Archive for September, 2009

Violin

by : A. Sari

From Her Book Poetry Collection :  “YOUTH SPIRIT”

Continue reading

Advertisements

Wake Up

by : A. Sari

From Her Book Poetry Collection :  “YOUTH SPIRIT”

May, 7th 2000

Continue reading

Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja

Dalam Kenangan

Abah Ali Sastramidjaja

27 Oktober 1935 – 25 September 2009

Tokoh Sunda, Peneliti, Penulis & Penemu

Anak Bangsa Indonesia Yang Berkarya Dalam Jiwa Sunda Sesungguhnya

Oleh : Desie Arumsari

Sampurasun.

Kita telah kehilangan salah satu tokoh besar bangsa ini. Ali Sastramidjaja, panggilan akrabnya Abah Ali. Beliau mendedikasikan hidupnya dalam penelitian mengenai Sunda sejak tahun 70-an. Hal ini ia lakukan atas dasar keingintahuannya tentang Sunda. Tak ada orang, buku-buku, atau perpustakaan di jaman itu yang memuaskan pertanyaan-pertanyaannya mengenai Sunda. Atas dasar itulah ia memulai penelitiannya sendiri mengenai Sunda. Apa Sunda sebenarnya berikut jejak-jejak peninggalan-peninggalannya.

*

Pada awal pertemuan dengan beliau, penulis masih kuliah. Beberapa rekan dan saudara satu generasi yang memiliki visi yang sama juga memiliki ketertarikan pada Abah Ali. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, gelombang kesadaran jiwa abah menarik kami, semampu kami untuk dapat melihat, mendengarkan, dan merasakan apa yang Abah berikan pada kami, pengetahuan dan pengalamannya. Saat-saat dimana beliau masih sangat sehat, saat beliau dua kali di rawat di rumah sakit di Bandung dan saat beliau mulai masa penyembuhan di rumahnya. Dan kemudian beliau memutuskan meninggalkan tubuhnya di bumi untuk memulai perjalanan selanjutnya yang ke Yang Maha Tinggi dan Yang Maha Luas.

*

Berikut kisah hidup Abah Ali :

Tahun 70an Abah Ali berpetualang masuk ke seluruh Jawa Barat. Tahun 70-an tersebut Ia melakukan penelitian tentang Sunda selama 4 th. Ia mengendarai motor dan setiap tahunnya Abah mengganti motor untuk mengantisipasi agar motor tidak mogok dan selalu aman untuk penelitiannya. Penelitian tersebut memperoleh banyak hasil seperti : data tulisan, rekaman wawancara,dan  foto.  Wawancara yang ia lakukan adalah wawancara terhadap para sepuh (yang ada di tiap daerah Jawa Barat). Dan kebanyakan para sepuh tersebut sekarang sudah tiada. Perjalanan terakhir abah adalah ke Baduy, Banten.

Salah satu cerita menarik dari perjalan Abah adalah saat beliau ke Ujung Kulon. Tak ada jalur darat menuju Ujung Kulon, jadi Abah memutuskan naik kapal. Saat itu Selat Sunda memiliki ombak yang kecil dan halus. Jadi nyaman untuk berlayar. Salah satu pemandangan yang diingat abah saat itu adalah, perjalanan laut tersebut ditemani oleh terang bulan, sangat indah sekali. Suasana yang indah ini tak pernah hilang dari ingatannya.

Kembali pada perjalanan Abah. Ia tiba di kantor cagar alam dan bermalam di sana. Kampung terakhir yang ingin Abah ketahui tentang seni budaya ternyata tak seperti yang Abah harapkan, tak ada seni-budaya di sana. Yang diketahui Abah dari desa tersebut adalah, bila hewan-hewan cagar alam datang ke kampung tersebut, tak boleh di bunuh oleh penduduk kampung. Karena hewan-hewan di sana dilindungi.

Tahun 80-an awal, abah mulai belajar computer. Tak tanggung-tanggung, karena teknologi computer tak ada di Indonesia, abah langsung ke Belanda untuk belajar tentang teknologi baru ini di jaman itu. Sepulangnya dari Belanda, karena sangat jarang sekali orang Indonesia yang mengetahui computer, maka Abah diminta untuk mengajar computer di Medan. Selama 3 th di sana ia mengajar di perguruan tinggi, kantor dan kapal. Tahun 80-an ini, abah mulai mengopi CD data-data penelitiannya. Ia ingat, tak ada toko di Sumatera yang menjual CD. Karena saat itu baginya sangat penting, maka Abah membelinya di Singapura dengan harga yang sangat mahal : Rp.500.000/keping !

Dari penelitian, abah melihat bahwa beberapa naskah sejarah baik yang sudah dicetak buku atau yang masih asli belum diterjemahkan, kebanyakan isi sejarahnya diulang-ulang. Maka Abah berinisiatif membuat ringkasan sejarah, yang diklasifikasikan masing-masing mengenai kerajaan-kerajaan Jawa Barat, kerajaan-kerajaan NusaJawa dan kerajaan-kerajaan Nusantara. Ini sangat mempermudah siapapun untuk mengetahui sejarah kerajaan-kerajaan di bumi Nusantara kita.

Akhir 70-an Abah ikut dalam tim penerjemahan kitab Wangsakerta. Namun sayangnya hasil kerja keras mereka tak diakui oleh pemerintah Orba. Entah dengan alasan apa. Padahal kitab Wangsakerta adalah kitab berupa naskah kuno peninggalan peradaban bangsa ini. Yang kemudian naskah-naskah kuno tersebut di terjemahkan tim penerjemah dalam bahasa Sunda. Dari bahasa ini baru di alihkan dalam bahasa Indonesia.

Padahal sebuah penerjemahan kitab dan naskah-naskah kuno bagi manusia Eropa, Amerika, justru merupakan hal sangat berharga bagi mereka. Mereka justru sengaja mengeluarkan dana besar dan mengutus banyak peneliti untuk penelitian penerjemahan naskah-naskah kuno. Mereka mengejar ke negara-negara yang merupakan pusat kebudayaan kuno seperti Mesir dengan Piramida dan hierogliphnya, India dengan suku Maya dan ramalan dari manuskrip kunonya, Kamboja dengan Angkor Watnya. Aneh saja bagi bangsa kita yang mengaku bangsa berbudaya, justru hasil-hasil kebudayaan kuno kita sendiri, tidak diakui dan diterima.

Abah menyadari bahwa computer sangat membantu penelitiaannya. Terutama saat ia meneliti tentang penanggalan Sunda. Penghitungan cermat dan cepat tak mungkin ia lakukan secara manual. Hasil penghitungan tersebut menghasilkan Kalender Sunda yang dinamakan Kalangider. Baru tahun 90-an Kalangider bisa diterbitkan di Bandung dan sambutan masyarakat cukup baik mengenai penanggalan asli Sunda ini.

Penemuan dari hasil penelitian terakhir Abah adalah tentang kalender Sunda Kuno, berbeda dengan Kalangider Kalender Sunda. Kalender Sunda Kuno jauh lebih tua dari Kalangider. Berdasarkan penghitungannya, maka Kalender Sunda Kuno telah berusia setidaknya 17000 tahun lebih!

Dahulu karena peradabannya ada, maka kalendernyapun ada. Tapi ketika kebudayaan Sunda Kuno hilang, maka kalender Sunda Kuno juga hilang. Kemudian muncul kalender-kalender lain hasil kebudayaan-kebudayaan berikutnya, seperti kalender Mesir, kalender Cina, kalender India, kalender Mesopotamia dll.

Penemuan kembali kalender Sunda Kuno merupakan hal yang mengejutkan. Karena ini berarti juga menemukan peradaban dunia yang sangat kuno, yaitu Sunda. Penemuan yang membuktikan bahwa Sunda bukan sekedar suatu wilayah di Jawa Barat, melebihi itu. Sunda Kuno adalah suatu zaman yang manusianya Nyunda. Yang berarti Bersih, Bodas, Herang. Kelompok manusia berkesadaran tinggi jiwa dan akalnya. Benar-benar manusia yang bersih, suci dan terang. Sehingga Sunda Kuno memiliki peradaban tinggi, nilai-nilai hidup dan sistem tatanan yang sangat maju yang akhirnya peradaban tersebut hilang. Kemudian menjadi cikal bakal kebudayaan-kebudayaan kuno berikutnya di dunia.

Namun Abah tak mau mengungkap hasil penelitiannya ke publik, mengingat belum siapnya pemerintah dan masyarakat terhadap hasil-hasil penelitian seperti ini. Jangankan penelitian abah tentang kalender Sunda Kuno, penerjemahan naskah kuno, yang benar benar dari lontar kuno saja tidak diakui pemerintah, apalagi yang jauh lebih tua. Setelah itu seorang peneliti Barat yaitu Stephen Oppenheimer mengungkap penelitiannya yang diberi judul Thesis Sunda. Thesis Sunda melegakan Abah, karena berarti tak hanya ia yang berhasil mengungkap penemuan kebudayaan Sunda Kuno.

Abah menemukan cara penghitungan kalender  Sunda kuno yaitu berdasarkan perhitungan matahari dan bulan. Dalam kalender Sunda kuno:

  • Caka Suria                           = penghitungan berdasarkan matahari
  • Caka Candra                       = penghitungan berdasarkan bulan

—> Kalender SUNDA yang dinamakan KALANGIDER.

  • Caka Suria Tembey          = penghitungan berdasarkan matahari lama
  • Caka Candra Tembey     = penghitungan berdasarkan bulan lama

—> Kalender SUNDA KUNO

Abah menerangkan pada kami suatu bukti sangat tuanya peradaban Sunda Kuno yaitu dalam tata bahasa Sunda. Contoh kata : ’baruka’. Dengan pemberian imbuhan dan perubahannya, dibantu komputer untuk pencarian perubahan tersebut, maka ditemukan 8000 jenis perubahan. Bayangkan, hanya dengan 1 suku kata dasar, sudah berkembang menjadi 8000 kata, jumlahnya sudah 1 kamus sendiri. Dari penelitian kata maka barulah dapat ketegasan angka. Artinya sunda Kuno usianya sudah sangat kuno.

Dalam suatu peradaban bangsa, urutannya sebagai berikut :

kata –> bahasa –> tulisan –> angka & perhitungan –> kalender

Sehingga dalam suatu peradaban bangsa, kalender tercipta dari hasil perjalanan budaya suatu bangsa yang cukup lama. Dibutuhkan setidaknya waktu 3 millenium dalam suatu kebudayaan, barulah dapat menciptakan kalender. Maka sebelum ada kalender, kebudayaan sudah ada. Sehingga diperkirakan bahwa kebudayaan Sunda Kuno telah ada paling tidak 20.000 tahun yang lalu.

*

Satu hal yang Abah khawatirkan terhadap bangsa ini. Bahwa kita tidak menyadari dan mengetahui telah terjadi perubahan-perubahan pada bumi. Bumi sedang memasuki alam kesadaran perubahan besar semesta raya. Perubahan-perubahan ini akan terus bertambah dalam skala yang lebih besar, termasuk bencana-bencana alam dalam skala lebih hebat. Yang nantinya akan menghasilkan evolusi bumi baru dengan manusia baru yang diijinkan untuk hidup di atasnya. Manusia dengan tataran kesadaran jiwa dan akal yang jauh lebih tinggi dan jauh bertanggung jawab daripada penghuni bumi sekarang. Bila manusia sekarang menyadari saja belum, apalagi mempersiapkannya dan berubah bersama perubahan alam, bumi dan semesta.

*

Begitulah serangkum jejak-jejak perjalanan dan dedikasi hidup seorang yang Nyunda, Abah Ali Sastramidjaja di tanah Sunda.

*

Lakon Hidup Abah Ali Sastramidjaja :

Abah muda

-Kala Muda-

Gairah peneliti Abah sudah nampak jelas di usia muda

*

Abah & Masyarakat Baduy

-Kala Penelitian di Baduy-

Abah mendapatkan pengajaran lahir & batin di sini

*

Abah & Penulis

-Kala bersama Penulis-

Salah satu mentor terbaik dalam perjalanan hidup penulis

*

Abah Ali Sastramidjaja

-Ali Sastramidjaja-

Yang kami cintai. Abah kami. Mentor kami.

Selamat Jalan Abah, Dalam Pelukan Yang Maha Tinggi, Yang Maha Luas, Yang Maha Kasih

* * *

Artikel Terkait :

Ki Sunda di Tatar Sunda

Menapaki Perjalanan Sunda

Kalender Sunda & Revisi Sejarah

Makanan Sunda

Ketika Jawa Bertemu Belanda

Ras Nusantara

Prasasti Batu Tulis Bogor

Perbedaan Batu Tulis, Petilasan & Makam

The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb

Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959

Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)

Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian

Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age

Prehistoric Remains from Neolitic Stage

Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam

Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River

Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung

Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta

Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata

Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah

Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda

Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan

Gurindam Dua Belas

Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Tarumanagara

Kerajaaan Indraprahasta

Kerajaan Kendan

Kerajaan Galuh

Kerajaan Sunda

Wangsa Sanjaya

Kerajaan Saunggalah

Kerajaan Sunda-Galuh

Kerajaan Kuningan

Kerajaan Cirebon

Perang (Pasundan) Bubat

Kerajaan Sumedang Larang

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia

Kerajaan Banten

Kerajaan Talaga

Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh

Kebon Raya Bogor

Kerajaan Kalingga di India

Kerajaan Kalingga di Jawa Timur

Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah

Medang di Bumi Mataram (sebelum Sailendra)

Kerajaan Panjalu & Jenggala

Kerajaan Kediri

Kerajaan Tumapel

Kerajaan Majapahit, Wilwatikta

Kerajaan Demak

Kerajaan Mataram

Musik/Music

Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music

Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music

Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)

Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh

Orbs at Yoga Class

Orbs & Light Beings in Ancient Tribe, Java-Indonesia

Conversation with the ORBS

Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage

Ketika Jawa Bertemu Belanda

Resume buku  oleh : Mochtar pabotinggi

War, Culture, and Economy in Java   1677-1726

Penulis  : M.C.Ricklefs

Penerbit : ASAA Southeast Asia Publication

Series dan Allen and Unwin, Sidney, 1993

*

Bagaimana respons kerajaan dan masyarakat Jawa terhadap Belanda?

Buku ini menjelaskan dengan data terperinci,

tapi tanpa intensitas analisa kebudayaan.

Seperti dua buku M.C.Ricklefs sebelumnya, Yogyakarta Under Sultan Mangkubumi, 1749-1792 (1974) dan A History of Modern lndonesia Since c. 1300 (1981), buku ini kaya dengan narasi sejarah yang terperinci dan seksama. Khususnya tentang apa yang terjadi dalam perjumpaan VOC dengan raja-raja Jawa.

Praktis, sebelum Pax Neerlandica berlaku, semua kerajaan di Jawa senantiasa dilanda peperangan. Menurut Ricklefs, kronisnya peperangan di sini bersumber dari dua sebab struktural. Pertama, keterbatasan komunikasi keraton dengan mancanegara. Kedua, politik dinasti atau harem seperti berlaku pada monarki-monarki lama. Tradisi “selir” membuat setiap saat selalu ada beberapa kontestan yang merasa berhak menduduki tahta. Itu pula sebabnya, mengapa praktek intrik, manipulasi, dan kegiatan mata-mata di Jawa senantiasa ramai.

Pada abad-abad pertama dari perjumpaan Jawa-Belanda, tulis Ricklefs, teknologi perang kedua bangsa itu tidaklah jauh berbeda. Ia menggambarkan raja-raja Jawa dan Madura tertinggal dalam teknologi persenjataan. Ketertinggalan itu segera dapat diatasi dengan kecepatan yang kerap mencengangkan para merchant mercenaries VOC. Kecepatan alih teknologi militer itu, menurut Ricklefs, melebihi India atau Jepang dalam kontak pertama mereka dengan Barat.

Proses alih teknologi militer itu baru tersendat setelah negeri-negeri Eropa Barat mengalami Revolusi Industri pada abad XIX. Dari situ lahirlah berbagai temuan  persenjataan serta peralatan perang modern yang sulit dikejar bangsa negeri-negeri praindustri. Mesin uap, senjata otomatis, mesin berdaya ledak tinggi, telegraf, dan kawat berduri tak lagi bisa ditiru begitu saja oleh orang Jawa.

Dalam bidang kebudayaan, menurut Ricklefs, pada abad XVII dan XVIII tidak terjadi akulturasi baik dari fihak Belanda maupun Jawa. Keduanya bukan hanya sama-sama bertahan pada kebudayaan masing-masing melainkan juga saling mencurigai. Keterasingan antarbudaya tersebut diperparah oleh langkanya penerjemah yang baik. Tapi, insulasi antarbudaya itu pecah melalui Revolusi Industri. Supermasi kekuasaan Belanda semakin mantap dan segera tampil sebagai supremasi kebudayaan. Telaknya kekalahan “bumiputra” melahirkan berbagai gerakan milenarian dan modernisme.

Praktek-praktek dalam kehidupan ekonomi Jawa pada kedua abad itu sangat dipengaruhi oleh hakikat VOC sebagai merchant mercenaries dari dan untuk Negeri Belanda. Itulah sebabnnya, kegiatan ekonomi umumnya terkonsentrasi pada hasil-hasil bumi yang laku jual di Eropa. Setelah zaman keemasan rempah-rempah berlalu, tempatnya segera digantihan oleh tebu, kopi, dan indigo. Beras tentu saja selalu diperlukan Batavia untuk memenuhi kebutuhan penduduknya.

Dalam rangka menanam tanaman ekspor dan padi, penebangan hutan, maupun untuk keperluan peperangan, wong turut dalam memainkan peranan yang amat penting. Selamanya, mereka menjadi rebutan antar penguasa di Jawa. Kombinasi VOC sebagai merchant mercenaries demi Negeri Belanda, kebutuhan raja-raja Jawa untuk membayar upeti tahunan kepada VOC berupa hasil bumi dan real Spanyol sebagai dana perang dan jaminan perlindungan demi status serta hegemoni kerajaan, dan relatif pertambahan tanah dibandingkan dengan tenaga kerja yang tersedia membuat perekonomian Hindia Belanda menjadi sangat eksploitif, khususnya bagi kaum tani.

Oleh karena bersifat sangat eksploitif serta antagonisme antarkedua kelompok pelaku utama dalam kerajaan Jawa-Belanda itu, sejak awal Ricklefs melihat kerja sama itu mustahil dilanjutkan. Sama dengan penemuan Prof. Sartono Kartodirdjo dalam Protest Movement in Rural Java (1973), Ricklefs pun melihat betapa celaka posisi raja-raja Jawa dalam kerja sama tersebut dan betapa pahit kekalahan mereka dari VOC. Untuk menyelamatkan mukanya, mereka harus mengerahkan rakyatnya dalam rangka skema eksploitasi Belanda. Tapi, karena pengerahan dengan cara itu, rakyat pun menolak mengakui mereka sebagai raja.

Dalam hal ini amat signifikan membandingkan respons para penguasa Makasar dan Bali dengan para penguasa Kartasura atas kekalahan mereka dari VOC. Yang pertama meneruskan perlawanan gerilya di mancanegara hingga seluruh sisa-sisa kekuatan perang mereka habis dikerahkan, sedangkan yang kedua sia-sia menyembunyikan kekalahan sehingga tenggelam dalam kekuasaan karikatural.

Dalam buku karya Ricklefs ini tak ditemukan intensitas analisa kebudayaan seperti pada buku karya Tzvetan Todorov, The Conquest of America. Analisa ekonomi yang sistematis juga tak ditemukan dalam buku ini, seperti disajikan dalam karya klasik J.S. Furnivall, Nederlands India. Kekuatan buku ini terletak pada evolusi dinasti-dinasti dan perincian peperangan-peperangan di masa awal Kerajaan Kartasura. Termasuk di situ adalah tekanan pada tokoh-tokoh sentral Jawa juga Madura, Bali, Makasar, dan peranakan Cina dan VOC serta besarnya peranan Islam yang tiada henti membayangi kekuasaan para raja Jawa.

Buku ini pasti amat berharga karena kekayaan dan penguasaan arsip serta bahan-bahan sejarah langka yang diangkat Ricklefs. Buku ini juga istimewa berkat keberhasilan penulisnya membebaskan diri dari perspektif zaman dan lokasi sosiologis dalam mengabdikan rangkaian peristiwa sejarah dari berabad-abad lampau.

* * *

Artikel Terkait :

Ki Sunda di Tatar Sunda
Menapaki Perjalanan Sunda
Kalender Sunda & Revisi Sejarah
Makanan Sunda
Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Kitab Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan
Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja
Ras Nusantara
Perbedaan Batu Tulis, Petilasan & Makam
The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb
Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959
Kebon Raya Bogor
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian
Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age
Prehistoric Remains from Neolitic Stage
Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam
Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River
Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung
Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta
Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata
Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah
Gurindam Dua Belas
Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago
Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara
Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia
Kerajaan Salakanagara
Kerajaan Tarumanagara

Kerajaaan Indraprahasta
Kerajaan Kendan
Kerajaan Galuh
Kerajaan Sunda
Wangsa Sanjaya
Kerajaan Saunggalah
Kerajaan Sunda-Galuh
Kerajaan Kuningan
Kerajaan Cirebon
Perang (Pasundan) Bubat
Kerajaan Sumedang Larang
Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia
Kerajaan Banten
Kerajaan Talaga
Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh
Kerajaan Kalingga di India
Kerajaan Kalingga di Jawa Timur
Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah
Medang di Bumi Mataram (sebelum Sailendra)
Kerajaan Panjalu & Jenggala
Kerajaan Kediri
Kerajaan Tumapel
Kerajaan Majapahit, Wilwatikta
Kerajaan Demak
Kerajaan Mataram
Gubernur Jendral VOC Abad 17
Gubernur Jendral VOC Abad 18
Gubernur Jendral VOC abad 19
Gubernur Jendral Nederlands – Oost Indie (Abad 20)
Gubernur DKI Jakarta
Musik/Music
Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music
Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music

Amanat Galunggung Prabuguru Darmasiksa Leluhur Sunda

Oleh: Drs. H.R. Hidayat Suryalaga

PURWAWACANA

Amanat Galunggung atau disebut Naskah Ciburuy atau Kropok No.632 yang merupakan amanat Prabu Guru Darmasiksa merupakan khasanah Budaya Sunda sebagai kearifan Genus Lokal. Sebenarnya Budaya Lokal dapat ditelusuri melalui tiga tataran:

  • Budaya Lokal yang terdapat di segenap wilayah Nusantara; kajian mengenai hal ini telah banyak digarap para pakar, khususnya dalam kajian Sosiologi dan Antropologi Budaya.
  • Budaya Lokal yang terdapat di Wilayah Jawa Barat/Tatar Sunda bersifat umum tersebar di setiap daerah sebagai penanda budaya etnisnya.
  • Budaya Lokal yang khusus di satu daerah saja; bisa berdasarkan historis, geografis, filologis, filosofis dan sosiologis. Misalnya saja seperti pada kesempatan sekarang, yaitu seputar Budaya Lokal yang terdapat di wilayah Sukapura/Tasikmalaya, karena lokasi ditemukannya kropak No.632 ini dahulu termasuk wilayah Sukapura.

Beberapa hal yang ingin dicapai kali ini, yaitu untuk:

Menemu-kenali budaya lokal Sukapura/Tasikmalaya. Pada awalnya bisa ditelusuri dengan menyimak budaya fisik yang bisa diindra, misalnya: adat istiadat, bahasa, seni, sistem bermasyarakat, mata pencaharian, iptek dan peralatan. Tentang keberadaan budaya fisik ini, mungkin di Pemda Kabupaten Tasikmalaya telah banyak data yang terdokumentasikan dengan lengkap.

Menemu-kenali citra identitasnya, hal ini akan berkaitan erat dengan sistem nilai (value) dan pandangan hidup (visi) dari masyarakat pendukung budayanya. Dalam hal ini masyarakat Sukapaura/Tasikmalaya. Menurut hemat saya, dalam sistem nilai /visi hidup inilah ciri identitas yang harus ditelusuri, dipilih dan dipilah sehingga tersistemasikan dengan jelas.

Mencari upaya agar nilai-nilai yang menjadi citra atau identitas masyarakat Sukapura/Tasikmalaya dapat ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat. Sehingga dapat dijadikan kontribusi lokal bagi kesejahteraan masyarakat yang berbudaya, yakni masyarakat yang madani dan mardotillah baik lokal, nasional maupun internasional. Sehingga dengan berbekal citra identitas yang otentik, kita bisa membentuk visi hidup yang akan kita wujudkan pada masa kini dan masa yang akan datang.

Dalam tulisan ini analisis terkonsentrasi pada aspek nilai-nilai pandangan hidup (value, etika, moral) yang terdapat dalam referensi kesejarahan (historiografi), seperti halnya yang dijumpai dalam naskah-naskah kuno yang diterbitkan serta ada keterkaitannya dengan wilayah Sukapura/Tasikmalaya.

Sedangkan pada bagian tertentu bisa kita telusuri “benang mas” keotentikan dari nilai-nilai identitas kearifan para leluhur Sunda, khususnya yang menyangkut Wilayah Sukapura/Tasikmalaya. Dalam tulisan ini pendekatan analisis yang digunakan secara linguistik tekstual, filologi dan semiotika (ilmu tentang tanda/lambang).

KERAJAAN SAUNGGALAH I (KUNINGAN)

Awal kisah di mulai dari Kerajaan Saunggalah I (Wilayah Kuningan sekarang) yang sebenarnya telah eksis sejak awal abad 8M; seperti yang terinformasikan dalam naskah lama Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa dengan nama Saunggalah. Rajanya bernama Resiguru Demunawan kakak kandung Purbasora (Raja di Galuh 716-732M). Ayahnyalah (Rahyang Sempakwaja yaitu Penguasa Galunggung) yang mendudukkannya menjadi raja di Saunggalah I.

Tokoh yang mempunyai gelar Resiguru dalam sejarah Sunda hanya dipunyai oleh tiga tokoh, yaitu Resiguru Manikmaya (Raja di Kendan, 536-568M), Resiguru Demunawan (di Saunggalah I/Kuningan, awal abad 8M) dan Resiguru Niskala Wastu Kancana (Raja di Kawali, 1371-1475M). Resiguru adalah gelar yang sangat terhormat bagi seorang raja yang telah membuat/menurunkan suatu “AJARAN” (visi hidup, teh way of live) bagi acuan hidup keturunannya (mungkin yang disebut dalam naskah kuna dengan istilah Sanghyang Linggawesi?).

Bila demikian halnya, maka tidak ayal lagi Resiguru Demunawan, tokoh cikal bakal Kerajaan Saunggalah I pun mempunyai atau membuat suatu “AJARAN”. Keyakinan ini dibuktikan oleh seorang keturunannya yang juga menjadi Raja di Saunggalah I (Kuningan) dan kemudian pindah menjadi raja di Saunggalah II (Mangunreja/Sukapura) yaitu PRABUGURU DARMASIKSA (1175-1297 M) yang memerintah selama 122 tahun (!).

Prabuguru Darmasiksa pertama kali memerintah di Saunggalah I (persisnya sekarang di desa Ciherang, Kec. Kadugede, Kab. Kuningan selama beberapa tahun) yang selanjutnya diserahkan kepada puteranya dari istrinya yang berasal dari Darma Agung, yang bernama Prabu Purana (Premana?).

KERAJAAN SAUNGGALAH II (MANGUNREJA – SUKAPURA – TASIKMALAYA)

Kemudian Prabuguru Darmasiksa pindah ke Saunggalah II (sekarang daerah Mangunreja di kaki Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya), yang nantinya kerajaan diserahkan kepada putranya yang bernama Prabu Ragasuci. Adapun Prabuguru Darmasiksa diangkat menjadi Raja di Karajaan Sunda (Pakuan) sampai akhir hayatnya.

Setelah ditelusuri, ternyata Prabuguru Darmasiksa adalah tokoh yang meletakkan dasar-dasar Pandangan Hidu/Visi ajaran hidup secara tertulis berupa nasehat. Naskahnya disebut sebagai AMANAT DARI GALUNGGUNG, disebut juga sebagai NASKAH CIBURUY (nama tempat di Garut Selatan tempat ditemukan naskah Galunggung tsb) atau disebut pula KROPAK No.632, ditulis pada daun nipah sebanyak 6 lembar yang terdiri atas 12 halaman; menggunakan aksara Sunda Kuna.

Dalam naskah Amanat Dari Galunggung diharapkan kita akan dapat menyebutnya sebagai “AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA” yang hanya terdiri dari 6 lembar daun nipah. Didalam amanat ini tersirat secara lengkap apa visi hidup yang harus dijadikan pegangan masyarakat dan menjadi citra jatidiri kita (khususnya Sukapura/Tasikmalaya), lebih makronya lagi bagi orang Sunda yang kemudian mungkin merupakan kontribusi bagi kepentingan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berwawasaan Nusantara.

Di bawah rangkuman amanat-amanat Prabuguru Darmasiksa dari setiap halaman (yang diberi nomor sesuai dengan terjemahan Saleh Danasasmita dkk, 1987).

Sistematika rangkuman tersebut terbagi dalam 4 point:

  • Amanat yang bersifat pegangan hidup /cecekelan hirup.
  • Amanat yang bersifat perilaku yang negatif (non etis) ditandai dengan kata penafian “ulah” (jangan).
  • Amanat yang bersifat perilaku yang positif (etis) ditandai dengan kata imperatif “kudu” (harus).
  • Kandungan nilai, sebagai interpretasi penulis.

AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA

HALAMAN 1

Pegangan Hidup:

Prabu Darmasiksa menyebutkan lebih dulu 9 nama-nama raja leluhurnya.

Darmasiksa memberi amanat ini adalah sebagai nasihat kepada: anak, cucu, umpi (turunan ke-3), cicip (ke-4), muning (ke-5), anggasantana (ke-6), kulasantana (ke-7), pretisantana (ke-8), wit wekas ( ke-9, hilang jejak), sanak saudara, dan semuanya.

Kandungan Nilai:

Mengisyaratkan kepada kita bahwa harus menghormati/mengetahui siapa para leluhur kita. Ini kesadaran akan sejarah diri.

Mengisyaratkan pula kesadaran untuk menjaga kualitas (SDM) keturunannya dan seluruh insan-insan masyarakatnya.

HALAMAN 2

Pegangan Hidup:

Perlu mempunyai kewaspadaan akan kemungkinan dapat direbutnya kemuliaan (kewibawaan dan kekuasaan) serta kejayaan bangsa sendiri oleh orang asing.

Perilaku Yang Negatif:

Jangan merasa diri yang paling benar, paling jujur, paling lurus.

Jangan menikah dengan saudara.

Jangan membunuh yang tidak berdosa.

Jangan merampas hak orang lain.

Jangan menyakiti orang yang tidak bersalah.

Jangan saling mencurigai.

Kandungan Nilai:

Sebagai suatu bangsa (Sunda) harus tetap waspada, tidak boleh lengah jangan sampai kekuasaan dan kemuliaan kita/Sunda direbut/didominasi oleh orang asing.

Kebenaran bukan untuk diperdebatkan tapi untuk diaktualisasikan.

Pernikahan dengan saudara dekat tidak sehat.

Segala sesuatu harus mengandung nilai moral.

HALAMAN 3

Pegangan Hidup:

Harus dijaga kemungkinan orang asing dapat merebut kabuyutan (tanah yang disakralkan).

Siapa saja yang dapat menduduki tanah yang disakralkan (Galunggung), akan beroleh kesaktian, unggul perang, berjaya, bisa mewariskan kekayaan sampai turun temurun.

Bila terjadi perang, pertahankanlah kabuyutan yang disucikan itu.

Cegahlah kabuyutan (tanah yang disucikan) jangan sampai dikuasai orang asing.

Lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah dari pada raja putra yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan/tanah airnya.

Perilaku Yang Negatif:

Jangan memarahi orang yang tidak bersalah.

Jangan tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu mempertahankan tanahnya (kabuyutannya) pada jamannya.

Kandungan Nilai:

Tanah kabuyutan, tanah yang disakralkan, bisa dikonotasikan sebagai tanah air (lemah cai, ibu pertiwi). Untuk orang Sunda adalah Tatar Sunda-lah tanah yang disucikannya (kabuyutannya). Untuk orang Sukapura/Tasikmalaya ya wilayahnya itulah tanah yang disucikannya.

Siapa yang bisa menjaga tanah airnya akan hidup bahagia.

Pertahankanlah eksistensi tanah air kita itu. Jangan sampai dikuasai orang asing.

Alangkah hinanya seorang anak bangsa, jauh lebih hina dan menjijikan dibandingkan dengan kulit musang (yang berbau busuk) yang tercampak di tempat sampah (tempat hina dan berbau busuk), bila anak bangsa tsb tidak mampu mempertahankan tanah airnya.

Hidup harus mempunyai etika.

HALAMAN 4

Pegangan Hidup:

Hindarilah sikap tidak mengindahkan aturan, termasuk melanggar pantangan diri sendiri.

Orang yang melanggar aturan, tidak tahu batas, tidak menyadari akan nasihat para leluhurnya, sulit untuk diobati sebab diserang musuh yang “halus”.

Orang yang keras kepala, yaitu orang yang ingin menang sendiri, tidak mau mendengar nasihat ayah-bunda, tidak mengindahkan ajaran moral (patikrama). Ibarat pucuk alang-alang yang memenuhi tegal.

Kandungan Nilai:

Hidup harus tunduk kepada aturan, termasuk mentaati “pantangan” diri sendiri. Ini menyiratkan bahwa manusia harus sadar hukum, bermoral; tahu batas dan dapat mengendalikan dirinya sendiri.

Orang yang moralnya rusak sulit diperbaiki, sebab terserang penyakit batin (hawa nafsunya), termasuk orang yang keras kepala.

HALAMAN 5

Pegangan Hidup:

Orang yang mendengarkan nasihat leluhurnya akan tenteram hidupnya, berjaya. Orang yang tetap hati seibarat telah sampai di puncak gunung.

Bila kita tidak saling bertengkar dan tidak merasa diri paling lurus dan paling benar, maka manusia di seluruh dunia akan tenteram, ibarat gunung yang tegak abadi, seperti telaga yang bening airnya; seperti kita kembali ke kampung halaman tempat berteduh.

Peliharalah kesempurnaan agama, pegangan hidup kita semua.

Jangan kosong (tidak mengetahui) dan jangan merasa bingung dengan ajaran keutamaan dari leluhur.

Semua yang dinasihatkan bagi kita semua ini adalah amanat dari Rakeyan Darmasiksa.

Kandungan Nilai:

Manusia harus rendah hati jangan angkuh.

Agama sebagai pegangan hidup harus ditegakkan.

Pengetahuan akan nilai-nilai peninggalan para leluhur harus didengar dan dilaksanakan.

HALAMAN 6

Pegangan Hidup:

Sang Raja Purana merasa bangga dengan ayahandanya (Rakeyan Darmasiksa), yang telah membuat ajaran/pegangan hidup yang lengkap dan sempurna.

Bila ajaran Darmasiksa ini tetap dipelihara dan dilaksanakan maka akan terjadi:

– Raja pun akan tenteram dalam menjalankan tugasnya;

– Keluarga/tokoh masyarakat akan lancar mengumpulkan bahan makanan.

– Ahli strategi akan unggul perangnya.

– Pertanian akan subur.

– Panjang umur.

SANG RAMA (tokoh masyarakat) bertanggung jawab atas kemakmuran hidup.

SANG RESI (cerdik pandai, berilmu), bertanggung jawab atas kesejahteraan.

SANG PRABU (birokrat) bertanggung jawab atas kelancaran pemerintahan

Perilaku Yang Negatif:

Jangan berebut kedudukan.

Jangan berebut penghasilan.

Jangan berebut hadiah.

Perilaku Yang Positif:

Harus bersama- sama mengerjakan kemuliaan, melalui: perbuatan, ucapan dan itikad yang bijaksana.

Kandungan Nilai:

Seorang ayah/orang tua harus menjadi kebangagan puteranya/keturunannya.

Melaksanakan ajaran yang benar secara konsisten akan mewujudkan ketenteraman dan keadil-makmuran.

Bila tokoh yang tiga (Rama, Resi dan Prabu), biasa disebut dengan Tri Tangtu di Bumi (Tiga penentu di Dunia), berfungsi dengan baik, maka kehidupan pun akan sejahtera.

Hidup jangan serakah.

Kemuliaan itu akan tercapai bila dilandasi dengan tekad, ucap dan lampah yang baik dan benar.

HALAMAN 7

Pegangan Hidup:

Kita akan menjadi orang terhormat dan merasa senang bila mampu menegakkan agama/ajaran.

Kita akan menjadi orang terhormat/bangsawan bila dapat menghubungkan kasih sayang/silaturahmi dengan sesama manusia.

Itulah manusia yang mulia.

Dalam ajaran patikrama (etika), yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja, yaitu apa yang kita kerjakan.

Buruk amalnya ya buruk pula tapanya, sedang amalnya ya sedang pula tapanya; sempurna amalnya/kerjanya ya sempurna tapanya.

Kita menjadi kaya karena kita bekerja, berhasil tapanya.

Orang lainlah yang akan menilai pekerjaan/tapa kita.

Perilaku Yang Positif:

Perbuatan, ucapan dan tekad harus bijaksana.

Harus bersifat hakiki, bersungguh-sungguh, memikat hati, suka mengalah, murah senyum, berseri hati dan mantap bicara.

Perilaku Yang Negatif:

Jangan berkata berteriak, berkata menyindir-nyindir, menjelekkan sesama orang dan jangan berbicara mengada-ada.

Kandungan Nilai:

Manusia yang mulia itu adalah yang taat melaksanakan agama/ajaran dan mempererat silaturahmi dengan sesama orang.

Dalam budaya Sunda, yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja/berkarya.

Etika dan tatakrama dalam bermasyarakat perlu digunakan.

HALAMAN 8

Pegangan Hidup:

Bila orang lain menyebut kerja kita jelek, yang harus disesali adalah diri kita sendiri.

Tidak benar, karena takut dicela orang, lalu kita tidak bekerja/bertapa.

Tidak benar pula bila kita berkeja hanya karena ingin dipuji orang.

Orang yang mulia itu adalah yang sempurna amalnya, dia akan kaya karena hasil tapanya itu.

Camkan ujaran para orang tua agar masuk surga di kahiyangan.

Kejujuran dan kebenaran itu ada pada diri sendiri.

Itulah yang disebut dengan kita menyengaja berbuat baik.

Perilaku Yang Positif:

Yang disebut berkemampuan itu adalah:

Harus cekatan, terampil, terampil, tulus hati, rajin dan tekun, bertawakal, tangkas, bersemangat, superwira/berjiwa pahlawan, cermat, teliti, penuh keutamaan dan berani tampil. Yang dikatakan semua ini itulah yang disebut orang yang BERHASIL TAPANYA, BENAR-BENAR KAYA, KESEMPURNAAN AMAL YANG MULIA.

Kandungan Nilai:

Manusia perlu introspeksi dan retrospeksi.

Jangan menyalahkan orang lain.

Berkerja harus iklas jangan karena ingin dipuji orang.

Orang yang mulia itu adalah orang yang bekerja/beramal/berkarya.

Kejujuran dan kebenaran ada di dalam diri pribadi, itu adalah hati nurani.

Manusia yang mulia itu adalah yang mempunyai kualitas SDM prima.

HALAMAN 9

Pegangan Hidup:

Perlu diketahui bahwa yang mengisi neraka itu adalah manusia yang suka mengeluh karena malas beramal; banyak yang diinginkannya tetapi tidak tersedia di rumahnya; akhirnya meminta-minta kepada orang lain.

Perilaku Yang Negatif:

Arwah yang masuk ke neraka itu dalam tiga gelombang, berupa manusia yang pemalas, keras kepala, pandir/bodoh, pemenung, pemalu, mudah tersinggung/babarian, lamban, kurang semangat, gemar tiduran, lengah, tidak tertib, mudah lupa, tidak punya keberanian/pengecut, mudah kecewa, keterlaluan/luar dari kebiasaan, selalu berdusta, bersungut-sungut, menggerutu, mudah bosan, segan mengalah, ambisius, mudah terpengaruh, mudah percaya padangan omongan orang lain, tidak teguh memegang amanat, sulit hati, rumit mengesalkan, aib dan nista.

Kandungan Nilai:

Manusia perlu menyadari keadaan dirinya.

Jangan konsumtif tetapi harus produktif dan pro aktif, beretos kerja tinggi serta mempunyai kepribadian dan berkarakater yang positif.

Karater yang negatif membawa kesengsaraan manusia baik di dunia maupun di akhirat.

HALAMAN 10

Pegangan Hidup:

Orang pemalas tetapi banyak yang diinginkannya selalu akan meminta dikasihani orang lain. Itu sangat tercela.

Orang pemalas seperti air di daun talas, plin-plan namanya. Jadilah dia manusia pengiri melihat keutamaan orang lain.

Amal yang baik seperti ilmu padi makin lama makin merunduk karena penuh bernas.

Bila setiap orang berilmu padi maka kehidupan masyarakat pun akan seperti itu.

Janganlah meniru padi yang hampa, tengadah tapi tanpa isi.

Jangan pula meniru padi rebah muda, hasilnya nihil, karena tidak dapat dipetik hasilnya.

Kandungan Nilai:

Minta dikasihani orang itu adalah tercela.

Manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia, sehingga kualitas dirinya prima, seperti padi yang bernas.

Orang yang pongah, tidak berilmu dan berkarakter rendah tak ubahnya seperti padi hampa.

HALAMAN 11

Pegangan Hidup:

Orang yang berwatak rendah, pasti tidak akan hidup lama.

Sayangilah orang tua, oleh karena itu hati-hatilah dalam memilih isteri, memilih hamba agar hati orang tua tidak tersakiti.

Bertanyalah kepada orang-orang tua tentang agama hukum para leluhur, agar hirup tidak tersesat.

Ada dahulu (masa lampau) maka ada sekarang (masa kini), tidak akan ada masa sekarang kalau tidak ada masa yang terdahulu.

Ada pokok (pohon) ada pula batangnya, tidak akan ada batang kalau tidak ada pokoknya.

Bila ada tunggulnya maka tentu akan ada batang (catang)-nya.

Ada jasa tentu ada anugerahnya. Tidak ada jasa tidak akan ada anugerahnya.

Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia-sia.

Kandungan Nilai:

Orang berwatak rendah akan dibenci orang mungkin dibunuh orang, hidupnya tidak akan lama, namanya pun tidak dikenang orang dengan baik.

Hormatilah dan senangkanlah hati orang tua.

Banyak bertanya agar hidup tidak tersesat.

Kesadaran akan waktu dan sejarah.

Kesadaran akan adanya “reward” yang harus diimbangi dengan jasa/kerja.

HALAMAN 12

Pegangan Hidup:

Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia- sia, dan akhirnya sama saja dengan tidak beramal yang baik.

Orang yang terlalu banyak keinginannya, ingin kaya sekaya-kayanya, tetapi tidak berkarya yang baik, maka keinginannya itu tidak akan tercapai.

Ketidak-pastian dan kesemrawutan keadaan dunia ini disebabkan karena salah perilaku dan salah tindak dari para orang terkemuka, penguasa, para cerdik pandai, para orang kaya; semuanya salah bertindak, termasuk para raja di seluruh dunia.

Bila tidak mempunyai rumah/kekayaan yang banyak ya jangan beristri banyak.

Bila tidak mampu berproses menjadi orang suci, ya jangan bertapa.

Kandungan Nilai:

Pekerjaan yang sia-sia sama saja dengan tidak berkarya.

Tanpa berkarya tak akan tercapai cita-cita.

Ketidak tenteraman di masyarakat karena para cerdik pandai, birokrat dan orang-orang kaya salah dalam berperilaku dan bertindak.

Pandailah mengukur kemampuan diri, agar tidak sia-sia.

HALAMAN 13

Pegangan Hidup:

Keinginan tidak akan tercapai tanpa berkarya, tidak punya keterampilan, tidak rajin, rendah diri, merasa berbakat buruk. Itulah yang disebut hidup percuma saja.

Tirulah wujudnya air di sungai, terus mengalir dalam alur yang dilaluinya. Itulah yang tidak sia-sia. Pusatkan perhatian kepa cita-cita yang diinginkan. Itulah yang disebut dengan kesempurnaan dan keindahan.

Teguh semangat tidak memperdulikan hal-hal yang akan mempengaruhi tujuan kita.

Perilaku Yang Positif:

Perhatian harus selalu tertuju/terfokus pada alur yang dituju.

Senang akan keelokan/keindahan.

Kuat pendirian tidak mudah terpengaruh.

Jangan mendengarkan ucapan-ucapan yang buruk.

Konsentrasikan perhatian pada cita-cita yang ingin dicapai.

Kandungan Nilai:

Harus mempunyai SDM yang berkualitas prima.

Konsenrtrasi dan fokus perhatian sangat penting dalam mencapai cita-cita.

Itulah intisari naskah AMANAT DARI GALUNGGUNG (KROPAK 632), yang disebut dengan AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA.

Kini terpulang kepada kita dalam menelusuri, memilih serta memilah dan mensistemasikan nilai-nilai luhur yang diamanatkan oleh Rajaguru Darmasiksa kepada kita Urang Sunda (Saunggalah I, II, Galuh, Sunda), bukankah dengan tegas beliau mengamanatkan bahwa amanatnya ini ditujukan bagi kita semuanya untuk terus berusaha mewujudkan masyarakat yang berbudaya.

KINI KITA HIDUP DI ABAD 21

Nilai-nilai yang menjadi Citra Identitas suatu Budaya (lokal) akan berkaitan erat dengan Otentisitas perilaku/visi hidup masyarakat pendukung budaya lokal tersebut. Tetapi otentisitas jatidiri masyarakat itu pun terdiri dari otentisitas jati diri pribadi-pribadi manusianya secara individual. Ini berarti setiap individu yang berada di wilayah Sukapura/Tasikmalaya (khususnya) harus mempunyai kualitas jatidiri yang bercitra identitas otentik sesuai dengan pandangan hidup yang dianutnya (masyarakat pendukung budayanya).

Bila azas ontentisitas ini akan dijadikan dasar acuan maka perlu diusahakan pentransformasian nilai-nilai yang khas tadi kepada seluruh masyarakat pendukungnya. Hal ini diperlukan untuk mensosialisasikan sekaligus menjadi teladan, sehingga masyarakat Sunda tidak hanya menjadi obyek tapi berperan sebagai subyek, adaptif tetapi proaktif, yang dapat NGINDUNG KA WAKTU BARI NGABAPAAN JAMAN.

Nilai-nilai kearifan budaya lokal yang demikian bermakna, apabila kita tidak menyiasati untuk secepatnya diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka makna nilai-nilai luhur tadi hanya akan terbatas menjadi Pengetahuan/Knowledge/Kanyaho saja. Dalam hal ini hanya untuk memenuhi hasrat bernostalgia dan bermimpi saja, arogansi yang feodalistik, yang tidak ada manfaatnya bagi karakter bangsa.

Apabila kita telaah selintas, Amanat Prabu Guru Darmasiksa ini sepertinya hanya diperuntukkan bagi entitas Sukapura saja, tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Amanat ini berkaitan dengan wilayah Galuh sebagai asal mula leluhur Prabuguru Darmasiksa, Wilayah Saunggalah I (Kuningan), Wilayah Sukapura, Wilayah Suci (Garut) dan akhirnya seluruh wilayah Kerajaan Sunda, karena beliau dinobatkan menjadi Penguasa Kerajaan Sunda sampai akhir hayatnya. Maka pada akhirnya Amanat Prabu Guru Darmasiksa ini diperuntukkan bagi seluruh entitas Ki Sunda. Bahkan lebih dari itu, pada awalnya Wawasan Nusantara ini juga termasuk wilayah Sunda Kecil dan Sunda Besar. Maka tak ayal lagi amanat ini pun diperuntukkan bagi seluruh Wawasan Nusantara.

Referensi yang gunakan:

Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa – Parwa 1 Sargha 1-4. Agus Aris Munandar dan Edi S. Ekadjati. Yayasan Pembangunan Jawa Barat, 1991.

Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat. Drs. Saleh Danasasmita dkk. Pemerintah Propinsi Daerah Tk I. Jawa Barat, 1983-1984.

Sewaka Darma. Sanghiyang Siksa Kandang Karesian – Amanat Gakunggung. Ayatrohaedi dkk. Depdikbud, 1987.

* * *

Artikel Terkait :

Ki Sunda di Tatar Sunda

Menapaki Perjalanan Sunda

Kalender Sunda & Revisi Sejarah

Makanan Sunda

Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan

Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja

Ketika Jawa Bertemu Belanda

Ras Nusantara

Prasasti Batu Tulis Bogor

Perbedaan Batu Tulis, Petilasan & Makam

The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb

Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959

Kebon Raya Bogor

Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)

Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian

Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age

Prehistoric Remains from Neolitic Stage

Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam

Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River

Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung

Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta

Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata

Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah

Gurindam Dua Belas

Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Tarumanagara

Kerajaaan Indraprahasta

Kerajaan Kendan

Kerajaan Galuh

Kerajaan Sunda

Wangsa Sanjaya

Kerajaan Saunggalah

Kerajaan Sunda-Galuh

Kerajaan Kuningan

Kerajaan Cirebon

Perang (Pasundan) Bubat

Kerajaan Sumedang Larang

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia

Kerajaan Banten

Kerajaan Talaga

Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh

Kebon Raya Bogor

Musik/Music

Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music

Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music

Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam (Bagian I)

Oleh : Desie Arumsari

Hewan-hewan lebih dekat dengan alam daripada kebanyakan manusia. Alam merupakan tempat tinggal para hewan sejak awal mereka ada di bumi. Bahkan bila hewan dijadikan binatang peliharaan dan tinggal di rumah bersama-sama manusia, insting hewan tak berkurang. Mereka masih memiliki koneksi erat dengan alam.

Seperti yang sudah sering kita saksikan dan hadapi, banyak sekali bencana alam terjadi belakangan ini. Bahkan bisa lebih banyak lagi akibat kerusakan-kerusakan yang dibuat sendiri oleh manusia. Banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, badai, topan semuanya memakan banyak korban jiwa dan materi. Pengalaman membuktikan bahwa hewan-hewan dapat mendeteksi dini bencana alam dan membuat mereka selamat dari bencana. Kita sebagai manusia dapat memperhatikan hubungan erat antara hewan dengan alam yang nantinyapun akan dapat membantu kita mengurangi resiko dari bencana alam, termasuk kemungkinan menyelamatkan nyawa kita.

cartoon tsunami+

Disini saya akan membagikan berbagai pengalaman manusia (termasuk pengalaman pribadi) di berbagai wilayah yang selamat dari bencana alam dengan memperhatikan tanda atau petunjuk dari hewan-hewan pada kita manusia.

IKAN LELE & GEMPA

Di Jakarta dan berbagai kota metropolitan di dunia, rumah di atas tanah harganya jauh lebih mahal daripada tinggal di apartemen. Sehingga banyak sekali penduduk yang memilih tinggal di apartemen untuk efektivitas biaya. Apartemen yang dibangun bila kita amati perkembangannya semakin tinggi struktur bangunannya. Untuk keamanan dan kenyamanan para penghuni, manajemen apartemen biasanya mengadakan latihan evakuasi, baik dari kebakaran atau gempa. Ini hal yang cukup baik mengurangi resiko kecelakaan dan banyaknya korban. Bagi penghuni apartemen di lantai atas, evakuasi memakan waktu cukup lama.

lele

Bagi para penghuni apartemen, hal lain yang dapat dimanfaatkan adalah dengan memelihara ikan lele. Sekelompok lele dipelihara dalam akuarium kaca atau kolam dalam apartemen. Lele memikiki sensitifitas tinggi terhadap pergerakan tanah termasuk gempa, bahkan walaupun lele diletakkan di lantai tinggi apartemen. Di Jepang, sangat disarankan bagi para penghuni partemen untuk memelihara ikan ini. Bila suatu getaran dalam tanah terjadi dan membentuk gempa, maka lele-lele peliharaan ini akan berkecipuk aktif dan mengibas-ibaskan air akuarium/kolam. Sebelum berita gempa muncul di TV atau radio, penghuni apartemen dapat bergegas melakukan evakuasi penyelamatan.

GAJAH & KRAKATAU

krakatoa+

27 Agustus 1883 pulau gunung berapi Krakatau meletus. Gunung laut di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatera ini meletus dasyat memberikan catatat terhebatnya di zaman modern. Lebih dari 36 ribu jiwa tewas baik langsung atau tidak langsung akibat letusannya.

Gajah+

Sebuah cerita kecil menarik perhatian para peneliti. Kota Lampung di Sumatra Bagian Selatan, yang bersebrangan dengan Krakatau. Seminggu sebelum meletus, terdapat sebuah sirkus di Lampung.  Sirkus itu memiliki gajah kecil. Tiba-tiba saja gajah kecil itu meraung-raung berlarian kesana kemari dan susah dihentikan. Pawangnya dan orang-orang sirkus sangat kesulitan menghentikan kenakalan si gajah. Tak ada yang mengerti mengapa si gajah berlaku seperti itu. Lalu seminggu setelah itu Krakatau meletus. Sepertinya si gajah kecil sudah tahu terlebih dahulu akan letupan-letupan gunung dan sudah merasakan getaran-getarannya sebelum letusan hebatnya terjadi.

GAJAH & TSUNAMI

26th Desember 2004, gempa berskala besar terjadi di laut Aceh. Beberpa menit kemudian, gelombang tsunaminya melahap pantai-pantai Negara Asia Tenggara. Tak ada yang pernah menyangka akan kejadiaan ini sebelumnya. Layaknya kisah dalam kitab suci, banjir di zaman Nuh, tsunami ini menewaskan ratusan ribu orang dan kerugian material yang tak terhitung.

ombak tsunami-aceh+

Satu pulau kecil di Thailand. Seorang gadis cilik berlibur bersama keluarganya. Sudah beberapa kali ia mengunjungi pulau itu. Setiap kunjungannya ia selalu menyempatkan berjalan-jalan dengan mengendarai gajah. Gajah yang ia kendarai juga selalu gajah yang sama. Pagi itu, bersama pawang gajah, gadis cilik menegendarai gajah di pinggir pantai. Sedang asiknya mereka menikmati pemandangan alam dan semilir angin pantai di atas punggung gajah, tiba-tiba saja si gajah berlari cepat, seperti ketakutan. Kontan si gadis menjerit. Si gajah tak mempedulikan dan terus berlari. Pawannyapun ikut mengejar gajahnya. Gajah berlari dan membawa si gadis cilik sampai sebuah bukit. Di atas bukit, si gadis cilik, pawang dan gajah menatap kaku. Ombak sangat besar melahap pantai tempat mereka jalan-jalan. Mereka sangat bersyukur dan tambah menyayangi si gajah. Bila gajah tak berlari, maka mereka bertiga pasti tewas menjadi korban tsunami.

ANJING & BADAI

pet-dog-juiny-09

Ini merupakan riset oleh seorang pengamat hewan peliharaan di Amerika. Perhatikan berita atau pengumuman kehilangan hewan di Koran. Rata-rata tiap hari hanya 5% pemilik kehilangan anjing peliharaan mereka. Bila tiba-tiba berita atau pengumuman kehilangan ini melonjak hingga 20-30%, dipastikan akan datang sebuah bencana alam dalam waktu satu hingga tiga hari ke depan. Sepertinya anjing-anjing itu sudah tahu sebelumnya, kemudian kabur dari pemiliknya untuk menyelamatkan diri.

LUMBA-LUMBA & TSUNAMI

dolphin-watching-boat_303

Sekelompok turis tiba di sebuah pulau kecil di Thailand. Mereka menyewa satu perahu dan pelatih professional scuba diving tuk berenang di perairan laut pulau tersebut. Mereka berangkat dini hari. Di atas kapal mereka baru saja bersiap-siap dengan peralatan renang mereka dan akan menyeburkan diri menyelam di laut. Namun, tiba-tiba sekelompok lumba-lumba datang ke perahu. Awalnya mereka senang melihat kehadiran lumba-lumba ini. Namun, para penyelam ini menyadari keanehan pada lumba-lumba.  Sepertinya lumba-lumba teriak-teriak mengeluarkan suaranya dan loncat-loncat ingin diperhatikan. Salah satu penyelam menangkap tanda ini dan sepertinya lumba-lumba ingin diikuti ke arah mana mereka berenang. Mereka tak jadi menyelam tapi langsung mengarahkan kapal mengikuti lumba-lumba tersebut. Ternyata mereka menjauhi  pantai menuju laut yang lebih jauh. Baru mereka sadari beberapa jam setelah itu mereka kembali ke pulau mereka menginap dan melihat pantai dan hotel-hotel telah habis oleh tsunami yang terjadi tahun 2006 itu.

CAPUNG & BANJIR

capung+

Perhatikan hewan ini di sekitar tempat tinggal kita, terutama jumlahnya. Biasanya capung terbang disekitar kita sedikit dan jarang. Agak berbeda bila tempat tinggal kita dekat dengan sungai atau danau, mereka sering terbang ke sekeliling rumah dan berkelompok. Bila tiba-tiba mereka terbang sekeliling area tempat tinggal kita dalam jumlah banyak atau sangat banyak, maka mereka menandakan air akan naik. Bisa air laut naik atau air sungai meluap naik dan efeknya adalah : banjir.

banjir+

BURUNG & PETUNJUK-PETUNJUK MEREKA

Burung-burung memberikan  banyak tanda pada manusia. Mereka menjadi sahabat dan penyelamat manusia tak hanya dalam hal bencana alam skala besar, tapi juga mengenai hal-hal kecil dalam kehidupan. Saya memperhatikan kehadiran burung dan siulan mereka dalam keseharian. Menyadari bahwa burung-burung adalah penyelamat jiwa manusia dan pemberi petunjuk banyak hal, maka sebaiknya kita tak berburu dan membunuh burung. Kehadiran mereka di alam, termasuk di lingkungan tempat kita di perkotaan, menjadi alarm terbaik bagi kita manusia.

burung biru

Tanda-tanda dari para  burung :

  • Beberapa hari sebelum kematian tetangga saya, seekor burung terbang berputar-putar di lingkungan kami. Ia bersiul-siul, walaupun hanya 5-10 menit pada siang atau sore hari, selama beberapa hari. Dan berikutnya, seorang bapak tua tetangga saya meninggal dunia.
  • Kampung kakek-nenek saya sangat jauh dari kota, di Jawa Tengah. Waktu saya masih Sekolah Dasar, orang tua saya ditugaskan di Nusa Tenggara Timur. Karena jauhnya jarak dan mahalnya biaya transportasi dari tempat kami ke kampung halaman kakek nenek, maka kami tak mengunjungi mereka selama beberapa tahun. Suatu ketika, kami akhirnya dapat berlibur ke Jawa termasuk berencana mengunjungi kakek nenek. Kakek-nenek sudah tua dan tak pernah berpergian. Jadi meyakinkan kami membuat kejutan pada mereka tuk mengunjungi mereka tanpa memberitahu sebelumnya. Dua hari sebelum kami tiba di rumah kakek nenek di desa, seekor burung sudah memberi tahu kakek nenek saya. Burung itu terbang bersiul-siul di atap rumah. Esoknyapun demikian. Satu kepercayaan di kampung mereka tentang hal ini. Kakek nenek saya tahu bahwa akan ada kerabat/keluarga dekat yang akan datang. Ternyata esoknya kami tiba di rumah kakek nenek. Mereka sangat senang dan bercerita tentang si burung pembawa berita.

bird pretty

  • 19 Oktober 1987 tragedi Bintaro. Kecelakaan tragis antara dua kereta berlokasi di Bintaro. Tabrakan dua kereta ini menewaskan 130an orang. Sepupu saya berada di salah satu kereta tersebut. Ia selamat tanpa terluka sedikitpun. Dan sebuah kenangan yang tak akan ia lupakan, dituturkan pada siapapun yang bertanya padanya tentang kecelakaan kereta tersebut. Sebelum kecelakaan, sepupu saya berada di gerbong ketiga sebelum gerbong terakhir kereta. Keretannya meluncur dari Tanah Abang menuju Bintaro. Saat itu ia agak mengantuk. Tiba2 ia mendengar orang-orang berteriak, “Hai-hai, lihat! Burung bagus…cantik sekali”. Semua penumpang di gerbong menatap seekor burung cantik berwarna-warni yang entah dari mana ia datang. Burung cantik itu berkeliaran di dalam gerbong. Dan terbang ke gerbong berikutnya. Entah bagaimana banyak sekali penumpang karena terpana melihat cantiknya burung itu, mereka mengikuti burung itu. Dan tak sadar mereka semua sudah sampai gerbong paling belakang. Barulah para penumpang dikagetkan oleh bunyi tabrakan kereta dan goncangan besar. Gerbong terakhir tak terguling. Sepupu saya dan para penumpang lainnya di gerbong tersebut berusaha keluar dari kereta kemudian melihat kereta yang mereka naiki tabrakan dengan kereta yang berlawanan arah. Sepupu saya bersyukur, bila ia dan penumpang lainnya tidak mengikuti burung cantik itu, maka mereka bisa saja jadi korban. Tiga belas tahun kemudian, dalam sebuah kegiatan, saya berkenalan dengan seseorang baik. Usianya jauh di atas saya. Karena kami akrab maka saya menganggapnya sebagai paman saya sendiri. Entah bagaimana, tiba-tiba dalam sebuah percakapan antara saya dan paman baru saya ini, ia bercerita pernah diselamatkan oleh seekor burung. Saya bertanya, di mana dan kapan terjadinya. Ternyata, paman saya ini merupakan salah satu penumpang yang selamat dari tragedi Bintaro, karena mengikuti seekor burung cantik. Paman baru saya dan sepupu saya berada di gerbong yang sama, gerbong terakhir kereta dan mereka selamat.

tragedi bintaro

  • 27 Maret 2009 bencana runtuhnya waduk Situ Gintung di Tangerang, Banten. Situ Gintung merupakan waduk buatan sebagai penampungan air hujan dan pengairan sawah. Dibangun tahun 1932-1933, dengan luas 31 ha. Sejak 1970an, fungsi waduk berkembang menjadi tempat wisata alam dengan dibangunnya restoran, kolam renang dan tempat outbond. Lokasi tempat tinggal saya sangat jauh dari Situ Gintung, beda provinsi. Saya tinggal di Jakarta Timur. Seminggu sebelum bencana, seekor burung selalu muncul di malam hari dan bersiul-siul di area perumahan kami. Ia muncul terus di malam atau tengah malam selama satu minggu. Saya dan keluarga sangat heran. Berita apa lagi yang di bawa si burung pada kami. Salah satu tetangga kami juga menyadari kehadiran si burung, namun kami semua hanya menunggu akan terjadinya sesuatu. Kami mulai mengawasi berita di TV dan radio. Hingga seminggu kemudian pagi harinya sebelum kerja, berita mengejutkan muncul. Waduk Situ Gintung pukul 4 pagi runtuh dan melahap wilayah sekitarnya. Korban tewas sedikitnya 99 orang. Air waduk sebanyak 2,1 juta meter kubik jebol dari dinding waduk dan melibas apapun di bawahnya termasuk perumahan, pabrik makanan, sekolah dan bangunan-bangunan lain. Tak ada yang mengira waduk yang dikira kokoh, ternyata bisa jebol dan memakan banyak korban. Sejak itu, sepertinya pemerintah berusaha mengecek dan membenahi waduk-waduk lainnya agar bencana seperti ini tak terulang lagi.

tanggul_situ_gintung_jebol+

    • Gempa Tasikmalaya 2 September 2009. Seperti yang saya terangkan sebelumnya bahwa tempat tinggal saya di Jakarta Timur, berarti jauh sekali dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebulan sebelum bencana tanda-tanda alam sudah muncul. Salah satunya seekor burung yang datang di area perumahan kami. Ia datang tiap beberapa hari sekali, tidak tiap hari sekali. Bisa sore hari, malam dan tengah malam. Kami memperhatikan kehadiran si burung. Pasti ia sedang memberi tanda. Sampai dua minggu tak ada berita apapun di TV. Hal penting lain yang menjadi perhatian kami adalah awan gempa! Saya berkeliling Jawa Barat. Awan garis garis lurus vertikal maupun horizontal sudah ada beberapa bulan sebelumnya. Mendekati hari gempa, awan-awan ini semakin banyak muncul. Setiap muncul awan ini di hadapan saya, saya selalu mengambil gambarnya dengan kamera handphone.

DSC00359+

  • Ada hal lain yang juga mendapat perhatian saya. Hampir tiap keluarga di lingkungan tempat tinggal saya, anak kecil atau bayi mereka sakit. Entah demam atau flu. Saya menyelidiki lebih jauh pada teman-teman saya yang tinggal berbeda lokasi dan sangat jauh lokasinya dari saya. Ternyata hampir semua teman saya di Jawa dan  Bali yang memiliki anak kecil atau bayi, anak-anak ini terkena demam (demam berdarah, tifus), flu atau batuk. Sangat heran akan hal ini, maka kami sekeluarga agak waspada. Mulai kami membicarakan dengan tetangga yang bisa paham dengan hal ini. Mereka juga yakin akan terjadi sesuatu dari beberapa tanda alam ini. Total 1 bulan sejak kehadiran awal si burung, barulah gempa bumi hebat terjadi di laut dekat Tasikmalaya (kota di atas gunung) dan getaran gempa dirasakan di seluruh pulau Jawa dan Bali. Gempa bersekala besar 7.2 SR ini memakan korban 60an tewas di Jawa Barat. Tercatat puluhan orang masih terkubur di bawah longsoran perbukitan di daerah Cianjur akibat getaran gempa yang cukup besar itu.

gempa tasikmalaya

  • Hal lain terjadi pada saudara saya. Kantornya berada di Bekasi, Jawa Barat. Sekitar 90 menit perjalanan dari Jakarta Timur. Sepuluh menit sebelum gempa Tasikmalaya, sepasang burung gereja masuk kantornya. Sepertinya burung-burung kecil itu kehilangan daya navigasi karena mereka menabrak-nabrak dinding dan kaca kantor. Bersama rekannya, saudara saya mengeluarkan kedua burung itu. Tak lama dari itu mereka merasakan guncangan gempa. Ternyata, gempa dapat mengakibatkan magnetic bumi bumi berubah dan membuat para burung kehilangan daya navigasi sehingga burung-burung itu terbang kehilangan arah.

2 burung gereja+

Kebanyakan dari kita berpikir bagaimana mengetahui petunjuk hewan-hewan ini, sedangkan kita tak kenal bahasa mereka. Para burung, gajah, lumba-lumba dan hewan-hewan lain, memberi petunjuk pada kita dengan caranya masing-masing. Bahasa pasti tak sama, namun maksudnya dapat kita pahami. Hukum alam mengatakan : bila kita memperhatikan sesuatu hal, pasti hal tersebut akan balik memperhatikan kita. Maka bila kita mulai memperhatikan keberadaan hewan-hewan di sekitar kita, energi kita, perhatian kita, cinta kita, pada mereka akan mereka terima. Secara alamiah, mereka terkoneksi dengan kita. Maka siap-siaplah kita tuk mendapatkan sesuatu dari mereka, kapanpun mereka bisa datang bersama petunjuk-petunjuknya.

Belajar dari pengalaman-pengalaman di atas, kita patut menyadari bahwa sebagai manusia kita tak dapat memutuskan hubungan dengan alam. Tak cukup hanya berhubungan dengan sesama manusia. Manusia hanya bagian kecil dari alam. Hewan-hewan, tumbuhan, tanah, air, sungai, laut, awan, gunung-gunung semua bagian alam, bagian dari diri kita, rantai ekosistem yang penting, rantai keseimbangan kehidupan di bumi. Rasa saling peduli dan cinta dapat kita berikan pada semua bagian-bagian alam ini.

* * *

Artikel terkait :

Prosedure Darurat Gempa Bumi

Krakatau (Indonesia)

Krakatau (English)

Earthquake Emergency Procedure

Earthquake Cloud

Awan Gempa

Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam

Animal Signs of Natural Disaster

Orbs (English)

Orbs (Indonesia)

Dialog Dengan Orbs

Conversation With the ORBS

Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)

Yoga Class

Pengertian Yoga

Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh

Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul

Prenatal Yoga

Yoga Ibu Hamil

Meditasi

Rileksasi Dalam

Meditation

‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop

Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)

Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali

Teri Fish & Honey Fried Rice

Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java

The Studio Wellness Program at The Stones, Kuta, Bali

Surya Candra Bhuana

Cakra & Kundalini

Reiki di Pulau Dewata Bali

Nerang – Rain Stopper

Bali Classical Dance Course

Int’l Performance of I Putu Silaniyama

Pelatihan Perguruan Silat Tadjimalela

Prosesi ala PS Tadjimalela

Junko Children Painting Course

Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage

Berkaca pada Anak-Anak sebuah Kerukunan Antar Umat Beragama

Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious

Gurindam Dua Belas

Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Kesadaran Kosmos & Zona Photon

Proyeksi Nusantara

The Gaia Project 2012 (Indonesia)

The Gaia Project 2012 (English)

Serat Jayabaya (Jawa)

Ramalan Jayabaya (Indonesia)

Jayabaya Prophecy (English)

Wejangan Leluhur

Jati Diri & Rasa

Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)

Garuda Pancasila

Bhinneka Tunggal Ika

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca

19 Unsur Proses Perjalanan Rohani

Kerajaan Talaga

Oleh : Ali Sastramidjaja

00

Kala
Kerajaan Talaga, wilayah Galuh
Nama Prabhu Surayadéwata
Istri
Anak Raden Suddhayasa atau Bhatara Gunung Bitung
Kala
Kerajaan Talaga, wilayah Galuh
Nama Raden Suddhayasa atau Bhatara Gunung Bitung
Istri
Anak Raden Dharmmasuci
Catatan Raden Suddhayasa atau Bhatara Gunung Bitung kemudian menjadi dang upaCaka agung Buddhayana Sarwastiwada di Gunung Bitung
Kala
Kerajaan Talaga, wilayah Galuh
Nama Raden Dharmmasuci
Istri
Anak raja Talaga
Catatan Beliau banyak pengikutnya dan siswanya. Oleh karena itu beliau lantaran rajaguru Buddhayana Sarwastiwada, di wilayah Ta­laga, yang termasuk daerah Galuh.
Kala
Kerajaan Talaga, wilayah Galuh
Nama raja Talaga, ialah Prabhu Talaga Manggung
Istri
Anak 1 Raden Panglurah nama­nya menjadi upaCaka, hi­dup di pertapaan2 Ratu Simbakencana
Catatan Setelah Prabhu Talaga Manggung mangkat, kemudian diganti­kan oleh Ratu Simbakencana, karena kakak Sang Ratu yaitu Raden Panglurah tidak mau, beliau sudah menjadi sang upaCaka Bu­ddhayana Sarwastiwada di pertapaan, hanya beliau diberi tahu perihal pernikahan Ratu Simbar­kencana.
Kala
Kerajaan Talaga, wilayah Galuh
Nama 2 Ratu Simbakencana
Suami 1 Sang Sakyawira, disebut Palembang Gunung, wafat tanpa putra
Anak tak berputra
Suami 2 Raden Kusumalaya, pertapa Kuta­mangu
Anak Sunan Parung, Sang Prabhu Parung
Catatan Dengan Palembang Gunung, Ratu Simbarkencana tidak ber­putera.Setelah suami pertama meninggal, lalu bersuami lagi

. . . . . . . . . untuk data sejarah & silsilah lengkapnya, anda dapat membeli buku ini pada kami.

Informasi lengkap pada :

Buku : Data Kala Sejarah Kerajaan – Kerajaan di Jawa Barat


* * *

Artikel terkait :

Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Tarumanagara

Kerajaaan Indraprahasta

Kerajaan Kendan

Kerajaan Galuh

Kerajaan Sunda

Wangsa Sanjaya

Kerajaan Saunggalah

Kerajaan Sunda-Galuh

Kerajaan Kuningan

Kerajaan Cirebon

Perang (Pasundan) Bubat

Kerajaan Sumedang Larang

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia

Kerajaan Banten

Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh

Ki Sunda di Tatar Sunda

Menapaki Perjalanan Sunda

Kalender Sunda & Revisi Sejarah

Makanan Sunda

Susunan Warna Kasundaan

Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda

Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan

Ketika Jawa Bertemu Belanda

Ras Nusantara

Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja

Prasasti Batu Tulis Bogor

Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Perbedaan Batu Tulis, Petilasan & Makam

The Differences between Written-Stone, Petilasan Sites (Paths in the past) & Tomb

Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959

Kebon Raya Bogor

Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)

Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian

Prehistoric Remains from Neolitic Stage

Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam

Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age

Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River

Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung

Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta

Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata

Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah

Gurindam Dua Belas

Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Musik/Music

Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music

Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music