Archive for February, 2010

Baduy – Sebuah Perjalanan Batin Ke Suku Kuno tahun 1959

Oleh : Suria Saputra.

Keterangan :

  • Ini merupakan cuplikan dari buku yang berjudul BADUY tahun 1959 oleh Suria Saputra, yang merupakan hasil perjalanannya ke Suku Kuno Baduy (Kanekes). Buku ini terdapat dalam Perpustakaan Prof. Dr. Doddy A. Tisna Amidjaja (yang telah disalin kembali dalam bentuk EYD oleh para pengurusnya di tahun 1995).
  • Foto-foto di sini adalah hasil foto sesepuh Sunda, yaitu Ali Sastramidjaja. Dalam perjalanan lahir batinnya di tempat yang sama, Kanekes (Baduy) di tahun 1979.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

* * * * * * * * * * * * *

BADUY

Baduy Luar

Pada 5 hari bulan April 1950, cita‑cita saya untuk pergi ke Baduy baru dapat dilaksanakan.

Sebelum berangkat, kami cari dulu keterangan tentang tempat dan orang yang akan kami kunjungi dengan memajukan pertanyaan‑ pertanyaan kepada orang‑orang yang pernah pergi berziarah ke Baduy. Mereka kebanyakan adalah petani‑petani dan pedagang‑pedagang yang ingin maju dalam masing‑masing perusahaannya. Dan ada pula yang datang di Baduy untuk minta obat bagi keluarganya yang sakit, karena obat dokter tak dapat menolongnya. Maksud kedatangan mereka itu sepanjang katanya, ada yang berhasil, ada yang tidak.

Mereka yang datang ke sana dengan sesuatu maksud untuk memperbaiki nasibnya, sepanjang katanya tidak boleh bermalam disana, setelah mendapat jawaban yang diinginkannya, waktu itu juga ia harus berangkat pulang, tidak boleh menoleh ke belakang.

Setelah keterangan‑keterangan dikira cukup untuk bekal pertemuan pertama kami peroleh, barulah kami berangkat, ialah: Saya sendiri, Pak Atmawidjaja ‑ Kepala Sekolah Rakyat di kota Bogor, dan seorang wanita Ibu Arum Suwita[1]. Ibu Arum ini adalah seorang wanita yang kuat berjalan kaki dan banyak pengalamannya, jauh perjalanannya. Demak, Madura, Tengger, Kalimantan, Ngampel dan tempat-tempat yang beriwayat lainnya telah dikunjunginya. Dan telah berkali-kali pula Ibu Arum ini pergi ke Baduy.

*

Jam 06.00 pagi pada waktu yang tersebut di atas tadi, kami dari kota Bogor menuju ke barat, berkendaraan bus, melalui Jasinga, Cipanas dan berhenti di Haurgajrug jam 09.30 pagi hari. Dari sini berjalan kaki menuju ke kampung Karang untuk singgah dan bermalam di sana.

Tiba di Karang jam 06.30 petang hari. Waktu itu di Karang sedang diadakan perayaan khitanan yang cara-caranya berbeda dengan di tempat lain, hampir sama dengan cara khitanan di Baduy.

Kampung Karang adalah sebuah kampung yang penghuninya hampir seperti Baduy. Kepala kelompoknya pun disebut Puun. Ketika itu, kami tak sempat berkenalan dengan Puunnya, karena esok harinya pagi-pagi harus berangkat lagi. Baru dapat berkenalan dengan orang-orang tua di sana setelah pulang dari Baduy.

Di Karang, rombongan kami bertambah dengan dua orang suami-istri. Laki-lakinya bernama Sopian, orang Jakarta dan istrinya orang Karangcombong. Sedang perjalanan kami hari itu akan menuju Karangcombong, untuk singgah dan bermalam di sana.

*

Perjalanan Haurgajrug – Karang dan Karang – Karangcombong melelahkan dan meletihkan, karena turun naik gunung, tapi tak seperti yang saya cita-citakan. Cita-cita saya sebelum berangkat, untuk pergi ke Baduy itu, tentu melalui jalan yang berhutan lebat, sebagaimana hutan-hutan yang pernah kami masuki dalam tiap-tiap tahun atau setahun dua kali, manakala ada kesempatan.

Di dalam hutan lebat yang pernah kami masuki itu, saya menginginkan udara yang sejuk, pendengaran yang sunyi, pemandangan yang menghijau disertai air bening yang mengalir.

*

Rombongan kami tiba di kampung Karangcombong jam 05.30 petang hari. Jadi antara Karang dan Karangcombong kami jalani hampir satu hari penuh, karena berangkat dari Karang jam 07.00 pagi-pagi.

Penduduk Karangcombong ini menurut tilikan kami pada waktu itu, adalah orang baik-baik. Agama Islam tampak ditaati dengan bukti adanya mesjid dan madrasah. Dalam prakteknya agama Islam itu berasosiasi dengan agama lama, ternyata dari mantera-manteranya.

Sungguh tak kami sangka bahwa dua tahun kemudian penduduk kampung inilah yang mengganas merusak hutan-hutan larangan Baduy, yang keadaannya bersifat “Hutan Pelindung Mutlak”. Rusaknya hutan ini berarti rusaknya tempat-tempat yang ada di aliran sungai sebelah bawah, yang hulunya di hutan larangan itu. Kemudian hari ternyata, bahwa keganasan orang Karangcombong terhadap hutan larangan / Hutan Pelindung Mutlak itu disebabkan setelah di kampungnya ada seorang haji berasal dari Leuwidamar. Haji inilah yang menjadi kepala dan penganjur rakyat di sana agar supaya berladang di hutan larangan. Malam harinya, di kampung ini kami tak dapat melepaskan lelah, karena dikerumuni oleh orang-orang tua di tempat itu. Mereka bertanyakan bermacam-macam soal yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa di kota dan di negara.

*

Pada hemat kami, bagi seseorang pegawai Jawatan Penerangan, saat dan keadaan sedemikian itulah yang merupakan peristiwa yang sebaik-baiknya untuk meresapkan keinginan-keinginan pemerintah kepada rakyat. Di tempat dan waktu yang seperti itu, bukannya kita yang ingin berpidato, melainkan mereka yang ingin mendapat nasihat.

Kedatangan kami di kampung ini mendapat sambutan dan jamuan yang istimewa, meskipun mereka tidak diberi tahu lebih dahulu.

*

Keesokan harinya, ialah pada 6 hari bulan Januari 1959, jam 7 pagi-pagi, kami berangkat menuju daerah Baduy Dalam Cikeusik (Tangtu Padaageung). Rombongan kami berkurang dengan seorang, ialah wanita istri Sopian, tapi bertambah dengan 2 orang laki-laki ialah penghuni rumah tempat kami bermalam dan seorang iparnya; jadi berjumlah 6 orang, 5 orang laki-laki dan seorang wanita.

*

Perjalanan yang turun naik di lereng gunung, hingga adakalanya lutut mengenai dagu, sangatlah melelahkan dan meletihkan. Nafas turun naik dengan cepatnya bagaikan orang berlari cepat. Pakaian basah kuyup dengan keringat bagaikan habis ditimpa hujan. Walaupun demikian lelah dan letih itu, bagi saya dapat dilipur oleh keadaan dan suasana hutan yang saya cita-citakan. Hutan ini bernama Leuweung Kolot (Rimba Tua); kayu-kayunya besar-besar, bermacam-macam, berdahan rindang berdaun rimbun, hingga adakalanya sinar matahari tak sampai di bumi karena terempang oleh daun-daunan yang rimbun itu.

*

Kami pernah masuk hutan Cimari yang letaknya kira-kira 26 km ke sebelah dalam dari Cikotok, Banten Selatan (tempat tambang emas). Hutan ini terkenal hutan gelap, karena cahaya matahari terempang oleh daun-daunan hingga tak menerangi bumi. Tapi keindahannya kalau dibanding dengan Leuweung Kolot Baduy, masih kurang. Pengantar sukarela kami dari Karangcombong itu, seorang diantaranya membawa bedil penembak babi. Katanya untuk menjaga keselamatan dan keamanan kami kalau-kalau di jalan bertemu dengan binatang buas atau dengan orang-orang pengganggu perjalanan.

bermusik di ‘dalam’

Kira-kira jam 13.00 tengah hari, kami tiba di perhumaan Cikeusik. Orang Baduy Dalam yang mula-mula kami jumpai itu adalah Puun Manten. Kata “manten” ini bahasa Sunda Halus dari kata “pensiun”. Tapi di Baduy tak ada pensiunan, artinya Puun yang tak menjadi Karolot lagi atau Puun yang sudah berhenti. Beliau bernama Arsadja dan terkenal dengan sebutan Puun Kais.

Tempat dimana kami berjumpa, ialah sebuah bangunan yang kami sebut “dangau-dangau”. Untuk disebut gubug, terlalu besar dan lengkap. Dangau-dangau ini hampir sebesar rumah mereka. Pada waktu berhuma, kebanyakan orang Tangtu diam dan bermalam di dangau-dangau ini.

Kami dapati Puun Manten sedang memintal tali untuk menjalin lanjak (jaring perburuan). Mula-mula orang ini kelihatan acuh tak acuh kepada kedatangan kami, karena sedang asyik bekerja. Kemudian setelah ia mengemasi pekerjaannya, kami didekatinya dan berkatalah ia: “Teu harti aing, naeun karah rea jelema datang ka dieu”.

Susunan kalimat ini sudah berlainan dengan bahasa Sunda biasa. Awalan dan ahiran tak terlalu dihiraukan. Arti kalimat itu: “Aku tak mengerti mengapa banyak orang datang kemari”.

Setelah kami berkenalan dengan tak berjabatan tangan, Puun Manten berusaha berbicara dengan bahasa Sunda Halus. Akan tetapi saya minta kepadanya, agar percakapan dilakukan dengan bahasa Sunda mereka. Hal-hal yang tak dapat saya pahamkan, saya minta penjelasan kepadanya.

*

Tanya jawab dengan Puun Manten saya tuliskan di bawah. Akan tetapi barang siapa yang belum pernah berkata-kata dengan orang Cikeusik, terutama dengan Puun Kais ini, mungkin menyangka bahwa percakapan kami ini hanyalah  karangan belaka. Untung bagi saya karena Pak Atmawidjaja dan Ibu Arum menyaksikan pembicaraan kami ini.

*

Orang yang kami hadapi ini, waktu itu berumur 60 tahun, tetapi masih amat tangkas dan cekatan. Berbadan tegap, senantiasa tegak. Berkulit kuning agak kemerah-merahan karena cahaya matahari. Matanya bersih, pandangannya tajam seolah-olah hendak menembus jantung lawannya berbicara. Rambutnya masih hitam dan panjang, bersanggul, berikat kepala kain putih mentah. Bajunya kebaya putih, bertangan panjang yang sempit pergelangannya. Kain sarungnya pun putih pula, hingga di bawah lutut di atas pertengahan betis, tidak bercelana. Pakaian serba putih itu kelihatannya kotor, sesungguhnya adalah kain putih mentah yang dicelup dengan warna kekuning-kuningan. Beliau berbicara fasih. Kalimat purwakantinya diucapkan dengan sangat lancar, dengan tekanan suara pada suku kata kedua dari belakang.

Dengan kalimatnya yang tegas dan jelas, acapkali dipatahkannya perkataan lawan bicaranya, hingga sukar dielakkan.

Pada hemat saya tampan orang ini tidak pernah gentar walau berhadapan dengan siapa jua pun. Dugaan saya tentang sifat orang ini yang didapat dari kesimpulan jawaban orang-orang yang telah pernah pergi ke Baduy (di atas telah dikemukakan), adalah orang yang tak menyukai manusia yang berjiwa peminta-minta. Disangkanya semua orang sebagai dirinya, ialah dapat menyelesaikan sendiri segala keperluan hidupnya.

Oleh karena itu, saya amat berhati-hati menjawab pertanyaannya, seolah-olah sedang berhadapan dengan seorang penguji. Pada hemat saya, andai kata waktu itu lidah saya terpeleset, niscaya kami tak diizinkan bermalam di rumahnya. Istimewa pula kalau kami minta apa-apa sebagaimana keterangan yang kami peroleh, tentunya disuruh pulang pada waktu itu juga. Sedang kami perlu mengetahui keadaan rumah bersama alat-alatnya yang ada di daerah Baduy Dalam itu. Bahkan pada persangkaan saya waktu itu, niscaya Puun Kais itu karena bekas pemimpin, berumah bagus, dengan alat rumah tangganya yang mewah.

Batok Kelapa sebagai wadah minum air

Kini kami lanjutkan percakapan kami dengan Puun Kais, dalam pertemuan pertama itu.

+ “Saha ieu karah?, Ti mana nya lembur matuh dayeuh maneuh banjar karang pamidangan?” (Siapakah ini?, dimana kampung halamanmu?).
“Dari Bogor, Girang”.
+ “Apakah maksud kalian?”
“Kami dari Bogor berhasrat untuk bertemu dan berkenalan dengan orang-orang di sini”.
+ “Geusan naeun karah?” (untuk apa? atau apakah gunanya?)

Pertanyaan ini adalah diluar dugaan kami, hingga saya tertegun dan meraba-raba jawaban yang akan dikemukakan.

“Begini Girang, bila anak cucuku kelak datang atau tersesat kemari, kalau kami sudah kenal, mudah-mudahan diterima oleh orang sini”.
+ “Kalau hanya itu kehendak kalian, sungguh tidak masuk pada akalku (teu harti aing). Kalian datang dari jauh, biayanya pun tidak sedikit. Sungguh tak masuk pada akalku bila hanya untuk menitipkan anak cucumu yang kini tak dibawa. dan ketahuilah, barang siapa yang datang kemari, walau tak dititipkan sekalipun, harus kami sambut dengan cara dan kekuatan kami. Tamu yang lapar kami beri makan, tamu yang mengantuk kami persilahkan tidur. Kami orang Sunda telah mendapat pesan dari nenek moyang kami, katanya: “kelak bila anak cucuku datang kemari, hendaklah dipenuhi barang kehendak dan kekurangannya”.

Saya terdesak, tak dapat mengelakkan kalimat-kalimat Puun Kais yang berlogika, mendesak dan bersifat mematahkan itu. Oleh karena itu, saya berbicara lebih berhati-hati lagi, karena ternyata orang yang saya hadapi ini tak dapat dibawa lemah. Agaknya orang-orang yang lemah di dalam hatinya, ditertawakan.

Puun Kais tersenyum melihat saya kemalu-maluan itu.

Selanjutnya bertanya pula.

+ “Apakah maksud kalian yang sesungguhnya, ingin kayakah?”
“Bukan. Orang kaya pada masa ini risau hatinya, karena banyak harta benda yang dirampok dan dibakar”.
+ “Ingin kebal kulit, barangkali?”
“Tidak. Orang berkulit kebal, biasa dicoba orang. Sekali diparang ia kebal, dua kali tidak luka, tetapi selanjutnya ia akan rebah jua”.
+ “Ingin menjadi pemimpin agar dihormat, dipuja orang?”
“Bukan. Pemimpin yang tak berdarah pemimpin hanya bersifat sementara. Pemimpin yang diangkat oleh orang banyak, akan dijatuhkan oleh orang banyak pula”.
+ “Apakah engkau hendak membuat sawah di sini, sebagaimana orang Are (luar Baduy) yang ada di sekitar kami. Ataukah hendak membuat bendungan air, sebagai keinginan Belanda di masa lampau?”.
“Sekali-kali tidak. Sawah yang terlalu jauh dari tempatku tak berguna bagiku. Dan aku bukannya pegawai pengairan.”
+ “Kalau demikian, engkau penyelidik malah”.
“Bila aku bermaksud berkhianat kepada orang-orang di sini, Girang melihat sendiri. Leherku tak dipalut dengan baja. Sedang golok orang Baduy panjang-panjang dan tajam-tajam. Sekali parang, leherku putus”.
+ “Kami orang Sunda, tak diizinkan mencucurkan darah manusia”.

Puun Kais diam sejenak, agaknya sedang berpikir. Sambil tersenyum, berkatalah pula:

+ “Heu-euh (bunyi heu, ditekan dalam-dalam); 

Nu bisa ngapung,       tunggu turunna.

Nu liat kulit,                tunggu uduhnya.

Nu bisa teuleum,         tunggu nyenghapna.

Nu ambek,                   tunggu leuleusna.

Aran jelema tetap jelema; daging hipu tulang rangu, ngancik dina kulit bumi. Cara kami, weduk hanteu manggih urut, bedas hanteu ku karana.

(Ya…

Si pandai terbang, tunggu turunnya,

Si kebal kulit, tunggu empuknya.

Si pandai selam, tunggu timbulnya.

Si pemarah, tunggu lemahnya.

Orang adalah orang, berdaging empuk bertulang rapuh; tempatnya di kulit bumi. Cara kami, kebal kulit tak berbekas, kuat tak karena sebab).

Dan kini, niscaya kalian merasa lelah. Istirahatlah dahulu. Kalau hendak tidur, tidurlah. Kami di luar. Biasa tidur siang hari, kami tidak. Sementara itu, aku akan menyelesaikan dulu pekerjaanku. Nanti kita teruskan pembicaraan (cacahan) kita”

Pada waktu itu kami tinggal berempat. Orang Karang Jombong dua-duanya disuruh pulang oleh Puun Kais. Sedang Sopian, orang yang ikut dari Karang itu, masih terus bersama-sama kami. Ia agaknya berlawanan dengan maksud kami, karena sementara berbaring berkata bahwa tanah Baduy sungguh baik untuk dijadikan sawah. Ia tak tahu bahwa tanah pegunungan yang bentuknya demikian dan menjadi hulu beratus-ratus anak sungai, kalau dijadikan sawah, akan berakibat erosi besar-besaran. Disangkanya, bahwa kedatangan kami kesana itu akan dapat menolong untuk menyampaikan cita-citanya. Maka adalah selayaknya Puun Kais menyindir-nyindir kami akan membuat sawah. Agaknya Puun Kais telah mendapat firasat yang tidak baik, karena ternyata Sopian ini kelak kemudian hari ikut menjadi perusak hutan. Sopian waktu itu memakai rantai arloji emas dengan mainan (gantungan) batu merah sebesar ibu jari kaki, yang diikat dengan emas pula.

*

Kira-kira jam 17.00 petang hari, Puun Kais datang pula kepada kami, disertai beberapa orang Baduy Dalam lainnya. Puun Kais memperhatikan batu merah perhiasan Sopian itu seraya katanya:

+ “Aing nyeueung”. (Coba kulihat).

Maka batu bersama arlojinya diberikan Sopian kepada Puun Kais. Setelah batu merahnya itu diamat-amatinya, dikembalikan lagi kepada Sopian, seraya berkata :

+ “Indah benar batu itu. Niscaya pada pendapatmu batu ini keramat. Orang-orang ditempatmu biasa minta keramat kepada batu-batu, kayu atau besi. Bahkan kabarnya ada pula yang minta keramat kepada kuburan. Sungguh bagi kami di sini, cara demikian tak diperkenankan. Kami hanya meminta kepada Yang Satu”.

Saya mengambil rokok dan berkata :

“Bolehkah aku merokok?”.
+ “Di sini boleh, karena aku tak menjadi Puun lagi. Tapi bila berhadapan dengan Puun Karolot, sekali-kali tak boleh minum rokok”.
“Mengapa orang Baduy Dalam tak minum rokok?”.
+ “Kami buyut (tabu). Tanah disini tak baik untuk tembakau. Jika kami biasa merokok, harus mencari di tempat lain. Sedang perjalanan kami berlainan dengan kamu. Kamu boleh berkendaraan, kami tidak. Bila bepergian, semua tanah yang dilalui haruslah diinjak dan dilangkahi (maksudnya berjalan kaki). Kami tak hendak jadi bujang tembakau”.

Puun Kais memperhatikan pemantik api bensin yang saya pergunakan.

+ “Bagus benar. Adakah buatanmu sendiri?”.
“Buatan pabrik, Girang”.
+ “Adakah pabrik itu di tempatmu?”.
“Di luar negeri. Kalau Girang ingin, ambillah”.
+ “Aku, tak perlu. Kalau rusak, aku tak dapat membetulkannya”.

Kalimat ini saya terima sebagai sindiran, karena orang-orang yang biasa berziarah kepadanya, tentu membawa pemantik api bensin yang tak asing lagi bagi Puun Kais.

Tengah kami bercakap-cakap, tiba-tiba berdiri seorang Baduy Dalam lain di samping Puun Kais, tak ketahuan darimana datangnya, karena sangat gesitnya bertindak. Ia berkata kepada Puun Kais, bahwa di hutan yang dekat dari sana, ada seekor kancil. Puun Kais menoleh, dan berkata:

+ “Hari sudah mulai gelap. Kancil itu kita kejar esok hari saja. Jika esok hari tidak ada, biarkan ia hidup”.

Mendengar peristiwa itu, Sopian kawan kami itu berkata:

“Sayang, mengapa tidak dikejar. Kalau kancil itu tertangkap, saya berani menukarinya dengan ikan peda 50 ekor”.

Puun Kais berkata.

+ “Tidak mungkin (hanteu)”.
“Seratus ekor”.
+ “Hanteu”.
“Dua ratus ekor”.
+ “Seribu atau dua ribu ekor pun tetap tidak dapat. Engkau pintar. Ikan peda, banyak di kedai dan di toko. Ia tak ber-nyawa, tak dapat bergerak. Engkau boleh mengambil sesuka hatimu, asal ada uang. Tapi kancil makhluk bernyawa. Dikejar, ia lari, disergap, belum tentu dapat. Andaikata permintaanmu itu kusanggupi, besok atau lusa pedamu sudah ada di sini, sedang kancilku belum tentu ada. Betapa mungkin manusia “tigin ka jangji bela ka lisan” (memenuhi janjinya dan perkataannya). Apabila kancil itu ada di tanganku sekarang atau esok hari, dan engkau ada di depanku, mengapa harus ditukar dengan peda, engkau boleh makan dagingnya sekenyang-kenyangnya”.

Senja hari, setelah kami mandi di sungai Ciujung, kami diajak bermalam di rumah Puun Kais yang ada di perkampungan Baduy Dalam Cikeusik. Kami masih sempat memperhatikan keadaan perkampungan itu. Rumah-rumahnya sangat berdekatan. Antara rumah dengan rumah tak berpagar, demikian pula perkampungannya. Rumah mereka bertiang kayu beratap rumbia. Lantainya dibuat dari bambu yang diremukkan membujur (palupuh = Sunda). Tinggi kolongnya + 1,50 m. Untuk naik ke atas lantai, ada tangga pendek dari bambu. Di ujung tangga disediakan perian yang berisi air untuk membasuh kaki. Dapurnya ada di dalam rumah.

Rumah adat Kanekes / Baduy

Ketika kami tiba, isteri Puun Kais sedang memasak nasi. Puun Kais sendiri membantu dengan cekatan. Setelah nasi masak, dibentangkannya dua helai tikar untuk tempat kami makan dan tidur. Penghuni rumah bersama-sama makan dengan kami. Tempat nasi adalah sebuah piring batu, besar (piring antik). Kami masing-masing mendapat sehelai daun pisang untuk pengganti piring, karena mereka tidak boleh mempunyai piring pinggan biasa. Lauk pauknya lain dari pada ikan peda yang kami bawa dari rumah, ada garam lama (uyah nahun), gulai atau rebus biji hiris (Cayanus cayan Millsp. fam. Leguminosae), dan petai yang dikeringkan.

Nasinya putih bersih, tetapi keras dan berderai (bear = Sunda), hingga sukar disuapkan. Akan tetapi bagi mereka sudah biasa dan suapnya pun berlainan, ialah nasi itu tak ditaruh diujung jari, melainkan ada di antara telapak tangan dari jari, lalu dilemparkan ke dalam mulutnya. Karena itu ujung jarinya tak sampai masuk ke dalam mulut.

*

Tengah kami makan, Puun Mantan berkata.

+ “Agaknya kamu belum biasa makan nasi ladang”.
“Hanya sukar menyuapkannya saja, ayah. Nasi ayah ini tak dapat dikepal.
+ “Sungguh pun begitu, orang yang makan nasi ini lebih tahan lapar dari pada makan nasi di tempatmu. Bila engkau biasa makan nasimu sehari tiga kali, dengan nasi kami ini cukup dua kali saja. Demikian sepanjang kata orang-orang kami yang pernah makan di luar Baduy. Pada hematku nasi sawah itu kurang kekuatannya dari pada nasi ladang”.

Selesai makan, kami duduk-duduk di atas tikar. Sedangkan Puun Manten bersama istrinya dan anak-anaknya duduk di atas lantai bambu tak beralaskan apa-apa. Saya berkata :

“Mengapa Girang duduk tidak bertikar. Ambillah yang sehelai ini untuk Girang dan Ambu (istri Puun Kais)”.
+ “Tidak. Tikar ini kusediakan bagi tamu. Kami tidak biasa bertikar berbantal, apalagi tidur berkasur”.
“Seorang bekas Puun tidur tidak berkasur berbantal?”.
+ “Puun sendiri tidak berkasur berbantal”.
“Mengapa?”
+ “Kami takut kalau-kalau terlalu nyenyak tidur. Terutama bagi kami, tidur di atas kasur itu adalah suatu larangan. Sedang bantal ada juga seorang dua yang empunya. Kamu pun terpaksa di sini tidur tak berbantal, karena aku tak punya barang sebuah pun”.

Saya mengambil kain putih dari dalam tas dan diserahkan kepada Puun Manten sebagai buah tangan bagi keluarganya.

+ “Apakah ini?”
“Kain putih, Girang”.
+ “Ya,… aku tahu ini kain putih. Tapi apakah maksudmu?”
“Untuk keluarga Girang”.
+ “Tidak perlu. Lebih baik kau simpan lagi. Kami orang Sunda hanya boleh memberi tak boleh meminta (wenang mere teu wenang menta). Orang yang pandai meminta adalah tukang baramaen (orang minta-minta)”.
“Aku sendiri orang Sunda”.
+ “Entahlah. Engkau orang Sunda atau bukan tak menjadi soal kepadaku. Bahasamu dapat kupahamkan, tetapi kita berlainan bagian karena berlainan tempat kelahiran. Bagian kami di sini hidup terbatas dengan ketentuan larangan kebuyutan. Bagian kamu di luar, hidup bebas, dapat melakukan sembarang kehendakmu”.
“Walaupun begitu, kain ini aku yang memberi kepada Girang, bukannya Girang yang meminta kepadaku. Apakah beri-memberi terlarang pula?”.
+ “Tidak, bahkan diharuskan. Adakah kainmu ini bukan kau dapat dari pembagian Pemerintah? Kabarnya orang-orang di luar mendapat bagian pakaian dan makanan dari negara (maksudnya distribusi). Tak masuk pada akalku orang yang sehat-sehat seperti kamu sekalian harus dibagi makanan dan pakaian”.
“Meskipun dibagi, tapi dengan membeli juga. Dan kain putih ini aku tak tahu dengan pasti darimana asalnya, sebab didapat dari istriku”.
+ “Walaupun dibeli, harganya tak seperti harga pasar. Dan aku tidak mengerti mengapa engkau membawa benda yang tak kau ketahui asalnya”.
“Tetapi senang benar hatiku, bila kain putih ini ayah terima. Aku tak sanggup membawanya kembali, karena perjalanan dari sini ke tempatku sangat berat bagiku. Jangankan membawa beban, sedang membawa tubuh pun merasa letih. Lain dari pada itu, andaikata kain ini berasal dari pembagian sekalipun, namun tetap kepunyaanku, bukannya benda curian. Jikalau ayah tak suka memakainya, boleh dibuang, dibakar atau dijual”.
+ “Kalau demikian, baiklah kuterima. Tetapi aku berharap agar pemberian ini terbit dari hatimu yang tulus ikhlas, dan hendaklah kau izinkan bila esok atau lusa benda ini kutukarkan dengan benda lain. Kami disini tidak boleh memakai kain sehalus ini. Pakaian kami harus dari kain yang kami tenun sendiri”.

Kemudian pembicaraan kami beralih kepada peristiwa negara pada masa itu.

+ “Aku mendengar kabar, bahwa negara kita telah terlepas dari kekuasaan Belanda. Masih banyakkah orang-orang Belanda di tempatmu?”.
Pertanyaan itu tentu saja saya jawab “masih banyak” karena waktu itu adalah tanggal 7 Januari 1950″.
+ “Adakah mereka masih menjadi Pangagung? (memegang jabatan tinggi)”.
“Tidak. Tampuk pimpinan pemerintahan ada di tangan orang-orang awak”.
+ “Menurut pakem kami, kekuasaan Belanda di sini harus sudah hapus semenjak 100 tahun yang lampau. Mereka tak mungkin berkuasa kembali, sebab telah tiba “disnya” (batas yang ditunjuk). Setelah habis kekuasaan Belanda, masih ada lagi beberapa bangsa asing yang menduduki tanah air kita ini. Akan tetapi pada hematku, mereka hanya untuk mengacaukan saja, karena kekuasaannya telah dihabiskan Belanda oleh kelebihan waktu 100 tahun itu. Sesungguhnya ada suatu kesalahan besar yang dijalankan oleh orang dulu-dulu di luar. Mereka telah menjual tanah kepada orang-orang Belanda dan orang-orang asing lainnya. Karena itu, orang-orang asing itu mempunyai tanah di sini, bercocok tanam, merasa beruntung dan akibatnya tak mau melepaskan tanahnya itu. Orang-orang Belanda dan orang-orang asing yang datang kemari hanya untuk berdagang dan berjual beli, bukan untuk berkebun berladang. Mereka mempunyai tanah    air sendiri”.

Puun Manten bertanya pula :

+ “Kabarnya kamu berperang dengan Belanda”.
“Terpaksa, karena masing-masing mempertahankan pendiriannya”.
+ “Apakah tak lebih baik bila diselesaikan dengan perundingan”.
“Berunding dan berdamai sudah kami jalankan, tetapi akhir-akhirnya bertempur juga”.
+ “Berperang berarti berbunuh-bunuhan. Akibatnya niscaya banyak anak-anak dan perempuan yang terlantar. Pada hematku, bila perundingan itu dijalankan dengan tulus ikhlas, mengapa tak mendapat penyesuaian?. Kamu di luar orang pandai-pandai. Orang-orang Belanda pun tak semua buruk dan tamak; mereka tentu mengetahui bahwa batas kekuasaannya di sini telah lampau. Pada hematku perundingan itu dapat diatur agar tak merugikan kedua belah pihak, misalnya begini: Kepandaian Belanda tentang mengatur negara, membuat uang, membuat pakaian dan sebagainya, kamu ambil dahulu. Orang-orang Belanda yang baik hati, niscaya bersedia memberikan kepandaian itu kepada kamu. Kelak, bila kamu telah pandai sebagai mereka, orang-orang Belanda itu disuruh pulang dengan diberi uang secukupnya untuk tambangan (biaya perjalanan) dan untuk hidup di tanah airnya”.
“Apakah manusia itu tak boleh berperang?”
+ “Kamu boleh, kami tidak. Akan tetapi cara kamu berperang menurut kabar yang kudengar, tak masuk pada akalku. Orang-orang yang berperang pada masa ini, dibolehkan membakar rumah, membunuh perempuan dan anak-anak atau menyiksa orang-orang yang tak berdosa. Pada pakem kami, ada peristiwa perang ayunan. Orang-orang yang berperang ayunan, harus sama senjatanya, seimbang tenaganya. Musuh lawan harus memegang kejujuran. Barang siapa yang tak jujur, meskipun ia menang, tetap kalah”.

[1] Ketika buku ini ditulis, kedua-duanya masih hidup dan ada di Bogor.

 

Artikel terkait :

Ki Sunda di Tatar Sunda (Indonesia)

Ki Sunda di Tatar Sunda

Menapaki Perjalanan Sunda

Kalender Sunda & Revisi Sejarah

Makanan Sunda

Susunan Warna Kasundaan

Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda

Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan

Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja

Ras Nusantara

Ketika Jawa Bertemu Belanda

Prasasti Batu Tulis Bogor

Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Perbedaan Batu Tulis, Petilasan dan Makam

The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb

Kebon Raya Bogor

Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)

Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian

Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age

Prehistoric Remains from Neolitic Stage

Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam

Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River

Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung

Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta

Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata

Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah

Gurindam Dua Belas

Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Tarumanagara

Kerajaaan Indraprahasta

Kerajaan Kendan

Kerajaan Galuh

Kerajaan Sunda

Wangsa Sanjaya

Kerajaan Saunggalah

Kerajaan Sunda-Galuh

Kerajaan Kuningan

Kerajaan Cirebon

Perang (Pasundan) Bubat

Kerajaan Sumedang Larang

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia

Kerajaan Banten

Kerajaan Talaga

Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh

Musik/Music

Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music

Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music

Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)

Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh

Orbs at Yoga Class

Orbs & Light Beings in Ancient Tribe, Java-Indonesia

Conversation with the ORBS

Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage

Advertisements

Reflecting on Children Innocence of a Harmony Life Among People Different Religious

By A. Sari

Puja Mandala is one coherent religious houses area. In one line standing sweetly Ibnu Batutah Mosque, Maria Mother all Nation Catholic church, Budhina Guna Vihara (temple), Hills of Pray Protestant Christian church, and Jagat Natha Pura. All figure a harmony lives among people with different religions.

Puja Mandala in Nusa Dua, Bali island

Puja Mandala come from sanscrit languange. Puja means pray. Mandala is an area or region. So, Puja Mandala is one harmony area for people from different religion to pray. Puja Mandala is located in Nusa Dua, Bali.

The spirit of living harmony  among people with different religions exist here. On a Christmas, the christian makes various ornaments for church. People other religion help for management parking area. The Moslem friends contribute to play angklung (bamboo ethnic music of Nusantara-Indonesia). On Nyepi day (Hindu’s day),the moslem people pray at the mosque quitely without peal the adzan. Ekaristi day (Budhi’s day) heard adzan magrib peacefully.

*

The harmony living among people different religions has decrease. This what we’ve to realize. My journey in Nusa Dua Bali to this Puja Mandala, seems remain me to my life when i was a child. It’s a place where i lived which is: Sumba. An exotic island, in east Indonesia. Which full of steppa (grass fields), horses , hills, earthquake, soil land but full of rock, ancestor worship, the ancient tribes, stone-tomb, betel vine & areca nut, and spirit of Lebaran/Idul Fitri (Moeslem’s day) & Christmas day!

Sumba island

In Waingapu, a small town of the Sumba island. After Ied’s pray in morning, children from our housing area, wether moslem & and non moslem,we’re all  together by walking visiting the other houses where the people inside celebrates Lebaran or Idul Fitri. We’re all cheerful & full of smile, even our trip quite far for little children like us.We went until Java village, Malay village, Arabic village. Sometime, we visited to people we don’t know before but we know they celebrate Idul Fitri just to congrate them. We din’t care we entertained by a lot of food, or given money or not at that moment. What’s in our mind was only to give lebaran’s congratulation and visiting one house to another houses with smiley faces … Ow what a pleasure feeling for all of us. At the evening, we return home. Our stomach also full with kinds of food. Ah…we never forget to bring some candies & nuts from our visiting. What kind of children who don’t like candies & nuts? Ha ha ha.

Quite different at Christmas day. Most of the students in our school were Christian. Therefore we celebrated Christmas at school in a theater performance. All student want to participated. Some as the actors,some as the vocal group, some as committee of the event. And the rest are the audience, including the teachers. All mutually involved & help each other.

In the middle of the theather performance, sometime we’re all laughing together. Because the actors made some mistakes in saying the naration. It’s ok for the audience. There is a cheerfull spirit from us as students. We never learn to mock or insult. With children soul innocence,naturally we just learn lo have respect each others, love to others, & help each others.

Pick a lesson from this journey is, can we have pure soul just like the children soul? We can mirror on our children innocence. The innocence without assessing & judgment. Life & respect others. Help each others. Walking together with our hands holding each others. Laughing & joy together. Love and to be loved.

Sampurasun. Best wishes. Shalom. Om Swastiastu. kulonuwun. Wassalam.

* * *

Related Articles :

Wejangan Leluhur

Manusia Seutuhnya

Manusia dan Fitrahnya

Kehidupan

Peranan Perempuan dalam Skenario Blueprint Pancasila

Makna dari Ilmu & Pengetahuan (Bagian I)

Kebijaksanaan dari Visi Kepemimpinan

Jati Diri & Rasa

Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious

Garuda Pancasila

Bhinneka Tunggal Ika

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca

Kesadaran Kosmos & Zona Photon

Proyeksi Nusantara

19 Unsur Proses Perjalanan Rohani

The Gaia Project 2012 (Indonesia)

The Gaia Project 2012 (English)

Serat Jayabaya (Jawa)

Ramalan Jayabaya (Indonesia)

Jayabaya Prophecy (English)

Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage

Yoga Class

Pengertian Yoga

Kelas Yoga & Singing Bowl

Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh

Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul

Yoga Ibu Hamil

Prenatal Yoga

Meditasi

Rileksasi Dalam

Meditation

Cakra & Kundalini

‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop

Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)

Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali

Teri Fish & Honey Fried Rice

Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java

The Studio Wellness Program at The Stones, Kuta, Bali

Surya Candra Bhuana

Orbs at Yoga Class

Orbs & Light Beings in Ancient Tribe, Java-Indonesia

Conversation with the ORBS

Perguruan Silat Tadjimalela

Prosesi Ala PS Tadjimalela

Pelatihan Perguruan SIlat Tadjimalela

Pengalaman Pelatih Silat Lokal di Kancah Global

Momen Pelatihan dan Kejuaraan Timnas Indonesia

PS Tadjimalela – Konsolidasi Batin dalam Halal bi Halal

Kerajaan Sumedang Larang

Prosedure Darurat Gempa Bumi

Krakatau (Indonesia)

Krakatau (English)

Earthquake Emergency Procedure

Earthquake Cloud

Awan Gempa

Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam

Animal Signs of Natural Disaster

Conversation With the ORBS

Orbs coming from the sky to the earth

by : SKTP & Shangkala team

Introduction
We have talks about a big change of the earth and now on become warm mainly discussion in Europe and America. The experts and scientists work together in their fields to reveal the mysteries of “2012”.

They work together in gathering the information. The result to be known by the people of the world through books, movies etc. The interesting is the scientists involved the ancient tribes, the famous one is Maya tribe. Maya is an ancient tribe in Latin America.

Maya famous for its Mayan calendar. These made of experts from math experts to astronomy, geology, historians, etc are stunned and admitted that the Maya are considered ancient, not only have knowledge but also “knowledge of science”. Is the mystery of 2012 also becoming our concern in this country (Indonesia)? Can we do something before the big event? Do we believe this, especially our society?

SHANGKALA TEAM

At the beginning, we simply gather to discuss about 2012. We focus on the question “so what?” What should we do in the future if this all has changed? Will we still on the earth? Will the earth disappear, or we will move to another planet?

From the question to another questions we finally agreed to work together in collecting data and cultural history of ancient archipelago. Preparing also our data base that will save it into “a save place”, in case something extra ordinaries will happen on the earth.

Started in early 2007 we formed a team which consists of 7 people who we call “Shangkala team”. The aim is to preserve and protect the data of art, culture, history, science & spiritual Nusantara (the Indonesian archipelago). We started working to collect data and create a data base using IT technology and create our own website at:  www.artshangkala.wordpress.com
This team is not experts of scientist but we tried our best with a minimum investment and strong faith. This team consists of the “children of light” who rely on their intelligence & talents. Hopefully these all beneficial to us as a team and also for all of us!

Our first journey starts from the West Java region. We make the documentation such as photographs, interviews of the elders in deepest area of West Java which we recorded. Some special interviews concerning about the ancient culture, sites, art and history.

Apparently on these journeys, we found some interesting things. Among the pictures of our documentation, we found circles of light. At first time, we only quest about this pictures and not yet discussed it. But more often we find it on the camera pictures we have wherever places of our journeys.

Than our intuition begin move to find out about these ball of light.  Those circle named ORBS or SPIRIT BALL OF LIGHT ENTITIES.

Next one is, can we have conversation with them? That’s become of our desire.

Conversation with Orbs

At the beginning, we argued each other among the team. Because not all from us believe than the orbs can really talk with one of us.

Than we all agree having the same aim. So than we made some tools needed as mediation so every team members can see. These tools made by the instruction of the orbs which inform to one of us.

So that’s the way we made this conversation. Here we try to share the experience to all of you who interested in this.
The information we gather from these light beings (Orbs) are :
Orbs are energy that forms in different colors & different forms. Orbs are not identical to ghost who haunts. Orbs more to the pure energy, the energy of the ‘first thoughts’ in the universe. Orbs have no limit and free in space and time. However Orbs can also penetrate into the space and time.

Orbs can also come from human beings who are still alive. Orbs could also from another dimensions that serves as a mentor, supervisor and messenger. But there are also some who still participate with others to “learn to remember” about something that is forgotten.

Each have different speciality depend on each role/order which already on the Universe blueprint. Most Orbs we met came from another dimension and their knowledges are different, depending on the level of the Orbs dimensions.

Orbs are divided into several groups. One of the group called as the Elders (the Old Spirit). There are also Mentor of group and Supervisor of group. There are also groups who sorrounding the Elders group to increase their level of knowledge & experience, from Supervisor to become the Mentor. The Mentor increases their next level to become the Asistance of the Elders. There are a lot of dimensions in the universe. These are beyond of the limited most of human mind.

These are the summary of the Orbs conversation with us. The orbs we had conversation were the Supervisor Orbs, Mentor Orbs and the very special ones are the Elders Orbs.
Supervisor Orbs

One of the orbs which is as the Supervisor Orbs told about their order. Their orders are to accompany the souls who are still in the process of life journey on the earth or we can called these soul as “baby souls”. Supervisor Orbs will not intervene anything but only accompany these baby souls from things which could endanger them, on their journey of life on earth.

Supervisor Orbs work more in our feelings. They say that: feeling is the best communication and comfort between them and the baby souls.

Orbs which made our camera broken

Mentor Orbs
Next day we have conversation with the Mentor Orbs about their orders. These Mentor Orbs gave us a lot of explanation. Here are their orders:

The Mentor Orbs have larger role at the level of “memory” of human and also will not intervene anything done by human. They prefer to play at the level of memory or “creation”.

According to the Mentor Orbs, in terms of creation there is no right or wrong and good or bad. This is just a term created by man himself. But what important is what the human want to be create, and not just stop at the desire.

The order of Mentor Orbs very important for the continous human life on earth in this case is the role of “human relationships”. There Mentor Orbs who assigned and supervise the pure energy in the universe which resulting from the human mind. So the from of this will what is called by the matrix energy. The same mind interconnected form a matrix. Here there is a relationship in speech communication and action between people in life on earth.

The obstacles of unharmonize relationship is depends on the man himself. Man do not want to be responsible by himself for the creation that comes from his mind. Thus placing blame and blasphemous even to kill other human beings.

These make the matrix in the universe in chaotic, unharmonized, lack of balance that has too much over the limit.

Human on earth becoming less honest, unhonest with himself, and journey of man ‘true self’ to a ‘consciousness’ becoming to forget! So the creation energy made by human now just over the limit of law of creation or law of the universe.

The problem is not on what is created but more to the choice and what is believed by the man himself. Mistake by mistake which made not based on the ‘true self’ that is: consciousnes. Neglect the responsibility and even become self justification. So the law of the universe will determine the fate of humans today.

Mentor Orbs love the earth, the universe and all creations. The Creator created all must be with the meaning and purpose. But seems humans on ‘this time’ will experience to be dissolved.

Then we talked about the earth’s future. Mentor Orbs explained with enthusiasm.
Team                     : Did the earth will disappear or doomsday?
Mentor Orbs      : The earth will not disappear because it is created as it purpose. The presence or the absence of humans on the earth, earth still part of the Live.
Team                     : What’s the meaning of dissolved?
Mentor Orbs      : Yeah! It will be replaced with a new one, re-created in the creation of nature!
Team                     : On this process, will the human selected?

Mentor Orbs      : Yes. Man who are responsible, honest, conscious and create themselves with her/his ultimate goal soul of who she/he is! And understand why she/he was sent on this earth!

Team                     : Why there are so many Orbs are come to the earth these days. We can see through the camera or the pictures?

Mentor Orbs      : It’s the time! So we come up with more orders than usual.
Team                     : Like what?
Mentor Orbs      : Yeah we protect who worthy to be protected!
Team                     : Why is there is worthy and unworthy? So you share love differently?

Mentor Orbs      : No! This is not a matter of favourite or differently. Its about law of love. This is a cause and effect created by man himself. We have the order base on the knowledge and understanding.

Team                     : Ohhh so …! What will happen in future especially the natural disasters in Indonesia?
Mentor Orbs      : That’s not our authority to describe.
Team                     : So with whom can we talk about this?

Mentor Orbs      : It is the duty and authority of the Elders who currently also come to the earth and will more frequent coming.

Team                     : How we can meet and dialogue with the Elders?
Mentor Orbs      : You must try to connect with the pure energy!
Team                     : You mean with the power of our mind?
Mentor Orbs      : Not only that, but also connected with Elders dimension.
Team                     : How?
Mentor Orbs      : Don’t you always get there every time? In ‘that’!!
(Our team have meditation way. To entering out true self. We do meditation everyday. For more ‘true self meditation’ info, please contact by email or facebook: artshangkala@gmail.com)
Those are our conversation with Mentor Orbs. They also requested some to not appear here. All conversation  became our records, because some of the questions are a bit extreme and just to avoid misunderstanding and slander. We were grateful and thankful for our conversation.

Elder Orbs we met (near the man with the stripe cloth)

Next Journey
Next, the team have several journeys but this time we are not only hunting, collecting the art,cultural and history dat, but also hunting Orbs (ha ha ha).

In our next journey, we have some photo of Orbs. But kind of strange Orbs. Because our camera become broken and also burn!

We now really have strong will to get the Orbs that might be the Elders. In every place of our journey, we meditate and see our inner light & light of the universe. We do this in early morning around 3.00 – 5.00 Am. After days waiting than, we can’t reject the luck. We finnally meet the Elders Orbs with extraordinary event. We’re all can’t forget this moment.
We feel that Orbs on our photo is indicated something. Seems like something could happen on earth. The Orbs photo have different shape from previous Orbs, The color is whiter, clearer and has a very deep layer and a light shining in the middle.

At that moment, we are on the coast of Pelabuhan Ratu before we went to Bayah. It’s about 7.00 Pm we had dinner of fish barbeque together with the local people we met there. Then one of us captured through photographs. Seen that there is very white shiny Orbs among the local people who barbeque the fish. Then one of us tried to focus to the Orbs. Ask this Orbs to have conversation. Orbs agree to have the conversation on early morning at 3.00 Am.

We preparing any media we need at 2.00 Am. While waiting, we discussed about the works so far and think about the next step. Than at this moment, suddenly we saw the sky color had turned from a clear sky to a red color sky.

We’re all look at the sky. Suddenly in a very fast speed, there is light in the form of cicle of white-blue bright. It’s fall and sat in the  middle of a mediation tool to be used. It happened at 3 o’clock in the morning . We’re all saw with the naked eyes and very amazing! Shortly this is our first conversation with the Elders Orbs.

Summary of Conversation with the Elders Orbs

Orbs elders introduce his name (sorry we can’t mentioned here) He said he’s age is so old or ‘Ulun’ which means very old.
Elders Orbs         : Be consciousness and always alert! Because this is already the time. The disaster not a disaster, but all have to be happen on this earth. Man have very long minds and dreams. The Creator for man now is only fantasy.

Team                     : Do you mean that the Creator is God?
Elders Orbs         : (with a brief but very clear) The Creator is Creator!
Team                     : How will be the human destiny on the earth?
Elders Orbs         : All already in the hand of Books Life holder. It just like turning the palm of hand.
Team                     : Is there someone holding the books of life?
Elders Orbs         : Yes. There is also the universe book of life. What will happen later just be the witness and be a witness of the truth.
Team                     : Would there will be another major disaster in Indonesia?
Elders Orbs         : Yes, everywhere in the Nusantara!
Team                     : Nusantara, do you mean It’s Indonesia?
Elders Orbs         : All are the archipelago! (We guess its not only in Indonesia but all nations on earth).

Disaster just created. Even man ask it happen throuh his behaviors and actions of life.

At the beginning, man promise of the order on the earth. So what man has order promise just will return to man again. We just watch it and give messages and memories that have been precedes the event. But you’re getting less consciousness and less alert! Aware is because of there is consciousness! So now everything will be rebalance and harmonize.

Indonesia as a “nation”, is same with other nations. Nation was created to be exist, by the creator! Indonesian people are new people, but previously ever existed. This is the old nation but many occupants are still young.

There was a slight pause … then Elders Orbs continous:
Elder Orbs           : The old one be the first to go.
Team                     : Do you mean that the Indonesian nation disappears first from the earth?
Elders Orbs         : It won’t dissapear, but just change!
Team                     : Is there any other way?
Elders Orbs         : It’s time to change. Go the first and come at the beginning among the others!
Team                     : If we may know, what kind of disasters that would hit us? Will be any human left?

Elders Orbs         : Now all is working. Sun vomit its contents, mountains sliding, soil moving, wind and also fire work. This is Life! The remaining left is only The Noble Creator.

Team                     : What should we prepare?

Elders Orbs         : Nothing!   Live your live as you should be. Because the laws of the universe existed before human existed on earth.

This dialogue we cannot fully revealed. One message from Elders Orbs that we will be the witness of nature secret. Then he leave. His last message is “the sky is flickering and the earth is shaking”.

End of the conversation.

There are other Elders Orbs come and probably we will reported next time. We are now still continue to hunt and are hunted by more Orbs which they come to the earth bring their different orders.
Thanks fot the nature and light spirit which given us this valuable experience!

Light Peace.
SHANGKALA team

www.shangkala.com & www.artshangkala.wordpress.com

*****

Related articles :
Orbs (English)
Orbs (Indonesia)
Dialog Dengan Orbs
Orbs at Wedding in Tangerang
Orbs in pencak silat community
Orbs at funeral
Orbs at K-Link seminar
Orbs at sky
Orbs at tour places & hotel
Orbs in spiritual community
Orbs at yoga class
Orbs at Bali party wedding
Orbs in Baduy Banten
Orbs at Costume Party
Orbs & Light Beings in Ancient Tribe, Java-Indonesia
Orbs & Light Beings in Ancient Tribes, Java-Indonesia
Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)
Yoga Class
Pengertian Yoga
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Prenatal Yoga
Yoga Ibu Hamil
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
Cakra & Kundalini

Surya Candra Bhuana
Reiki di Pulau Dewata Bali
Nerang – Rain Stopper
Bali Classical Dance Course
Int’l Performance of I Putu Silaniyama
Pelatihan Perguruan Silat Tadjimalela
Prosesi ala PS Tadjimalela

Junko Children Painting Course
Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage
Berkaca pada Anak-Anak sebuah Kerukunan Antar Umat Beragama
Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious
Dialog Dengan Orbs
Kesadaran Kosmos & Zona Photon
Proyeksi Nusantara
The Gaia Project 2012 (Indonesia)
The Gaia Project 2012 (English)
Serat Jayabaya (Jawa)
Ramalan Jayabaya (Indonesia)
Jayabaya Prophecy (English)
Wejangan Leluhur
Jati Diri & Rasa

Prosedure Darurat Gempa Bumi
Krakatau (Indonesia)
Krakatau (English)
Earthquake Emergency Procedure
Earthquake Cloud
Awan Gempa
Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam
Animal Signs of Natural Disaster
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani