Archive for May, 2009

Campur Sari

01 Eling – Eling – Suhyani & Manthous (download)

02 Stasiun Balapan (download)

03 Aryati (download)

04 Kusumaning Ati (download)

Artikel terkait :
Musik/Music
Etnik Musik Nusantara/Nusantara Ethnic Music
Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music
Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Kitab Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan
Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja
Ketika Jawa Bertemu Belanda
Kerajaan Kalingga di India
Kerajaan Kalingga di Jawa Timur
Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah
Medang di Bumi Mataram (sebelum Sailendra)
Kerajaan Panjalu & Jenggala
Kerajaan Kediri
Kerajaan Tumapel
Kerajaan Majapahit, Wilwatikta
Kerajaan Demak
Kerajaan Mataram

Advertisements

Manusia Se-Utuh-nya

Oleh : SKTP

sirius A & sirius B

Manusia tidak akan pernah mendengar bahasa alam karena kabut dunia yang menyelimuti pikiran dan akalnya yang jernih. Pada saat ini yang ada di hadapan kita adalah peristiwa nyata yang terjadi yaitu: alam berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia. Karena manusia terbiasa berdialog dengan ide-ide dan bahkan menyembah pemikiran-pemikiran pada diri mereka sendiri. Tanpa sadar sebenarnya kita telah menciptakan sesuatu ‘bentuk’.

Sesuatu yang disebut ‘bentuk’ pasti awalnya adalah sesuatu yang tanpa bentuk. Sama dengan seorang arsitek pada saat ingin membangun sebuah rumah atau gedung, maka ide-ide itu telah ada dalam pikirannya tapi belum menjadi sebuah bentuk. Dinamakan bentuk adalah sesuatu yang dapat diraba, dilihat, dengan panca indera.

Pernahkah manusia bertanya pada dirinya sendiri, hanya sebatas usaha manusia-kah bentuk itu tercipta? Jika begitu kejadiannya, tidak-kah sebelum manusia itu menciptakan bentuk tersebut, ia berpikir terlebih dahulu untuk apa ia menciptakan itu semua?

Kalau tidak pernah manusia itu berpikir tentang manfaat dari ciptaannya, maka apa gunanya ilmu pengetahuan yang mereka banggakan bagi umat manusia ini? Peperangan, politik, agama yang dimanipulasi, dan hubungan sosial yang tidak pada tempatnya; bukankah itu juga suatu bentuk ciptaan manusia? Akhirnya masing-masing diri menunjukkan keberadaannya dalam bentuk ciptaannya masing-masing.

Pada saat manusia menunjukkan keberadaannya sebagai bentuk makhluk yang sesuai dengan kodratnya maka ia siap mewujudkan diri dengan ‘perbuatan’. Berbuat dengan kemampuan yang dimiliki, mulai dari lahir hingga dapat berjalan lalu beranjak dewasa. Kemampuan merasa, meraba, mencium, melihat dan mendengar akan aktif bekerja hingga menghasilkan suatu perbuatan yang terus berkembang.

Rasa ingin tahu pada diri manusia sangat besar. Mulai dari suatu kesalahan maka manusia tahu akan hal yang benar; mulai dari kegagalan manusia tahu jalan untuk mencapai keberhasilan dan dari hal yang buruk manusia juga tahu tentang hal yang baik. Perkembangan yang dicapai pada diri manusia dalam tahap ini hasilnya adalah ‘kepuasan’.

Perbuatan manusia yang satu dengan lainnya ibarat pantulan cermin. Begitu juga dengan perkataan, pikiran, dan perasaan adalah cermin yang tampak jelas bagi manusia dengan manusia yang lain. Sehingga dengan itu maka terciptalah hubungan yang saling berinteraksi dan saling mengisi dalam arena kehidupan ini.

Alam dunia ini tempat manusia dilahirkan, untuk berbuat dan untuk belajar, bahkan alam dunia juga tempat kematian. Dalam wujudnya alam dunia ini diciptakan seperti bentuk yang memungkinkan manusia melakukan apapun untuk kepuasan atau kenikmatan, bahkan penderitaan dan juga kebahagiaan. Sesuatu yang tampak dalam kenyataan akan berubah setiap saat. Disebabkan hal yang terjadi hanya atas dasar keinginan dan kebutuhan, akhirnya manusia merasa puas dengan segala ‘bentuk’ ciptaannya itu.

Manusia itu mempunyai kuasa dan kehendak dalam dirinya untuk membangun, memelihara, merusak, bahkan kuasa membiarkan. Manusia telah menganggap dirinya adalah pencipta segala sesuatu bentuk yang ada, sehingga manusia lupa akan makhluk yang lainnya yaitu Alam Semesta Raya.

Adakah manusia saat ini berpikir ada sesuatu ‘yang lain’ di dalam dirinya ? Manusia mengenal dirinya sebatas kemampuan yang ia miliki; ini terlihat dari ‘ciri-nya’ yaitu awak, otak dan watak. Awak atau tubuh manusia adalah wadah atau tempat untuk merasakan dalam dirinya akan kebutuhan, keinginan, serta sakit atau penderitaan dan perasaan lainnya.

Otak adalah bagian dari ciri manusia yang sangat berperan. Dengan otak inilah manusia belajar tentang banyak hal di bumi ini sehingga mereka menyerap banyak ilmu pengetahuan yang dipelajarinya secara formal yang diserap oleh panca indera pada tubuh manusia. Otak yang membuat diri manusia menjadi paham tentang ‘maksud atau tujuan’. Akhirnya watak juga yang menentukan keberadaan diri itu melalui pikiran, perasaan, perkataan serta tindakan.

Awak, otak dan watak manusia diterjemahkan dalam wujud tindakan yaitu ‘kata-kata’. Kata-kata tidak lain hanyalah ‘bayangan’ dari kenyataan.

Apabila kata-kata yang merupakan ‘bayangan’ saja dapat menawan hati, betapa mempesona kekuatan kenyataan yang ada di balik bayangan!

Sebenarnya unsur simpati-lah yang merupakan kekuatan kenyataan yang ada di balik kata-kata yang dapat menarik hati satu orang pada orang lain, bukan kata-katanya. Unsur simpati itu pula yang dapat mengguncangkan dan menggelisahkan seseorang. Meskipun begitu, simpati yang memiliki kekuatan dahsyat itu tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Gambaran mental dari segala sesuatu yang hinggap pada otak manusia akan membawanya pada proses kesadaran. Gambaran tentang ‘taman’ akan membawa manusia menuju sebuah taman. Gambaran tentang ‘toko’ akan membawa manusia menuju ke sebuah toko. Tapi ada sesuatu yang tersembunyi dalam gambaran mental tersebut.

Seringkali kita mengalami ketika pergi ke suatu tempat, tiba-tiba saja kita dapati tempat yang kita kunjungi tersebut tidak seperti apa yang ada dalam gambaran kita, dalam citra mental kita.

Ketika mendapati kenyataan ini kita akan merasakan kecewa dan berkata: “Aku pikir tempat ini seindah yang kubayangkan, ternyata biasa-biasa saja”. Ketika itulah citra gambaran kita dihilangkan dan kenyataan muncul tanpa diiringi lagi oleh citra mental.

Maka disitulah terjadi proses penyadaran kembali pada manusia. Kita seakan terbangun dari tidur. Ketika suatu peristiwa terjadi, maka tidak ada kesempatan lagi untuk merasa kecewa. Sebab kesadaran yang membangunkan kita tiada lain adalah kenyataan itu sendiri.

Sesungguhnya pada saat itu manusia sedang belajar dengan dirinya sendiri. Pada hakikatnya yang ‘mempesona’ hanya satu hal, tetapi gambarnya tampak bermacam-macam.

Cobalah kita lihat, tidakkah manusia memiliki ratusan keinginan yang berbeda tentang makanan ? “Aku ingin mie, aku ingin kue, aku ingin bakso, aku ingin nasi goreng”. Begitu banyak gambaran tentang keinginan yang berbeda yang diungkapkan dengan jelas oleh manusia. Meski demikian, asal mula dari segala hal ini hanya satu adalah ‘rasa lapar’.

Lihatlah kembali setelah mereka memakan jatah makanan sesuai dengan keinginannya akan berkata: “aku sudah kenyang”.

Maka pada kenyataannya, sebenarnya tidak ada yang dikatakan sepuluh hal atau seratus hal, yang ada hanyalah ‘satu’. Dengan cara seperti itulah konsep rasa yang sangat halus dalam diri manusia bekerja menghasilkan kecerdasan.

Tetapi siang dan malam manusia disibukkan dengan makanan, hanya karena manusia beralasan bahwa konsep rasa yang halus dalam dirinya dapat memperoleh kehidupan dari badan fisik.

Padahal nyata-nyata konsep rasa yang halus memiliki cara yang berbeda dalam memunculkan sifat kecerdasan.

Kembali kepada awak, otak dan watak manusia yang sebenarnya saling bekerja sama untuk membuat manusia menempuh jalan ‘kesadaran’. Tapi keinginan yang bermacam-macam pada diri manusia membuat nalar tidak dapat bekerja dengan semestinya, semakin jauh dari pemahaman apalagi pengertian.

Manusia-lah yang membuat berbagai alasan untuk keluar dari pemahaman dan pengertian dan menoleh pada agama untuk memperoleh bantuan, karena agama-lah yang dianggap mampu menemukan jawaban. Meski demikian apabila seseorang menghabiskan hidupnya dengan kebodohan tanpa menggunakan nalar maka pemahaman diri akan tumbuh dengan lemah dan tidak akan mampu mengenali kekuatan agama.

Manusia hanya menumbuhkan keberadaan fisik, padahal didalamnya tidak ada kecerdasan apapun. Tidakkah manusia melihat bahwa orang gila memiliki tenaga fisik yang kuat tetapi tidak ada kecerdasan apapun ?

Begitulah mulianya manusia sebagai makhluk di alam dunia atau di bumi ini. Tapi manusia suatu saat akan berkata: “Ada sesuatu yang aku lupakan”. Manusia boleh melupakan apapun, tapi ada satu hal di dunia ini yang tidak boleh dilupakan. Apabila mengingat banyak hal tapi melupakan satu hal ini, maka manusia tidak akan dapat menyelesaikan apapun.

Ibarat seorang raja yang mengirim utusan ke suatu tempat dengan tujuan tertentu, lalu utusan itu pergi dengan melakukan ratusan tugas yang lain, sehingga melupakan tugas yang utama.

“Apabila melupakan tugas utama yang mana untuk itulah engkau dikirim maka sebenarnya engkau tidak melakukan apa-apa”.

Manusia muncul di dunia ini untuk tujuan dan maksud tertentu, apabila tidak memenuhi maksud atau tujuan itu, berarti manusia belum melakukan apa-apa.

“Dan kami telah memuliakan anak Adam”(QS.17:70). Tuhan tidak berfirman “kami telah memuliakan surga dan bumi”.

“Kami menawarkan amanat kepada surga, bumi, gunung dan semua menolak untuk menjalankannya, dan takut kepada tawaran itu. Tetapi manusia berani menjalankannya, sungguh manusia tidak adil kepada dirinya dan bodoh” (QS. 33-72).

Maka sudah menjadi kewajiban manusia untuk melakukan apa yang tidak mampu dilakukan surga, bumi dan gunung. Apabila manusia telah berjanji untuk mampu menyelesaikan amanah dan tugasnya lalu melaksanakan perintah-Nya, maka ke-tidak-adil-an dan ke-bodoh-an yang menjadi sifat manusia akan sirna.

Manusia boleh meragukan dan menyatakan bahwa tanpa menyelesaikan tugas itu, ia telah menyelesaikan banyak tugas yang lain. Tetapi ada manusia lain yang berani mengatakan padamu, bahwa manusia tidak diciptakan untuk pekerjaan yang lain-lain itu.

Bagaikan seseorang yang menemukan sebilah pisau yang bernilai tinggi dalam tumpukan barang harta karun sang raja, tetapi digunakan sebagai parang untuk mecincang daging busuk.  Lalu manusia membenarkan perbuatannya dengan alasan “aku tidak dapat membiarkan pisau ini menganggur, lalu aku menggunakannya untuk sesuatu yang baik”.

Bagaikan engkau menggunakan mangkuk emas untuk memasak lobak, padahal secuil dari pecahan mangkuk emas itu dapat membeli seratus periuk. Seperti engkau menggunakan belati tersepuh permata untuk menggantungkan labu dengan alasan agar belati itu ada manfaatnya.

Tidakkah semua ini menggelikan dan bahkan menyedihkan?

Apabila labu mampu dilayani hanya menggantungnya dengan paku atau pasak kayu yang bernilai uang recehan, mengapa harus menggunakan belati yang berharga ratusan juta untuk maksud seperti itu ?

Tanpa disadari manusia menciptakan ‘nilai’ tentang dirinya tanpa pemahaman dan pengertian dari ‘tata nilai’ diri yang sebenarnya.

“Engkau akan melampaui dunia ini dan hari kemudian dengan suatu ‘nilai’. Apa yang mesti ‘AKU’ lakukan jika engkau tidak mengetahui nilaimu sendiri. Janganlah engkau menjual dirimu dengan harga murah, karena ‘AKU’ ciptakan engkau sangat berharga”.

Begitu mulianya kedudukan manusia dibandingkan makhluk yang lainnya. Manusia menggunakan dalih menyibukkan diri dengan ratusan amal terpuji. Manusia berkata, “aku telah mempelajari ilmu kedokteran, teknologi, keuangan, astronomi, fikih dan berbagai bidang ilmu”. Sesungguhnya apa-apa yang dipelajari semua itu untuk dirimu sendiri.

Manusia mempelajari sistem keamanan untuk menghilangkan ketakutan, mempelajari obat-obatan agar hidup sehat, mempelajari astrologi untuk tanda keberuntungan atau ketidak-beruntungan yang berhubungan dengan pengawasan diri. Pada akhirnya semua ilmu yang dipelajari hanya untuk kepentingan diri sendiri. Setiap ilmu pengetahuan yang dipelajari manusia pada saatnya akan mencapai ‘titik puncak’ keberhasilan masing-masing.

Apabila merenungkan hal ini, akan tersadari bahwa manusia adalah ‘substansi’ dan segala yang dipelajari hanyalah bawahan dari substansi. Sekarang apabila yang ada dibawah dirimu memiliki demikian banyak cabang keajaiban, pertimbangkanlah dirimu yang merupakan substansi, mesti menjadi apa ? Apabila bawahanmu memiliki ‘titik puncak’, tanda keberuntungan dan ketidak-beruntungan, lantas coba pikirkan ‘titik puncak’ apa yang mesti engkau raih?

Kemana manusia akan melangkah setelah tahu dirinya hanya sebagai substansi ? Bagaimana mungkin manusia menghabiskan seluruh kekuatannya hanya untuk mementingkan dirinya sendiri atau kebutuhan fisik semata dan mengabaikan inti dari segala sesuatu ? Sesuatu ‘yang lain’ yang lebih halus. Padahal fenomena material keberadaan diri ini bergantung kepada esensinya.

Sesungguhnya manusia ‘jujur’ adalah manusia yang mau mengakui kelemahan dan kelebihannya. Jika hanya salah satu saja yang diakui oleh manusia maka ia telah membuat sia-sia dirinya sendiri. Manusia telah melupakan makanan lain untuk dirinya dan telah menyibukkan diri dengan makanan dari alam dunia ini. Siang dan malam menyediakan makanan hanya untuk tubuh.

Sekarang renungkanlah ! Tubuh ini adalah kudamu, dan dunia ini adalah pelananya, manusia adalah pengendara yang mengendalikan kuda dengan pelananya. Makanan kuda tidak sama dengan makanan pengendaranya. Seekor kuda mempertahankan dirinya menurut sifat alamnya sendiri. Jika manusia diliputi sifat kebinatangan dan kehewanan maka ia seperti pengendara yang tetap diatas pelana tapi dikendalikan oleh kudanya. Tubuh itu telah menguasainya, manusia mentaati perintah tubuhnya dan menjadi tawanan tubuh itu sendiri.

Maka seperti itulah orang terpelajar pada zaman ini dengan ajaib memahami ilmu pengetahuan.

Mereka telah sempurna belajar memahami hal yang asing yang bukan merupakan perhatian mereka. Tetapi yang benar-benar penting dan terdekat dari semua hal adalah memahami ‘dirinya sendiri’. Betapa orang-orang yang tepelajar tidak mengetahui hal itu.

Sesungguhnya manusia belum mencapai maksud dan tujuannya. Mencari dan terus mencari!!

Seperti seseorang membuat sebuah puisi. Puisi hanyalah cabang tapi yang utama adalah maksud dari puisi itu. Seseorang tidak akan dapat menggubah suatu puisi apabila tidak ada maksud. Demikian juga dengan kata-kata bukanlah hal yang utama tapi maksud dari kata-kata itulah yang utama.

Manusia melakukan sesuatu dengan benar dan wajar karena telah tahu maksud dan tujuannya sehingga apa yang dikerjakan tidak akan sia-sia. Jika seseorang telah mengutamakan maksud atau tujuan maka tidak ada lagi dua sisi yang berbeda. Karena dua sisi yang berbeda berada pada cabang tapi berasal dari akar yang tetap satu.

Persis seperti angin yang berhembus ke dalam rumah, angin akan mengangkat sudut karpet, menerbangkan debu atau menyebabkan cabang pepohonan bergoyang. Semua hal itu tampak berbeda; padahal dari titik pandang maksud, prinsip dan realitas mereka sebenarnya satu yaitu: gerakan mereka semua berasal dari satu angin yang berhembus.

Ada berbagai macam hal dalam diri manusia. Dia adalah seekor tikus, dan dia juga seekor burung. Kadang burung ingin mengangkat kurungannya tapi tikus menariknya kembali ke bawah. Ada ribuan binatang lain dalam diri manusia, sampai dia maju pada satu titik tempat dimana tikus melenyapkan ‘ketikusannya’ dan burung melenyapkan ‘keburungannya’ dan pada titik itu manusia juga melenyapkan sifat kebinatangannya.

Lalu pada akhirnya semua akan disatukan.

Setiap mencari sasaran sebenarnya kita tidak keatas ataupun kebawah. Ketika sasaran ditemukan tidak ada lagi tentang arah atas, bawah, atau depan, belakang. Seperti seseorang kehilangan sesuatu, dia mencarinya kesegala arah, dan ketika benda itu dtemukan maka dia menghentikan pencariannya.

Seperti itulah gambaran tentang ‘hari kebangkitan’ pada manusia. Setiap orang akan melihat dengan satu mata, mendengar dengan satu telinga, berbicara dengan satu lidah dan menyerap dengan satu panca indera. Tapi kebanyakan manusia semangkin tidak mempercayai akan adanya ‘hari kebangkitan’ yang akan terjadi pada setiap diri manusia di muka bumi ini.

Di dunia ini setiap orang disibukkan dengan sesuatu. Sebagian disibukkan dengan cinta, sebagian dengan harta benda, sebagian dengan tahkta dan sebagian dengan ilmu. Tetapi masing-masing orang ‘percaya’ pada kesejahteraan dan kebahagiaan yang akan dicapainya berdasarkan semua itu. Demikian pula halnya tentang percaya pada rahmat Tuhan.

Ketika manusia mulai mencari Tuhan, dia tidak menemukannya lalu menghentikan pencarian. Setelah beristirahat sebentar dia berkata “ rahmat Tuhan itu harus terus dicari, barangkali aku tidak cukup gigih, biar aku coba mencari kembali “. Ketika dia kembali mencari dan masih tidak menemukannya, tapi dia terus mencari hingga sang rahmat membuka diri.

Ketika sampai pada tahap itulah manusia menyadari bahwa sebelumnya dia melakukan pencarian pada jalan yang salah. Meski demikian, Tuhan memiliki beberapa pelayan yang melihat dengan pandangan jernih bahkan sebelum tiba hari kebangkitan.

Manusia akan mencari jawaban pada saat ada pertanyaan. Tetapi wujud alam dunia ini telah menghalangi manusia akan hakikat dari dirinya sendiri. Awak, otak dan watak dikatakan cukup bagi dirinya sebagai modal untuk berjalan dimuka bumi. Padahal itupun hanya bentuk dari yang tersembunyi.

Setiap yang berbentuk pasti akan musnah Renungkanlah hal ini dari dari realitas yang ada disekeliling kita ! Tanpa harus perlu diterangkan dengan ilmiah atau alamiah setiap sesuatu yang mempunyai bentuk pasti akan rusak dan musnah. Tetapi manusia tidak melihat bahwa ada sesuatu bersifat kekal didalam dirinya  yaitu ‘jiwa dan ruh’ nya.

Di dalam dirinya ada ‘diri esensi’ dibalik ‘diri substansi. Jika manusia tidak berusaha untuk mencari diri esensi maka dia akan tetap sebagai diri substansi berarti dia bukan apa-apa.

Sesungguhnya manusia adalah mahluk yang mulia disisi Tuhan karena akalnya. Itulah yang membedakan mahkluk manusia dengan mahkluk ciptaan lainnya. Jika akal berjuang dengan seluruh kemampuannya, namun tidak mampu memahami sesuatu, mengapa dia harus menghentikan usahanya ? Apabila akal menghentikan upaya karena tidak mencapai pemahaman, maka dia bukanlah akal. Karena akal selalu berusaha siang dan malam, tanpa istirahat menyibukkan dirinya dengan ‘pikiran’ untuk memahami sang Pencipta. Sekalipun Sang Pencipta mustahil untuk dipahami dan dibayangkan.

Akal itu diibaratkan seperti binatang ‘laron’ dan kekasih Ilahinya adalah lilin. Ketika laron menerbangkan dirinya menuju lilin, tak dapat dielakkan lagi dia akan terbakar dan hancur. Laron tidak akan mampu menahan nyala lilin, tapi dia tidak perduli. Laron rela untuk menderita terbakar dengan seluruh rasa sakit yang dia rasakan.

Binatang yang tidak mampu menahan nyala lilin dan menerbangkan dirinya kedalam nyala itu adalah ‘laron’.  Lilin adalah tempat laron melemparkan dirinya padanya, tetapi jika tidak mampu membakar laron, ia bukanlah lilin.

Maka, Manusia yang bertahan dalam ketidaktahuannya tentang Tuhan dan tidak berusaha dengan segala usahanya untuk memahami Tuhan maka ia bukanlah manusia. Tuhan yang dapat dipahami manusia bukanlah Tuhan. Manusia sejati tidak akan pernah berhenti berusaha. Dia menunggu tiada henti disekitar  ‘cahaya’ Tuhan yang mengagumkan.

‘Tuhan’ adalah nyala lilin yang ‘membakar’ manusia dan terus menariknya hingga dekat. Tapi kedekatan itu tidak dapat dipahami oleh akal intelektual.

Wahai manusia ! Kalian dengarkah seruan alam ini ? Pada saat manusia terlena dengan segala yang diperbuat maka semesta alam mulai dari bumi, air dan gunung memberi kasih sayangnya pada manusia dengan ‘rasa ingat’. Pada saat terjadi bencana semua  berteriak memanggil Tuhan. Dari mana bencana itu datang ? Mengapa itu disebut bencana ? berkacalah pada diri ini, mengapa ini semua terjadi.

Jangan menyalahkan siapapun karena awalnya manusia sudah berjanji menanggung amanah bagi surga, langit dan bumi. Sebaliknya pada saat manusia sudah menggenggam janji itu, maka surga, langit dan bumi tidak akan mau menanggung kesalahan satu orang manusiapun atas perbuatannya.

Surga adalah kebaikan, Bumi adalah kasih sayang dan Gunung adalah tujuan pendakian. Semua adalah simbol dalam jalan ‘kebenaran’. “Dan tiadalah kehidupan dunia melainkan senda gurau dan main-main,. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenar-benarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” [QS29:64].

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang [kejadian] diri mereka ? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan [tujuan] yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya” [QS30:8].

Tidakkah manusia percaya akan janjiNya ? Tidakkah manusia bertanya yang diciptakan pasti ada yang menciptakan ? Manusia mencipta banyak hal, lalu siapa yang menciptakan manusia ? Apakah semua ada dengan sendirinya? Betapa manusia menjadi penentang yang nyata padahal awalnya hanya dari tanah dan air mani yang hina.

Manusia tidak akan merasa puas dengan apa yang telah didapatkannya. Meskipun disadari bahwa setiap orang tidak dapat dipisahkan dari kebutuhannya. Kebutuhan itu akan lebih dekat pada diri manusia dari pada ayah dan ibunya.

Manusia tidak dapat mengekang dirinya sendiri karena keinginannya mencari kebebasan. Adalah perbuatan yang bodoh jika manusia mencari kebebasan tapi mendekati perbudakan. Menjadi budak dari keinginan dan kebutuhan yang selalu haus dan tidak terpuaskan.

Seluruh pengetahuan pada asalnya dianugrahkan pada Adam, itulah manusia pertama yang dengan akal mengenal dirinya. Disebabkan memakan buah terlarang sehingga manusia dapat mengetahui baik dan buruk yaitu pengetahuan sebab dan akibat.

Dengan pengetahuan sebab dan akibat ini segala hal yang tersembunyi menjadi terlihat melalui jiwanya. Persis seperti air jernih yang menampakkan batu dan tanah liat dibawahnya, dia juga memantulkan setiap benda yang ada diatas pada permukaannya itulah sifat sejati air. Meski demikian, ketika tercampur kotoran atau keruh karena masuknya warna lain, air jernih itu akan kehilangan sifat hakikinya.

Manusia ‘melupakan’ betapa Tuhan telah mengirimkan nabi dan orang suci seperti air jernih. Agar air keruh dan berwarna dapat ‘disapa’ kembali oleh air jernih. Sehingga ia dapat membebaskan dirinya dari kekeruhan dan campuran warna lain. Air keruh itu kemudian mengalami proses pembersihan kembali.

Ketika melihat air jernih yang ‘menyapanya’, air keruh itu menjadi sadar bahwa asal mulanya dia adalah air jernih. Lalu air keruh itu mengenang keadaan diri sebelumnya dan berkata “Inilah aku pada awalnya“. Karena tercampur keruhnya warna air dunia maka manusia melupakan hakikat diri yang sebenarnya.

Setiap manusia tentu memiliki hasrat, kasih sayang, cinta dan kemesraan yang dia tumpahkan terhadap segala hal misalnya kepada; ayah, ibu, anak, sahabat, pengetahuan, makanan dan minuman, juga tentang surga. Dia tidak mengetahui bahwa segala hasrat dan keinginan itu menjadi ‘tirai’ yang menghalanginya.

Ketika seseorang mampu melampaui dunia ini dan melihat Sang Raja tidak tertutup tirai itu, ia akan sadar bahwa seluruh hasrat dunia tersebut adalah ‘tirai yang menutupi’. Sementara apa yang mereka cari pada hakikatnya satu. Dengan adanya kesadaran ini maka semua masalah akan terpecahkan. Seluruh pertanyaan dan kesusahan hati akan terjawab dan akan menjadi jernih.

Permasalahannya adalah, apakah manusia ingin dan berkehendak untuk ‘mendengar’. Karena manusia terbiasa hanya ingin didengar. Pada saat dirinya diuji dengan berbagai masalah yang terus menerus tanpa henti, tapi tetap saja melihat keluar diri dan menyalahkan orang lain. Jika mau ‘mendengar’ suara dari dalam dirinya sendiri maka disitu dia akan mendapat petunjuk bahwa sumber kesalahan ada pada dirinya sendiri.

Segala sesuatu tidak ada yang berasal dari luar diri, tapi pantulan dari dalam memperlihatkan segalanya diluar diri ini. Tabiat, watak dan sifat, berwujud dalam perbuatan. Apapun hasil yang diperoleh adalah tergantung dari bibit yang ditanam. Hasil dari masa kini adalah sebab dari bibit yang ditanam pada masa lalu. Maka tanamlah bibit yang baru dimasa kini agar dapat memperoleh hasil yang baik dimasa mendatang.

Manusia adalah sumber dari sebab dan akibat. Pada saat kita menyadari akibat yang timbul dari perbuatan diri sendiri maka segera akan mencari sebab dan mendapatkan makna sesungguhnya dari setiap masalah kehidupan. Sehingga kita tidak selalu menyalahkan orang lain akan kenyataan yang ada.

Manusia dalam proses kehidupan ini akan belajar dari Hidup itu sendiri yang merupakan sebab adanya alam semesta, langit, bumi dan seluruh isinya ini. Manusia tidak melihat hidup tetapi hanya melihat ‘kehidupan’ yang sebenarnya adalah bayang-bayang dari Hidup. Maka apabila kita hanya melihat bayang-bayang berarti semua adalah fatamorgana yang akan lenyap dan musnah.

Dalam kehidupan ini telah ada keseimbangan. Dalam kesimbangan maka kehidupan ini diatur dalam tatanan sehingga ada keteraturan, berkesinambungan satu sama lain untuk tujuan mencapai keselarasan. Manusia jika ‘sadar diri’ maka dia akan menjaga semua amanah ini dalam melaksanakan kehidupan dimuka bumi. Perbuatan manusia yang tidak sadar dalam ‘cara’ berpikir, merasakan, berkata dan bertindak setiap saat selalu akan merubah tatanan dalam kehidupan ini.

Manusia punya kehendak bebas untuk selalu berubah. Tetapi jika perubahan itu dilakukan dengan perbuatan yang selalu ingin mementingkan dirinya sendiri dan hidup seperti hewan dengan sifat kebinatangannya, maka sangat naïf dan munafik apabila manusia dengan cara seperti itu menginginkan kedamaian akan tercipta dalam kehidupannya.

Kesimbangan akan tetap berjalan sekalipun ada baik dan buruk, ada senang dan susah, ada si miskin dan si kaya ada duka dan bahagia. Ada yang beriman dan tidak beriman, ada yang percaya Tuhan dan tidak ber-Tuhan. Semua itu disebut berpasangan. Tidak akan ada masalah jika selalu berada dalam wilayah keseimbangan. Tetapi apabila salah satu dari yang berpasangan itu melebihi atau melampaui batas dan keluar dari wilayah keseimbangan maka akan tercipta ketidakseimbangan, merusak tatanan kehidupan dan semangkin jauh dari tujuan ‘Hidup’ yang sebenarnya.

Keseimbangan merupakan perangkat keras dari hukum-hukum alam yang tidak bisa dihindari oleh manusia dan semua mahluk dimuka bumi ini. Untuk itulah manusia dibelajarkan tentang yang salah dan benar melalui dirinya sendiri dalam peran yang dijalankan di bumi ini.

“Dan siapa saja melakukan kebaikan sebesar biji sawi maka Allah akan melihat dan membalasnya dan siapa saja yang melakukan kejahatan sebesar biji sawi-pun Allah akan melihatnya dan membalasnya”.

Manusia melakukan ibadah setiap hari dengan adanya ketakutan akan neraka dan harapan akan dapat surga. Manusia berdoa ribuan kali sepanjang hari karena berharap akan terhindar dari bencana. Setelah bencana berlalu manusia akan sibuk kembali dengan dirinya.

Semakin terlihat golongan-golongan manusia yang lebih mencintai harta dunia dari pada nyawa atau nafas hidup. Jadi apa gunanya manusia diberi kesempatan hidup jika tidak lagi menghargai nafas hidup itu sendiri.

Tuhan Maha Semesta Alam memberi nafas hidup pada semua mahkluk agar semua dapat mengisi simfoni kehidupan dan seimbang dengan hukum alam semesta.  Nyawa yang diberikan Tuhan pada manusia membuat apa yang tiada menjadi ada dan bergerak lalu saling terkait. Jika nyawa yang diberi oleh Yang Maha Kuasa itu digunakan hanya untuk mencari harta yang menjadi tolak ukur manusia hidup di bumi ini maka manusia tidak akan pernah kembali pada hakikat diri yang sesungguhnya dan berarti dengan jelas menyia-nyiakan Sang Pemberi Hidup yaitu Tuhan Yang Maha Pencipta.

Bencana serta cobaan yang datang justru akan membawa manusia kembali kepada asal dirinya sebagai mahkluk spiritual yang diturunkan ke alam dunia atau bumi ini untuk menjalani pengalaman hidup sebagai manusia. Tapi manusia yang sudah lupa akan dirinya akan berpikir terbalik bahwa manusia didunia berusaha mencari hakikat dirinya agar menjadi mahkluk spiritual. Manusia sangat suka memutar balikkan segala hal hanya disebabkan manusia itu tidak mau mengakui kenyataan.

Merupakan suatu tantangan pada diri manusia untuk mengakui kenyataan, tetapi manusia yang tidak mau mengakui kenyataan akan berusaha mencari pembenaran karena malu jika dikatakan bodoh atau tidak mampu dalam menjalankan tugas. Semua itu pada hakikatnya adalah menipu diri sendiri.

Sampai waktu tertentu pembenaran akan terkesan sebagai kebijaksanaan tapi jika pembenaran terus dilakukan maka sama saja manusia memelihara bara api dalam hatinya yang suatu saat juga siap membakar dirinya sendiri. Sebab walau bagaimanapun pembenaran yang terkesan kebijaksanaan itu tetap telah menyimpang dari aturan main yang ada.

Kenyataan yang tidak menguntungkan sangat sering kita tutupi agar hidup kelihatannya selalu menyenangkan. Perumpamaannya; seperti matahari menyinari tempat yang gemerlap, tetapi juga memberi sinarnya pada tempat yang dianggap najis. Apakah kita mampu mencegah matahari agar tidak menyinari tempat yang najis itu ? Seperti itulah kenyataan dunia dan kenyataan kehidupan, ada sisi yang baik dan ada sisi yang buruk. Semuanya harus dilihat dan diakui sebagai kenyataan.

Bukankah seperti itu yang terjadi sekarang di negeri kita ini, betapa banyak manusianya yang hidupnya dalam sandiwara dan kepura-puraan karena tidak mau mengakui kenyataan!! Bahkan menyembunyikan kenyataan dengan cara yang keji dengan mengadakan korban sembelihan yaitu kambing hitam.

Kepura-puraan tidak akan pernah abadi dan sandiwara tentu ada akhir, mampukah manusia bermain sandiwara sepanjang hidupnya? Ujung-ujungnya manusia akan kembali pada kenyataan.

Bayangkan jika isi manusia di negeri kita ini sebagian dari masyarakatnya, tokoh-tokohnya, pemimpin daerah dan juga wakil-wakil rakyat, dan pejabat-pejabat Negara yang wataknya terbiasa mengingkari dan tidak mau mengakui kenyataan, apa yang akan terjadi?

Sudah dapat dipastikan bahwa cahaya terang bangsa ini akan berganti dengan kegelapan karena kita tidak lagi menjadi manusia yang bertanggung jawab, berarti kitapun bukan suatu bangsa yang bertanggung jawab.

Beranikah kita mengakui tentang borok-borok yang ada dalam tubuh kita sendiri ? Beranikah kita menghadapi dan mengakui kenyataan ? Sebab hanya dengan kenyataan itu maka kebenaran ditemukan dan masa depan bangsa ini dapat dirancang.

Selagi kita terus berbuat seperti ini tumpang tindih antara pembenaran dengan kepura-puraan dalam menyelesaikan masalah apapun, maka manusia yang ada dan hidup di Bumi Ibu Pertiwi ini hidupnya tidak lagi sejalan dengan hukum keseimbangan Alam Semesta.

Tujuan semua mahluk hidup tanpa terkecuali adalah menuju pada keselarasan dan keserasian demi Hidup itu sendiri yang bersifat kekal dan teratur. Hukum-hukum alam semesta yang merupakan perangkat yang keras bagi kehidupan di bumi ini. Hukum Alam adalah hukum yang tertinggi yang tidak dapat dikompromikan oleh siapapun.

Kita masih terus sibuk menutupi kenyataan dengan pembangunan fisik saja, semestinya  pembangunan jiwa dalam berbangsa dan bernegara yang lebih diutamakan saat ini.

Akal dan nafsu selalu hidup dan berkembang sesuai dengan tuntutan jaman. Hadirnya persaingan tidak mustahil akan membawa manusia kepada perbuatan-perbuatan yang merusak jiwa dan bhatin. Manusia bisa kehilangan kejujuran, kesabaran, dan rasa tanggung jawab. Manusia oleh dorongan nafsunya tidak akan terasa telah mengotori fitrahnya.

“Manusia se-utuh-nya adalah manusia yang belajar dari kenyataan, sedangkan manusia se-butuh-nya adalah yang belajar dari pembenaran“.

Kami yakin diantara para pembaca yang mengerti isi dan maksud dari penulisan ini akan dituntun jiwanya dan mendapat petunjuk terang. Menjadi manusia seutuhnya akan membawa jiwa pada kemenangan abadi. Alam jiwa adalah alam terang cemerlang ! Sedangkan raga akan membusuk berkalang tanah.

Akhir dari segalanya di dunia ini adalah kematian serta bertanggung jawab atas segala perbuatan selama kita hidup di muka bumi ini di hadapan Yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa.

* * *

Wejangan terkait :

Wejangan Leluhur
Kehidupan
Makna dari Ilmu & Pengetahuan (Bagian I)
Manusia dan Fitrahnya
Peranan Perempuan dalam Skenario Blueprint Pancasila
Kebijaksanaan dari Visi Kepemimpinan
Jati Diri & Rasa
Berkaca pada Anak-Anak sebuah Kerukunan Antar Umat Beragama
Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious
Garuda Pancasila
Bhinneka Tunggal Ika
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
Proyeksi Nusantara
Kesadaran Kosmik & Zona Photon
19 Unsur Proses Perjalanan Rohani
The Gaia Project 2012 (Indonesia)
The Gaia Project 2012 (English)
Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)
Yoga Class
Pengertian Yoga
Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh
Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul
Orbs at Yoga Class
Conversation with the ORBS

Gendhing

01 Bawa Dhandhang Gula (download)

02 Harjuna Mangsah (download)

03 Agun-Agun (download)

04 Sigra Mangsah (download)

* * *

Artikel terkait :
Musik/Music
Musik Ethnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music
Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music
Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Kitab Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan
Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja
Ketika Jawa Bertemu Belanda
Kerajaan Kalingga di India
Kerajaan Kalingga di Jawa Timur
Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah
Medang di Bumi Mataram (sebelum Sailendra)
Kerajaan Panjalu & Jenggala
Kerajaan Kediri
Kerajaan Tumapel
Kerajaan Majapahit, Wilwatikta
Kerajaan Demak
Kerajaan Mataram

Brownies Mama

brownies keju besar

Brownies Mama

” Enak & Lezat………Hmmm……Yummi “

Contact :

  • (021) 99283686
  • 08567880836

website: artshangkala.wordpress.com

email: wulansari1982@gmail.com

Tersedia dalam varian & harga :

  • Keju besar      Rp 45.000,-
  • Coklat besar  Rp 40.000,-
  • Keju kecil        Rp 28.000,-
  • Coklat kecil    Rp 25.000,-

Order :

  • Area Order : Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi)
  • Minimal Order : Rp 100.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
  • Ongkos kirim :

* Masih wilayah Jakarta Timur = Rp 25.000,-

* Di luar Jakarta Timur                = Rp 45.000,-

  • Pemesanan sebaiknya dilakukan minimal 3 (tiga) hari sebelumnya.
  • Pembayaran melalui Bank Mandiri cabang Jatinegara a/n Wulan Sari Kusumaningrum dengan nomor rekening: 006-0000-43-00-11.

Catatan Cantik :

Brownies mama dibuat dari bahan pilihan yang bermutu dan tanpa pengawet. Bila disimpan di dalam kulkas akan bertahan 1 (satu) minggu. Bila di tempat teduh akan bertahan 3 (tiga) hari.

brownies coklat kecil

* * *

Artikel terkait :

 

 

Pudding Qta
Nasi goreng Bala-Bala
Soto Mang Djunaedi
Teri Fish & Honey Fried Rice

Kacapi Suling – L.S Gelik

01 Bubuy Bulan (download)

02 Cinta (download)

03 Aduh Manis (download)

04 Es Lilin (download)

* * *

Artikel terkait :
Musik/Music
Musik Etnik Nusantara/Ethnic Music Nusantara
Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music
Ki Sunda di Tatar Sunda – Indonesia
Ki Sunda di Tatar Sunda
Menapaki Perjalanan Sunda
Kalender Sunda & Revisi Sejarah
Makanan Sunda
Susunan Warna Kasundaan
Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda
15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Kitab Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan
Dalam Kenangan, Abah Ali SastramidjajaPrasasti Batu Tulis Bogor
Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Perbedaan Batu Tulis, Petilasan & Makam
The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb
Kebon Raya Bogor
Kerajaan Salakanagara
Kerajaan Tarumanagara
Kerajaaan Indraprahasta
Kerajaan Kendan
Kerajaan Galuh
Kerajaan Sunda
Wangsa Sanjaya
Kerajaan Saunggalah
Kerajaan Sumedang Larang
Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia
Kerajaan Banten
Kerajaan Talaga
Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh

Wejangan Leluhur

Oleh : SKTP

solar eclipse

Panca Sila adalah hasil dari penggalian yang sedalam-dalamnya di dalam jiwa rakyat  Nusantara sendiri. Di dalam Panca Sila ada dua sifat, yaitu statis dan dinamis. Statis tujuannya mempersatukan, dan dinamis tujuannya tuntunan atau arah perjalanan bangsa Indonesia sendiri. Dasar yang statis harus terdiri dari elemen-elemen di mana “di dalamnya ada jiwa Indonesia”. Kalau kita tidak mempersatukan elemen-elemen jiwa Indonesia, maka tidak mungkin dibangun dasar untuk negara Indonesia dengan jiwa bangsa Indonesia.

Saat ini semua berubah, kita telah memasukkan elemen-elemen asing ke dalam jiwa bangsa Indonesia, maka ini tidak akan menjadi dasar yang sehat dan kuat, apalagi untuk mempersatukan jiwa rakyat Indonesia. Sadar atau tidak sadar, kita telah melanggar hukum alam dalam jiwa bangsa ini sendiri. Karena hakekat dan jiwa kaum dan bangsa ini, yang telah dipersatukan dalam satu wadah yang diberi nama bangsa Indonesia, telah dilanggar dari segala elemen-elemen yang bukan jiwanya sendiri.

Pada saat catatan dibuka, bahwa para leluhur bangsa ini telah mempersatukan jiwa-jiwa manusia yang ada dalam ketertindasan dijajah oleh bangsa asing, dan dengan semangat kesatuan, jiwa yang memiliki semangat ingin merdeka.

Kesatuan tekad yang penuh dengan air mata dan darah, membawa sekelompok manusia bersatu menjadi satu bangsa, satu kata dalam satu jiwa, satu negara Indonesia, wujud dari kesatuan jiwa kaum dan bangsa ini.

Panca Sila ada, bukan lahir karena insiden, tapi lahir dari nilai perjalanan historis bangsa ini. Perjalanan sejarah bangsa ini selama di bawah kekuasaan dan kekejaman kolonialisme dan imperialisme, telah membentuk “jiwa persatuan” mempersatukan segenap tenaga, pikiran dan tekad dalam satu perbuatan untuk merdeka, dan mendirikan negara dengan menumbangkan penjajahan dan imperialisme. Pada zaman sebelum atau sesudah kolonialisme, kita memang memiliki bibit-bibit nasional borjuis.

Kita juga mempersiapkan diri untuk mempertahankan negara yang kita dirikan, yang suatu saat kelak menjadi benteng “pertahanan negara” dari serangan imperialisme itu.

Dengan adanya segenap tenaga revolusioner yang ada di dalam jiwa rakyat Indonesia, maka oleh karenanya pada tanggal 17 Agustus 1945 kita dapat mengadakan Proklamasi. Karena persatuan jiwalah kita dapat mempertahankannya.

Sekarang ini persatuan itu terganggu, sehingga kita kembali berikhtiar mengumpulkan jiwa-jiwa revolusioner untuk memperbaiki keretakan-keretakan tubuh dari bangsa Indonesia ini. Setelah itu, kami semua para pendahulumu, yang mempersiapkan dasar dan negara yang telah didirikan. Di atas dasar itulah maka segenap rakyat dipersatukan pada saat itu. Maka lahirlah Panca Sila, yang memberi nilai sejarah bangsa ini.

Nilai luhur Panca Sila adalah mempersatukan dan memberi arah bagi kehidupan negara kita ini. Nilai statis dari Panca Sila adalah persatuan, dan nilai dinamis adalah kearah mana kita harus berjalan sebagai bangsa dan negara. Panca Sila diciptakan dari “jiwa persatuan”. Panca Sila diciptakan untuk mempersatukan jiwa-jiwa rakyat ini menjadi “jiwa bangsa”, lalu “jiwa negara”. Kekuatan energi dari jiwa-jiwa para leluhurmu yang menciptakan Panca Sila.

Apakah anak-anak bangsa sebagai penerus kami sudah mengamalkannya ? Apakah pemimpin-pemimpin bangsa sekarang ini sudah mengamalkannya ? Jujurlah dalam bersikap, tanyakan pada dirimu sebagai anak bangsa. Jika sudah tidak ada lagi kemauan dan kehendak untuk mengamalkan Panca Sila yang lahir dari energi jiwa-jiwa para leluhur bangsa ini, maka tidak akan ada lagi Indonesia.

Jiwa-jiwa anak bangsa akan gentayangan sendiri-sendiri tanpa tuntunan dan arah, kehilangan cahaya sebagai petunjuk terang suatu bangsa. Maka tunggulah, dan semua akan ada pembuktian sebagai peringatan keras bagi kaum dan bangsa ini.

Kumpulan manusia adalah kumpulan dari satu jiwa, bukan sekedar kumpulan kursi yang disejajarkan di dalam gedung-gedung perwakilan rakyat dan pemerintah. Mereka yang duduk disitu harus mempunyai jiwa Ketuhanan, jiwa Kemanusiaan, jiwa Kebangsaan, jiwa Kedaulatan Rakyat, dan jiwa ber-Keadilan. Jika tidak, wakil-wakil rakyat itu tidak akan lebih dari kursi-kursi yang disejajarkan itu, tanpa energi jiwa, seakan Mati Rasa.

Sudahkah kita menghayati Sila Ketuhanan yang sebenarnya ? Sila Ketuhanan dalam Panca Sila bukan sekedar barang yang diucapkan saja, tapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bangsa. Adanya agama yang berbeda dalam satu bangsa bisa menjadi rukun beragama sesuai kepercayaaan masing-masing, karena adanya rasa Kebangsaan Indonesia. Dalam negara harus ada perbedaan yang harus dipertegas antara keperluan negara sebagai “negara” dan urusan agama.

Fakta yang terjadi sekarang dilihat dengan mata telanjang tetapi menggunakan akal yang gelap. Semuanya dicampur-adukkan antara urusan agama dan urusan negara, sehingga lunturlah nilai Ketuhanan yang ada pada bangsa ini.

Inipun akibat dari pelanggaran hukum alam pada jiwa bangsa yang telah memasukkan jiwa-jiwa paham asing ke dalam jiwa-jiwa bangsa Indonesia sendiri. Mereka lupa bahwa adanya kepercayaan ber-Tuhan pada bangsa ini juga ada dalam sejarah perjalanan bangsa ini sebelumnya. Jiwa bangsa ini sudah tidak lagi menyatu dalam Ketuhanan yang sebenarnya.

Bangsa ini sudah lahir semenjak kalian belum ada di dunia. Bangsa ini ada sejak zaman pra-Hindu, yang sudah mempunyai kultur dan bercita-cita. Bangsa ini sebelum kedatangan orang Hindu sudah mahir dalam tanam padi secara sistem sawah. Jangan dikira itu hasil dari pembawaan oleh orang Hindu. Tidak! Sudah sebelumnya.

Alfabet Ha-Na-Ca-Ra-Ka-Da-Ta-Sa-Wa-La, jangan dikira itu dibawa oleh orang Hindu. Wayang kulit-pun bukan dibawa oleh orang Hindu. Orang Hindu hanya memperkaya wayang kulit dengan tambahan lakon Mahabarata dan Ramayana. Tapi kita sudah lebih dahulu punya wayang kulit, tetapi belum ada tambahan lakon Mahabarata dan Ramayana. Yang ada Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Dawala dan Cepot. Lakon lain, yang datang di luar punya kita itu, hanya memperkaya wayang kulit.

Jadi jika kita umpamakan sejarah perjalanan bangsa ini seperti istilah bersaf-saf (saf: barisan ketika shalat berjama’ah – redaksi). Saf pra-Hindu yang sudah berbudaya dan beradab bukan buaya dan biadab. Saf berikutnya, saf Hindu, datang dalam bidang politik berupa negara Taruna, negara Kalingga, negara Sanjaya, negara Empu Sendok, negara Kutai, dll.

Lalu datang lagi saf berikutnya, zaman kita menganut Islam : negara Demak Bintoro, negara Pajang, negara Mataram kedua. Lalu datang lagi saf berikutnya, saf kolonialisme dan imperialisme.

Tapi dari semua fase yang ada dalam perjalanan sejarah, bangsa ini selalu hidup dalam alam pemujaaan. Ke dalam itulah ia menaruhkan segenap harapan dan kepercayaannya dalam ber-Tuhan. Maka proses bangsa ini dalam mencari nilai-nilai Ketuhanan juga ada dalam sejarah manusia di bumi ini, yang telah kita lupakan bahkan telah membuangnya ke tempat sampah yang kotor.

Kita harus melihat sejarah manusia yang berangkat dari alam pikiran manusia di segala zaman itu. Dipengaruhi oleh cara hidupnya yaitu bagaimana cara manusia mencari hidup, mempertahankan hidup dan memelihara hidup. Ini semua mempengaruhi alam pikiran manusia yang juga mempengaruhi alam persembahannya dalam Ketuhanan.

Fase pertama : gambaran manusia nomaden yang mengira Tuhan itu guntur, Tuhan itu adalah angin, Tuhan adalah air. Maka tradisi di India, sungai Gangga sampai saat ini disucikan. Dan di bagian Jawa, ada istilah lampor. Kalau ada angin dari selatan bertiup kencang, orang berteriak : “lampor-lampor!”

Fase kedua : manusia hidup dari peternakan, pindah bentuk lagi dalam Ketuhanan, beralih kepada bentuk binatang. Bangsa Mesir pada saat itu menyembah sapi, namanya Apis; burung, namanya Osiris; di India, sapi.

Fase ketiga : manusia hidup dari pertanian, maka pindah pula cara memahami Ketuhanan, yaitu pemujaan kepada sesuatu unsur yang menguasai pertanian. Timbul Dewi Laksmi, Dewi Sri, Dewi Sari Pohaci di tanah Pasundan. Pada saat musim tanam lantas memohon pada dewi-dewi tersebut. Bentuk Ketuhanan sudah digambarkan dalam bentuk manusia berupa gambar dewa-dewi, berbeda dengan alam pikiran manusia yang pertama dan kedua, belum ada bentuk manusia.

Fase keempat : manusia hidup sudah bisa menciptakan alat. Siapa yang menjadi penentu daripada pembuatan alat ini ? Penentunya ialah akal. Akal-lah yang membuat sabit, bajak dsb. Berpindahlah pikiran manusia pada Ketuhanan yang tadinya berupa batu, pindah ke sapi, lalu pindah berupa dewi. Maka dalam fase keempat menjadi gaib, tidak bisa dilihat dan tidak bisa diraba, yaitu akal.

Fase terakhir : alam industrialisme, maka sebagian manusia merasa dirinya adalah Tuhan. Apa yang tidak bisa dibayangkan oleh manusia pada alam industrialis ini ? Mau petir ? Manusia bisa bikin petir : aku bikin menara tinggi, aku isi dengan elektrik sekian milyar volt, aku buka stroom lalu aku jadikan petir. Mau hujan ? Aku bisa. Mau keluar dari bumi ini ke planet lain ? Aku bisa, aku akan menguasai bulan. Aku bisa, aku kuasa, aku ciptakan senjata. Aku bunuh manusia, aku matikan musuh-musuhku, aku bisa. Hingga mereka mengatakan bahwa aku Tuhan ! Begitulah cara hidup di alam industrialisme, semua adalah “aku – aku” : Ego!

Itulah semua sejarah manusia tentang Tuhan, yang dalam alam pikirannya bergantung kepada cara hidupnya ! Maka para pendahulu atau leluhur dari kaum dan bangsa ini membuat dan menjadikan Sila Pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Diselami sedalam-dalamnya sejarah peradaban manusia dengan cara hidupnya, yang sebagian besar dari masyarakat agraris atau pertanian yang sampai saat ini masih ada kepercayaan tentang Dewi Sri, Sari Pohaci, yang masih dilestarikan dalam budaya bangsa ini untuk mengingatkan manusia tentang nilai-nilai dan Ketuhanan itu sendiri.

Jadi masyarakat kaum dan bangsa ini masih ada dalam fase ketiga, keempat dan kelima, yaitu alam industrialisme, yang itu bukan lagi corak dari cara hidup manusia Indonesia yang sebenarnya. Tingkat cara hidup masyarakat kita secara umum adalah agraris, tapi kita mulai melangkah ke arah industrialisme. Dari tingkat cara hidup bangsa Indonesia inilah maka kita mengikat satu kepercayaan, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Aku (……..) leluhur dari kaum dan bangsa ini, mengingatkan dan menurunkan catatan dari perjalanan bangsa ini. Bahwa aku percaya Tuhan Yang Maha Esa, Dia ada dan nyata. Selagi hidup di dunia ini, aku sering mendapat peringatan berupa impian. Dan jika impian itu aku rasakan dalam rasa, keesokan harinya akan terjadi. Bagi orang lain mungkin terjadinya nanti atau bulan depan. Bagiku pribadi, kalau aku bermimpi, pasti esok terjadi. Hal ini membawa keyakinan padaku bahwa Tuhan ada dan nyata.

Dengan dasar utama dari Ketuhanan Yang Maha Esa ini kita akan menjadi bangsa yang besar dan melaksanakan kebajikan. Untuk itulah Sila Ketuhanan dimasukkan dengan jelas, nyata dan tegas. Dari Sila Utama, jiwa bangsa terus berevolusi menyelami nilai kedua, ketiga, keempat dan kelima untuk diamalkan.

Tetapi saat ini, Sila yang Utama sudah dilupakan. Bagaimana langkah evolusi jiwa bangsa ini, untuk bisa menuju ke perjalanan jiwa berikutnya?! Ibarat Sila Ketuhanan adalah Roh yang Terang – Hidup yang menghidupi jiwa-jiwa dalam ber-perikemanusiaan, ber-bangsa, jiwa kedaulatan rakyat dan jiwa ber-keadilan.

Dalam perjalanan sejarah manusia yang mencari Tuhan, tidak ada yang saling membunuh sesama manusia karena kepercayaan dan keyakinan yang disebut agama. Dulu manusia membunuh karena wilayah kekuasaan, karena rasa memiliki dan nafsu saling menguasai. Tapi bangsa ini sudah melebihi batas-batas kemanusiaan sehingga membunuh bangsanya sendiri, dan membuat aturan-aturan yang mengganggu kebebasan dan hak dalam menjalankan ibadah agamanya masing-masing.

Bangsa ini tidak lagi belajar dari sejarah yang ada dan selalu hidup, karena bangsa ini hidup dari sejarah itu sendiri. Negara dan agama, tidak ada aturan-aturan yang jelas dan tegas. Sehingga negara diatur oleh agama, dan agama diatur oleh negara.

Lihatlah para ulama yang nyata-nyata berpolitik dan merubah fungsi ulama menjadi pemimpin negara, sehingga rebutan untuk menjadi pemimpin, mulai dari kaum cendekiawan sampai ulama. Tidak ada lagi penasehat-pensehat yang memberi “aturan benar dan wajar” dalam kehidupan ber-bangsa dan ber-negara. Orang-orang dibiarkan bertindak sewenang-wenang karena mengatasnamakan agama. Pemimpin-pemimpin bangsa ini membiarkan kezaliman yang berkedok agama. Karena negara tidak lagi dianggap sebagai kekuatan dan alat kekuasaan. Karena pemimpin rakyat dan bangsa ini tidak punya “jiwa kepemimpinan Panca Sila”.

Jika agama dijadikan alat kekuasaan pada bangsa ini, maka ketahuilah : kaum dan bangsa ini telah benar-benar melampaui batas dan harus membayar dengan harga mahal. Secara prinsip dalam Ketuhanan yang sesungguhnya, bahwa bangsa ini melanggar hukum alam dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Para suci terdahulu, mulai dari para Budha, para Nabi dan Rasul serta para Wali-wali Agung terdahulu mengatakan : “Cintailah Tuhan di atas segala hal dan cintai sesama manusia seperti kamu mencintai dirimu”.

Tapi tidakkah kita menyadari bahwa dari segi Peri-Kemanusiaan kita sudah melanggarnya?! Begitupun dari segi Kebangsaan yang satu jiwa, yang diwariskan oleh para leluhur bangsa dengan tebusan darah, tidak ada lagi dalam catatan anak bangsa ini.

Banyak anak-anak bangsa yang pintar, bersekolah, berpendidikan di Amerika, di Eropa, di luar negeri, pulang dan bekerja untuk bangsanya. Tapi sangat disayangkan, banyak yang kehilangan “jiwa anak bangsa Indonesia”, sehingga pulang dengan membawa “jiwa asing”, membela kepentingan asing, membawa elemen-elemen asing, dan tidak lagi menyumbangkan ilmu yang digali di luar negeri kepada rakyat dalam tujuan mencerdaskan bangsa sendiri. Anak bangsa menimba ilmu di negara orang, tapi sekarang hasil dari ini semua apa? Lihatlah! Utang negara menumpuk, korupsi melampaui batas, perebutan kekuasaan tanpa pengetahuan di bidangnya.

Untuk siapa anak bangsa ini bekerja? Untuk bangsa dan negara ini? Atau untuk bangsa asing? Jika kita bekerja untuk bangsa dan negara Indonesia harus dengan dengan jiwa Indonesia. Jika dengan “jiwa asing”, elemen-elemen asing bekerja untuk bangsa-rakyat Indonesia, jangan bermimpi tentang Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera. Karena kami para leluhur bangsa ini menjadikan Indonesia yang merdeka, bukan dari “jiwa dan elemen asing”, tapi dari jiwa bangsa dan kultur serta karakter rakyat Nusantara yang sesuai dengan budaya dan manusianya. Justru bangsa Indonesia ini lahir karena jiwa-jiwa rakyat pada saat berjuang untuk mengusir jiwa-jiwa asing yang ingin menguasai tanah leluhur dan kekayaan bangsa ini, dari penjajahan dan imperialisme asing. Sekarang semua ini digadaikan kepada jiwa-jiwa asing.

Akibatnya tanpa disadari, jiwa-jiwa bangkit dari kemarahan dengan berbagai masalahnya, yang sebenarnya adalah wujud dari kemarahan dan jiwa-jiwa anak bangsa yang juga merupakan wujud dari kekecewaan para leluhur bangsa ini yang tidak lagi mau dijajah oleh jiwa-jiwa dan elemen-elemen asing, yang berkedok mengatasnamakan anak-anak bangsa, bekerja untuk bangsa dan rakyat serta negara. Semua itu dusta!

Lihat undang-undang yang lahir dari perwakilan rakyat dan pemerintah ini, apakah sesuai dengan jiwa bangsa ini? Tetapi sesuai dengan jiwa-jiwa asing dan elemen-elemen yang berkedok anak bangsa. Mulai dari segi ekonomi, sosial, budaya, politik, telah dirasuki oleh elemen asing dan jiwa asing.

Yang membuat sedih para leluhur bangsa ini, kehidupan ber-agama dan ber-Ketuhanan-pun telah dirasuki oleh jiwa asing. Sudah jauh tersesat dalam kultur dan karakter jiwa bangsa Indonesia yang sesungguhnya, dalam menerapkan nilai-nilai agama berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Jika agama sudah saling menguasai dalam kehidupan suatu bangsa, maka tunggulah kehancuran itu. Kalian yang menginginkannya!

Tidakkah melihat dan bercermin pada negara yang sekarang sedang bertikai dalam suatu agama yang akibatnya manusia saling membunuh, padahal mereka memeluk agama yang sama tetapi berbeda aliran?! Apakah seperti itu yang harus ditiru?! Seolah kita kehilangan jati diri sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya untuk saling menghargai, walaupun berbeda agama tetapi satu. Maka sadarlah, setiap kaum mempunyai cara dalam menjalankan nilai-nilai Ketuhanan dan keyakinannya. Setiap individu punya tanggung jawab sendiri dengan Tuhannya. Jangan lagi ada agama dalam politik atau politik dalam agama. Jika ini terus dilakukan, terimalah akibatnya, karena pemimpin bangsa ini membiarkan sebagian kecil orang mengatasnamakan agama dan mengatur kehidupan ber-negara.

Maka kelak kalian akan mengetahui. Hukum alam akan berlaku bagi semuanya tanpa memilih. Semua sesuai dengan perbuatannya, dengan hukum-hukum alam tertinggi. Maka manusia akan diajarkan untuk mengetahui mana yang benar dan wajar. Siapa yang menanam, maka dia juga yang akan menuai hasilnya. Jangan mengira dalam angan-angan tanpa pengetahuan, bahwa para leluhur pendiri bangsa ini sudah mati. Kami hidup dalam pemikiran-pemikiran dan energi alam semesta yang mengalir pada anak-anak pilihan untuk meneruskan perjuangan dan mengukir sejarah dalam perjalanan bangsa ini yang masih belum terselesaikan, yaitu satu bangsa yang besar akan jaya, aman, sentausa, adil makmur dan sejahteraCamkan ini wahai anak bangsa!! Tak ada kemiskinan, ketertindasan dan kebodohan karena bumi yang kalian pijak kaya dan subur, kalian yang menyianyiakan. Kalian yang menggadaikan kebebasan pada jiwa-jiwa asing sehingga merasa terus tertindas. Kalian yang tidak menggunakan akal sehat dan pikiran yang jernih sehingga kebodohan bukan karena semata pendidikan tapi akal yang gelap, pikiran yang kerdil, itulah yang utama dari kebodohan.Camkan ini wahai anak bangsa!! Tak ada kemiskinan, ketertindasan dan kebodohan karena bumi yang kalian pijak kaya dan subur, kalian yang menyianyiakan. Kalian yang menggadaikan kebebasan pada jiwa-jiwa asing sehingga merasa terus tertindas. Kalian yang tidak menggunakan akal sehat dan pikiran yang jernih sehingga kebodohan bukan karena semata pendidikan tapi akal yang gelap, pikiran yang kerdil, itulah yang utama dari kebodohan.

Camkan ini wahai anak bangsa!! Tak ada kemiskinan, ketertindasan dan kebodohan karena bumi yang kalian pijak kaya dan subur, kalian yang menyianyiakan. Kalian yang menggadaikan kebebasan pada jiwa-jiwa asing sehingga merasa terus tertindas. Kalian yang tidak menggunakan akal sehat dan pikiran yang jernih sehingga kebodohan bukan karena semata pendidikan tapi akal yang gelap, pikiran yang kerdil, itulah yang utama dari kebodohan.

Camkan ini wahai anak bangsa!! Tak ada kemiskinan, ketertindasan dan kebodohan karena bumi yang kalian pijak kaya dan subur, kalian yang menyianyiakan. Kalian yang menggadaikan kebebasan pada jiwa-jiwa asing sehingga merasa terus tertindas. Kalian yang tidak menggunakan akal sehat dan pikiran yang jernih sehingga kebodohan bukan karena semata pendidikan tapi akal yang gelap, pikiran yang kerdil, itulah yang utama dari kebodohan.

Camkan ini wahai anak bangsa!! Tak ada kemiskinan, ketertindasan dan kebodohan karena bumi yang kalian pijak kaya dan subur, kalian yang menyianyiakan. Kalian yang menggadaikan kebebasan pada jiwa-jiwa asing sehingga merasa terus tertindas. Kalian yang tidak menggunakan akal sehat dan pikiran yang jernih sehingga kebodohan bukan semata karena pendidikan, tapi akal yang gelap, pikiran yang kerdil, itulah yang utama dari kebodohan.

Sekarang! Berbarislah wahai anak bangsa yang memang dipilih dan terpilih untuk berbuat benar dan wajar! Dalam barisan saling menasehati tanpa pilih kasih tapi saling mengasihi. Dengan ini maka pengkhianatan akan tersingkir dan orang-orang yang masuk dalam barisan ini adalah seleksi dari alam semesta, yang sayang dan selalu memberi kepada kaum dan bangsa ini. Jangan melangkah ragu dan setengah jiwa seperti sekarang ini!

Contohnya, kita mengarah pada sistim demokrasi. Demokrasi yang mana? Apakah sesuai dengan jiwa bangsa ini? Jika demokrasi yang kita jalankan hanya di bidang politik berarti itu meniru demokrasi jiwa asing. Alat untuk mencapai tujuan bentuk dari suatu masyarakat tidak selalu dengan sistem demokrasi. Jangan jalankan demokrasi jiplakan dari jiwa asing! Ciptakan demokrasi yang ada dalam jiwa Nusantara, bukan hanya demokrasi politik tapi juga bidang ekonomi, sosial dan budaya. Demokrasi yang mengalir dalam jiwa bangsa ini.

Demokrasi Indonesia bukan demokrasi asing. Kalian akan saksikan pada saat jiwa asing Amerika, Eropa, memaksakan kehendak demokrasi dengan berbagai tujuan kepada masyarakat Irak. Apa yang terjadi? Berpuluh-puluh tahun nasib bangsa Irak akan terombang-ambing karena demokrasi jiwa asing merasuki jiwa bangsa Irak dan tidak sesuai dengan jiwa masyarakatnya. Perang saudara akan membinasakan kaum Irak sendiri. Betapapun kejamnya seorang Saddam Hussein, ia lebih mengerti karakter dan jiwa bangsa Irak daripada negara Eropa atau Amerika. Untuk itulah Saddam Hussein dipilih alam semesta untuk memimpin bangsa Irak dengan jiwa dan karakter yang sesuai sebagai anak bangsa itu sendiri.

Demokrasi jiplakan asing adalah demokrasi yang dalam bidang sejarah, ekonomi, masyarakat dan politik, adalah sekadar ideologi suatu masa atau satu periode saja. Sebelum adanya demokrasi Eropa barat dan Amerika, berjalan suatu sistem feodalisme. Artinya suatu pemerintahan yang ditentukan oleh Raja. Maka pada suatu ketika terjadi perubahan dalam alam pemikiran, alam penghidupan dan kehidupan masyarakat Eropa yang membawa perubahan pada alam ideologi masyarakatnya. Maka menjadi masyarakat yang materialis disebabkan karena kapitalisme yang sedang naik daun. Jadi sistem demokrasi ada karena kapitalisme yang sedang naik daun.

Kita bukan masyarakat kapitalis, kita tidak menghendaki kapitalisme. Tetapi kita menghendaki yang sesuai dengan Sila dari Pancasila yang kelima, masyarakat ber-Keadilan Sosial. Tidak bisa menggunakan sistem demokrasi itu sebagai alat dalam masyarakat yang ber-Keadilan Sosial. Apakah kita sudah menjadi bentuk masyarakat yang hidup dalam materialisme dan kapitalisme?!

Siapa yang menciptakan bentuk masyarakat seperti ini ? Pada saat kapitalisme naik daun maka di Eropa para buruh yang semakin terorganisir akan menuntut dan kekuasaan kaum buruh juga naik. Pada suatu saat secara alamiah pikiran politik dan sistem demokrasi akan membahayakan kaum kapitalis. Maka dengan adanya alasan dari kaum kapitalis bahwa sistem demokrasi tidak cocok diterapkan, maka kapitalisme mempergunakan fasisme. Tidak ada perlawanan buruh dalam parlemen. Tetapi kekuasaan ada di tangan diktator.

Ini sekadar gambaran dari bentuk-bentuk masyarakat materialis karena faham kapitalisme, belajar dari sejarah materialisme. Dan produk dari kapitalisme melahirkan banyak cacat-cacat dalam sistem demokrasi jiwa asing atau jiplakan itu.

Maka sebagai bangsa Indonesia yang memikul amanat penderitaan rakyat, memikul kewajiban untuk menyelenggarakan suatu masyarakat yang bukan masyarakat kapitalis tetapi masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera; cara berpikir ala demokrasi yang hanya di bidang politik saja harus ditinggalkan.

Seluruh rakyat Indonesia meletakkan sesuatu di atas kepribadian bangsa Indonesia sendiri. Maka demokrasi yang harus dijalankan adalah demokrasi Indonesia yang mempunyai kepribadian bangsa Indonesia. Jika tidak demikian maka kita tidak dapat menyelenggarakan apa yang menjadi amanat penderitaan dari rakyat itu sendiri.

Demokrasi Indonesia bukan sebagai alat teknis seperti demokrasi jiwa asing. Tetapi sebagai suatu alam jiwa, pemikiran dan perasaan kita. Kita harus meletakkan alam jiwa, pemikiran dan perasaan kita di atas kepribadian kita sendiri, di atas penyelenggaraan cita-cita suatu masyarakat yang adil dan makmur, yang sudah jelas tidak bisa dengan demokrasi seperti cara sekarang ini. Kita jangan dibodohi oleh alam pemikiran yang bukan alam kepribadian bangsa kita sendiri.

Suatu saat kalian akan menjadi saksi bahwa negara demokrasi asing akan runtuh. Pemberontakan kaum buruh akan meruntuhkan kekuasaan kaum kapitalis, maka tidak ada lagi demokrasi sebagai alat teknis semata. Semua akan kembali ke alam demokrasi manusia sesungguhnya yang tidak mau lagi dijadikan alat politik dari kaum kapitalis.

Maka sangatlah mundur bangsa ini apabila memakai demokrasi sebagai alat kekuasaan teknis dalam bentuk masyarakat Indonesia yang sangat memegang prinsip rasa kekeluargaan  dan gotong-royong. Jika sudah ada dalam jiwa masyarakat ini sifat rasa kekeluargaan dan gotong-royong, untuk apa lagi alat teknis yang namanya “demokrasi jiplakan”?!

Sekali lagi belajarlah dari sejarah perjalanan  bangsa kita sendiri yang berangkat dari budaya bangsa ini yang begitu toleran dan welas asih. Renungkanlah hal ini dalam diri masing-masing anak bangsa ini.

Bangsa Indonesia adalah suatu “blue print” yang sempurna. Anak bangsa harus mengerti “blue print” ini sebagai kader-kader pembangunan. Tetapi belum engkau latih dirimu menjadi kader. Bukan sekadar kalian punya otak, itu harus diisi dengan pengetahuan. Seperti meng-“aku” : aku adalah insinyur, aku dokter, aku politikus, aku ahli hukum. Bukan sekadar itu yang diperlukan. Di samping pengetahuan teknis, anak bangsa sebagai kader harus mengerti “blue print” ini. Jiwamu harus menyatu dengan jiwa “blue print” ini. Jiwa kader-kader bangsa harus jiwa yang mempunyai kehendak dan tekad menyumbangkan tenaga dalam orkestra maha besar, rakyat Indonesia yang dua ratus juta lebih ini, agar dari jiwa “blue print” ini yang menyatu dengan jiwa kader-kader bangsa, terselenggara satu masyarakat adil, makmur, sejahtera sesuai dan sejalan dengan Panca Sila.

Alam pemikiran Belanda sudah tidak ada, yang ada alam sekarang, alam kader-kader bangsa pemuda dan pemudi. Kaum muda jangan hanya menerima apa yang diajarkan. Tetapi mesti belajar berpikir bebas. Berpikir bebas bukan anti liberalisme. Berpikir bebas mengalami dan mengerti “blue print” ini. Berpikir dengan bebas untuk menatap ke depan, bagaimana aku sebagai kader bangsa menyumbangkan tenagaku untuk negaraku agar “blue print” masyarakat adil makmur sejahtera itu menjadi terwujud.

Jangan isi otakmu dengan prasangka terhadap golongan ilmu dengan golongan ilmu lain. Kita membutuhkan pengalaman-pengalaman, kepintaran, kepandaian dalam segala bidang ilmu, “human skills”, “material investment”, “mental investment”, “technical” dan “managerial know how”. Kita harus melihat dan mengambil pengalaman-pengalaman dari bangsa-bangsa lain yang berguna dan bermanfaat tanpa prasangka buruk.

Buang prasangka buruk, ambil yang baik dan manfaatkan yang baik untuk lekas bekerja menyusun konsep masyarakat adil, makmur, sejahtera. Jadilah kader-kader bangsa yang produktif. Ciptakan produktivitas dalam segala bidang : pertanian, perkebunan, kelautan, ekonomi dan lain-lain.

Masyarakat petani harus produktif. Ciptakan padi unggul dengan sistem organik bukan dengan pupuk urea, sehingga tidak ada lagi impor beras. Ambil pengalaman negara-negara dan bangsa lain yang bermanfaat bagi pertanian sistem organik, juga dalam perkebunan dan kelautan. Contoh dalam bidang perkebunan : kita membeli tutup botol dari gabus dari Yunani atau India. Kenapa tidak membuat tutup botol dari karet? Apakah mesti ada pabrik besar untuk membuat tutup botol dari karet? Tidak! Setiap rumah di daerah perkebunan karet bisa membuat tutup botol dengan latex. Maka masyarakat di daerah yang banyak karet sudah produktif. Begitu juga dengan kelautan, banyak yang bisa dihasilkan dari masyarakat yang produktif mengolah hasil kelautan. Jangan jadi semboyan saja.

Tiap-tiap kader bangsa menjadi manusia produktif. Maka dalam tempo dua, tiga tahun akan mencapai “moment” nyata, minimal di bidang pembangunan ekonomi masyarakat Indonesia yang produktif, bukan konsumeris dan materialis. Ambil ilmu dan pengetahuan dari luar untuk mengangkat dan menjadi nilai tambah dalam bidang-bidang yang diciptakan oleh produktivitas masyarakat luas.

Wahai anak-anak bangsa Indonesia, jika engkau mengerti “blue print” masyarakat adil, makmur, sejahtera adalah amanat dari leluhurmu, amanat dari pejuang-pejuang bangsa yang telah mangkat lebih dahulu, yang telah banyak menelan penderitaan untuk bangsa Indonesia ini, maka engkau juga akan mengerti bahwa segenap rakyat Indonesia sangat menginginkan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan. Seperti gambar “blue print” yang kami, leluhurmu, telah mewariskan untukmu semua.

Jika engkau hidup dalam “blue print” bangsa Indonesia ini, maka betapa leluhurmu akan berbahagia dalam alam keabadian, karena semua ini diwujudkan menjadi kenyataan. Tanggung-jawab tugas yang mulia ada pada kader-kader bangsa ini.

Engkau akan melihat hari kemudian tanah air kita, bangsa itu cemerlang. Di tepi langit engkau melihat cahayanya. Kebesaran suatu bangsa, cahaya masyarakat adil, makmur dan sejahtera.

Engkau, wahai kader bangsa, bukan hanya menjadi pupuk tapi engkau adalah bibit yang akan tumbuh subur dalam kalbumu, dalam dadamu, dalam jiwamu. Dan roh kalian bergelora tumbuh menjadi masyarakat baru. Bangkit dan tercapai segala cita-cita bangsa Indonesia yang jaya, bangsa yang besar.

Majulah ! Sumbangkan bunga-bunga harum pada sanggul Ibu Pertiwi. Semua harus memberi sumbangsihnya kepada Ibu Pertiwi. Dibawah naungan “blue print” Panca Sila, kita agungkan Ibu Pertiwi, yaitu Tanah Air ini. Bumi Nusantara yang kaya raya ini. Jangan sia-siakan waktu, karena waktu adalah dirimu sendiri, wahai anak-anak bangsa !

* * *

Artikel Terkait :

Wejangan Leluhur

Manusia Seutuhnya

Manusia dan Fitrahnya

Kehidupan

Peranan Perempuan dalam Skenario Blueprint Pancasila

Makna dari Ilmu & Pengetahuan (Bagian I)

Kebijaksanaan dari Visi Kepemimpinan

Jati Diri & Rasa

Reflectiong on Children Innocence of a Harmony Life among People Different Religious

Garuda Pancasila

Bhinneka Tunggal Ika

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

15 Sifat Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca

Kesadaran Kosmos & Zona Photon

Proyeksi Nusantara

19 Unsur Proses Perjalanan Rohani

The Gaia Project 2012 (Indonesia)

The Gaia Project 2012 (English)

Serat Jayabaya (Jawa)

Ramalan Jayabaya (Indonesia)

Jayabaya Prophecy (English)

Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage

Yoga Class

Pengertian Yoga

Kelas Yoga & Singing Bowl

Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh

Asanas Yoga. Healthy & Happy of Body & Soul

Yoga Ibu Hamil

Prenatal Yoga

Meditasi

Rileksasi Dalam

Meditation

Cakra & Kundalini

Heart, Hands & Orbs at Merapi Volcano, Central Java

The Studio Wellness Program at The Stones, Kuta, Bali

Surya Candra Bhuana

Orbs at Yoga Class

Orbs & Light Beings in Ancient Tribe, Java-Indonesia

Conversation with the ORBS

Perguruan Silat Tadjimalela

Prosesi Ala PS Tadjimalela

Pelatihan Perguruan SIlat Tadjimalela

Pengalaman Pelatih Silat Lokal di Kancah Global

Momen Pelatihan dan Kejuaraan Timnas Indonesia

PS Tadjimalela – Konsolidasi Batin dalam Halal bi Halal

Kerajaan Sumedang Larang

Prosedure Darurat Gempa Bumi

Krakatau (Indonesia)

Krakatau (English)

Earthquake Emergency Procedure

Earthquake Cloud

Awan Gempa

Tanda-Tanda Dari Hewan Terhadap Bencana Alam

Animal Signs of Natural Disaster

Gurindam Dua Belas

Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Menapaki Perjalanan Sunda

Oleh : Ali Sastramidjaja – 240907

PENDAHULUAN

Sunda. Kalau kata ini diucapkan, orang pasti akan langsung mengkaitkannya dengan etnis. Atau dengan suatu wilayah geografis di sebelah barat P.Jawa. Atau lebih khusus lagi mengkaitkannya dengan kebudayaan, bahkan hanya keseniannya semata.

Jarang ada yang mengira, kalau Sunda itu lebih dari sekedar kebudayaan, etnis ataupun wilayah suatu daerah. Memang dalam peta zaman kolonial, nama Sunda tertera  sebagai Sunda Besar dan Sunda Kecil, Selat Sunda, Laut Sunda. Namun, temuan-temuan ilmu pengetahuan semakin menguak eksistensi Sunda : bukan sekedar wilayah kecil berbudaya khas. Di luar dugaan, Sunda disebut-sebut sebagai kontributor utama untuk kemajuan peradaban berbagai bangsa.

Hal ini dengan jelas dipaparkan oleh Oppenheimer dalam “Thesis Sunda”-nya. Juga dengan gamblang diceritakan beberapa peneliti antropologi dan sejarah dunia. Di samping itu, beberapa tahun yang lalu, telah terbit perhitungan kalender Sunda, yang setelah melalui tahapan penelitian dan perhitungan, ternyata memiliki tingkat akurasi sangat tinggi. Dengan sebutan “Kalangider”, menurut perhitungan kalender inipun  merupakan kalender tertua di dunia.

Berangkat dari temuan-temuan tersebut, maka melalui tulisan ini dicoba disusun untuk menghubungkan sejarah kebudayaan yang terkait dengan kesundaan, yang membentang disepanjang lini ruang dan waktu. Pada intinya, dalam tulisan ini dijelaskan secara global bahwa budaya manusia, dalam hal ini budaya Sunda, saat membangun peradabannya menempatkan diri sebagai bagian dari alam.

Tulisan ini terbagi menjadi beberapa segmen :

  1. Menceritakan awal kehidupan di bumi, dari sel tunggal hingga manusia.
  2. Menceritakan Sunda, dari belum ke berbudaya hingga memiliki kebudayaan.
  3. Menceritakan dunia berbudaya, yakni pengaruh budaya Sunda pada dunia.

Diharapkan tulisan ini memberi gambaran umum mengenai kontribusi Sunda dan kebudayaannya, baik bagi lingkungannya maupun bagi dunia. Disamping itu, tulisan ini diharapkan dapat melahirkan lebih banyak lagi tulisan dan ide-ide mengenai kesundaan.

BAB I

AWAL KEHIDUPAN

Awal kehidupan bermula dari satu noktah kecil. Satu titik kecil yang disebut sel. Yakni mahluk hidup terkecil. Sel tunggal pertama ini konon ditemukan di laut. Kemudian berkembang biak dan tumbuh berkembang serta berevolusi. Ada yang menjadi tumbuhan dan ada yang menjadi hewan. Semakin lama semakin banyak jenisnya, semakin tambah rupanya dan bentuknyapun semakin sempurna. Tumbuhan dan hewan yang berasal dari satu titik selpun, mulai terpisah, mulai membentuk kelompok-kelompoknya sendiri. Ukuran mahluk hidup juga semakin bertambah besar, baik di laut maupun di darat.

Pertumbuhkembangan dan evolusi mahluk hidup selanjutnya membuat langkah maju. Awal perkembangan mahluk hidup dicatat dengan sebutan zaman “Paleozoikum Primer”, yakni sejarah kehidupan perkembangan mahluk hidup. Di dalamnya, ada yang disebut dengan masa “Kambrium”, yakni masa dimulainya pemisahan antara tumbuhan dan hewan, yang mulanya berasal dari satu sel tadi. Berikutnya, disebut dengan zaman “ Ordovisien”, yakni munculnya binatang sebangsa udang, cumi-cumi purba, rumput laut, ganggang laut, agar-agar, karang dan ubur-ubur.

Beberapa langkah lebih maju, daratan mulai ditumbuhi tanaman dan pepohonan. Ini terjadi pada masa “Karbon”, dimana hewan reptilpun sudah mulai berkembang, kemudian hewan menyusui.

Pada masa “Mesozoikum Sekunder” , daratan dan lautan mulai diisi oleh berbagai mahluk hidup. Selain bentuk dan jenisnya semakin beragam, juga semakin ‘meraksasa’ ukurannya, seperti mahluk yang kini dikenal dengan nama dinosaurus, arkosaurus, tiranosaurus, dan burung raksasa – pterosaurus, menjadi puncak akhir zaman mahluk raksasa di darat. Ini dikenal dengan sebutan zaman “Kapur”.

Kemudian, ada perubahan zaman dan ukuran mahluk hidup. Pada zaman “Kaenozoikum Tertier”, ukuran hewan menjadi lebih kecil (mengecil). Pada zaman ini ditemukan badak, tikus juga monyet. Setelah itu pada zaman “Neozoikum Kwartet”, ditemukan hewan darat besar, yakni mamut, gajah raksasa berbulu tebal. Pada masa itu pula mulai ada manusia purba.

BAB II

SUNDA

DARI BELUM BERBUDAYA HINGGA MEMILIKI KEBUDAYAAN

“Phitecanthropus Erectus”, adalah manusia purba yang hidup di daratan Sunda. Paparan Sunda merupakan sebuah kepulauan yang sangat luas. Manusia purba ini konon hidup pada zaman “Pleistosen”. Awal kwartet, lebih kurang satu-dua juta tahun lalu. Fosil manusia modern ditemukan pada lapisan sedimen Pleistosen di daratan tanah Sunda.

Dari manusia purba, manusia mengalami evolusi yang mengantarnya menjadi lebih sempurna. Budaya manusia diperoleh dari hasil olah tenaga, keinginan, pikiran dan perasaan. Kemampuan manusia untuk berkreasi sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya, menghasilkan adat budaya yang khas dan berbeda dengan yang dimiliki manusia di tempat yang berbeda.

Sunda memiliki keindahan panorama yang khas. Gunung yang menjulang tinggi, hutan yang lebat dan rapat — sebagai sumber makanan—sumber mata air yang jernih, memantulkan suasana tenang, damai dan makmur. Embrio budaya Sunda berangkat dari lingkungan alam yang tenang dan kaya khazanah alam tropisnya. Embrio budaya Sunda ditelusuri dari khasanah keseharian hidup yang telah mentradisi secara turun-temurun, yang hingga kini masih tetap dijaga kelestariannya.

Manusia Sunda hidup selaras dengan alam. Belajar dari alam. Cermat dan cerdik menangkap tanda-tanda alam. Salah satunya peka pada suara-suara alam: suara angin, suara hujan, suara halilintar, suara angin, juga suara hewan. Alam yang tenang membentuk budaya kehidupan yang tenang.

Kemampuan memahami suara sangat penting dalam membentuk suara. Suara berkembang menjadi bahasa. Upaya berbahasa merupakan suatu cara untuk menyampaikan pesan. Awalnya adalah pesan sederhana, kemudian berkembang seiring akumulasi pengalaman, membentuk serta mengembangkan perbendaharaan kata. Belajar mencintai alam dari lubuk hati terdalam sehingga menyatunya dengan alam. Adalah budaya yang tercermin dalam keseharian manusia Sunda, dan tercermin dari cara manusia Sunda bertutur: tenang, mengalun, ringan.

Kebudayaan ada yang berkembang di tepian sungai. Dari hulu, hilir, muara sungai, delta, telaga hingga menciptakan di sepanjang garis pantai. Aliran air membuahkan kreativitas. Kreativitas membentuk budaya. Dari membersihkan diri, mengambil air untuk berbagai kebutuhan, hingga membuat alat transportasi air.

Orang Sunda hingga kini akrab dengan alat angkut air. Paling sederhana, yang kini biasa digunakan untuk permainan anak-anak, namanya rakit-gebog. Rakit ini terbuat dari beberapa batang pohon pisang : dua, tiga hingga empat pohon pisang ditebang, diambil batangnya. Panjang batang pisang disamakan, disejajarkan hingga membentuk alas, lalu dipasak dengan bambu (pasak bambu). Selain untuk anak bermain di sungai, rakit gebog juga dapat digunakan untuk alat transportasi melintasi sungai. Praktis, begitu rusak, bisa dengan mudah membuat lagi dengan yang baru. Yang juga tak kalah pentingnya : ramah lingkungan.

Bicara tentang tumbuhan yang tumbuh subur di tanah Sunda, selain pohon pisang, berbagai jenis tanaman bambu mudah dijumpai. Tanaman bambu tumbuh cepat, mudah memperbanyak diri. Sifatnya : kuat, lentur, ringan, dan karena berongga, bambu itu mengambang di air. Selain itu mudah diolah.

Dengan demikian bambu bisa dibuat untuk memenuhi berbagai kebutuhan dalam menjalankan kehidupan. Bambu dipergunakan untuk membuat rumah : dari tiang, rangka, dinding bilik, lantai, sampai ke atap.

Bambu dipakai untuk perabotan dan peralatan rumah tangga : dari bambu yang dipakai seutuhnya seperti untuk saluran air bersih, bangku, jemuran, pago, parako, berbagai anyaman sampai yang terkecil dipakai seumat dan lain-lain.

Karambak Ikan-hal4

Gb : Karambak ikan

Bambu dipakai untuk peralatan dan perlengkapan petani ; dari kincir air untuk irigasi, garu, rancakan, sundung, paranggong, pagar, ajir, aseuk, bungbun, tudung cetok dan lain-lain.

Kincir Air-hal4

Gb : Kicir air

Bambu dipakai untuk peralatan dan perlengkapan berburu dan peternakan. Untuk berburu diantaranya : sumpit, bubu, tombak, jamparing, eurad, dan lain-lain. Untuk peternakan : kandang, kurung, sayang, dan lain-lain.

Bambu dipakai untuk peralatan dan perlengkapan perairan di sugai termasuk jembatan dan transportasi air (rakit), untuk memelihara ikan dalam karambak. Di laut didirikan pagang untuk menangkap ikan.

Rakit bambu-hal4 Gb : Rakit bambu

Bambu juga dipakai untuk alat musik, seperti kohkol, calung, angklung, suling yang menghasilkan suara nyaring dan jernih. Bebrbagai suara alami memberikan inspirasi musik. Saat mengisi lodong dengan air, yang memberi inspirasi membuat tangga nada, yang hingga kini berlaku ialah Salendro, tangga nada lima-nada dengan interval yang sama.

Dari sini kemudian lahir berbagai macam lagu dan patokan lagu (patet). Dari lima nada dalam satu genyang (oktav) dikembangkan menjadi sepuluh nada. Kemudian, perkembangan ini melahirkan laras atau tangga nada degung atau pelog, madenda atau sorog. Setelah ada tangga nada ini, mulailah banyak diciptakan berbagai macam instrumen : seperti instrumen tabuh, dan tiup.

Setelah dapat menempa logam, lahir instrumen lainnya.  Musik Sunda bukan hanya digunakan sebagai sarana hiburan, namun juga untuk kegiatan-kegiatan sakral dan berbagai upacara. Asalnya, musik Sunda ini tidak dituliskan. Kemudian baru ditulis oleh Pak Mahyar.

Dunia tulis menulis sebenarnya dikenal sebagai budaya buhun. Dari hasil penelitian ditemukan berbagai tingkat perkembanagn bentuk huruf. Abjadnya bernama “ka-ga-nga”. Abjad ini lalu berkembang di India, dikenal sebagai tulisan Sansekerta. Sekarang “kaganga” dikenal dengan “ha-na-ca-ra-ka-“.

Penulisan dengan “kaganga” awalnya menggunakan kayu atau bambu sebagai kertasnya. Alat tulisnya bisa pisau, bisa juga getah pohon. Setelah itu, daun lontarpun digunakan sebagai alas untuk menulis. Pada masa berikutnya, ditulis pada saeh (daun) atau pada logam tipis, seperti : tembaga, timah atau kuningan. Bagi para raja, bisa saja memakai lembaran emas. Bersamaan dengan tulisan (huruf), penulisan angka serta ilmu hitungnya juga sama dikembangkan.

Perkembangan berikutnya adalah penelitian kalender. Awalnya adalah memperhatikan keberadaan bulan. Saat bulan setengah lingkaran, dihitung sebagai awal bulan. Lalu bulan purnama, bulan setengan lingkaran berikutnya lalu bulan gelap kembali ke setengah lingkaran lagi, tercatat antara 29 atau 30 hari. Kemudian Ki Sunda mempelajari keberadaan matahari.

Memeriksa matahari tentu tidak bisa ditatap langsung, tidak seperti saat menggunakan bulan sebagai tolak – ukur perhitungan kalender. Menggunakan matahari sebagai patokan, harus menggunakan alat bantu yakni lingga (batu yang berdiri tegak). Bayangan lingga diukur dengan menggunakan lidi.

Setelah satu tahun, bayangan (yang diukur dengan lidi) membentuk satu gelombang (kini dikenal dengan gelombang sinus). Jarak satu gelombang = 365, 25 hari. Inilah perhitungan satu tahun matahari. Diatur kemudian, bahwa satu tahun itu 365 hari untuk selama 3 tahun, tahun keempatnya 365 + (4X0.25) = 366 hari. Dan tahun ke-128, yang jatuh pada tahun ke empat (biasanya 366 hari) dijadikan 365 hari.

Satu tahun matahari = munculnya 12X bulan purnama. Dari sini ditetapkan bahwa satu tahun = 12 bulan. Tapi 12X bulan purnama bila dihitung dari perhitungan bulan, akan sama dengan 354 lebih sedikit. Inilah perhitungan satu tahun bulan. (Dari hasil penelitian Kalangider, A.Sastramidjaja, 1990).

Dengan demikian, penanggalan Sunda  memiliki dua buah perhitungan : yakni pertama berdasarkan perhitungan matahari dan kedua berdasarkan perhitungan bulan. Kelender Sunda menggunakan semuanya hingga saat ini. Kalender matahari digunakan untuk hal yang berkaitan dengan musim, yakni musim kemarau, musim hujan, dan sebagainya.

Kalender bulan digunakan untuk mencatat sejarah yang ditulis dengan lontar atau batu, caritera dan paririmbon (astrologi) ditulis di atas lontar, akurasi kalender Sunda sangat tinggi, baik kalender matahari maupun kalender bulan.

Sunda juga mencatat pertumbuhan dan perkembangan anak. Mulai dari dalam kandungan, saat lahir, remaja hingga awal dewasa. Pengetahuan ini dimaksudkan agar calon orang tua mengetahui apa yang perlu diperhatikan, selama mengasuh anak baik secara fisik maupun secara mental. Misalnya, saat bayi berusia satu minggu, ditulis bahwa bayi suka tersenuym sendiri.

Lalu, diceritakan pula proses seorang anak kapan mulai belajar berjalan, dan bagaimana membimbingnya. Mengenai permainan terurai bagi anak sejak lahir sampai awal remaja. Saat anak laki-laki menginjak usia antara tiga hingga enam tahun, disunat. Sunat merupakan tradisi budaya Sunda sejak dahulu.

BAB III

SUNDA MEMBUDAYAKAN DUNIA

Sumber : Thesis Sunda (Oppenheimer), et al.

Dalam tulisan ilmiah Oppenheimer, disinyalir Sunda pernah mendunia. Salah satu penetrasi budaya yang menjadi kontribusi Sunda dalam distribusi global (keluar wilayah Sunda) adalah tradisi sunat, teutama bagi laki-laki.

Tradisi sunat di Sunda ini telah mempengaruhi daerah : Mediterania Timur, Sub-Sahara Afrika, Teluk Persia, Afrika Timur, Timur Dekat Kuno (termasuk Mesir), Nugini, Korea, Oseania. Di Sunda, tradisi ini diberlakukan sejak anak berusia sekitar 3 – 6 tahun.

Sunat mudah diterima secara luas, karena alasan kebersihan dan kesehatan yang menjadi faktor utama. Kebersihan dan kesehatan organ vital terutama untuk pria, akhirnya menjadi tradisi di banyak tempat, dan dikodifikasi oleh agama-agama Samawi. Selain sunat, kebudayaan, gaya hidup, keahlian di bidang teknologi maritim dan pertanian juga ikut menyebar luas dari daratan tanah Sunda ke berbagai daerah yang dikunjunginya.

Dalam thesis Sunda-nya Oppenheimer mensinyalir adanya migrasi jangka panjang dari wilayah Sunda ke berbagai wilayah lain, dengan populasi berlebih, disebabkan oleh bencana banjir. Diasumsikan, bencana inilah yang menjadi pencetus perkembangan keahlian maritim yang Adi luhung yang dimiliki masyarakat Sunda.

Maka, ekspansi Sunda diawal milenium terjadi karena kecanggihan teknologi maritimnya, untuk masa itu, termasuk di dalamnya bidang pelayaran. Teknik kelautan merupakan prasyarat bagi migrasi jangka panjang. Dibutuhkan kapal yang kokoh, besar dan mudah menembus berbagai kendala yang mungkin terjadi selama mengarungi samudra.

Oppenheimer menengarai/menandai bahwa populasi Sunda asli yang didukung oleh keahlian maritim yang handal, telah membawa peradaban (Sunda) ke Asia Selatan (wilayah sungai Indus), Asia Barat (Mesopotamia), serta menyentuh peradaban Mesir dan belahan Afrika lainnya, serta merambah hingga Eropa (termasuk di dalamnya Basque).

Peradaban yang terbentuk berekspansi dan sanggup membuat ikatan lintas budaya, beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Sistem budaya formal, seperti mitos, bahasa, seni, sistem religi, alat musik dan bentuk-bentuk musik, cara menulis dan perhitungannya, termasuk detail bukti atas tapak Sunda diberbagai wilayah perluasannya.

Tapak sunda lain yang menyebar luas adalah penyebaran bibit-bibit tanaman : talas, jagung (maizena), pisang, mangga, dan hasil pangan lainnya. Rempah-rempah merupakan andalan utama hasil kebun yang didatangkan langsung dari tanah Sunda untuk diperdagangkan. Rempah-rempah inilah yang mencuatkan nama Babilonia di Timur, dan Mesir di Barat sebagai pusat-pusat perdagangan dunia pada masa itu. Babilonia menerima barang-barang dagangan dari timur untuk dibawa ke barat (Mesir). Dan dari Mesir, barang-barang dagangan ini, rempah-rempah dari tanah Sunda, diteruskan ke Eropa.

Dari sinilah orang-orang barat (Eropa) mengenal rempah-rempah. Demikian terkenalnya tanah Sunda, hingga namanya terpatri di berbagai Prasasti/tiang kota di mesir maupun Atlantis, dengan sebutan Sunsa-Dwipa. Ini membuktikan bahwa ekspansi Sunda memberi kedudukan yang kokoh untuk jangka waktu yang lama, terutama kontribusinya di dunia perdagangan.

Ikonografi, produk-produk patung, ukiran logam (perunggu), dan gerabah, juga menjadi ciri kuat keterkaitan kesinambungan penetrasi budaya Sunda di berbagai wilayah sebarannya, dalam hal ini di Afrika. Ikonografi patung-patung Afrika yakni ukiran perunggu dari Ife. Model ini pada akhirnya memberikan temuan betapa dekatnya kemiripan akan model-model ketuhanan.

Oppenheimer, yang adalah seorang dokter pedriastis/ahli genetika, justru memberi kontribusi untuk temuan ilmiah, bahwa ekspansi sunda ke barat juga membawa ikutan distribusi penyakit darah yang diturunkan secara genetis, yang dikenal dengan sebutan talasemia.

Jelajah penyebaran talasemia sangat cocok dengan “hipotesa perluasan Sunda”, khususnya DNA tipe B. Talasemia disinyalir menjadi cikal-bakal penyakit malaria.

Sunda berekspansi dan pengaruhnya bertahan lama, tidak lain akibat kepandaian, keberanian dan rasa ingin tahu dalam mencoba hal-hal baru, termasuk bermigrasi. Kecerdasan intelektual yang dipadu dengan kemampuan beradaptasi (kecerdasan emosional dan adversitas), serta keyakinan akan wujud pertolongan Sang Hyang Widi (kecerdasan spiritual), merupakan landasan utama yang membentuk sosok manusia Sunda yang menempatkan diri selaras dengan alam, dan sebagai bagian dari alam. Pengaruh budaya Sunda pada dunia pada akhirnya mendorong dunia menjadi lebih berbudaya, lebih mandiri dan kemudian mampu membudayakan diri sendiri.

KESIMPULAN :

Sunda yang saat ini tereduksi menjadi enam etnis dan kebudayaan yang menempati sebagian kecil wilayah suatu negara, dahulu merupakan sebuah wilayah besar dengan kemajuan peradaban dan pengetahuannya.

Migrasi ke berbagai belahan dunia, berimbas pada penyebaran budaya, keahlian hidup, perilaku (termasuk mitos), perdagangan, pertanian, penyebaran bibit tanaman dan penyakit genetis.

Disadari atau tidak, kontribusi Sunda pada dunia banyak yang masih tetap dipertahankan, salah satunya adalah tradisi sunat.

* * *

Artikel terkait :

Ki Sunda di Tatar Sunda (Indonesia)

Ki Sunda di Tatar Sunda

Menapaki Perjalanan Sunda

Kalender Sunda & Revisi Sejarah

Makanan Sunda

Susunan Warna Kasundaan

Amanat Galunggung Prabu Darmasiksa Leluhur Sunda

Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan

Dalam Kenangan, Abah Ali Sastramidjaja

Ras Nusantara

Ketika Jawa Bertemu Belanda

Prasasti Batu Tulis Bogor

Prasasti Ciarunteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Perbedaan Batu Tulis, Petilasan dan Makam

The Differences between Written-Stone, Petilasan Site & Tomb

Baduy-Sebuah Perjalanan Batin ke Suku Kuno tahun 1959

Kebon Raya Bogor

Sejarah Bangsa & Tanah Air Indonesia (Purbakala/The Last Continent)

Peninggalan Prasejarah Masa Perundagian

Prehistoric Remains from the Bronze-Iron Age

Prehistoric Remains from Neolitic Stage

Peninggalan Prasejarah Zaman Bercocok Tanam

Prehistoric Sites Along the Banks of Ciliwung River

Peta Lokasi Situs Prasejarah di Daerah Aliran Sungai Ciliwung

Tokoh-Tokoh Galuh Menurut Wangsakerta

Galuh Berarti Putri Bangsawan atau Sejenis Batu Permata

Keberadaan Galuh Sepanjang Sejarahnya, Sang Manarah

Gurindam Dua Belas

Boats & Ships during Kingdoms Era in Nusantara Archipelago

Perahu-Perahu di Masa Kerajaan Nusantara

Asal-Usul Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia

Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Tarumanagara

Kerajaaan Indraprahasta

Kerajaan Kendan

Kerajaan Galuh

Kerajaan Sunda

Wangsa Sanjaya

Kerajaan Saunggalah

Kerajaan Sunda-Galuh

Kerajaan Kuningan

Kerajaan Cirebon

Perang (Pasundan) Bubat

Kerajaan Sumedang Larang

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Sunda Kelapa – Jayakarta – Batavia

Kerajaan Banten

Kerajaan Talaga

Tabel Pemimpin Kerajaan Sunda, Galuh

Musik/Music

Musik Etnik Nusantara/Nusantara Ethnic Music

Musik Yoga, Meditasi & Terapi / Yoga, Meditation & Therapy Music

Kelas Yoga & Singing Bowl (Genta Tibet)

Asanas Yoga, Jiwa Gembira Melalui Gerakan-Gerakan Tubuh

Prenatal Yoga

Yoga Ibu Hamil

Meditasi

Rileksasi Dalam

Meditation

Orbs at Yoga Class

Orbs & Light Beings in Ancient Tribe, Java-Indonesia

Conversation with the ORBS

Thanks for What We Have – Music Performance at the Orphanage

Surya Candra Bhuana