Bhinneka Tunggal Ika

bhinneka tunggal ika-sahabatgallery.files.wordpress

(Gb diambil dari : sahabatgallery.files.wordpress.com)

Dalam buku “Bung Hatta menjawab”, halaman: 107-112

Tanya

Bangsa Indonesia besar.Ribuan pulau didiami oleh berbagai suku bangsa, dialek beraneka ragam, adat dan nilai hidup bermacam-macam. Namun semuanya berada dalam suatu negara, satu bangsa dan satu bahasa. Ingin kami mendapat pandangan Bapak tentang sejarah dan terciptanya istilah Bhinneka Tunggal Ika itu serta artinya bagi pelaksanaan pembangunan di masa datang.

Jawab

Hal ini bermula sejak kegiatan Perhimpunan Indonesia di Eropa. Di waktu para mahasiswa Indonesia di sana bersatu, dan menyadari betapa mereka yang datang dari berbagai daerah dan suku bangsa serta berbagai adat dan pembawaan, harus bersatu padu kalau hendak berhasil melepaskan Indonesia dari penjajahan dan membangun bangsa untuk kemajuan dan kemakmuran. Semboyan “bersatu kita kuat, berpecah kita lemah” sungguh-sungguh dihayati, walaupun masing-masing tahu dasar keaneka-ragaman tadi ada, tetapi dibawah terhadap prinsip kesatuan, ke-ika-an (baca : ke-tunggal-an atau ke-tuggal-ika-an) tadi.

Prinsip unitaris (kesatuan) itu dipateri duat dengan Sumpah Pemuda tahun 1928, yaitu satu bangsa: Bangsa Indonesia, satu tanah air : Tanah Air Indonesia dan satu bahawa : Bahasa Indonesia.

Prinsip bersatu dalam keaneka-ragaman (Bhinneka Tunggal Ika, Unity in Diversity) itu makin ke segenap lingkup kehidupan bangsa dan negara, menyerap ke dalam bidang politik, ekonomi, kebudayaan dan tata-sikap pribadi pimpinan dan pemuka masyarakat. (Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” adalah ciptaan (baca : usul) Bung Karno, setelah kita Merdeka. Semboyan itu kemudian diperkuat dengan lambang yang dibuat oleh Sultan Hamid Pontianak dan diresmikan pemakaiannya oleh Kabinet RIS tanggal 11 Februari 1950.

Tiap mahasiswa Indonesia yang pulang ke Tanah Air dinasehati agar mengobarkan semangat persatuan dan mempertebalnya untuk memperkuat perjuangan nonkoperasi terhadap Belanda untuk menuju kemerdekaan. Segala aliran di Indonesia agar bersatu. Bahkan dengan menyadari masing-masing yang berasal dari berbagai daerah, adat dan bahasa itu terasa sekali persatuan itu manis dan segar rasanya, karena memang yang bersatu itu barang yang berbeda-beda secara graduil.

Memilih nama Indonesia bagi kepulauan kita ini, setelah membanding-bandingkan dengan berbagai nama seperti Hindia Belanda India dan sebagainya adalah sebenarbya mencerminkan pula sikap persatuan dan kesatuan jiwa dan semangat angkatan perintis dan pelopor kemerdekaan Indonesia.

Begitu pula dalam penyusunan tatanegara kita. Persatuan dan kesatuan membawa ke arah sistem tatanegara unitaris dan memberat ke arah sentralisasi. Pada lain pihak, ke-bhinneka-an mendorong pikiran ke arah otonomi daerah. Di masa remaja dan mahasiswa sebelun perang sering dibecarakan dan tak jarang bahkan diperdebatkan tentang bentuk negara yang hendak diperjuangkan kemerdekaannya: unitaris atau federalis. Tetapi perkembangan pemikiran yang dilandasi oleh semangat Bhinneka Tunggal Ika itu akhirnya membawa kita kepada Negara Unitaris dengan sistem otonomi daerah yang sifat dan strukturnya secara dinamis terbentuk menurut perkembangan sejarah dan kehidupan masyarakat Indonesia dengan segala unsur agama dan kebudayaannya.

Di Eropa dan di negara-negara maju yang lainnya, biasanya di waktu masa genting karena sesuatu krisis yang terjadi, orang lebih cenderung kepada sentralisasi dan kesatuan. Di waktu tenang dan tidak ada ketegangan yang kritis, orang cenderung untuk desentralisasi dan/atau otonomi diiringi semangat federatif. Di masa sebelum perang sering diperdebatkan baik buruknya bentuk federal, uniratis, bondstaat-otonomi, dan sebagainya yang tidak perlu kita ulangi lagi di sini.

Yang terang adalah susunan unitaris dengan otonomi daerah yang luas yang sekarang berangsur-angsur kita letakkan struktur, asas serta isinya, adalah hasil perjuangan kita yang mengalami pula masa-masa unitaris, federal, unitaris lagi, sentralisasi berlebih-lebihan dengan akhirnya di masa Orde Baru usaha-usaha terus dilanjutkan dengan pembaharuan-pembaharuan, perombakan-perombakan penyusunan-penyusunan dan penyempurnaan-penyempurnaan yang terus dilakukan dengan dasar-dasar penganalisaan dan panda- ngan ke depan yang sejernih mungkin. Sekali-kali tidak boleh kita dalam hal ini berbuat tergopoh-gopoh dengan pemaksaan-pemaksaan yang dalam jangka panjang akan merusak kesatuan dan persatuan Bangsa dan Negara!

Ke-ika-an di dalam Bhinneka Tunggla Ika, adalah berwujud unsur-unsur kesatuan dalam kehidupan bangsa, dalam arti adanya segi-segi kehidupan politik, ekonomi, kebudayaan dan kejiwaan yang bersatu dan dipegang bersama oleh segala unsur-unsur ke-Bhinneka-an itu. Unsur keanekaragaman tetap ada pada daerah-daerah dari berbagai adat dan suku. Akan tetapi, makin sempurna alat-alat perhubungan, semakin pesat perbauran putera-putera bangsa dan semakin bijak pegawai Pemerintah dan Pemimpin-Pemimpin Rakyat melakukan pimpinan, bimbingan dan pengayoman terhadap rakyat seluruhnya, maka akan pastilah pula bahwa unsur-unsur ke-Bhinneka-an itu lambat laun akan cenderung meleburkan diri dan semangatnya kepada unsur ke-Ika-an. Akan tetapi bila salah pimpin oleh orang-orang yang berjiwa kecil, pemimipin kelompok atau partai yang tidak berjiwa kenegaraan, akibat sebaliknya yang tidak diingini bisa pula terjadi. Saya yakin, apabila kita angkatan tua dapat dengan baik mewariskan negara kepada generasi muda yang bersih dan masih disinari oleh cahaya idealisme dalam kalbunya, mudah-mudahan hal yang tidak diingini itu tidak akan terjadi.

Perlu saya tekankan di sini, bahwa pegangan bersama yang menjadi tali pengikat di dalam ke-Ika-an itu, adalah Pancasila. Dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, dasar Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dasar kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwkilan dan Keadilan Sosiial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah nilai-nilai dasar yang menyerap ke dalam semua unsur ke-Bhinneka-an dalam negara kita. Namun perlu diingat penyerapan itu hanya bisa dicapai apabila nilai-nilai dasar itu jangan menjadi lip service belaka.

Itulah sebabnya saya menegaskan di dalam Laporan Panitia Lima, bahwa Pancasila itu perlu di-sakral-kan. Disakralkan bukan berarti dianggap barang suci seperti Agama, tidak! Disakralkan berarti dijadikan satu dengan jiwa dan perbuatan  kita. Jangan sampai terjadi umpamanya seorang tahanan mati di depan pengadilan waktu diperiksa lantaran dipukuli dan tidak diberi makan atau seorang siswa naik sepeda motor ditabrak mati karena anak orang gede ugal-ugalan naik mobilnya yang mewah. Semua itu menunjukkan tidak adanya perikemanusiaan. Atau orang sampai takut mengatakan pendapat yang berbeda karena takut akan tekanan orang yang berkuasa. Itu menunjukkan dasar demokrasi tidak diindahkan, hal yang menyangkut hak asasi manusia.

Selanjutnya perlu pula saya kunci uraian tentang Bhinneka Tunggal Ika ini dengan menegaskan pula, betapa pentingnya dihubungkan dengan Pancasila sebagai tali pengikat untuk memperkuat unsur ke-Ika-an  dari adanya unsur-unsur ke-Bhinneka-an itu, dengan kenyataan bahwa dalam lambang negara kita dimana jalas tergambar Pancasila dengan Ketuhanan terletak dipusatnya, maka satu-satunya tulisan yang dilekatkan jadi satu dengan lambang itu adalah perkataan Bhinneka Tunggla Ika itu. Ini hendaklah dicamkan benar-benar.

bhinneka tunggal ika - masa depan

* * *

Artikel Terkait :

Wejangan Leluhur

Manusia Seutuhnya

Manusia dan Fitrahnya

Kehidupan

Peranan Perempuan dalam Skenario Blueprint Pancasila

Makna dari Ilmu & Pengetahuan (Bagian I)

Kebijaksanaan dari Visi Kepemimpinan

Jati Diri & Rasa

Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious

Garuda Pancasila

Bhinneka Tunggal Ika

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca

Kesadaran Kosmos & Zona Photon

Proyeksi Nusantara

19 Unsur Proses Perjalanan Rohani

The Gaia Project 2012 (Indonesia)

The Gaia Project 2012 (English)

Serat Jayabaya (Jawa)

Ramalan Jayabaya (Indonesia)

Jayabaya Prophecy (English)

Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage

Yoga Class

Pengertian Yoga

Kelas Yoga & Singing Bowl

Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh

Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul

Yoga Ibu Hamil

Prenatal Yoga

Meditasi

Rileksasi Dalam

Meditation

Cakra & Kundalini

Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java

The Studio Wellness Program at The Stones, Kuta, Bali

Surya Candra Bhuana

Orbs at Yoga Class

Orbs & Light Beings in Ancient Tribe, Java-Indonesia

Conversation with the ORBS

Perguruan Silat Tadjimalela

Prosesi Ala PS Tadjimalela

Pelatihan Perguruan SIlat Tadjimalela

Pengalaman Pelatih Silat Lokal di Kancah Global

Momen Pelatihan dan Kejuaraan Timnas Indonesia

PS Tadjimalela – Konsolidasi Batin dalam Halal bi Halal

Kerajaan Sumedang Larang

Prosedure Darurat Gempa Bumi

Krakatau (Indonesia)

Krakatau (English)

Earthquake Emergency Procedure

Earthquake Cloud

Awan Gempa

Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam

Animal Signs of Natural Disaster

Gurindam Dua Belas

Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

About these ads

4 responses to this post.

  1. Hey, I found your blog while searching on Google. I have a blog on online stock trading, I’ll bookmark your site.

    Reply

  2. Posted by M ASTANA on January 16, 2010 at 5:01 pm

    sesanti Bhinneka Tunggak Ika, diambil dari kitab Sutasoma pupuh CXXXXIX.5, karya Mpu Tantular, lengkapnya berbunyi:

    rwaneka dhatu winuwus wara Buddha Wiswa,
    bhineki rakwa ring apan kena parwanosen
    mangkang jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal
    bhineka tunggal ika tan hana Dharmma manggrwa

    artinya

    konon dikatakan bahwa wujud Tuhan sebagai Budha dan Siwa itu berbeda
    mereka memang berbeda, namun bagaimana kita bisa mengenali perbedaanya dalam selintas pandang, karena satu jua. Mereka memang berbeda-beda , namun pada hakekatnya satu. Karena itu tidak ada Dharma (kebenaran) yang mendua.

    Betapa indahnya dan betapa agungnya para leluhur kita yang begitu menghargai perbedaan dan secara hakiki menyatakannya bahwa wujud dan nama Tuhan yang berbeda-beda itu sesungguhnya satu. Mudah-mudahan ini menginspirasikan kepada bangsa kita bahwa memperunicing dan memonopoli kebenaran hanya menurut ajaran atau agama tertentu adalah tidak sejalan dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

    m astana

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: