa menggunakan perahu jung kecil atau perahu jungkung.

*

Perahu Masa Islam

Pada masa ini perahu-perahu yang dipergunakan dan beroperasi di lautan Indonesia semuanya menggunakan layar, antara lain perahu jung, perahu mayang dan perahu jukung. Jenis-jenis perahu tersebut umumnya banyak digunakan oleh penduduk di Pulau Jawa. Pada tahun 1700-1800 Masehi dikenal jenis perahu kora-kora dan perahu pirate. Kora-kora yang muncul pada tahun 1700 dilengkapai dengan sebuah layar besar dan sebagai penguat agar tidak terbalik dilengkapi dengan cadik. Selain digunakan sebagai sarana berdagang, kora-kora dibuat ramping dan panjang. Pada tahun 1800 Masehi, pelaut-pelaut Bugis yang dalam pelayarannya memanfaatkan angin musim barat laut dan permulaan angin musim tenggara menggunakan jenis perahu yang disebut dengan perahu Pa’dewakang. Perahu Pa’dewakang ini mempunyai bentuk yang besar dengan daya angkut yang cukup besar pula, karena pada masa Islam perahi ini digunakan untuk mengangkut komoditas perdagangan hingga ke pantai utara Australia.

*

Sumber :

Museum Bahari, Jakarta Utara.

Semua data dikumpulkan dan diolah oleh Keluarga Sastro saat wisata budaya mengunjungi museum-museum di Jakarta.

***

Artikel terkait :
Wejangan Leluhur
Manusia Seutuhnya
Manusia dan Fitrahnya
Kehidupan
Peranan Perempuan dalam Skenario Blueprint Pancasila
Makna dari Ilmu & Pengetahuan (Bagian I)
Kebijaksanaan dari Visi Kepemimpinan
Jati Diri & Rasa
Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
Kesadaran Kosmos & Zona Photon
Proyeksi Nusantara
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani
The Gaia Project 2012 (Indonesia)
The Gaia Project 2012 (English)
Serat Jayabaya (Jawa)
Ramalan Jayabaya (Indonesia)
Jayabaya Prophecy (English)
Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage
Yoga Class
Pengertian Yoga
Kelas Yoga & Singing Bowl
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Yoga Ibu Hamil
Prenatal Yoga
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
Cakra & Kundalini
‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop
Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)
Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali
The Studio Wellness Program at the STONES, Kuta, Bali
Teri Fish & Honey Fried Rice
Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java
Surya Candra Bhuana
Orbs at Yoga Class
Orbs & Light Beings in Ancient Tribe, Java-Indonesia
Conversation with the ORBS
Perguruan Silat Tadjimalela
Prosesi Ala PS Tadjimalela
Pelatihan Perguruan SIlat Tadjimalela
Pengalaman Pelatih Silat Lokal di Kancah Global
Momen Pelatihan dan Kejuaraan Timnas Indonesia
PS Tadjimalela – Konsolidasi Batin dalam Halal bi Halal
Kerajaan Sumedang Larang
Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan
Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster
Kerajaan Pajajaran
Menapaki Perjalanan Sunda
Ki Sunda di Tatar Sunda
Ki Sunda di Tatar Sunda-Indonesia
Kalender Sunda & Revisi Sejarah
Prasasti Batu Tulis Bogor
Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Perbedaan Batu Tulis, Petilasan & Makam
The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb
Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959
Makanan Sunda
Susunan Warna Kasundaan
Makanan Sunda
Susunan Warna Kasundaan
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian
Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age
Prehistoric Remains from Neolitic Stage
Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam
Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River
Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung
Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda
Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja
Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh
Kebon Raya Bogor
Gurindam Dua Belas
Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago
Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara
Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Jayabaya Prophecy (English)

1.  One day there will be a cart without a horse.

2.  The island of Java will be circled by an iron necklace.

3.  There will be a boat flying in the sky.

4.  The river will loose its current.

5.  There will be markets without crowds.

6.  These are the signs that the Jayabaya era is coming.

7.  The earth will shrink.

8.  Every inch of land will be taxed.

9.  Horses will devour chili sauce.

10.Women will dress in men’s clothes.

11.  These are the signs that the people and their civilization have been turned upside down.

12.Many promises unkept.

13.Many break their oath.

14.People will tend to blame on each other.

15.They will ignore God’s law.

16.Evil things will be lifted up.

17.Holy things will be despised.

18.Many people will become fixated on money.

19.Ignoring humanity.

20.Forgetting kindness.

21.Abandoning their families.

22.Fathers will abandon their children.

23.Children will be disrespectful to their mothers.

24.And battle against their fathers.

25.Siblings will collide violently.

26.Family members will become suspicious of each other.

27.Friends become enemies.

28.People will forget their roots.

29.The queen’s judgements will be unjust.

30.There will be many peculiar and evil leaders.

31.Many will behave strangely.

32.Good people will be isolated.

33.Many people will be too embarrassed to do the right things.

34.Choosing falsehood instead.

35.Many will be lazy to work.

36.Seduced by luxury.

37.They will take the easy path of crime and deceit.

38.The honest will be confused.

39.The dishonest will be joyful.

40.The good will be rejected.

41.The evil ones will rise to the top.

42.Noble people will be wounded by unjust criticism.

43.Evil doers will be worshipped.

44.Women will become shameless.

45.Men will loose their courage.

46.Men will choose not to get married.

47.Women will be unfaithful to their husbands.

48.Mothers will sell their babies.

49.Women will engage in prostitution.

50.Couples will trade partners.

51.Women will ride horses.

52.Men will be carried in a stretcher.

53.A divorcee will be valued at 17 cents.

54.A virgin will be valued at 10 cents.

55.A crippled men will be valued at 75 cents.

56.Many will earn their living by trading their knowledge.

57.Many will claims other’s merits as their own.

58.It is only a cover for the dice.

59.They will proclaim their righteousness despite their sinful ways.

60.Akeh bujuk akeh lojo.Many will use sly and dirty tricks.

61.Akeh udan salah mangsa.Rains will fall in the wrong season.

62.Akeh prawan tuwa.Many women will remain virgins into their old age.

63.Many divorcees will give birth.

64.will search for their fathers.

65.AgaReligions will be attacked.

66.Humanitarianism will no longer have importance.

67.Holy temples will be hated.

68.They will be more fond of praising evil places.

69.Prostitution will be everywhere.

70.There will be many worthy of damnation.

71.There will be many betrayals.

72.Children will be against father.

73.Siblings will be against siblings.

74.Friends will become enemies.

75.Students will show hostility toward teachers.

76.Neighbours will become suspicious of each other.

77.And ruthlessness will be everywhere.

78.The eyewitness has to take the responsibility.

79.The ones who have nothing to do with the case will be prosecuted.

80.One day when there will armagedon.

81.In the east, in the west, in the south, and in the north.

82.Good people will suffer more.

83.Bad people will be happier.

84.When this happens, a rice cooker will be said to be an egret.

85.The wrong person will be assumed to be honest.

86.Betrayers will live in the utmost of material comfort.

87.The deceitful will decline even further.

88.The evil persons will rise to the top.

89.The modest will be trapped.

90.The noble will be imprisoned.

91.The fraudulent will be ferocious.

92.The honest will unlucky.

93.Many merchants will fly in a mess.

94.Gamblers will become more addicted to gambling.

95.Illegal things will be everywhere.

96.Many babies will be born outside of legal marriage.

97.Women will propose marriage.

98.Men will lower their own status.

99.The merchandise will be left unsold.

100. Many people will suffer from starvation and inability to afford clothing.

101. Buyers will become more sophisticated.

102. Sellers will have to use their brains and muscle to do business.

103. In the way they earn a living, people will be as rice paddies being swung around and blown up.

104. Some will go wild out of control.

105. Those who are not ambitious will complaint of being left behind.

106. The ones on the top will get lost.

107. The ordinary people will slip.

108. The arrogant ones will be impaled.

109. The fearful ones will not survive.

110. The risk takers will be successful.

111. The ones who are afraid of taking the risks will be crushed under foot.

112. The careless ones will be wealthy.

113. The careful ones will whine about their suffering.

114. The crazy ones will get their portion.

115. The ones who are mentally and physically healthy will think wisely.

116. The farmers will be controlled.

117. Those who are corrupt will spend their fortune lavishly.

118. The queen who does not keep her promises will lose her power.

119. The leaders will become ordinary persons.

120. The ordinary people will become leaders.

121. The dishonest persons will rise to the top.

122. The honest ones will be unlucky.

123. There will be many people own a house on horseback.

124. People will attack other people.

125. Children will ignore their fathers.

126. Parents will not want to take their responsibility as parents.

127. Merchants will sell out of their merchandise.

128. Yet, they will lose money.

129. Many people will die from starvation in prosperous times.

130. Many people will have lots of money yet, be unhappy in their lives.

131. The crazy one will be beautifully attired.

132. The insane will be able to build a lavish estate.

133. The ones who are fair and sane will suffer in their lives and will be isolated.

134. There will be internal wars.

135. As a result of misunderstandings between those at the top.

136. The numbers of evil doers will increase sharply.

137. There will be more criminals.

138. The good people will live in misery.

139. There will be many people die in a war.

140. Others will be disoriented, and their property burnt.

141. The honest will be confused.

142. The dishonest will be joyful.

143. There will be disappearance of great riches.

144. There will be disappearance of great titles, and jobs.

145. There will be many illegal goods.

146. There will be many babies born without fathers.

147. Those people who forget God’s Will may be happy on earth.

148. But those who are remember God’s will are destined to be happier still.

149. Ruthlessness will become worse.

150. Everywhere the situation will be chaotic.

151. Doing business will be more difficult.

152. Workers will challenge their employers.

153. The employers will become bait for their employees.

154. Those who speak out will be more influential.

155. The wise ones will be ridiculed.

156. The evil ones will be worshipped.

157. The knowledgeable ones will show no compassion.

158. The pursuit of material comfort will incite crime.

159. Job titles will become enticing.

160. Those who act arbitrarily will feel as if they are the winners.

161. Those who act wisely will feel as if everything is wrong.

162. There will be leaders who are weak in their faith.

163. Their vice regent will be selected from among the ranks of the gamblers.

164. Those who have a holy heart will be rejected.

165. Those who are evil, and know how to flatter their boss,will be promoted.

166. Human exploitation will be worse.

167. The corpulent thieves will be able to sit back and relax.

168. The hen will hacth eggs in a carrying pole.

169. Maling wani nantang sing duwe omah.Thieves will not be afraid to challenge the target.

170. Robbers will dissent into greater evil.

171. Looters will be given applause.

172. People will slander their caregivers.

173. Guards will steel the very things they are to protect.

174. Guarantors will ask for collateral.

175. Many will ask for blessings.

176. Everybody will compete for personal victory.

177. Ruthlessness will be everywhere.

178. Religions will be questioned.

179. Many people will be greedy for power, wealth and position.

180. Rebelliousness will increase.

181. Religious law will be broken.

182. Human rights will be violated.

183. Ethics will left behind.

184. Many will be insane, cruel and immoral.

185. Ordinary people will be segregated.

186. They will become the victims of evil and cruel persons.

187. Then there will come a queen who is influential.

188. She will have her own armies.

189. Her country will measured one-eighth the circumference ofthe world.

190. The number of people who commit bribery will increase.

191. The evil ones will be accepted.

192. The innocent ones will be rejected.

193. Tin will be thought to be silver.

194. Gold will be thought to be copper.

195. A rice cooker will be thought to be an egret.

196. The sinful ones will be safe and live in tranquility.

197. The poor will be blamed.

198. The unemployed will be rooted up.

199. The diligent ones will be forced down.

200. The people will seek revenge against the fiercely violent ones.

201. Workers will suffer from overwork.

202. The rich will feel unsafe.

203. People who belong to the upper class will feel insecure.

204. Happiness will belong to evil persons.

205. Trouble will belong to the poor.

206. Many will sue each other.

207. Human behaviour will fall short of moral enlightenment.

208. Leaders will discuss and choose which countries are their favourites and which ones are not.

209. The Javanese will remain half.

210. The Dutch and the Chinese each will remain a pair.

211. Many become stingy.

212. The stingy ones will not get their portion.

213. The ones who receive their portion will be generous.

214. Street beggars will be everywhere.

215. Bewildered persons will be everywhere.

216. These are the signs that the people and their civilization have been turned upside down.

* * *

Artikel terkait :

Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster
Orbs (English)
Orbs (Indonesia)
Dialog Dengan Orbs
Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)
Yoga Class
Pengertian Yoga
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Prenatal Yoga
Yoga Ibu Hamil
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
Cakra & Kundalini
Surya Candra Bhuana
Reiki di Pulau Dewata Bali
Nerang – Rain Stopper
Bali Classical Dance Course
Int’l Performance of I Putu Silaniyama
Pelatihan Perguruan Silat Tadjimalela
Prosesi ala PS Tadjimalela
Junko Children Painting Course
Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage
Berkaca pada Anak-Anak sebuah Kerukunan Antar Umat Beragama
Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious
Dialog Dengan Orbs
Kesadaran Kosmos & Zona Photon
Proyeksi Nusantara
The Gaia Project 2012 (Indonesia)
The Gaia Project 2012 (English)
Serat Jayabaya (Jawa)
Ramalan Jayabaya (Indonesia)
Wejangan Leluhur
Jati Diri & Rasa
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani

Ramalan Jayabaya (Indonesia)

  1. Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
  2. Pulau Jawa berkalung besi.
  3. Perahu berjalan di angkasa.
  4. Sungai kehilangan mata air.
  5. Pasar kehilangan suara.
  6. Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
  7. Bumi semakin lama semakin mengerut.
  8. Sejengkal tanah dikenai pajak.
  9. Kuda suka makan sambal.
  10. Orang perempuan berpakaian lelaki.
  11. pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik
  12. Banyak janji tidak ditepati.
  13. Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
  14. Orang-orang saling lempar kesalahan.
  15. Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.
  16. Yang jahat dijunjung-junjung.
  17. Yang suci (justru) dibenci.
  18. Banyak orang hanya mementingkan uang.
  19. Lupa jati kemanusiaan.
  20. Lupa hikmah kebaikan.
  21. Lupa sanak lupa saudara.
  22. Banyak ayah lupa anak.
  23. Banyak anak berani melawan ibu.
  24. Menantang ayah.
  25. Saudara dan saudara saling khianat.
  26. Keluarga saling curiga.
  27. Kawan menjadi lawan.
  28. Banyak orang lupa asal-usul.
  29. Hukuman Raja tidak adil
  30. Banyak pejabat jahat dan ganjil
  31. Banyak ulah-tabiat ganjil
  32. Orang yang baik justru tersisih.
  33. Banyak orang kerja halal justru merasa malu.
  34. Lebih mengutamakan menipu.
  35. Malas untuk bekerja.
  36. Inginnya hidup mewah.
  37. Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
  38. Orang (yang) benar termangu-mangu.
  39. Orang (yang) salah gembira ria.
  40. Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
  41. Orang (yang) jahat naik pangkat.
  42. Orang (yang) mulia dilecehkan
  43. Orang (yang) jahat dipuji-puji.
  44. perempuan hilang malu.
  45. Laki-laki hilang perwira/kejantanan
  46. Banyak laki-laki tak mau beristri.
  47. Banyak perempuan ingkar pada suami.
  48. Banyak ibu menjual anak.
  49. Banyak perempuan menjual diri.
  50. Banyak orang tukar istri/suami.
  51. Perempuan menunggang kuda.
  52. Laki-laki naik tandu.
  53. Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
  54. Lima perawan lima picis.
  55. Duda pincang laku sembilan uang.
  56. Banyak orang berdagang ilmu.
  57. Banyak orang mengaku diri.
  58. Di luar putih di dalam jingga.
  59. Mengaku suci, tapi palsu belaka.
  60. Banyak tipu banyak muslihat.
  61. Banyak hujan salah musim.
  62. Banyak perawan. tua.
  63. Banyak janda melahirkan bayi.
  64. Banyak anak lahir mencari bapaknya.
  65. Agama banyak ditentang.
  66. Perikemanusiaan semakin hilang.
  67. Rumah suci dijauhi.
  68. Rumah maksiat makin dipuja.
  69. Perempuan lacur dimana-mana.
  70. Banyak kutukan.
  71. Banyak penghianat.
  72. Anak makan bapak.
  73. Saudara makan saudara.
  74. Kawan menjadi lawan.
  75. Guru dimusuhi.
  76. Tetangga saling curiga.
  77. Angkara murka semakin menjadi-jadi.
  78. Barangsiapa tahu terkena beban.
  79. Sedang yang tak tahu disalahkan.
  80. Kelak jika terjadi perang.
  81. Datang dari timur, barat, selatan dan utara.
  82. Banyak orang baik makin sengsara.
  83. Sedang yang jahat makin bahagia.
  84. Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
  85. Orang salah dipandang benar.
  86. Penghianat nikmat.
  87. Durjana semakin sempurna.
  88. Orang jahat naik pangkat.
  89. Orang yang lugu dibelenggu.
  90. Orang yang mulia dipenjara.
  91. Yang curang berkuasa.
  92. Yang jujur sengsara.
  93. Pedagang banyak yang tenggelam.
  94. Penjudi banyak merajalela.
  95. Banyak barang haram.
  96. Banyak anak haram.
  97. Perempuan melamar laki-laki.
  98. Laki-laki memperhina derajat sendiri.
  99. Banyak barang terbuang-buang.

100.   Banyak orang lapar dan telanjang.
101.   Pembeli membujuk penjual.
102.   Si penjual bermain siasat.
103.   Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
104.   Yang tangkas lepas.
105.   Yang terlanjur menggerutu.
106.   Yang besar tersasar.
107.   Yang kecil terpeleset.
108.   Yang congkak terbentur.
109.   Yang takut mati.
110.   Yang nekat mendapat berkat.
111.   Yang hati kecil tertindih
112.   Yang ngawur makmur
113.   Yang berhati-hati merintih.
114.   Yang main gila menerima bagian.
115.   Yang sehat pikiran berpikir.
116.   Orang (yang) bertani diikat.
117.   Orang (yang) bohong berdendang.
118.   Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
119.   Pegawai tinggi menjadi rakyat.
120.   Rakyat kecil jadi priyayi.
121.   Yang curang jadi besar.
122.   Yang jujur celaka.
123.   Banyak rumah di punggung kuda.
124.   Orang makan sesamanya.
125.   Anak lupa bapa.
126.   Orang tua lupa ketuaan mereka.
127.   Jualan pedagang semakin laris.
128.   Namun harta mereka makin habis.
129.   Banyak orang mati lapar di samping makanan.
130.   Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
131.   Yang gila bisa bersolek.
132.   Si bengkok membangun mahligai.
133.   Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
134.   Terjadi perang di dalam.
135.   Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
136.   Kejahatan makin merajalela.
137.   Penjahat makin banyak.
138.   Yang baik makin sengsara.
139.   Banyak orang mati karena perang.
140.   Karena bingung dan kebakaran.
141.   Si benar makin tertegun.
142.   Si salah makin sorak sorai.
143.   Banyak harta hilang entah ke mana
144.   Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
145.   Banyak barang haram, banyak anak haram.
146.   Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
147.   Tapi betapapun beruntung si lupa.
148.   Masih lebih beruntung si waspada.
149.   Angkara murka semakin menjadi.
150.   Di sana-sini makin bingung.
151.   Pedagang banyak rintangan.
152.   Banyak buruh melawan majikan.
153.   Majikan menjadi umpan.
154.   Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
155.   Si pandai direcoki.
156.   Si jahat dimanjakan.
157.   Orang yang mengerti makan hati.
158.   Hartabenda menjadi penyakit
159.   Pangkat menjadi pemukau.
160.   Yang sewenang-wenang merasa menang
161.   Yang mengalah merasa serba salah.
162.   Ada raja berasal orang beriman rendah.
163.   Maha menterinya benggol judi.
164.   Yang berhati suci dibenci.
165.   Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
166.   Pemerasan merajalela.
167.   Pencuri duduk berperut gendut.
168.   Ayam mengeram di atas pikulan.
169.   Pencuri menantang si empunya rumah.
170.   Penyamun semakin kurang ajar.
171.   Perampok semua bersorak-sorai.
172.   Si pengasuh memfitnah yang diasuh
173.   Si penjaga mencuri yang dijaga.
174.   Si penjamin minta dijamin.
175.   Banyak orang mabuk doa.
176.   Di mana-mana berebut menang.
177.   Angkara murka menjadi-jadi.
178.   Agama ditantang.
179.   Banyak orang angkara murka.
180.   Membesar-besarkan durhaka.
181.   Hukum agama dilanggar.
182.   Perikemanusiaan diinjak-injak.
183.   Tata susila diabaikan.
184.   Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
185.   kecil banyak tersingkir.
186.   Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
187.   Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
188.   Dan punya prajurit.
189.   Lebar negeri seperdelapan dunia.
190.   Pemakan suap semakin merajalela.
191.   Orang jahat diterima.
192.   Orang suci dibenci.
193.   Timah dianggap perak.
194.   Emas dibilang tembaga.
195.   Gagak disebut bangau.
196.   Orang berdosa sentosa.
197.   Rakyat jelata dipersalahkan.
198.   Si penganggur tersungkur.
199.   Si tekun terjerembab.
200.   Orang busuk hati dibenci.
201.   Buruh menangis.
202.   Orang kaya ketakutan.
203.   Orang takut jadi priyayi.
204.   Berbahagialah si jahat.
205.   Bersusahlah rakyat kecil.
206.   Banyak orang saling tuduh.
207.   Ulah manusia semakin tercela.
208.   Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
209.   Orang Jawa tinggal setengah.
210.   Belanda-Cina tinggal sepasang.
211.   Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
212.   Si hemat tidak mendapat bagian.
213.  Yang mendapat bagian tidak berhemat.
214.  Banyak orang berulah dungu.
215.   Banyak orang limbung.
216.   Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.

* * *

Artikel terkait :

Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster
Orbs (English)
Orbs (Indonesia)
Dialog Dengan Orbs
Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)
Yoga Class
Pengertian Yoga
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Prenatal Yoga
Yoga Ibu Hamil
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
Surya Candra Bhuana
Cakra & Kundalini
Reiki di Pulau Dewata Bali
Nerang – Rain Stopper
Bali Classical Dance Course
Int’l Performance of I Putu Silaniyama
Pelatihan Perguruan Silat Tadjimalela
Prosesi ala PS Tadjimalela
Junko Children Painting Course
Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage
Berkaca pada Anak-Anak sebuah Kerukunan Antar Umat Beragama
Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious
Dialog Dengan Orbs
Kesadaran Kosmos & Zona Photon
Proyeksi Nusantara
The Gaia Project 2012 (Indonesia)
The Gaia Project 2012 (English)
Serat Jayabaya (Jawa)
Ramalan Jayabaya (Indonesia)
Jayabaya Prophecy (English)
Wejangan Leluhur
Jati Diri & Rasa
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani