Perang (Pasundan) Bubat

Oleh : Ali Sastramidjaja

PASUNDAN BUBAT

1279

Demikianlah, ini pelengkap naskah Nagara Kretabhumi, riwayat tewasnya orang‑orang Sunda di Bubat.

Suatu peristiwa yang menimbulkan kesedihan dan penderitaan dalam hati orang banyak di tanah Jawa Barat, juga membuat kemarahan yang amat sangat angkatan bersenjata, ratu bawahan dari segenap wilayah, pembesar kerajaan serta keluarga Sang Prabhu Maharaja yang wafat di Bubat.

Setelah Sang Mangkubhumi Suradipati ialah Sang Bunisora, adik Prabhu Maharaja, mewakili kakaknya, maka segenap anggota angkatan bersenjata Sunda segera diberi pengumuman oleh Sang Mangkubhumi Suradipati, sekalian anggota angkatan bersenjata mengenakan baju besi serta semuanya menggenggam berbagai senjata.

Tampaklah mereka, ada yang menunggang gajah, kuda, naik kereta, dan kesatuan pejalan kaki. Angkatan bersenjata yang banyak jumlahnya dari tanah Jawa Barat di bawah kekuasaan Prabhu Maharaja, besar pula kekuatannya, menjaga segenap tempat di tanah Jawa Barat. Angkatan laut dengan beberapa puluh buah perahu besar menjaga laut seputar negeri. Sepanjang pinggir sungai di daerah Brebes, yang disebut Cipamali, dijaga oleh angkatan bersenjata Sunda, juga sepanjang pantai laut, hutan dan gunung, desa-desa, tempat di wilayah pelabuhan perahu dan lain-lainnya lagi.

Sekalian penduduk ikut menjaga negeri mereka dengan membawa berbagai senjata perang, berpencar, bersembunyi di atas pepohonan, di rumah yang tersembunyi. Mereka itu berjaga­ jaga, jangan-jangan angkatan bersenjata Wilwatikta datang menyerang negeri mereka di Jawa Barat, yaitu negara Sunda dan Galuh. Karena mereka telah menjadi satu di bawah perintah Prabhu Maharaja yang wafat di Bubat.

Adapun menurut berita lain, puteri Sang Prabhu Maharaja Sunda ialah Citraresmi namanya, yaitu Dyah Pitaloka, sebagai puteri mahkota kerajaan Sunda. Disebut oleh Maharaja Wilwatikta, bahwa Dyah Pitaloka adalah berlian dari barat.

Peristiwa tewasnya orang-orang Sunda di Bubat, pada hari Selasa, waktu itu matahari tidak ada di atas istana. (Selasa Wage/Pahing, 13 suklapaksa, Badra (11), 1279 C = 01-08-1363 M = 19 Sawal 0764 H). Pada keesokan harinya, hari Rabu Kliwon semua jenazah, Prabhu Maharaja Sunda, sang puteri, dan sekalian pengiringnya telah dimasukkan ke dalam peti jenazah masing-masing.

Dalam pada itu, Bhre Wilwatikta telah mengutus duta ke Sunda dengan membawa surat. Diriwayatkan bahwa dalam waktu sebulan setelah peristiwa tewasnya orang-orang Sunda di Bubat, maka Bhre Wilwatikta mengajukan permintaan maaf atas semua tingkah laku dan kejahatan, yang telah diperbuat oleh panglima-panglima serta angkatan bersenjatanya, yang menyebabkan wafatnya Prabhu Maharaja Sunda.

Perbuatan jahat itu terlepas dari kehidupan sejahtera rakyat kerajaan Wilwatikta. Oleh sebab itu, Bhre Prabhu Wilwatikta dengan hati yang bersih berjanji kepada raja Sunda yang mewakilinya, ialah Mangkubhumi Suradhipati, pembesar, pegawai, angkatan bersenjata, dan rakyat seluruh Jawa Barat; katanya , bahwa Wilwatikta tidak ingin menyerang negeri Sunda di bumi Jawa Barat, serta tidak ingin menaklukkannya, (tapi) ingin saling membantu, saling bersahabat, masing-masing menjadi negara merdeka.

Agar supaya tidak bermusuhan, Bhre Prabhu Wilwatikta berjanji, tidak ingin memberikan kesedihan dan keaiban untuk ke dua kalinya kepada rakyat negeri Sunda.

. . . . . . . . . untuk data sejarah & silsilah lengkapnya, anda dapat membeli buku ini pada kami.

Informasi lengkap pada :

Buku : Data Kala Sejarah Kerajaan – Kerajaan di Jawa Barat

* * *

Artikel terkait :

Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Tarumanagara

Kerajaaan Indraprahasta

Kerajaan Kendan

Kerajaan Galuh

Kerajaan Sunda

Wangsa Sanjaya

Kerajaan Saunggalah

Kerajaan Sunda-Galuh

Kerajaan Kuningan

Kerajaan Cirebon

Kerajaan Sumedang Larang

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia

Kerajaan Banten

Kerajaan Talaga

Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh

Ki Sunda di Tatar Sunda

Menapaki Perjalanan Sunda

Kalender Sunda & Revisi Sejarah

Makanan Sunda

Susunan Warna Kasundaan

Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda

Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan

Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja

Ketika Jawa Bertemu Belanda

Ras Nusantara

Prasasti Batu Tulis Bogor

Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Perbedaan Batu Tulis, Petilasan & Makam

The Differences between Written-Stone, Petilasan Sites (Paths in the past) & Tomb

Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959

Kebon Raya Bogor

Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian

Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age

Prehistoric Remains from Neolitic Stage

Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam

Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River

Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung

Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta

Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata

Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah

Kebon Raya Bogor

Gurindam Dua Belas

Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Kerajaan Kalingga di India

Kerajaan Kalingga di Jawa Timur

Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah

Medang di Bumi Mataram (sebelum Sailendra)

Kerajaan Panjalu & Jenggala

Kerajaan Kediri

Kerajaan Tumapel

Kerajaan Majapahit, Wilwatikta

Kerajaan Demak

Kerajaan Mataram

Musik/Music

Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music

Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: