Ketika Jawa Bertemu Belanda

Resume buku  oleh : Mochtar pabotinggi

War, Culture, and Economy in Java   1677-1726

Penulis  : M.C.Ricklefs

Penerbit : ASAA Southeast Asia Publication

Series dan Allen and Unwin, Sidney, 1993

*

Bagaimana respons kerajaan dan masyarakat Jawa terhadap Belanda?

Buku ini menjelaskan dengan data terperinci,

tapi tanpa intensitas analisa kebudayaan.

Seperti dua buku M.C.Ricklefs sebelumnya, Yogyakarta Under Sultan Mangkubumi, 1749-1792 (1974) dan A History of Modern lndonesia Since c. 1300 (1981), buku ini kaya dengan narasi sejarah yang terperinci dan seksama. Khususnya tentang apa yang terjadi dalam perjumpaan VOC dengan raja-raja Jawa.

Praktis, sebelum Pax Neerlandica berlaku, semua kerajaan di Jawa senantiasa dilanda peperangan. Menurut Ricklefs, kronisnya peperangan di sini bersumber dari dua sebab struktural. Pertama, keterbatasan komunikasi keraton dengan mancanegara. Kedua, politik dinasti atau harem seperti berlaku pada monarki-monarki lama. Tradisi “selir” membuat setiap saat selalu ada beberapa kontestan yang merasa berhak menduduki tahta. Itu pula sebabnya, mengapa praktek intrik, manipulasi, dan kegiatan mata-mata di Jawa senantiasa ramai.

Pada abad-abad pertama dari perjumpaan Jawa-Belanda, tulis Ricklefs, teknologi perang kedua bangsa itu tidaklah jauh berbeda. Ia menggambarkan raja-raja Jawa dan Madura tertinggal dalam teknologi persenjataan. Ketertinggalan itu segera dapat diatasi dengan kecepatan yang kerap mencengangkan para merchant mercenaries VOC. Kecepatan alih teknologi militer itu, menurut Ricklefs, melebihi India atau Jepang dalam kontak pertama mereka dengan Barat.

Proses alih teknologi militer itu baru tersendat setelah negeri-negeri Eropa Barat mengalami Revolusi Industri pada abad XIX. Dari situ lahirlah berbagai temuan  persenjataan serta peralatan perang modern yang sulit dikejar bangsa negeri-negeri praindustri. Mesin uap, senjata otomatis, mesin berdaya ledak tinggi, telegraf, dan kawat berduri tak lagi bisa ditiru begitu saja oleh orang Jawa.

Dalam bidang kebudayaan, menurut Ricklefs, pada abad XVII dan XVIII tidak terjadi akulturasi baik dari fihak Belanda maupun Jawa. Keduanya bukan hanya sama-sama bertahan pada kebudayaan masing-masing melainkan juga saling mencurigai. Keterasingan antarbudaya tersebut diperparah oleh langkanya penerjemah yang baik. Tapi, insulasi antarbudaya itu pecah melalui Revolusi Industri. Supermasi kekuasaan Belanda semakin mantap dan segera tampil sebagai supremasi kebudayaan. Telaknya kekalahan “bumiputra” melahirkan berbagai gerakan milenarian dan modernisme.

Praktek-praktek dalam kehidupan ekonomi Jawa pada kedua abad itu sangat dipengaruhi oleh hakikat VOC sebagai merchant mercenaries dari dan untuk Negeri Belanda. Itulah sebabnnya, kegiatan ekonomi umumnya terkonsentrasi pada hasil-hasil bumi yang laku jual di Eropa. Setelah zaman keemasan rempah-rempah berlalu, tempatnya segera digantihan oleh tebu, kopi, dan indigo. Beras tentu saja selalu diperlukan Batavia untuk memenuhi kebutuhan penduduknya.

Dalam rangka menanam tanaman ekspor dan padi, penebangan hutan, maupun untuk keperluan peperangan, wong turut dalam memainkan peranan yang amat penting. Selamanya, mereka menjadi rebutan antar penguasa di Jawa. Kombinasi VOC sebagai merchant mercenaries demi Negeri Belanda, kebutuhan raja-raja Jawa untuk membayar upeti tahunan kepada VOC berupa hasil bumi dan real Spanyol sebagai dana perang dan jaminan perlindungan demi status serta hegemoni kerajaan, dan relatif pertambahan tanah dibandingkan dengan tenaga kerja yang tersedia membuat perekonomian Hindia Belanda menjadi sangat eksploitif, khususnya bagi kaum tani.

Oleh karena bersifat sangat eksploitif serta antagonisme antarkedua kelompok pelaku utama dalam kerajaan Jawa-Belanda itu, sejak awal Ricklefs melihat kerja sama itu mustahil dilanjutkan. Sama dengan penemuan Prof. Sartono Kartodirdjo dalam Protest Movement in Rural Java (1973), Ricklefs pun melihat betapa celaka posisi raja-raja Jawa dalam kerja sama tersebut dan betapa pahit kekalahan mereka dari VOC. Untuk menyelamatkan mukanya, mereka harus mengerahkan rakyatnya dalam rangka skema eksploitasi Belanda. Tapi, karena pengerahan dengan cara itu, rakyat pun menolak mengakui mereka sebagai raja.

Dalam hal ini amat signifikan membandingkan respons para penguasa Makasar dan Bali dengan para penguasa Kartasura atas kekalahan mereka dari VOC. Yang pertama meneruskan perlawanan gerilya di mancanegara hingga seluruh sisa-sisa kekuatan perang mereka habis dikerahkan, sedangkan yang kedua sia-sia menyembunyikan kekalahan sehingga tenggelam dalam kekuasaan karikatural.

Dalam buku karya Ricklefs ini tak ditemukan intensitas analisa kebudayaan seperti pada buku karya Tzvetan Todorov, The Conquest of America. Analisa ekonomi yang sistematis juga tak ditemukan dalam buku ini, seperti disajikan dalam karya klasik J.S. Furnivall, Nederlands India. Kekuatan buku ini terletak pada evolusi dinasti-dinasti dan perincian peperangan-peperangan di masa awal Kerajaan Kartasura. Termasuk di situ adalah tekanan pada tokoh-tokoh sentral Jawa juga Madura, Bali, Makasar, dan peranakan Cina dan VOC serta besarnya peranan Islam yang tiada henti membayangi kekuasaan para raja Jawa.

Buku ini pasti amat berharga karena kekayaan dan penguasaan arsip serta bahan-bahan sejarah langka yang diangkat Ricklefs. Buku ini juga istimewa berkat keberhasilan penulisnya membebaskan diri dari perspektif zaman dan lokasi sosiologis dalam mengabdikan rangkaian peristiwa sejarah dari berabad-abad lampau.

* * *

Artikel Terkait :

Ki Sunda di Tatar Sunda
Menapaki Perjalanan Sunda
Kalender Sunda & Revisi Sejarah
Makanan Sunda
Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Kitab Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan
Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja
Ras Nusantara
Perbedaan Batu Tulis, Petilasan & Makam
The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb
Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959
Kebon Raya Bogor
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian
Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age
Prehistoric Remains from Neolitic Stage
Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam
Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River
Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung
Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta
Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata
Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah
Gurindam Dua Belas
Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago
Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara
Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia
Kerajaan Salakanagara
Kerajaan Tarumanagara

Kerajaaan Indraprahasta
Kerajaan Kendan
Kerajaan Galuh
Kerajaan Sunda
Wangsa Sanjaya
Kerajaan Saunggalah
Kerajaan Sunda-Galuh
Kerajaan Kuningan
Kerajaan Cirebon
Perang (Pasundan) Bubat
Kerajaan Sumedang Larang
Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia
Kerajaan Banten
Kerajaan Talaga
Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh
Kerajaan Kalingga di India
Kerajaan Kalingga di Jawa Timur
Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah
Medang di Bumi Mataram (sebelum Sailendra)
Kerajaan Panjalu & Jenggala
Kerajaan Kediri
Kerajaan Tumapel
Kerajaan Majapahit, Wilwatikta
Kerajaan Demak
Kerajaan Mataram
Gubernur Jendral VOC Abad 17
Gubernur Jendral VOC Abad 18
Gubernur Jendral VOC abad 19
Gubernur Jendral Nederlands – Oost Indie (Abad 20)
Gubernur DKI Jakarta
Musik/Music
Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music
Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: