Archive for August, 2009

Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Oleh : A. Sari

Perjalanan menuju Prasasti Ciarunteun sangat mengagumkan. Dari pusat kota Bogor, kita perlu beberapa kali berganti angkot. Angkot terakhir sampai di pasar Ciampea. Dari situ tinggal melanjutkan ke desa Ciarunteun Hilir tepatnya dengan naik ojeg untuk mengantar ke lokasi. Karena jalannya memang cukup sempit untuk dilalui mobil.

Memasuki desa ini, sudah terasa pada kami, angin bertiup sangat sejuk dan menggelitik pipi kami. Perlahan gerimis mengiringi kami ke lokasi batu tulis peninggalan kerajaan besar Tarumanegara.

prasasti ciarunteun2

Prasasti ini pertama kali ditemukan oleh seorang Belanda N.W Hovenman di kali Ciarunteun anak sungai Cisadane pada tahun 1683. Dari ditemukannya hingga tahun 1965, prasasti tersebut tetap pada tempatnya, yaitu di sungai Ciarunteun.

Di lokasi batu tulis kami bertemu dengan penjaga batu bersejarah ini yaitu pak Atma. Beliau sangat menyambut kedatangan kami. Usianya sekitar 60 tahunan. Dengan perawakannya yang kecil, namun tetap terlihat kuat. Sehari-hari bila ia tak di lokasi batu tulis mengawal para pengunjung, ia berada di ladangnya yang tak jauh dari lokasi. Dengan semangat dan cintanya pada situs ini, ia berkisah pada kami tentang peninggalan-peninggalan kerajaan kuno ini.

Proyek Pengangkatan Batu Tulis Ciarunteun

Sekitar tahun 1965-1975 banyak murid-murid SR (sekarang sejajar dengan SD) yang ingin melihat batu bersejarah ini. Untuk melihat batu tulis Ciarunteun, para pengunjung dahulu harus menyebrang sungai. Kadangkala bila musim hujan datang, batu tulis tak dapat dilihat, karena air sungai naik/tinggi. Sehingga banyak pengunjung yang datang dari jauh tapi tak dapat melihat batu tulis bersejarah ini. Maka dimulailah inisiatif untuk mengangkat batu tulis dari tempat aslinya ke darat.

Proyek pengangkatan dimulailah. Namun inipun baru dimulai 12 Juni 1981.Sebelumnya dibeli sepetak tanah untuk tempat baru batu tulis, yang tempat tersebut tak begitu jauh hanya beberapa meter dari sungai (tempat aslinya). Dengan peralatan seperti sling, papan, rantai, takel, tambang, dimulailah untuk mengangkat batu tulis ke atas/ke darat. Mula-mula batu dibungkus dengan papan, diikat rantai dengan tambang baja. Ujung sebelah diikat dengan pohon rambutan. Ujung seberangnya diikat di pohon duren dan nangka (sampai sekarang kedua pohon tersebut masih hidup!).  Jumlah tenaga kerja 20 orang (mereka merupakan penduduk  desa asli tersebut, Jakarta dan Jawa). Pemborongnya adalah Ir.Suharjoyo. Setiap 1 jam batu terangkat hanya 5cm. 1 hari 50cm. Kerja dilakukan sampai 5 sore. Proses semua pekerjaan ini berlangsung selama 30 hari.

Usia & Makna Tulisan Pada Batu Tulis

prasasti ciarunteun

Diperkirakan batu tulis ini dibuat tahun 450M dengan berat sekitar 8 ton. Pada batu tulis terdapat sepasang telapak kaki di permukaan batu. Yang sisi lainnya terdapat tulisan berhuruf Pallawa bebahasa Sansekerta yaitu :

Vikkranta Syavani Pateh

Srimatah Purnawarmanah

Tarumanagarendrasya

Visnoriva Padadvayam

Tulisan tersebut oleh Drs. Uka Candra Sasmita diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai berikut :

“Inilah telapak kaki yang mulia Sang Purnawarman Raja Negeri Taruma yang gagah berani, yang menguasai dunia, sebagai telapak Dewa Wisnu”

Gambar telapak kaki pada prasasti Ciarunteun mempunyai 2 arti yaitu:

  • Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tersebut (tempat ditemukannya prasasti yaitu kerajaan Tarumanegara).
  • Dalam kepercayaan Hindu, cap telapak kaki melambangkan kekuasaan sekaligus penghormatan sebagai dewa. Ini menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan dewa Wisnu yang tak hanya sebagai penguasa namun juga pelindung rakyatnya.

Pelestarian Batu Tulis Ciarunteun

Batu tulis Ciarunteun terdapat replikanya di museum Fatahillah, Jakarta. Sedangkan untuk menjaga keamanan batu tulis terdapat peringatan pemerintah : ‘barang siapa yang merusak barang dan lingkungan dikenakan sanksi 100 juta atau masuk penjara 10 tahun’.

Peninggalan Kerajaan Tarumanegara Lainnya

Sebenarnya tak hanya prasasti batu tulis Ciarunteun peninggalan kerajaan Tarumanegara di desa ini. Peninggalan/situs lainnya adalah :

  • Prasasti Kebon Kopi.Terdapat tapak kaki gajah. Diperkirakan gajah kesayaangan raja yang bernama Airawata. Prasasti asli ada di tempat tersebut, atasnya sekarang diberi atap rumah. Dinamakan prasasti kebon kopi karena pada saat ditemukan, daerah tersebut merupakan kebon kopi penduduk kampung. Usia prasasti sama seperti prasasti Ciarunteun.

prasasti kebon kopi tapak gajah

  • Prasasti Kebon Kopi II atau batu Dakon (congklak). Dinamakan ini karena wujud batunya berlubang dua. Disebut juga menhir. Lokasinya tidak dipindahkan, masih di tempat ditemukannya, namun dahulu tempat tersebut masih hutan.
  • Batu tullis Pasir Muara. Dalam bahasa Sunda, Pasir berarti luhur (tinggi).  Sedang Muara berarti pertemuan sungai dari S. Cisadane dan S. Cianten. 15 m dari pertemuan sungai tersebut di atasnya terdapat batu tulis. Berat prasasti ini sekitar 10 ton dan berbentuk lingga. Bila musim hujan, agak suilt melilhatnya karena sungai banjir. Rencananya tahun 2010 prasasti ini baru akan diangkat.

Pak Atma Sang Penjaga

pak atma

Setelah panjang lebar Pak Atma bertutur tentang Batu Tulis, berganti pembicaraan tentang jiwa, tentang yang batin. Walaupun beliau asalnya mendapat pengajaran dari gurunya di Banten, namun pimbicaraan dan pemikirannya nampak universal. Beliau menerangkan tentang perbedaan Hidup dan Allah. Makna shalat yang sebenarnya. Makna haji yang sesungguhnya. Juga tentang sakit dan obatnya. Kami mendengarkan dengan seksama. Ah, ia salah satu guru dan pembimbing hidup di bumi. Sering pengunjung yang awalnya menginap karena dari luar kota atau luar propinsi, kemudian karena cocok mendapat wejangan dari beliau, maka selanjutnya sering datang lagi untuk mendapatkan pengajaran selanjutnya. Bagi para pencari, tak ada salahnya untuk mendapat pengajaran batin dengan beliau yang hidupnya sudah menepi di atas bukit. Bagi kami Pak Atma tak hanya menjaga batu tulis secara fisik, tapi beliau juga menjaga batin (mengajarkan bagi siapapun yang dapat menerima pengajarannya, tanpa melihat secara fisik material, tapi apa isi pengajarannya).

* * *

Artikel terkait :

Ki Sunda di Tatar Sunda (Indonesia)

Ki Sunda di Tatar Sunda (Sunda)

Menapaki Perjalanan Sunda

Kalender Sunda & Revisi Sejarah

Makanan Sunda

Susunan Warna Kasundaan

Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda

Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan

Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja

Ras Nusantara

Ketika Jawa Bertemu Belanda

Prasasti Batu Tulis Bogor

Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Perbedaan Batu Tulis, Petilasan dan Makam

The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb

Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959

Kebon Raya Bogor

Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)

Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian

Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age

Prehistoric Remains from Neolitic Stage

Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam

Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River

Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung

Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta

Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata

Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah

Gurindam Dua Belas

Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Tarumanagara

Kerajaaan Indraprahasta

Kerajaan Kendan

Kerajaan Galuh

Kerajaan Sunda

Wangsa Sanjaya

Kerajaan Saunggalah

Kerajaan Sunda-Galuh

Kerajaan Kuningan

Kerajaan Cirebon

Perang (Pasundan) Bubat

Kerajaan Sumedang Larang

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia

Kerajaan Banten

Kerajaan Talaga

Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh

Musik/Music

Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music

Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music

Tokoh-tokoh Galuh Menurut Wangsakerta

Diambil dari :

Harian Pikiran Rakyat, 17 Mei 1990
Oleh : Atja


Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya (3-habis)
Tokoh-tokoh Galuh Menurut Wangsakerta

Pada “Carita Parahiyangan” ditegaskan Kerajaan Galuh didiri­kan oleh Sang Wretikandayun, ba­ginda berkuasa 90 tahun, tokoh-­tokoh selanjutnya dapat kita ikuti dari uraian Pangeran Wangsakerta dalam CP-V (Atja 1990 pe­nyunting), teks hlm. 72-9.

(1) Sang Wretikandayun ber­kuasa di Galuh, pada tahun 534-­592 Saka (612/3-670/1 Masehi), lamanya 58 tahun, sebagai ratu wi­layah di bawah Tarumanagara. Pa­da tahun 592-624 Saka (670/1-702/3 Masehi), selama 32 tahun sebagai raja Galuh merdeka.

(2) Sang Mandiminyak berkuasa pada tahun 624-631 Saka (702/3­-709/10 Masehi), lamanya 7 tahun sebagai ratu Galuh.

(3) Sang Senna, berkuasa pada tahun 631-638 Saka (709/10-716/7 Masehi), lamanya 7 tahun sebagai ratu Galuh.

(4) Sang Purbasura, pada tahun 638-645 Saka (716/7-723/4 Mase­hi), lamanya 7 tahun sebagai ratu Galuh.

(5) Sang Sanjaya, pada tahun 645-654 Saka (723/4-732/3 Mase­hi), lamanya 9 tahun sebagai maharaja Galuh dan Sunda.

(7) Sang Tamperan, ada tahun 654-661 Saka (732/3-739/40 Mase­hi) sebagai maharaja Galuh dan Sunda, lamanya 7 tahun. Sebelum­nya baginda menjadi ratu wilayah Sunda, pada tahun 645-654 Saka (723/4-732/3 Masehi), lamanya 9 tahun.

(8) Sang Manarah pada tahun 661-705 Saka, lamanya 44 tahun se­bagai raja Galuh.

(9) Sang Manisri pada tahun 705­-721 Saka (783/4-799/800 Masehi), lamanya 16 tahun sebagai raja Galuh.

(10) Sang Tariwulan, pada tahun 721-728 Saka (799/800-806/7 lama­nya 7 tahun, sebagai raja Galuh.

(11) Sang Welengsa pada tahun 728-735 Saka (806/7-813/4 Masehi, lamanya 7 tahun, sebagai raja Galuh.

(12) Prabhu Linggabhumi, pada tahun 735-774 Saka 813/4-852/3 Masehi), lamanya 39 tahun sebagai raja Galuh.

(13) Danghyang Guru Wisud­dha, pada tahun 774-842 Saka (852/ 3-920/1 Masehi), lamanya 68 tahun sebagai ratu wilayah Galuh, kare­na Galuh dan Sunda berada di ba­wah kekuasaan Rakeyan Wuwus.

(14) Prabhu Jayadrata, pada ta­hun 843-871 Saka (921/2-949/50 Masehi), lamanya 29 tahun sebagai ratu Galuh yang berdiri sendiri.

(15) Prabhu Harimurtti pada ta­hun 871-888 Saka (949/50-966/7 Masehi).

(16) Prabhu Yuddhanagara, pa­da tahun 888-910 Saka (966/7-988/9 Masehi), lamanya 22 tahun sebagai ratu Galuh.

(17) Prabhu Linggasakti, pada tahun 910-934 Saka (988/9-1012/3 Masehi), lamanya 24 tahun sebagai ratu Galuh.

(18) Resiguru Dharmmasatya­dewa, pada tahun 934-949 Saka (1012/3-1027/8 Masehi), sebagai raja wilayah Galuh.

(19) Prabhu Arya Tunggalning­rat, pada tahun 987-1013 Saka (1065/6-1091/2 Masehi), lamanya 26 tahun, sebagai raja wilayah Galuh.

(20) Resiguru Bhatara Hyang Purnawijaya, pada tahun 1013­-1033 Saka, lamanya 20 tahun seba­gai ratu wilayah Galuh.

(21) Bhatari Hyang Janawati, pada tahun 1033-1074 Saka (1111/2-1152/3 Masehi), lamanya 41 ta­hun sebagai raja Galuh dengan ibu­kota Galunggung.

(22) Prabhu Dharmmakusuma, pada tahun 1074-1079 Saka (1152/3-1157/8 Masehi), lamanya 5 tahun sebagai maharaja Galuh dan Sunda.

(23) Prabu Guru Dharmmasiksa, pada tahun 1097-1219 Saka (1157/8-1297/8 Masehi, lamanya 122 ta­hun, sebagai maharaja Galuh dan Sunda.

(24) Rakeyan Saunggalah, pada tahun 1109-1219 Saka (1167/8-­1297/8 Masehi), sebagai ratu wi­layah Galuh, kemudian pada tahun 1219-1225 Saka (1297/8-1303/4 Ma­sehi), menjadi maharaja Galuh dan Sunda.

(25) Maharaja Citragandha, pa­da tahun 1225-1233 Saka (1303/4­-1311/2 Masehi, lamanya 8 tahun sebagai penguasa Galuh dan Sunda.

(26) Maharaja Linggadewata, pada tahun 1233-1255 Saka 1311/2-1333/4 Masehi), lamanya 22 ta­hun sebagai penguasa Galuh dan Sunda.

(27) Maharaja Ajiguna, pada ta­hun 1255-1262 Saka (1333/4-1340/1 Masehi), lamanya 7 tahun sebagai penguasa Galuh dan Sunda.

(28) Maharaja Ragamulya, pada tahun 1262-1272 Saka (1340/1­-1350/1 Masehi, lamanya 10 tahun sebagai penguasa kerajaan Galuh dan Sunda.

(29) Prabhu Maharaja Lingga­bhuwana pada tahun 1272-1279 Sa­ka (1350/1-1357/8 Masehi), lama­nya 7 tahun, sebagai penguasa ke­rajaan Galuh dan Sunda.

(30) Mangkubhumi Suradhipati, sebagai penguasa kerajaan Galuh dan Sunda, pada tahun 1279-1293 Saka (1357/8-1371/2 Masehi), lamanya 14 tahun.

(31) Niskalawastu Kancana, pa­da tahun 1293-1397 Saka (1371/2­-1475/6 Masehi) lamanya 104 tahun, sebagai penguasa kerajaan Galuh dan Sunda.

(32) Dewaniskala atau Ningrat­kancana, pada tahun 1397-1404 Sa­ka (1475/6-1482/3 Masehi), lama­nya 7 tahun sebagai raja Galuh.

(33) Prabhu Ningratwangi, pada tahun 1404-1423 Saka 1482/3-­1501/2 Masehi), lamanya 19 tahun, sebagai ratu wilayah Galuh.

(34) Prabhu Jayaningrat, pada tahun 1423-1450 Saka (1501/2-­1528/9 Masehi), lamanya 2 tahun, sebagai ratu wilayah Galuh ter­akhir, karena kerajaan Galuh ditaklukkan oleh kerajaan Cirebon. Semenjak waktu itu kerajaan Ga­luh dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya berada di bawah kekuasa­an Cirebon, yang diperintah oleh Susuhunan Jati.

10. Wilayah Galuh semenjak ta­hun 1528 selalu merupakan bagian dari Cirebon, bagaimanapun perubahan ketatanegaraan terjadi di negara kita, baru pada tahun 1916 terjadi perubahan, dan untuk selanjutnya dimasukkan menjadi bagian dari kabupaten-kabupaten Priangan (Preanger Re­genstschappen).

Sesungguhnya yang disebut dae­rah Galuh sebelum tahun 1916, adalah wilayah paling selatan dari Keresidenan Cirebon, yang dibata­si dengan Sungai Cijolang dengan Keresidenan Banyumas, dan di se­belah selatan dan barat dibatasi oleh Citanduy dengan Keresidenan Priangan, luasnya 1124 km2, dan terdiri atas 4 distrik: Ciamis, Ran­ca, Panjalu dan Kawali, Ibukota­nya: Ciamis.

Pada awal abad ke-17 Masehi termasuk wilayah Kerajaan Mata­ram. Menurut anggapan ma­syarakat sisa peninggalan ibukota (dayeuh Galuh terletak di sebuah hutan purba dekat Batununggal (± 20 km di sebelah Kota Ciamis seka­rang). Pada tahun 1641 Masehi Ga­luh dibagi menjadi 4 kabupaten ia­lah: Imbanagara, Utama, Bojong­lopang, dan Kawasen. Ibukota (dayeuh) sama dengan nama kabu­patennya. Dua kabupaten terletak di Galuh, dan dua lagi di wilayah Priangan.

Penduduk pribumi Galuh se­muanya berbahasa Sunda, demiki­an juga cara berpakaian, adat dan pengaturan desa tidak berbeda de­ngan wilayah Priangan dan daerah-­daerah lain yang berbahasa Sunda.

Kabupaten Ciamis sekarang di­perluas dengan beberapa distrik yang terletak di sebelah selatan Su­ngai Citanduy, tadinya merupakan bagian dari Kabupaten Tasikma­laya. Pada waktu Rawa Lakbok di­keringkan, yang dikerjakan berda­sarkan prakarsa Bupati Tasikmalaya terjadi sekitar tahun-tahun 30­-an.

Setelah negara Republik Indo­nesia diproklamasikan, Ciamis me­rupakan sebuah kabupaten di wi­layah Priangan berdasarkan Un­dang-undang RI 1945/1, sebagai warisan zaman kolonial di Jawa dan Madura dibagi menjadi 17 ke­residenan, kota otonom di Jawa 18, dan kabupaten otonom 67 buah.

* * *

Artikel terkait :

Ki Sunda di Tatar Sunda (Indonesia)

Ki Sunda di Tatar Sunda (Sunda)

Menapaki Perjalanan Sunda

Kalender Sunda & Revisi Sejarah

Makanan Sunda

Susunan Warna Kasundaan

Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda

Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja

Ras Nusantara

Ketika Jawa Bertemu Belanda

Prasasti Batu Tulis Bogor

Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Perbedaan Batu Tulis, Petilasan & Makam

The Differences between Written-Stone, Petilasan Sites (Paths in the past) & Tomb

Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959

Kebon Raya Bogor

Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)

Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian

Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age

Prehistoric Remains from Neolitic Stage

Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam

Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River

Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung

Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata

Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah

Gurindam Dua Belas

Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Musik – Ayun Ambing

Musik – Kacapi Suling

Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Tarumanagara

Kerajaaan Indraprahasta

Kerajaan Kendan

Kerajaan Galuh

Kerajaan Sunda

Wangsa Sanjaya

Kerajaan Saunggalah

Kerajaan Sunda-Galuh

Kerajaan Kuningan

Kerajaan Cirebon

Perang (Pasundan) Bubat

Kerajaan Sumedang Larang

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia

Kerajaan Banten

Kerajaan Talaga

Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh

Musik/Music

Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music

Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music

Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya (2) Sang Manarah, Penjelmaan Bagawat Sajala-jala yang terbunuh

Diambil dari :

Harian Pikiran Rakyat, 16 Mei 1990

Oleh : Atja

 

 

Carita Waruga Guru (CWG)

Naskah ini telah ditransliterasi dan diterjemahkan kepada bahasa Belanda dan dibicarakan oleh Pleyte (1913), sebagaimana telah saya singgung. Menurut Pleyte naskah itu ditemukan dari ka­buyutan di Kawali (Kabupaten Ciamis).

Naskah “Carita Waruga Guru” (CWG) ditulis pada kertas Eropa, dengan tinta hitam, berukuran ±20 x ±15 cm. Tebalnya 24 halam­an. Berbeda dengan KWJ dan “Ki­tab Pacakaki” (….) yang telah di­singgung, keduanya memakai hu­ruf pegon, CWG ditulis dengan khas aksara pra-Islam, coraknya mirip dengan aksara pada naskah “Carita Parahiyangan”,yang ditu­lis pada lontar (rontal), juga di­temukan di daerah Galuh, dengan sedikit penyimpangan, misalnya aksara /ba ada dua bentuk. Tetapi jauh berlainan dengan apa yang di­sebut dengan aksara buda atau ak­sara gunung, yang ditemukan pada naskah-naskah dan lereng Gunung Merapi-Merbabu, seperti yang di­ungkapkan dalam disertasi Van Der Molen (1983), atau Kantara Wiryamartana (1987). Bentuk ak­sara pada CWG mungkin telah di­buat tabelnya dalam buku Holle (1882), bernomor 91, 92: Ms. Van Galoeh (lontar), tidak berbeda jauh dengan label yang saya buat dalam “Carita Ratu Pakuan” (1969: 25), dan saya beri nama ak­sara Sunda Kuno.

Bahasa pada CWG tidak berbe­da jauh dengan bahasa dalam “Ca­rita Parahiyangan”, tetapi kosa­kata Arab dan cerita para nabi te­lah memberi warna yang menco­lok. Saya kutip contoh dari hal. 1 :

( … )

eta kanyahokeun ratu ga­-

luh kerna bijil ti alam gaib nya

nabi adam di heula ratu galuh di-

­enggonkeun sasaka slam dunya.

( … )

Dari kutipan pendek di atas, ka­ta-kata Arab yang telah masuk alam, gaib, nabi Adam, alam du­nya. Dan tokoh dari cerita nabi­-nabi, Nabi Adam (hlm. 2, 3, 5), Nabi Isis (hlm. 2, 5), Nabi Enoh (hlm. 2, 3, 5. 8, 11), dari “roman” Amir Hamza, nama tempat : Mesir (hlm. 1), Gunung Mesir (hlm. 1), Ratu Mesir (hlm. 6), dan Selong (hlm. 5, 8), gunung jabal kap (hlm. 1), dan tokoh Alamdaur (hlm. 6) serta Seh Majusi (hlm. 11), dan tokoh atau lebih tepat jabatan lokal yang berulang-ulang berperan, ia­lah darmasiksa (hlm. 7, 8, 9, 11, 21).

Apabila kita bandingkan isi KWJ dengan CWG, pada dasarnya banyak persamaannya. Naskah KWJ milik YPS, karena sangat ru­sak, tidak dapat saya baca dengan sempurna dan saya coba me­nyempurnakannya berdasarkan nama-nama yang terdapat dalam CWG. Sebagai contoh biar pun se­dikit berbeda: KWJ (hlm. 1) babar buwana: CWG (hlm. 2) babarbawa­na; KWJ (hlm. 1) … gantungan: CWG (hlm. 2), gandulgantung; KWJ (hlm. 1) sayar: CWG (hlm. 2) siar; KWJ (hlm. 2) ratu … tasari: CWG (hlm. 9) ratu perwatasari.

Mengenai riwayat banjir yang terjadi pada zaman Nabi Enoh (Nuh), antara kedua naskah itu terdapat persesuaian, yang diri­wayatkan, bahwa Pulau Jawa tidak terendam banjir, karena Ratu Ga­luh (KWJ, hlm. 3, 4), atau Ratu Perwatasari Jagat (CWG, hlm. 9), terlebih dahulu telah menciptakan gunung yang tingginya mencapai langit dan seluruh warga ma­syarakatnya diperintahkan naik ke atas gunung itu. Setelah air surut, mereka sekaliannya turun dan tiba di suatu tempat, yang kemudian di­sebut Bojonglopang.

Mengapa tokoh dalam kedua naskah tersebut disebut Ratu Ga­luh? Menurut KWJ (hlm. 3), kare­na: cahya kang metu saking netra (cahaya yang keluar dari mata), te­tapi menurut CWG (hlm. 11), ka­rena: lebak karagragan cibanu eluh, mana jumeneng Ratu Galuh (lembah kejatuhan air mata, maka menjadi Ratu Galuh).

Rata Galuh itu kemudian dice­ritakan berputra tiga orang (dalam KWJ dari istri berbangsa manu­sia!), peristiwanya diceritakan daliam hlm. 12-21, ± 42% dari tebal naskah. Ketiga putra itu, ialah Ha­riang Banga, Ciung Manarah dan Maraja Sakti. Sebutan Ciung Manarah, juga dalam Kitab Pacaka­ki …. (Said Raksakusumah 1973:4) dan pada hlm. 2 dalam KWJ, pada halaman-halaman berikutnya ter­tulis Ciung Manara, Dalam Babad Galuh yang mana pun juga asal di­tulis pada abad 19/20, selalu ditulis: Ciung Wanara, sebagaimana juga ditulis Ciung Wanara dalam “Carita Pantun”, salah satu versinya te­lah dicetak (Pleyte 1911), ditulis Ciung Wanara dan Hariang Banga. Dalam “Babad Tanah Jawi” (edisi Olthof 1941: 12, 14) tertulis: Siyung Wanara dan Ana Banga.

Dalam “Carita Parahiyangan” (Atja 1968: 28-29), tersebutlah to­koh bernama Sang Manarah, pen­jelmaan Bagawat Sajala-jala, yang dibunuh tanpa dosa. Ayahnya ber­nama Rahiyang Tamperan atau Rakeyan Panaraban, putra Ra­hiyang Sanjaya.

Dalam prasasti Canggal (732 Masehi); pada 10-11, diceritakan, bahwa yang mengganti Sang Sanna menjadi raja di Tanah Jawa ialah Sang Sanjaya, putra Sang Sannaha, saudara perempuan Sang Raja Sanna. Dengan demikian Sanjaya adalah tokoh historis & Poerbatjaraka (1952:95) telah mencatat empat buah piagam yang lain: a) piagam, hanya tahunnya saja yang diambil, yakni tahun Sanjaya 174 = 828 Sa­ka (906/7 Masehi), pada waktu itu Sang Daksottama masih menjadi mahamantri dari sang raja Rake Watukura Dyah Balitung; b) pia­gam, hanya tahunnya saja yang di­ambil, yakni tahun Sanjaya 176 = 830 Saka (908/9 Masehi). Pada ke­tika itu Sang Daksottama telah menjadi raja di Jawa Tengah menggantikan Raja Rake Watukura; c) tembaga-tulis berangka tahun 829 Saka (907/8 Masehi) yang dikeluarkan oleh Raja Rake Watukura, Sang Sanjaya disebut: Rakai Mata­ram Sang Ratu Sanjaya; d) piagam berangka tahun 1022 Saka? (1100/1 Masehi?), baginda disebut Ra­hiyangta Sanjaya.

Adapun sebutan Panaraban dan Manara, tercantum dalam sebuah prasasti yang disebut Wanua Tngah III (transliterasi sementara saya dapatkan dari Dr. Ayatrohae­di), untuk jelasnya saya kutipkan sebagian (dengan penyesuaian EYD) :

4. (….) ing saka 706 cetra masa da­sami sukla. pa ka sa. wara angdi­ri rake panaraban, tanninulahu­lah ikanang sawah lan i wanua tngah an tama rikanang bihara i pikatan. ing saka 725 cetramasa sasti sukla. pa u su. wara. mang­diri rakai warakdyah manara. sira ta umabak ikanang sima. pjah rake warak sirang lumah i kelasa ing saka 749 srawanama­sa. caturdasi kresna. (….)

Saya tidak berwewenang untuk membuat tafsiran, namun sepintas lalu dalam prasasti itu nama/gelar Rake Panaraban dan rake warak dyah manara (Yang saya garis ba­wahi dalam kutipan di atas), seper­ti juga dalam “Carita Parahiyang­an” (Atja 1968) ada tertulis: Mojar Rahiyang Sanjaya, ngawarah anak nira Rakeyan Panaraban, inya Ra­hiyang Tamperan. (….) dan di tempat lain, saya kutip: Mangjan­ma inya Sang Manarah, anak Tam­peran, dwa sapilanceukan deung Rahiyang Banga. (….)

Jika kita bandingkan kutipan-­kutipan di atas berat dugaan saya bahwa berdasarkan kecocokan yang ada, maka baik Rake Pana­raban (prasasti Wanua Tngah), maupun Rakeyan Pararaban atau Rahiyan Tamperan (Carita Para­hiyangan) adalah sebutan untuk seorang tokoh historis, demikian juga Rake Warak Dyah Manara (prasasti Wanua Tngah), juga San Manarah (Carita Parahiyangan adalah sebutan untuk seorang to­koh historis. Kalau meragukan, bandingkan nama Raksakusuma (Jawa: Reksokusumo) dengan Raksakusumah! Jadi: Manara (eja­an Jawa) berbanding Manarah (ejaan Sunda). Maklumlah Carita Parahiyangan dan Carita Waruga Guru berbahasa Sunda, bahkan Kitab Waruga Jagat biarpun ditulis dengan bahasa Jawa, tetapi bahasa Jawa-Cirebon: wignyan pada akhir kata tidak diucapkan (cf Smith 1926: 1).

Lepas dari hal-hal yang telah di­kemukakan di atas (7), di antara kedua naskah itu dalam episode Ciung Manarah dan Hariang Ba­nga terdapat persesuaian, yaitu akhirnya Hariang Banga menjadi Raja Majapahit, sedangkan Ciung Manarah mendirikan Kerajaan Pajajaran. Selanjutnya dikemuka­kan, Hariang Banga menurunkan para ratu Majapahit, kemudian Mataram (Islam), dan berakhir de­ngan menyebut Pangeran Dipati, putra Pangeran Mangkunegara.

Menurut Pleyte (1913: 403, cf Schrieke 1959: 151), Pangeran Mangkunegara naik takhta Mata­ram pada tahun 1719 Masehi dan memerintah hingga tahun 1725 Masehi, dengan gelar Amangkurat IV, kemudian digantikan oleh Pa­ngeran Adipati, dengan gelar Pakubuwana II, baginda berkuasa antara tahun 1725 hingga 1749 Ma­sehi. Maka dengan demikian CWG kemungkinan besar tersusun pada masa di Mataram berkuasa Amangkurat IV, atau mungkin se­belumnya. Pleyte memberikan an­cer-ancer tersusunnya CWG di antara tahun 1705 – 1709 Masehi, ka­rena dalam deretan siisilah dise­butkan juga Susunan Puger, yang berdasarkan kontrak dengan VOC tanggal 5 Oktober 1705, diangkat menjadi Susuhunan Pakubuwana I, setelah mendepak keponakan­nya, Amangkurat III.

Naskah KWJ menyebut ketu­runan Hariang Banga yang ter­akhir ialah Pangeran Dipati Anom, putra Susuhunan Amang­kurat II, cucu Susuhunan Tegalwa­ngi (Amangkurat I), dengan de­mikian saya mengajukan dugaan, bahwa KWJ tersusun pada masa di Mataram berkuasa Susuhunan Amangkurat II, sedangkan masa pemerintahannya dari tahun 1677 hingga tahun 1705, pada tahun itu pula Pangeran Dipati Anom naik takhta dengan gelar Susuhunan Amangkurat III, yang terkenal de­ngan gelar Sunan Mas, pada tahun 1708 setelah direbut kekuasaannya oleh pamannya dengan bantuan VOC, Sunan Mas dibuang ke Selon (Veth 1878: 420-1). Kolofon KWJ, sehagaimana telah disinggung di atas, sebagai catatan penu­lis, selesai ditulis pada Senin malam (Jawa-Sunda malem Salasa), bulan Zulhijjah, tanggal 8, Tahun Alip, 1117 Hijrah, bertepatan de­ngan 23 Maret 1706 Masehi (Joac­him Mayr & Bertold Spuler 1961).

Ratu Galuh dalam CWG dan KWJ pada Wawacan Sajarah Ga­luh yang disunting oleh Dr. Edi S Ekadjati (1981: xxvii), disebut Ra­tu Pusaka, di dalam versi-versi yang lain disehut Maharaja Adimulya, pada Carita Pantun “Ciung Wanara” (Pleyte 1913) Sang Permanadikusumah.

Wawacan “Sajarah Galuh” di­anggap penyunting tersebut dida­sarkan atas pertimbangan perse­suaian judul dengan keseluruhan isinya, dan naskah pembandingnya berjudul “Carios Wiwitan Raja-­raja di Pulo Jawa”. Keduanya menceritakan perkembangan Galuh sejak berdirinya hingga masa pemerintahan Bupati Galuh: Ra­den Arya Adipati Kusumah di Ningrat (1836-86).

Kalau kita perhatikan berjenis­-jenis babad atau sajarah, yang ditu­lis baik anonim maupun menyebut penyalin atau penyusunnya, ham­pir seluruhnya bertumpu dan seba­gai cikal-bakal hanya sampai kepa­da Ratu Galuh tersebut, dengan demikian naskah lontar “Carita Parahiyangan”, biarpun ditemu­kan di Galuh, ternyata tidak mere­ka ketahui isinya.

Dari “Carita Parahiyangan”, yang ditulis di Sumedang, pada ta­hun 1601 Masehi, seperti dijelas­kan oleh Pangeran Wangsakerta dalam Carita Parahiyangan Sakeng Bhumi Jawa Kulwan, sargah perta­ma (CP-1) tertulis episode tokoh­-tokoh Ratu Galuh yang lebih tua.

* * *

Artikel terkait :

Ki Sunda di Tatar Sunda (Indonesia)

Ki Sunda di Tatar Sunda (Sunda)

Menapaki Perjalanan Sunda

Kalender Sunda & Revisi Sejarah

Makanan Sunda

Susunan Warna Kasundaan

Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda

Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja

Ras Nusantara

Ketika Jawa Bertemu Belanda

Prasasti Batu Tulis Bogor

Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Perbedaan Batu Tulis, Petilasan & Makam

The Differences between Written-Stone, Petilasan Sites (Paths in the past) & Tomb

Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959

Kebon Raya Bogor

Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)

Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian

Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age

Prehistoric Remains from Neolitic Stage

Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam

Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River

Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung

Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta

Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata

Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah

Gurindam Dua Belas

Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Tarumanagara

Kerajaaan Indraprahasta

Kerajaan Kendan

Kerajaan Galuh

Kerajaan Sunda

Wangsa Sanjaya

Kerajaan Saunggalah

Kerajaan Sunda-Galuh

Kerajaan Kuningan

Kerajaan Cirebon

Perang (Pasundan) Bubat

Kerajaan Sumedang Larang

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia

Kerajaan Banten

Kerajaan Talaga

Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh

Musik/Music

Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music

Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music

Galuh Berarti Putri Bangsawan Atau Sejenis Batu Permata

Diambil dari :

Harian Pikiran Rakyat, 15 Mei 1990

Oleh Atja

 

Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya

Galuh Berarti Putri Bangsawan Atau Sejenis Batu Permata

Pengantar

Tanggal 16-19 Mei, di Tasikma­laya diadakan Seminar Sejarah dan Budaya II tentang Galuh. Se­minar yang diselenggarakan oleh Unsil bekerjasama dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Lembaga Penelitian Prancis untuk Timur Jauh itu membahas sejarah Galuh ditinjau dari berbagai kaji­an, antara lain epigrafi, filologi, ar­keologi, numismatik dan seha­gainya.

Untuk membuka pemahaman pembaca terhadap “Galuh”, “PR” menurunkan tulisan ahli sejarah, Drs. Atja. Tulisan ini berupa maka­lah yang juga disampaikan pada se­minar di Tasikmalaya itu. Kami muat secara bersambung mulai hari ini. (redaksi)

Toponim suatu tempat sering sangat penting bagi suatu kajian serajah, karena di dalamnya terkandung nilai sejarah baik yang berhubungan dengan lingkungan alam maupun dengan kehidupan manusia yang menempatinya. Di samping itu penamaan suatu tempat merupakan ciptaan manusia yang ­sengaja dengan mempertimbangkan unsur-unsur lingkungan, mitologi, legenda, sejarah dan lain-lain. Itulah sebabnya di sini akan dicoba ditelusuri nama tempat dalam pasang surutnya, yang menjadi sorotan kini ialah “Galuh”, dan tempat lainnya yang diperkirakan ada kaitannya.

Seorang pakar yang telah memperhatikan dengan saksama perihal nama “Galuh” ialah mendiang Prof. Dr. R. Ng Poerbatjaraka (ba­ca: Purbocoroko). Beliau menulis sebuah makalah secara khusus tentang Galuh dalam majalah “Baha­sa dan Budaya”. Tahun III, No.2, December 1954, halaman 6-10, berjudul: “3 Galuh”.

Untuk mencari arti leksikal, be­liau membuka kamus Jawa (Geric­ke & Roorda 1901, II), galuh, Kw. zva. putri orang bangsawan dan de­wi (Skt. galu, sejenis batu perma­ta). KN nama kabupaten di dalam Keresidenan Cerbon, zaman dulu kota kerajaan. Di dalam kamus Purwodarminto; galuh kl. (kesu­sastraan lama) ratna (intan); putri (anak raja). Di dalam Kw. Bal. Ned. Wdb Van den Tuuk, kata ga­luh diterangkan dengan panjang le­bar, tetapi artinya: I. antara lain juga cuma mengelilingi arti putri dan permata (emas), II. Nama kerajaan di tanah Jawa (zaman Kuna).

Galuh sebagai nama sebuah ke­rajaan di Tanah Jawa zaman kuno, Prof. Poerbatjaraka menyebutkan :

I. Terdapat hampir di tiap-tiap Serat Babad yang menceritakan “zaman itu”. Beliau memberi contoh di dalam Serat Babad No. 1 yang disimpan di Lembaga Bahasa dan Budaya (kini: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa), hlm. 257, tentang perangnya Raja Banjaransari yang bermusuhan de­ngan raja (jin) perempuan di Galuh.

II. Di dalam Babad Tanah Jawi, sebagai negara Arya Bangah (ed. Meinsma-Olthof 1941).

III. Di dalam Serat Aji Saka, se­bagai Raja Sindula, ayah Sang De­wata-cengkar, Negara Galuh ini di­ceritakan ketika diserang perang oleh Dewata-cengkar, sekonyong-­konyong ilang menjadi utan. (Serat Aji Saka oleh CF Winter 1857).

IV. Di dalam Carita Parahiyang­an, sebagai negara Raja Sanjaya. Sungguhpun cerita no. I, II, III itu cuma cerita sebagai dongeng pula, tetapi dongeng yang sangat mende­kati cerita riwayat (Riwayat Indo­nesia I 1952: 61).

V. Galuh ditambah Ujung, jadi Ujung-Galuh, nama tempat, yang dikatakan bula mengasingkan sang Jayakatwang, raja di Kediri oleh Raden Wijaya, Raja Majapahit yang pertama (Pararaton 1920).

VI. Ada nama Galuh pula yang ditambah awalan pra-, jadi Pragaluh, ialah nama desa atau daerah, yang terdapat pada batu tulis, yang terdapat di Desa Gandasuli (Ke­du), yang masih terletak di tempat­nya (De Casparis 1950: 62). Kabar inilah yang mempunyai derajat bahan epigrafi, yang di dalam ilmu pengetahuan sejarah sangat pen­tingnya.

VII. Galuh sebagai betul-betul nama ilmu bumi di Tanah Jawa, terdapat di dalam karangan CM Pleyte, seorang yang boleh dianggap ahli dalam ilmu Kesundaan, yang mengatakan bahwa Galuh se­karang ialah (ongeveer) Ciamis. (Pleyte 1913: (282).

Prof. Poerbatjaraka selanjutnya menunjuk kepada sebuah nama kampung: Begalon di sekitar Keraton Surakarta, menurut tradisi kampung itu dulu ditempati oleh pegawai tukang menggosok intan berlian. Katanya, asal-mulanya na­ma kampung itu tentu: Pegalon, dari Pegaluan dari pegaluhan dari galuh pula. Barangkali keterangan “tempat pegawai tukang menggo­sok intan-berlian” itu, setelah galuh diberi arti “permata”. Karena itu Prof. Poerbatjaraka mengaju­kan pertanyaan; mungkinkah bah­wa kampung itu dulu ditempati oleh pegawai tukang membuat ba­rang perak, barang perak upacara yang besar-besar seperti lancang, sumbul, bokor dan lain-lainnya, karena kampung itu sangat berde­katan dengan Kawatan. Sayangan dan “kemasan”.

Prof. Poerbatjaraka berpenda­pat, bahwa Galuh sebagai nama tempat, yang letaknya di Tanah Ja­wa tulen ada di arah barat, maka artinya tanah -, daerah -, atau Ne­gara Galuh itu ialah tanah-, daerah -, atau Negara Perak.

Dalam karangan no. 4, berjudul Bagelen. Perihal kata itu, beliau menunjuk kepada rangkaian ben­tuk dari kata: Pegalon dari Pega­lon, dari Pegaluan, dari Pegaluhan, dari Galuh. Demikian juga na­ma Bagelen itu dari Pagelen, dari Pegalian, dari Pegalihan, dari Ga­lih. Adapun kata Galih itu bentuk krama dari Galuh. Prof. Poerbatja­raka memperingatkan, katanya, jangan dicampur bentuk krama de­ngan kata krama. Yang dimaksud dengan kata krama oleh beliau, ia­lah: putra, krama, anak ngoko; griya krama, omah ngoko. Sebagai temannya beliau menunjukkan be­berapa rangkaian contoh: pang­guh; panggih; lungguh; linggih; sungguh; singgih; suruh; sirih. Ma­ka bendasarkan beberapa contoh, Prof. Poerbatjaraka berkeyakinan, bahwa Pegalihan itu bentuk krama dari Pegaluhan, seperti juga Galih dari Galuh; dan Galih itu di dalam cerita “rakyat” Sunda memang na­ma negara zaman kuno, cuma saja ditambah Pakuan, menjadi Galuh Pakuan.

Dalam pada itu kesimpulan yang ditarik oleh Prof. Poerbatjaraka, bila keterangan tentang Galuh dan Bagelen digabung, maka sejarah daerah aliran Sungai Bagawanta – Serayu – Citanduy, zaman dulu ada di bawah kekuasaan Kerajaan Ga­luh yang pusatnya ada di daerah Ciamis sekarang.

1. Bahwa untuk menelusuri per­kembangan sejarah Galuh sebagai sebuah pusat kekuasaan raja-raja pada zaman dahulu, hampir dapat dikatakan tidak mungkin menda­pat dukungan prasasti-prasasti atau peninggalan purba lainnya, demikian juga berita-berita asing, yang ada hanyalah beberapa nas­kah, yang tertua sampai kepada ki­ta hanya beberapa buah berasal da­ri akhir abad ke-16 Masehi dan beberapa buah dari abad ke-17 Masehi. Berbeda dengan sistem penyalinan di daerah kebudayaan Bali, karena mereka masih sangat terikat kepada agama yang sama dengan isi naskah yang disalinnya, mereka berusaha menyalin naskah sepatuh mungkin, biarpun kesa­lahan kecil-kecil yang tidak mung­kin mereka lakukan secara sadar. Sedangkan para penyalin di Jawa Barat menganut agama yang ber­beda dengan isi naskah tentang ke­percayaan yang lama, mereka me­rasa lebih bebas melakukan penyalinan kreatif, disesuaikan de­ngan kepentingan orang atau pem­besar yang membiayainya.

Dalam kesempatan berbicara se­putar Galuh kali ini, saya ingin me­ngetengahkan, beberapa naskah, baik yang telah diterbitkan maup­un yang belum, yang dianggap berisi semacam “sejarah”, dalam pengertian masa naskah itu ditulis, yang isinya sudah barang tentu ter­ikat kepada “kode budaya” ma­syarakatnya.

Pengertian “sejarah” (atau “sa­jarah”) pada masa itu ialah stam­boom, bukan geschiedenis atau his­tory. Tetapi “sejarah” pada waktu pendudukan Jepang dipakai peng­ganti istilah geschiedenis, yang di­larang dipakai di dunia persekolah­an pada masa itu, padahal yang le­bih dekat artinya, ialah “tarikh”.

Dalam pemakaiannya zaman dulu istilah “sejarah”, dipertukar­kan secara bebas dengan kata “silsilah”, yang di Filipina Selatan, di­sebut “tarsilah” (Majul 1977, 1989).

Istilah “sejarah” pada dasarnya merupakan semacam “catatan”, tentang baris keturunan yang tertulis. Salah satu fungsi yang utama, adalah untuk menelusuri leluhur seseorang atau keluarga hingga pa­da seorang tokoh yang terkenal pa­da masa yang lampau, mungkin se­orang tokoh politik atau seorang guru agama. Kenyataan ini memberi kesan, bahwa karya “se­jarah” demikian tidak dimaksud­kan untuk tetap sebagai dokumen sejarah saja. Tetapi sebaliknya catatan garis keturunan itu berfungsi untuk mendukung pengakuan indi­vidu-individu dan sesuatu keluar­ga untuk memperoleh kekuasan politik atau menikmati hak-hak istimewa tertentu yang bersifat tra­disional, atau paling tidak menik­mati martabat yang lebih tinggi di antara sesama anggota ma­syarakatnya.

Dengan demikian untuk melaya­ni tujuan-tujuan itu, maka “seja­rah” harus dipelihara agar tidak ketinggalan zaman. Bila ditulis pa­da bahan-bahan yang dapat rusak, seperti kertas, maka isinya harus dilestarikan dengan menyalinnya pada kertas baru. Dengan demiki­an, usia bahan yang digunakan bu­kan merupakan petunjuk usia atau keotentikan catatan-catatan itu (Majul 1989: 98-9).

Kalau kita nanti menelaah bebe­rapa jenis naskah yang saya anggap berisi “sejarah”, yang tampaknya bervariasi, maka janganlah dengan serta-merta beranggapan, sebagai dokumen yang berisi silsilah yang memperlihatkan suatu kesalahan. Sesungguhnya silsilah itu bisa ber­isi pemberian mengenai sebagian tokoh, nama-nama tempat dan da­ta sebenarnya dari peristiwa masa lampau, tetapi juga dimasukkan unsur-unsur mitologis, karena di­maksudkan untuk memenuhi beberapa tujuan di luar fungsi genea­logis yang bersangkutan. Mungkin saja untuk sesuatu tujuan beberapa nama disingkirkan, misalnya guna mencegah agar keturunan-keturunan tertentu tidak dapat menuntut haknya atas tahta.

2. Di bawah ini akap saya kupas beberapa naskah:

Kitab Waruga Jagat (untuk selanjutnya disingkat (KWJ) hanyalah sebagian kecil saja dari se­buah naskah, yang kini tersimpan di Museum Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) di Sumedang. Bagi­an yang lainnya dari naskah terse­but merupakan jenis parimbon, yang isinya terdiri atas bermacam­-macam hal, sebagai catatan yang berhubungan dengan ilmu nujum, dalam sastra Melayu disebut pestaka (vademecum).

Bahan naskah bukan dari kertas, melainkan dari bahan yang kita ke­nal dengan sebutan daluwang (Jawa : dluwang), yang terbuat dari serta kulit pohon “saeh”.

Naskah itu berukuran kuarto. Bagian yang disebut KWJ tertulis dengan huruf pegon (Arab-Jawa), dengan bahasa Jawa-Sunda, tebal­nya hanya terdiri atas 12 lembar.

Kecuali sebuah naskah yang ter­sebut di atas, di museum YPS; ter­simpan juga sejumlah naskah yang lain, di antaranya yang sangat me­narik, ialah Silsilah Keturunan Bu­pati-bupati Sumedang, tertulis de­ngan huruf pegon (Arab-Jawa), dengan bahan kertas Eropa, ber­ukuran folio, ditulis atas nama Ra­den Adipati Suryalaga II, yang per­nah menjadi bupati di Bogor, Karawang dan Sukapura, masa hidup­nya sezaman dengan Pangeran Kornel, pada abad 18-19 Masehi.

Sebuah naskah lagi dengan bah­an daluwang dalam keadaan sangat rusak, pada mulanya sukar ditebak apa isinya, mempergunakan baha­sa dan askara Jawa-Sunda yang su­lit dibaca, dalam bentuk puisi/kidung (Sunda : wawacan). Pada awal tahun 1972 bersama Drs. Didi Suryadi almarhum, saya berusaha untuk dapat membaca dan mengetahui garis-garis besar isinya. Akhirnya ada bagian yang terbaca perihal uraian percintaan antara Mundingsari dengan putri Amber­kasih di Negara Sindangkasih. Setelah bagian itu diketahui, barulah dapat ditentukan, bahwa naskah yang sangat rusak itu adalah salah satu versi dari apa yang disebut de­ngan Babad Siliwangi, mungkin sa­lah satu salinannya adalah Babad Siliwangi yang tersimpan di Mu­seum Nasional (kini ditempatkan di Perpustakaan Nasional Jakar­ta), dengan judul yang sama turun­an naskah itu dikerjakan oleh Ra­den Panji Surya Wijaya, Betawi, 1866 (Poerbatjaraka 1933: 293). Naskah tersebut telah disinggung pula dalam Cariosan Prabu Silih­wangi yang disunting oleh Sunarto & Viviene Sukanda-Tessier (1983). Pada dasarnya KWJ mengurai­kan mata rantai para tokoh yang pernah memegang peranan pen­ting dalam sejarah, yang diwarnai oleh kepercayaan yang diselimuti dalam suasana lslamisasi khusus­nya di Jawa Barat.

Di dalam KWJ, selain dapat kita telaah deretan penguasa-penguasa yang menurut kepercayaan masyarakat tradisional pernah ber­kuasa di tanah air kita, juga dihu­bungkan dengan para penguasa yang pernah memegang peranan dalam penyebaran agama di dunia Islam, yang menurut anggapan pe­nulisnya, kesemuanya bertalian keluarga satu sama lain. Demikianlah makna yang sesungguhnya dan istilah Waruga Jagat.

Jika kita perhatikan arti kata wa­ruga, maka perlu saya ketengah­kan akan makna yang diberikan oleh CM Pleyte dalam karyanya: “De Patapaan Adjar Soekaresi, andere gezegd de kluizenarij op de Goenoeng Padang”, TBG, jilid 55, hal. 380, catatan 2, dia mencoba mengupas pengertian waruga, da­lam rangka membicarakan naskah Carita Waruga Guru. Pleyte menu­lis, makna waruga: belichaming (penjelmaan, pengejawantahan), lichaam (badan, tubuh), dan lijf (badan, tubuh). Dari ketiga arti yang diberikan oleh Pleyte itu, yang lebih mendekati ialah penjelmaan atau pengejawantahan. Pengejawantahan tokoh-tokoh, yang memegang peranan penting di dunia, ditinjau dari wawasan dan sudut pandangan penulis.

Kata waruga dalam BahasaJawa Kuno sebagaimana dicatat oleh Prof. Zoetmulder (1982: 2211), a Mind of building (“bale”? hall, pendopo?), sedangkan pada tem­pat sebelumnya dicatat pula kata: waruga I a part. official or functionary. Van der Tuuk (1901) menca­tat tentang arti waruga dalam be­berapa bahasa yang bersaudara, dalam Bahasa Bali, waruga : bale, Sasak, barugaq; bale; Bima, paru­ga: rumah-rumahan di atas kubur­an; Sangir, bahugha, Rejang, Bugis, Makasar, baruga; Lampung, parugan, berugu (baca: baruga), bangunan berbentuk kubah atau anjung di muka atau di samping rumah tempat wanita bertenun; Bengkulu, brogo ruangan tempat duduk-duduk.

3. Pada halaman 12, ditulis kolofon, berbunyi: tamat kitab waruga jagat tutug ing tulis ing malem Sala­sa wulan Rayagung ping 8 tahun alip 1117 hijrah. kang gaduh mas ngabehi prana. (Tamat Kitab Wa­ruga Jagat, selesai ditulis pada Se­nin malam, bulan Zulhijjah, tanggal 8, Tahun Alip, 1117 Hijrah (23 Maret 1706 Masehi), kepunyaan Mas Ngabehi Prana.

Kitab Waruga Jagat ini selanjut­nya dilengkapi dengan paririmbon, terdiri atas :

(a) Salinan Kitab Barzanji dan Doa Maulud Nabi; (b) Uraian ten­tang kebiasaan bersawah; (c) Urai­an tentang uga zaman.

Kitab Waruga Jagat versi lain ki­ni tersimpan di Perpustakaan Uni­versitas Leiden, (Juyboll 1912: 70­71, CXXVI. (Cod. 239 (Bijb. Gen.), dalam sebuah berkas, yang terdiri atas empat bagian, tebal 44 halaman, terdiri atas :

(a) Waruga Jagat (hlm. 1-23). daftar rangkaian garis keturunan dari Adam dan Nuh (Enoh) sampai kepada Pangeran Saba Kingkin (Hasanuddin), bahasanya lebih bersifat Jawa daripada Sunda (meer Javaansch dan Soenda­neesch); (b) Waruga jagat atau Ba­bad Pajajaran (hlm. 23-33), mengenai daftar silsilah yang sama, tetapi ditulis dalam bahasa Sunda dan sebagian membicarakan tentang agama Islam; (c) Dongeng Ki Bas­ra, isinya sebuah cerita rakyat da­lam bahasa Sunda, dan (d) Isinya tujuh buah teka-teki dalam bahasa Sunda dengan penyelesaiannya. Juyboll tidak menyebut ukuran naskah, bahan dan huruf yang di­gunakan, demikian pula tahun pe­nulisannya tidak disebutkan.

4. H. Said Raksakusumah almar­hum, menggarap sebuah naskah, yang berjudul: Kitab Pacakaki Masalah Karuhun Kabeh, sebuah naskah yang dimiliki oleh masyarakat Cisondari, Bandung Se­latan. Hasil garapannya, terjemah­an dan pembahasan secara singkat dalam bahasa Indonesia (1973). Naskah itu ditulis dalam huruf pe­gon dengan bahasa Sunda-Jawa, tetapi tidak menyebutkan bahan­nya apakah kertas atau daluwang.

Dalam kolofon pada halaman terakhir kebetulan dicatat oleh­nya, sebagai berikut: “Kitab Paca­kaki Masalah Karuhun Kabeh…. dipedalkeunana di Pamarican tang­gal 15 bulan…. Rabu akhir tahun Dal Hjrah 1271. Karena nama bu­lan tidak terbaca, – mungkin nas­kah rusak – Tahun 1271 Hijrah = 1854/5 Masehi.

H. Said Raksakusumah mencatat isi kitab itu, meliputi: (a) Tulisan Sejarah; (b) Sifat 20; (c) Kumpulan Du’a-du’a di antaranya Du’a Nur­buat. Selanjutnya disebutkan, penulis menguraikan sejarah di Pulau Jawa sesuai dengan pengertian ka­ta sejarah pada zamannya, yaitu memberikan urutan nama (silsilah) orang-orang yang memegang pim­pinan kemasyarakatan, baik politis maupun spiritual. (Said Raksaku­sumah 1973: 1).

Kenyataan yang kita hadapi me­nunjukkan bahwa penulisan KWJ, pada tahun 1117 Hijrah (1706 Ma­sehi), tidak menyebut tempat ditu­lisnya, mungkin di Sumedang, se­dangkan Kitab Pacakaki Masalah Karuhun Kabeh ditulis tahun 1272 Hijrah (1854/5 Masehi) di Pamari­can, Ciamis Selatan. Mengingat waktu penulisannya berjangka ± 150 tahun, jarak tempat antara Su­medang dan Pamarican demikian jauhnya, kita bisa menduga, bahwa penulis di Pamarican tidaklah menggunakan KWJ Sumedang se­bagai contoh.

* * *

Artikel terkait :

Ki Sunda di Tatar Sunda (Indonesia)

Ki Sunda di Tatar Sunda (Sunda)

Menapaki Perjalanan Sunda

Kalender Sunda & Revisi Sejarah

Makanan Sunda

Susunan Warna Kasundaan

Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda

Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja

Ras Nusantara

Ketika Jawa Bertemu Belanda

Prasasti Batu Tulis Bogor

Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Perbedaan Batu Tulis, Petilasan dan Makam

The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb

Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959

Kebon Raya Bogor

Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)

Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian

Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age

Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River

Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung

Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta

Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata

Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah

Gurindam Dua Belas

Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Musik – Ayun Ambing

Musik – Kacapi Suling

Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Tarumanagara

Kerajaaan Indraprahasta

Kerajaan Kendan

Kerajaan Galuh

Kerajaan Sunda

Wangsa Sanjaya

Kerajaan Saunggalah

Kerajaan Sunda-Galuh

Kerajaan Kuningan

Kerajaan Cirebon

Perang (Pasundan) Bubat

Kerajaan Sumedang Larang

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia

Kerajaan Banten

Kerajaan Talaga

Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh

Reiki di Pulau Dewata Bali

Oleh : A. Sari


 

Bali. Pulau Dewata nan cantik yang sarat dengan seni budayanya juga ternyata memiliki kekayaan pengobatan alamiah. Salah satu terapi alamiah yang saya temui di pulau ini adalah Reiki. Anda pasti sudah sangat sering mendengarnya. Seorang master Reiki, I Made Warmana yang saya temui di Pulau Dewata membabarkan Reiki secara ringkas dan jelas.

 

Pengertian Reiki dan Kesehatan

Asal kata ‘REIKI’ adalah dalam bahasa Jepang. Pengertian ‘REI’ dalam konteks spiritual berarti Intelengensia tinggi (yang membimbing penggunaan alam semesta) atau Higher Intelligence atau Subtle Wisdom (pengetahuan yang bersifat maya yang menyebar ke segala bentuk kehidupan). Sedangkan ‘KI’ adalah energi yang berada dalam setiap kehidupan. Pengertian yang sama dalam bahasa Cina disebut dengan ‘CHI’. Sedangkan dalam bahasa Sansekerta dikenal dengan sebutan PRANA. Di kepulauan Hawaii dikenal dengan sebutan TI. Berbagai sebutannya yang lain seperti ODIC FORCE, BIOPLASMA dan LIFE FORCE.

Pengertian Reiki secara menyeluruh dapat diartikan sebagai energi penyembuh non fisik dari kekuatan hidup yang dibimbing oleh energi spiritual (higher intelegence).

Sumber kesehatan dan kebugaran tubuh berawal dari KI ke seluruhan bagian tubuh. KI memberi kekuatan hidup pada organ fisik dan mengalir dalam seluruh organ tubuh. Apabila aliran KI terganggu maka efeknya terasa oleh organ tubuh. Terhambatnya aliran KI inilah yang membuat kita sakit.

Dari pengalaman para praktisi Reiki, Reiki memiliki kecerdasan tinggi dalam mencari dan mengatasi penyakit seseorang dan dapat mengembalikan kondisinya dalam bentuk semula. Pikiran tidak dapat memerintah dan membimbing Reiki, sehingga praktisi Reiki tidak menggunakan pikiran dalam proses ini atau zero mind.  Pada keadaan zero mind inilah ‘KI’ (energi murni semesta alam) akan mengalir bebas tanpa hambatan ke seluruh tubuh kita. Sehingga organ tubuh yang sakit berangsur-angsur dapat sembuh. Tak hanya tubuh yang merasakan manfaat terapi REIKI, tapi juga pikiran dan jiwa dapat merasakannya seperti ketenangan, kehangatan, kenyamanan, rileks dan damai.

Metode Terapi REIKI

reiki1

Dalam melakukan terapi Reiki, terapi penyembuhan dilakukan secara menyeluruh. Karena salah satu anggota tubuh yang sakit akan menyebabkan ketidaknyamanan seluruh anggota tubuh yang lain. Pikiran menjadi tidak tenang dan kondisi tubuh menjadi tidak seimbang. Sehingga dalam melakukan terapi Reiki, setiap lapisan kesadaran diri (tubuh fisik, pikiran dan jiwa) harus juga disembuhkan.

Metode Reiki tidak menggunakan diagnosa (seperti yang dilakukan para Dokter). Namun para praktisi Reiki menggunakan pendekatan psikologis, hati ke hati kepada para pasiennya.

Keyakinan praktisi dan pasien merupakan hal yang penting dalam terapi Reiki. Tanpa adanya keyakinan dalam diri praktisi dan pasien, terapi Reiki tidak akan berlangsung atau hasilnya tidak dapat maksimal. Kondisi saling ‘percaya’ pada awal bertemu antara praktisi dan pasien harus terbentuk dan terus dikembangkan menjadi ‘yakin’.

Terapi Reiki dilakukan dalam beberapa komposisi pola tanpa sentuhan. Pasien berbaring di tempat tidur terapi dengan tangan praktisi di atas cakra-cakra tubuh selama beberapa menit. Telapak tangan praktisi mengalirkan energi murni semesta yang sangat halus kepada pasien. Sehingga jumlah energi yang diserap tergantung pada kebutuhan masing-masing pasien. Terapi Reiki ini dilakukan sekitar satu jam per sesi.

Sebagian pasien merasa hangat saat diterapi Reiki. Sebagian lain merasakan seperti sengatan listrik halus masuk pada tubuh. Adapula yang merasa seperti kesemutan dan kedutan. Bahkan banyak yang merasakan perubahan ke arah kebaikan pada dirinya dan merasa santai serta damai.

Siapapun dapat melakukan terapi Reiki. Pada dasarnya bila kita dalam keadaan sehat, terapi Reiki membantu mempertahankan keseimbangan dan kemurnian diri. Bila kita sakit, terapi reiki membantu penyembuhan secara alamiah. Hal yang berbeda yaitu pada seseorang yang sudah waktunya kembali kepada Sang Pencipta, Reiki membantu proses ini dengan kemudahan dan kedamaian.

Pembukaan (Attunement)

Attunement atau pembukaan diartikan sebagai penyesuaian, penyelarasan gelombang energi tubuh kita dengan gelombang energi dalam. Attunement akan menghilangkan hambatan-hambatan saluran energi semua tubuh sehingga pola energi seseorang akan berubah. Pasien yang melakukan pembukaan, akan dapat menyembuhkan dirinya sendiri dan dengan keyakinan dan latihan maka ia dapat melakukan terapi Reiki pada orang lain.

Attunement hanya dilakukan oleh Master Reiki kepada pasien atau siapapun yang ingin mempelajari dan mempraktekkan Reiki. Dari sinilah Reiki terbagi dalam 3 tingkatan yaitu : Reiki I, Reiki II dan Reiki III.

Praktek Terapi Reiki dan Pembukaan (Attunement)

reiki

Master Reiki I Made Warmana berpengalaman dibidangnya dalam melakukan terapi Reiki baik di tempat prakteknya sendiri dan spa-spa di berbagai hotel bintang lima di Pulau Bali.

Bagi anda yang tertarik melakukan terapi Reiki oleh Master Reiki I Made Warmana, anda dapat menghubungi kami melalui :

Perwakilan Shangkala di Bali :

Email : artshangkala@gmail.com

HP : +628123818872

Salam Sadar Sehat !

* * *

Artikel Terkait :
Yoga Class
Pengertian Yoga
Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Manusia & Fitrahnya
Yoga & Book Discussion
Prenatal Yoga
Yoga Ibu Hamil
Meditasi
Rileksasi Dalam
Meditation
Bali Classical Dance Course
Int;l Performance of I Putu Silaniyama
Nerang
Rain Stopper
Senam Sehat Seumur Hidup
Pelatihan PS Tadjimalela
Prosesi Ala PS Tadjimalela
Pengalaman Pelatih Silat Lokal di Kancah Global
Momen Pelatihan dan Kejuaraan Timnas Indonesia
PS Tadjimalela – Konsolidasi Batin dalam Halal bi Halal
‘Ancient Tantra Kriya Yoga’ & ‘Energy Transformation Micro – Macrocosm’ Workshop
Deep Inside ‘Nyepi’ – Silence Day (Hindu Lunar New Year)
Yin Yoga & Consciousness Meditation at the STONES, Kuta, Bali
The Studio Wellness Program at the STONES, Kuta, Bali
Chi dan Energi Penyembuhan
Natural Healing with Acupuncture
Acupuncture for Slimming
Acupuncture for Beauty
Teri Fish & Honey Fried Rice
Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java
Surya Candra Bhuana
Wejangan Leluhur
Manusia Seutuhnya
Makna dari Ilmu & Pengetahuan (Bagian I)
Peranan Perempuan dalam Skenario Blueprint Pancasila
Kebijaksanaan dari Visi Kepemimpinan
Jati Diri & Rasa
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani
Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)
Berkaca pada Kepolosan Anak-Anak Sebuah Kerukunan Antar Umat Beragama
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
Orbs at Yoga Class
Orbs & Light Beings in Ancient Tribe, Java-Indonesia
Conversation With the Orbs
Seniman Pelukis Tokoh-Tokoh Besar Dunia